GARA-GARA SUMPAH TULANG LUNAK

GARA-GARA SUMPAH TULANG LUNAK
Sakit tak berdarah


__ADS_3

" Lo kenapa nangis? " perlahan ku hampiri dan duduk di depan Sapto. Terlihat wajahnya begitu pucat jika tanpa riasan. Setidaknya itu lebih baik daripada ia berias menjadi Mona. Sapto terus menangis membuat ku bingung. Bang Angga dan bang Aryan pun ikut duduk menyaksikan.


Entah apa yang ada dalam pikiran Sapto, spontan ia memeluk ku dan menangis tersedu di pundak ku, membuat Bang Angga dan Bang Aryan memisahkan pelukan Sapto dengan menarik ku dan Sapto. Aku pun masih syok dengan apa yang terjadi.


" Cari kesempatan dalam kesempitan lo ya, gue aja belum pernah pegang-pegang, lo udah main nyosor aja." teriak Bang Aryan dan memukul bahu Sapto. Sementara Bang Angga menoyor kepala Sapto.


" Macem-macem sama adek gue, pilihannya langsung rumah sakit atau kuburan, mau yang mana lo?" ucapnya geram.


" Gue juga butuh ditenangin tau... Hu hu hu" ucap Sapto masih menangis.


" Ya tapi gak peluk-peluk juga. " sungut Bang Aryan, eh kok marah gitu Bang? cemburu kah adek di peluk orang? wkwkwk... Zoya stop gesreknya kembali ke topik awal, batin ku menyadarkan.


" Lo kenapa nangis-nangis kayak gini?" sebenarnya aku tu juga bingung mesti manggil Sapto ini sapa ya, Bang anton atau gimana? au ah gelap.


" Gue sedang mencoba ikhlas merelakan Aryan untuk lo, ikhlas itu gak gampang, butuh waktu, apalagi cinta ini sudah begitu dalam, Hu hu hu... " Sapto masih terus terisak, sesekali melirik Bang Aryan, sedangkan yang dilirik bergidik ngeri, lucu juga ekspresi Bang Aryan jadi gumush dech.


" Lap dulu noh ingus lo " ku sodorkan sekotak tisu pada Sapto.


" Tausyiah gue kemarin ternyata gak mempan ya buat lo, emang perlu di ruqyah deh kek nya. Bang, lo harus bisa berubah, mo sampek kapan lo kayak gini? gue aja yang liat lo kayak gini pusing lo, apa kabar nyokap bokap lo Bang?" ku tekankan setiap kata-kata itu pada Bang Anton, ya jika aku pun menginginkan ia berubah setidaknya akan ku mulai dengan merubah panggilan untuk nya.


Tiba-tiba Bang Anton pun menghentikan tangisannya dan menatap ku dengan tatapan seolah tak percaya.


" Kamu panggil aku apa tadi? "


" Gue panggil lo Abang, memang sudah sepatutnya seperti itu kan?" ucap ku sekalem mungkin, berusaha memberinya pengertian.

__ADS_1


Huuuuaaaaa......


Bang Anton pun kembali menghambur memeluk ku, tangisnya semakin pecah di pelukanku,saat ku sadari ke dua bodyguard ku ingin memisahkan,ku isyaratkan pada mereka agar membiarkan seperti ini, mungkin Bang Anton butuh seseorang yang bisa mengerti akan keadaan psikis dan mentalnya.


" Baru kamu Zoya,cewek tengil yang panggil aku Abang." isak nya, sepertinya mulai ada perubahan dari panggilan lo gue sekarang menjadi aku kamu.Apa udah mulai kebuka ya mata batinnya, eh maksud gue mata hati... hehehe. Tapi kok ada yang kepanasan gitu ya lihat gue di peluk gini? ada yang cemburu nih...


" Karna gue mau lo berubah Bang." perlahan ku lepaskan pelukannya dari tubuhku, tak tega melihat ekspresi Bang Aryan seperti orang yang nahan mules.


" Aku akan mencoba ikhlas jika kamu yang menjadi pendamping Aryan." ucapnya tulus, sedangkan aku dan Bang Aryan saja belum ada kata pacaran diantara kami, tapi aku tak ingin mengecewakan Bang Anton, tak ingin ia merasa sia-sia dengan perubahan nya.


