
...🌻🌻🌻...
Tiga Hari berlalu. Hubungan Aliza dan Qian semakin dekat saja. Siapa yang menduga, bahwa Qian diam-diam datang ke kamar ayahnya untuk mencium Aliza disaat Argan sedang mandi di kamar mandi.
Cup!
"Emmm. Kau membuatku geli. Jangan kesini, ayahmu masih di kamar mandi!" Ujar Aliza cemas sambil melenguh panjang ketika Qian membenamkan wajahnya di dua buah gunung kembar Aliza.
"Kenapa? Kamu takut?" Tanya Qian menggoda.
"Pergi sana. Ayahmu akan marah besar Qiandra!" Aliza mendorong tubuh Qian keluar, lalu menutup pintu dengan cemas.
"Aliza! Kamu dari mana?" Suara Argan yang tiba-tiba, membuat jantung Aliza hampir saja lepas. Terkejut, itulah yang dia rasakan.
Gugup. Aliza berbalik badan dengan wajah cemas, "Mas.....sejak kapan kamu keluar dari kamar mandi?" Tanya Aliza gugup.
"Baru saja." Jawab Argan, lalu melangkah ke lemari pakaian dengan wajah acuh.
"Kamu tidak menjawab pertanyaan ku tadi?" Lanjut Argan kembali bertanya.
Aliza melotot, "A-apa? Pertanyaan apa?" Tanya Aliza terbata.
"Aku bertanya, kamu dari mana tadi?" Tanya Argan yang mengulang pertanyaannya lagi.
"A-aku...aku habis dari dapur. Aku merasa haus, jadi aku pergi" jawab Aliza berbohong.
Argan menatap wajah Aliza dengan penuh selidik, Aliza nampak menelan salivanya dengan wajah takut.
"Baiklah. Siapkan tas kerjaku dan berkas-berkas di atas meja!" Jawab Argan percaya sambil memerintah Aliza.
__ADS_1
Aliza merasa jantungnya hampir saja berhenti berdetak, namun setelah mendengar perkataan Argan, Aliza menghela nafas lega.
"Syukurlah dia tidak mencurigai aku." Batin Aliza lega.
Tidak menunggu lama, Aliza segera beranjak untuk menyiapkan berkas dan tas kerja milik suaminya. Setelah selesai bersiap-siap, Argan dan Aliza pergi ke meja makan untuk sarapan pagi.
"Mas! Kamu makan apa? Apa mau roti atau sarapan pakai nasi?" Tanya Aliza sambil memberikan secangkir kopi untuk suaminya.
"Pakai roti saja! Iya kan Mas?"
Aliza dan Argan terkejut mendengar suara seorang wanita yang tiba-tiba menyahut dari arah pintu. Mereka pun segera menoleh ke arah suara.
"Risma?" Gumam Argan sambil menatap Risma di ujung pintu. Sementara, Aliza menatap Argan dan wanita itu secara bergantian dengan wajah bingung. Sebab, dia belum mengenali siapa itu Risma.
Risma nampak tersenyum dan melenggang masuk dengan senyuman manisnya sambil menarik koper besar ditangannya.
Aliza hendak membalas jabatan tangan Risma, namun wanita itu segera menarik tangannya dengan wajah sinis, "Saya sudah kenal kamu. Kamu Aliza bukan? Istri baru dari kakak ipar saya!" Imbuh Risma lagi.
Aliza tersenyum kikuk, cara Risma memperlakukan dia, rasanya Wanita itu tidak menyukainya. Namun Aliza hanya bisa diam, karena dia tidak ingin menduga-duga lebih dulu tanpa mengenal Risma lebih jauh.
"Apa yang membawamu kesini Risma?" Tanya Argan kemudian.
Risma segera menoleh kepada Argan dengan senyuman manisnya, "Tentu saja aku merindukan kamu dan Qian mas" jawab Risma tanpa rasa malu. Bahkan dia tidak peduli walaupun Aliza ada disana.
Risma sedikit melirik Aliza yang diam dengan senyuman sinis, "Sudah lama aku tidak kesini. Apa kamu tidak merindukan aku?" Tanya Risma lagi yang sengaja berbicara dengan nada manja.
"Tentu saja aku merindukan mu."
Aliza menyipitkan matanya, menoleh dan menatap suaminya dengan wajah terkejut mendengar perkataan suaminya.
__ADS_1
"Maksudnya kami semua merindukan Risma, Qian pasti juga merindukan bibinya" lanjut Argan gugup ketika mendapati tatapan aneh dari Aliza.
Risma melihat bagaimana Argan takut jika Aliza salah paham kepadanya, hal itupun membuat Risma geram sendiri sambil meremas marah gagang kopernya.
Sejak awal. Risma tidak pernah menyukai Aliza. Bahkan sejak pernikahan Argan waktu itu, dia sudah datang, namun karena marah dia tidak jadi masuk dan hanya melihat pernikahan Aliza dan Argan dari luar pesta.
Sejak dulu, Risma memiliki perasaan kepada Argan. Dia diam-diam menyukai mantan suami kakaknya itu dan mencintainya. Namun Argan tidak pernah mengerti kebaikannya selama ini dan mengabaikannya. Argan malah menikahi wanita lain yang seharusnya menjadi tempatnya.
Memikirkan semua itu. Risma geram sendiri, "Aku tidak akan melepaskan Argan begitu saja Aliza. Lihat saja, aku akan merebutnya dan menyingkirkan mu, sama seperti ketika aku menyingkirkan kakakku sendiri demi untuk mendapatkan Argan. Jadi, aku akan melakukan hal yang sama kepadamu. Lihat saja nanti!" Ucap Risma di dalam hatinya geram sambil melihat bagaimana Argan memperhatikan Aliza.
"Risma. Bawa saja barang-barang mu ke kamar mu." Ujar Argan. Belum sempat Risma menjawabnya, Argan sudah lebih dulu pergi dan diikuti oleh Aliza di belakang.
"Sayang, aku pergi. Baik-baik di rumah, dan temani Risma! Kamu jangan salah paham. Dia memang seperti itu kepadaku!" Ucap Argan menjelaskan.
Aliza hanya mengangguk mengiyakan, lalu Argan mencium bibir ranum Aliza sebagai tanda permintaan maaf.
"Jangan marah. Aku hanya mencintaimu!" Ujar Argan lagi. Aliza tersenyum, "Iya mas. Aku percaya sama kamu!" Jawab Aliza.
Sementara itu, Risma menatap kemesraan kedua orang itu dengan wajah geram. Ingin sekali dia memukul Aliza, namun dia cukup waras dan tidak bersikap gegabah.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa untuk memberikan like dan komen ya ☺️
__ADS_1