
" Panggil mama ya tante?" ucap ku linglung masih tidak percaya, kok secepat ini? padahal aku dan Bang Aryan belum ada kesepakatan apa-apa.
" Mas tolong pesanan saya yang kemarin ya." pinta tante Sindy pada karyawan toko itu.
" Ini bu, silahkan." ucap penjaga toko itu ramah sambil memberikan sekotak cincin berlian.
" Gimana sayang bagus nggak?" tanya tante Sindy pada ku memperlihatkan sepasang cincin cantik itu.Kok perasaan jadi gak enak gini ya.
" Bagus tante, eh maksud saya bagus ma."
tuh kan jadi nervous. Ku lihat Bang Aryan nampak tersenyum tipis, tapi bikin meleleh Bang senyum mu.
Tante Sindy pun memasangkan salah satu cincin itu dijari manis ku, pas, cantik juga. Jangan-jangan ini cincin....
" Kamu suka sayang? " ucap tante Sindy dengan sorot mata berbinar bahagia.
" Em maaf tante, eh maksud saya mama, ini cincin buat apa ya?"
" Mama berharap kamu dan Aryan segera bisa memakai cincin ini sayang. Jangan lama-lama buat mama menunggu." tiba-tiba wajah tante Sindy berubah mendung. Hem jangan-jangan ini modus seperti Bunda ingin cepat-cepat aku dan Bang Aryan menikah.
" Zoya dan Bang Aryan masih melakukan pendekatan dulu tante, kita sudah sepakat untuk saling kenal dulu." tutur ku hati-hati takut menyinggung perasaan tante Sindy.
__ADS_1
" Mama rasa gak papa lo sayang kalau kalian tunangan dulu, biar mama gak kepikiran terus tentang hubungan kalian." ucap tante Sindy dengan wajah sendu.
" I.. iya... ma kita akan-"
" Hah...terimakasih sayang, mama seneng banget dengar semua ini, bentar mama telpon bunda kamu dulu." loh...loh...loh...maksudnya gak gitu,hadeh belum selesai ngomong udah main potong aja, jadi salah paham kan,tante Sindy begitu antusias ingin segera melakukan vc dengan Bunda, hem... sepertinya aku mencium bau-bau persekongkolan di sini, cepet banget muka tante Sindy berubahnya, padahal tadi murung tapi sekarang begitu bahagia. Sambungan vc pun cepat terhubung.
" Mbak mereka udah setuju untuk tunangan dulu. " seru tante Sindy saat melihat wajah Bunda dilayar pipih miliknya. Nampak Bunda juga begitu bahagia mendengar kabar yang di sampaikan calon mertua ini. Hadeh jadi gak tega mau ngomong yang sebenarnya, melihat rona bahagia pada wajah Bunda dan tante Sindy, tak ingin memupus kan harapan mereka.
" Selamat ya Sin, kita akan segera jadi besan, hahaha." seru Bunda tak kalah bahagianya.
" Kita mesti cepat-cepat mempersiapkan semuanya mbak, nanti aku ke rumah kamu ya, kita bicarakan semuanya." tutur tante Sindy.
Ku lihat Bang Aryan mendekat ke arah ku, entahlah perasaan ku saat ini masih kacau, semoga keputusan ini yang terbaik untuk ku dan Bang Aryan, jika memang jodoh, aku hanya bisa berdoa semoga di permudahkan.
" Terimakasih " ucapnya lirih sambil menggenggam tangan ku, aduh Bang adek mau kejang rasanya. Sementara tante Sindy masih asik ngobrol sama Bunda, entahlah apa yang sedang mereka bicarakan.
" Zoya... terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk memiliki mu."
" Semoga lo gak menyia-nyiakan kesempatan ini ya Bang." entahlah aku hanya tak ingin merasa sakit atau suatu saat akan kecewa atas keputusan ini. Aduh kok gue tiba-tiba jadi kalem gini yak.
