Gairah Cinta Ibu Tiri

Gairah Cinta Ibu Tiri
Chapter 20


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


"Risma. Kenapa diam?" Tanya Argan sekali lagi.


Risma segera tersadar, "Di kamar. Di kamarmu ada seorang laki-laki. Dia bersama dengan Aliza. Aku mendengar suaranya dengan jelas!" Jawab Risma cepat.


"Apa yang kamu bicarakan Risma?" Tanya Argan tak percaya.


Di dalam kamar. Aliza terlihat gelagapan. Dia berusaha menyuruh Qian untuk bersembunyi, namun semua tempat seolah berputar di kepalanya jika sewaktu-waktu Argan membuka lemari atau membuka pintu kamar mandi.


"Bagaimana ini? Bagaimana caranya kamu keluar dari sini? Didepan ada papa mu" ujar Aliza cemas dan panik.


"Biarkan aku berpikir dulu!" Qian nampak berpikir seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Mereka nampak memikirkan cara untuk keluar dari kamar itu tanpa ketahuan Argan dan juga Risma.


"Ayo cepatlah Qian. Bagaimana ini?" Gumam Aliza cemas.


"Aku akan keluar lewat sini" ujar Qian menunjuk sisi jendela yang menuju ke balkon teras kamarnya.


"Apa?" Aliza sontak terkejut. Dia menatap jendela dan menoleh ke bawah.


"Ini sangat tinggi Qian. Bagaimana jika kamu jatuh? Tidak! Aku tidak setuju cara ini!" Tolak Aliza segera. Dia sangat takut, sampai menelan salivanya dalam-dalam melihat ketinggian kamar ini.


"Tenanglah. Aku tidak apa! Asalkan kamu aman, aku akan melewati semuanya dengan nyaman!" Jawab Qian meyakinkan.


"Tapi....Bagiamana jika terjadi sesuatu? Kamu bisa terluka Qian. Sebaiknya urungkan niatmu!" Bujuk Aliza.


"Apa kamu sudah hilang akal Risma?"

__ADS_1


Aliza dan Qian sontak menoleh kesisi pintu ketika mendengar suara teriakan Argan dari luar. Aliza semakin cemas, kedua matanya tidak berhenti melihat ke arah pintu dengan wajah tegang.


Disaat Aliza masih fokus ke pintu. Qian hanya bisa menghembuskan nafas panjang, lalu pergi melalui balkon teras kamar milik Aliza yang secara tak langsung sangat dekat dengan balkon kamarnya. Walaupun sedikit ektrim, namun dia harus melakukannya sebelum ayahnya masuk.


"Dia ada di dalam kamarmu Argan, kalau kamu tidak percaya, Ayo kita masuk!" Tantang Risma meyakinkan.


Argan tak menjawab, sorot matanya nampak ragu dan takut. Risma pun tak ambil pusing dan ingin segera membuka pintu kamar itu. Sebelah tangannya membuka kenop pintu. Ditengah Risma yang hendak membuka pintu kamar, dia seketika tercengang, tidak ada siapapun di dalam kamar selain Aliza.


"Apa yang ingin kamu buktikan Risma? Tidak ada siapapun disini!" Ujar Argan yang mulai merasa kesal.


"Tapi....tadi aku mendengar suara Qian di dalam sini. Mereka saling melemparkan kata rindu. Mereka berselingkuh Argan" tegas Risma bersikekeh.


"Aku yakin. Dia pasti menyembunyikan Qian."


"Aliza. Kamu sembunyikan dimana Qiandra? Aku yakin sekali kamu bersama Qian di dalam kamar ini!"


Argan semakin menggeram melihat Risma yang kurang ajar menggeledah kamarnya tanpa ijin. Membuka lemari, memeriksa kamar mandi dan semua tempat dia cari disana. Hal itu membuat Argan murka.


Risma tersentak. Dia menghentikan kegiatannya dan menatap nanar ke arah Argan.


Sementara Aliza, nampak tercengang karena untuk pertama kalinya dia mendengar suara kasar suaminya yang meneriaki Risma.


"Ada apa ini?"


Tiba-tiba, Qiandra terlihat masuk dengan wajah cemas melalui pintu depan kamar ayahnya. Semua orang menatap ke arah Qian dengan wajah tegang.


Kehadiran Qian melalui pintu depan kamar, semakin membuktikan bahwa tuduhan Risma semakin salah.

__ADS_1


Risma tak percaya ini, jelas-jelas dia mendengar suara Qiandra di kamar Aliza. Lalu, bagaimana bisa Qian datang melalui pintu depan? Begitulah pikirnya.


Sementara, dibalik wajahnya yang dingin tanpa ekspresi, Argan sedikit menghela nafas lega. Jujur saja, dia sangat takut jika tuduhan Risma itu benar. Tapi melihat anaknya datang, Argan merasa tenang.


Wajah Argan yang semula dingin, kini menatap Risma dengan wajah menggeram, "Apakah ini yang kamu tuduhkan Risma? Anakku bahkan masuk setelah kita masuk kesini? Lalu dimana katamu Qian ada di dalam kamar ku?" Teriak Argan dengan nada marah.


"Argan....aku...aku tidak bohong!"


"Pergi dari sini Risma! Sebelum aku memberikan hukuman kepadamu!" Usir Argan menggema disana.


Risma tak bisa berkata-kata lagi, dia melangkah pergi dengan membawa hati yang kesal.


Tatapannya mengarah kepada Qiandra dengan tatapan tajam, "Kali ini kamu lolos Qian. Lihat saja nanti!" Lirihnya di saat melewati Qian. Walaupun terdengar samar, Qiandra masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Mas. Sebenarnya Risma kenapa? Kenapa dia menuduh Qian ada di kamar ini?" Tanya Aliza dengan tampang wajah bodohnya.


"Maaf sayang. Ini hanya salah paham saja. Jangan dengarkan ucapan Risma ya!" Jawab Argan.


"Qiandra. Kembalilah ke kamar mu. Jangan dengarkan Tante mu itu. Sepertinya, mulai besok papa harus tegas kepadanya, kalau bisa papa akan mengusirnya besok!" Geram Argan yang masih merasa kesal kepada Risma.


Tanpa dia sadari, Qian nampak melirik kepada Aliza dengan tersenyum tipis. Sementara, Aliza hanya diam saja dengan wajah dingin. Dia tak habis pikir, permainan Qian selalu saja mengelabui semua orang. Dia sendiri bahkan tak bisa berpikir disaat suasana genting seperti tadi, tapi Qian selalu menemukan cara agar hubungan ini tak mudah di ketahui.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa untuk memberikan like dan komen ya ☺️


__ADS_2