" InsyaAllah Bang kalau jodoh kita akan bertemu dalam akad." ucap ku spontan melihat Bang Aryan, wajahnya yang mendung kini menampakkan pelangi di sana. Duh kok ganteng gitu Bang, ada merah-merahnya di pipi, jantung adek jumpalitan gini yak jadinya.


" Adek Abang gak lagi sawan kan?" kelakar Bang Angga sambil mengacak rambutku,mulai deh Abang gue yang super ajaib ini resek nya. Tau ada orang lagi serius malah mulai somplak nya. Membuat Bang Anton tertawa, setidaknya bisa kulihat kesedihannya mulai berangsur hilang.


" Pasti " hanya itu yang keluar dari mulut Bang Aryan, ekspresi nya pun kembali datar, yah mungkin ia masih merasa canggung dengan Bang Anton. Bang Anton pun hanya bisa menundukkan kepala, tak bisa di pungkiri mungkin ini yang orang bilang divisi sakit tak berdarah.


" Lo janji bakal berubah kan Bang? ntar gak dapet Bang Aryan, lo gaet Abang gue?" canda ku mencoba mencairkan suasana.


" Abang kamu tuh bukan selera aku, kita tuh akan tetep jadi musuh bebuyutan." ucapnya kemayu.


" Idihh naj*is " ucap Bang Angga bergidik ngeri, disambut senyum mengejek Bang Aryan, sepertinya ia senang sekali jika sahabatnya merasakan apa yang ia rasakan selama ini. Dasar sama-sama somplak.


" Lo harus janji sama gue Bang kalau lo bakalan berubah." tegas ku sekali lagi.


" Iya, pelan-pelan aku akan terus berusaha, lagian aku juga trauma kalau kamu ganti nama ku jadi Sapto lagi." tandas nya meyakinkan, membuat semuanya tertawa.

__ADS_1


Zoya... Zoya... Zoya...


Tiba-tiba riuh suara pengunjung cafe menyerukan nama ku, tak terasa cafe semakin malam semakin ramai pengunjung, karena terlalu fokus dengan masalah ini,aku dan Bang Angga sampai lupa akan tugas di cafe.Kasihan Shanum telah bekerja sendiri dari tadi.


" Bang kok gue jadi terkenal gini sih?" umpat ku.


" Lah enak dong bentar lagi jadi artis." ucapnya sambil berlalu setelah berpamitan dengan Bang Aryan dan Bang Anton untuk mengurus cafe yang pengunjungnya semakin ramai.


Tak ingin membiarkan dua orang yang pernah terlibat cinta terlarang itu hanya duduk berdua, ku putuskan untuk mengajak Bang Anton ikut ke panggung untuk bernyanyi bersama, nampak ia bernyanyi dengan semangat, mungkin ini salah satu caranya menghibur diri, bagaimanapun di tinggal pas sayang sayange itu gak enak kayak lagu yang sempet viral itu.


Selagi Bang Anton duet bersama Shanum, ku gunakan kesempatan ini kembali ke meja di mana ada pangeran yang ku tinggalkan tadi.


" Kok senyum-senyum gitu bang?mana manis lagi, ntar kalau adek kena diabetes gimana?" gumam ku tentunya hanya dalam hati.Ku hampiri dan duduk disebelahnya, namun senyumnya masih saja terus mengembang,pinter banget sih Bang buat anak orang salting.


" Jadi udah siap dihalalin nih ceritanya?" goda Bang Aryan setelah aku duduk di sebelahnya.


" Emang lo cinta Bang sama gue? "


" Menurut kamu? " lah kok malah nanya.


" Ya gak tau lah Bang, ati lo kan ketutup daging sama kulit, mana gue tau."


" Gak usah jual mahal manis, liat noh arumanis lagi obral-obralan." celetuk Bang Angga yang tiba-tiba dari arah belakang, emang Abang gue nih udah kayak Jailangkung beneran, gak tau apa ya orang lagi romantis-romantisan.


" Lah lu kata mangga apa Bang." emang kalau lagi musim mangga gini mangga arumanis sampai di obral-obral sangking murahnya.

__ADS_1


__ADS_2