
"Cantik banget anak Bunda, Ya Allah Zoya, Bunda masih gak percaya hari ini kamu mau tunangan sayang." seru Bunda dengan kagum melihat penampilan ku saat ini, ya sekarang hari pertunangan ku dan Bang Aryan akan dilakukan. Ku tatap pantulan diri ini dalam cermin, recommended banget salon yang dikelola Shanum, tukang make up nya udah luar biasa berpengalaman, bisa merubah diriku layaknya Cinderella tanpa sepatu kaca malam ini.
Gaun putih yang menjuntai panjang,dipadu dengan pernak pernik mutiara yang begitu indah menambah kesan cantik dan elegan gaun yang melekat di tubuhku yang ramping ini. Tatanan rambut dengan model sanggul kekinian membuat dandanan ku terlihat anggun, make up yang tidak terlalu tebal namun bisa membuat pangling orang yang menatap ku.
Aku pun juga masih tak percaya jika akan secepat ini bertunangan dengan Bang Aryan, semoga Bang Aryan memang jodoh dunia akhirat yang sudah ditakdirkan Tuhan untuk ku. Rasa gugup dan deg-degan menyergap ku, tanpa pacaran kita langsung tunangan.
"Bun, Zoya nervous." ucapku sedikit gugup.
"Kamu tenang aja sayang jangan tegang gini dong, anak Bunda cantik, sempurna dimata Bunda, kamu layak mendapatkan yang terbaik sayang." tutur Bunda berusaha menenangkan.
"Bun, Zoya kan udah bilang pestanya sederhana aja, ini kok meriah banget sih Bun? nggak sesuai ekspektasi." aku hanya ingin pesta yang sederhana dengan bertemakan bunga yang menghiasi dekor rumah ini, ya pestanya diadakan di rumah ku, sengaja tidak ingin diadakan di gedung mewah atau hotel berbintang, bukan karena tidak mampu, hanya saja menurutku itu tidak perlu, lebih baik uangnya ditabung untuk keperluan lainnya.Itung-itung ngirit juga lah ya gaes, make up aja dapat endorse dari salon Shanum, bukan mental gratisan juga ya. Hidup ini tidak selamanya di atas, sedangkan yang kelaparan di luaran masih banyak, bersyukur kita masih diberikan kecukupan.
"Ayah sama Bunda mau yang terbaik untuk kamu sayang, calon mertua kamu juga, mereka ingin yang terbaik untuk anak dan calon menantunya. Gimana, udah selesai kan ini make up nya?" tanya Bunda pada tukang make up yang sedang merapikan alat make up nya.
"Sudah Bu, kalau gitu saya permisi ya Bu." pamit tukang rias pada Bunda dan segera berlalu dari kamar ku, tak berselang lama Shanum pun masuk.
"Ya Allah bun, ini bidadari dari mana? cantik banget anak orang." puji Shanum. Shanum dan Bunda memang sudah sedekat itu, bahkan Bunda sendiri yang meminta Shanum untuk memanggilnya dengan sebutan Bunda.
"Anak Bunda dong, makasih ya Shanum kamu sudah rekomendasi kan tukang rias dari salon kamu, semoga usahanya semakin maju ya sayang."
"Aamiin, sama-sama Bun, Zoya sudah seperti saudara saya sendiri, jadi saya juga mau yang terbaik untuk Zoya." eleh bilang aja modus cibir sisi gelap ku.
__ADS_1
"Semoga kamu juga cepat dipertemukan dengan jodoh kamu ya sayang, biar cepet nyusul Zoya." doa Bunda dengan tulus.
"Aamiin Bun, mohon doa restunya." nah lo kumat lagi kan gesreknya nih anak.
"Maksudnya?" tanya Bunda bingung.
"Gak ada maksud Bun, hehehe... " ucap Shanum cengengesan.
"Ya udah, Bunda tinggal kedepan dulu ya, mau cek tamu yang mulai datang." pamit Bunda.