" Saya akan terus berusaha agar semua itu tidak terjadi Zoya... " ucap Bang Aryan meyakinkan,sambil terus menggenggam tanganku erat, tatapan matanya seolah membuat ku terhipnotis dan larut di dalamnya. Oh Aryan saputra semoga memang kau jodoh yang dikirimkan Allah untuk ku.
__ADS_1
" Aryan, Zoya sayang yuk kita makan siang dulu, aduh mama saking bahagianya sampai lupa kalau udah ngobrol sama Bunda kamu."
ucap tante Sindy setelah mengakhiri percakapannya dengan Bunda. Bang Aryan segera melakukan pembayaran pada kasir toko dan kita pun menuju food court terdekat di mall ini. Senyum mengembang selalu menghias di bibir tante Sindy, hem kurasa memang cepat atau lambat semua ini pasti akan terjadi juga, hanya saja ini kecepetan. huft...
Setelah selesai makan siang, Bang Aryan kembali ke kantor, aku dan tante Sindy menuju rumah di antar oleh supir tante Sindy, sepertinya dua wanita satu generasi itu sudah tidak sabar merencanakan rencana mereka selanjutnya, dan diriku hanya bisa pasrah jika sudah berurusan dengan kebahagiaan Bunda.
Sesampainya dirumah Bunda pun langsung menghambur memeluk ku, dikecupinya pipiku berulang kali sambil mengucapkan terimakasih, seolah aku baru saja membuatnya bangga dengan meraih medali emas pada Olimpiade Internasional. Sebegitu bahagianya kah orang tua jika mengetahui anaknya akan menikah?
Setelah puas memeluk ku kini bergantian memeluk tante Sindy mereka berpelukan layaknya teletubbies yang lama tidak berjumpa, oh... entahlah aku lelah, syok juga dengan semua yang terjadi, tapi aku berusaha yakin jika memang ini yang terbaik dan jika memang ini jalanku, aku hanya bisa berdoa semoga diberi kemantapan hati.
Ku biarkan dua bidadari itu menyusun rencana mereka, aku lelah ingin tidur sebentar, setelah berpamitan pada Bunda dan tante Sindy segera ku beranjak ke singgasana ternyaman ku dikamar. Merebahkan tubuh, meregangkan otot-otot yang tegang dan pikiran yang melayang entah kemana, atau jangan-jangan malah sudah dulu sampai pada pelaminan? mikir lu kejauhan juleha...
Entah sudah berapa lama aku terbuai dalam mimpi, dan pada akhirnya ketukan pintu yang keras disertai teriakan Bunda membawaku ke alam sadar.
" Ya ampun ni anak perawan jam segini masih molor, Bunda pikir kamu sudah bangun, eh gak taunya masih tidur, ayo buruan bangun." omel Bunda tanpa henti saat memasuki kamarku.
" Iiihhh... Bunda ganggu orang tidur aja sih, masih ngantuk tau." tak tahan menahan kantuk ku rebahkan lagi tubuh ini, hemm nyamannya.
" Eh... eh... eh... ayo bangun, ada nak Aryan di depan lagi nungguin kamu, isshh... malesnya gak ilang-ilang nih anak." Bunda pun menarik pergelangan tanganku,mendengar nama Bang Aryan langsung membuat mataku melek.
" Ngapain Bang Aryan kemari Bun?"
__ADS_1
" Lah pake nanya, ini udah jam berapa? kamu gak ke cafe nya Abang?" Ya Allah nih otak...udah mikir kalau acara pertunangan nya akan dilakukan malam ini, seseorang tolong bantu aku membersihkan pikiran aneh ini.Ku lihat jam disebelah nakas menunjukkan puk*ul 18.30 OMG sudah selama ini aku tertidur. Segera aku mandi dan bersiap menuju kafe.
Setelah selesai segera kutemui Bang Aryan diruang tamu, rupanya ada Ayah yang menemani, duh melihat dua lelaki special dalam hidupku begitu akrab,membuat ku semakin yakin jika memang Bang Aryan pilihan yang tepat.