"Gil@ cantik banget lo Zoy,Bang Aryan bakal klepek-klepek lihat lo kayak gini." heboh Shanum sambil membolak balik kan tubuh ku.
"Biasa aja keles, mau gue gak dandan pun Bang Aryan emang udah kelepek-klepek sama pesona gue." sombong ku membanggakan diri, dan dihadiahi cebikan dari mulut Shanum.
"Lah, yang ada Bang Aryan yang beruntung bisa dapetin gue, cewek yang cantiknya limited edition."
"Gue serius Zoy, lo sadar gak sih? Bang Aryan tu selalu jaga pandangannya kalau sama cewek lain, ngomong ama gue aja gak pernah liat muka gue, orangnya dimana madepnya kemana, sempet gue kira matanya juling tau." gerutu Shanum, emang nih anak rada-rada, masa Bang Aryan yang gantengnya di atas level rata-rata dia kata matanya juling? emang dasar teman gak ada akhlak.
"Kok lo bisa sedetail itu lihat calon suami gue? jangan-jangan lo mau nikung temen sendiri ya?" tuduh ku tanpa alasan. Apa iya bener yang dibilang Shanum, tapi Bang Aryan kalau lagi sama aku pandangannya tajem banget, bikin senam jantung terus kalau doi lagi ngelihatin.
"Gak ada ya istilah ketikung, yang ada cowok lo gampangan kalau emang dia mau. Tapi ini beneran, serius gue, Bang Aryan emang gak pernah mandang langsung cewek selain lo, inget gak waktu Celline datang ke cafe tempo hari? gue juga perhatiin tau, kalau Bang Aryan nunduk terus." terang Shanum serius.
__ADS_1
Apa emang bener ya? kok gue gak tau? atau karna gue yang kurang detail? atau emang gue yang kurang merhatiin? tapi apapun alesannya, terimakasih Bang udah menjaga hati dan pandangan mu, semoga aku juga bisa seperti mu. Aamiin.
"Ya alhamdulillah kalau gitu, emang hanya pesona Zoya yang bisa buat seorang Aryan Saputra klepek-klepek, yang bisa buat seorang Aryan merasakan cinta dan rindu walau tanpa bertemu." pongah ku, Ya Allah emang ni mulut gak ada rem nya, melihat wajah Shanum yang diselimuti awan hitam membuat ku sadar, bahwa tak semua perjalanan cinta seseorang bisa semulus diriku, mungkin benar, aku salah satu orang yang beruntung bisa dicintai seseorang dengan cinta sebesar ini.
"Sha, kok lo tiba-tiba murung?"
"Nanti pasti Celline juga akan datang kan?" ucapnya sendu.
"Mau dia datang atau enggak, lo harus tetap semangat,buat Abang gue bisa melihat sisi lain dari diri lo." entahlah sebenarnya aku juga bingung harus memihak siapa, mungkin untuk saat ini hanya suport yang bisa kuberikan.
"Makasih ya Zoy, lo emang calon adik ipar gue yang baik." nah lo sisi ngelunjak nya udah mulai keluarkan, padahal baru dikasih sedikit ati.
Tok... tok... tok...
"Masuk" seruku.rupanya si Mbok yang datang.
"Neng, disuruh Ibu siap-siap keluar, rombongan pihak laki-laki sudah datang." tutur Mbok Sri memberi tahu.
"Iya Mbok, makasih."
"Aduh Sha kok gue nervous gini ya, mana tangan tiba-tiba gemeter dingin, jangan-jangan gue kena serangan jantung."
__ADS_1
"Hushh... ngaco lo, wajar aja kalau lo nervous, tapi gak usah lebay kali.Ayo gue bantu lo keluar, takut kesrimpet gaun ntar nyungsep berabe." omel Shanum, walaupun agak ngeselin tapi Shanum itu sohib gue yang gak ada duanya, dia tulus apa adanya.
Perlahan tapi pasti, ku langkahkan kaki menuju masa depan yang sudah menanti.