
Jika malam Zoya mengisi live music di cafe Dewangga, maka pagi dia lebih memilih ikut menjaga toko bunga milik Bunda nya, tersedia bermacam-macam bunga segar di sana, ayah pun juga mengelola bibit tanaman buah miliknya. Ada dua orang karyawan yang dipekerjakan, lokasi pun tak jauh dari rumah, jadi memudahkan Zoya kapanpun ia ingin pulang pergi.
" Cantik... " gumam seseorang, Zoya yang tengah merapikan bunga pun sontak menoleh ke sumber suara.
" Udah dari orok kali." sahut Zoya membanggakan dirinya dengan muka judes menyahuti.
" Maksud saya bunganya." ucap pria itu datar, membuat Zoya badmood seketika.
" Eh, ada calon mantu, tumben pagi-pagi sudah kemari? ada yang bisa om bantu? " ucap ayah Zoya yang melihat Aryan sepagi ini sudah mendatangi tokonya. Ya pria itu adalah Aryan.
" Pagi om, saya tadi ke rumah tapi kata mbok Sri semua sudah berangkat ke toko, jadi saya nyusul kesini." ucap Aryan sambil menyalami ayah Zoya. Mbok Sri adalah asisten rumah tangga di rumah Zoya.Zoya pun masih memperhatikan dan penasaran dengan kedatangan Aryan.
" Siapa yang datang sayang?" ucap Bunda dari arah belakang menghampiri Zoya. Belum sempat Zoya menjawab, Bunda pun sudah sumringah karena mengetahui calon mantu yang datang.
" Eh ada nak Aryan, mau ketemu Zoya ya? " ucap bunda dengan semangat, membuat Zoya melongo dengan kelakuan orang tua nya yang absurd.
" Iya tante, cuma sebentar saja, ada yang mau dibicarakan."terang Aryan.
" Lama juga nggak papa, om malah seneng kalau kalian cepet akrab,terus cepet kasih kabar yang baik buat kita." timpal ayah dengan senyum menggoda ke arah Zoya, membuat Zoya melotot tak percaya.
" Ya sudah tante sama om tinggal ke belakang dulu ya." ucap bunda menggandeng tangan ayah ke arah belakang.
" Zoya temani nak Aryan, jangan pasang muka jutek gitu ah,ntar cantiknya ilang." sungut bunda menggoda saat melewati Zoya, membuat Zoya kesal,mau tak mau ia pun menghampiri Aryan sambil mengerucut kan bibir nya.
__ADS_1
" Mau ngomongin apa bang? cepetan gue gak ada waktu."
" Nanti saya jemput, kita berangkat bareng ke cafe. Sudah saya WA tapi tidak kamu balas, makanya saya kemari." terang Aryan panjang lebar.
' Cuma karna WA gak di bales, jauh-jauh datang kemari buat ngomong mau jemput? demi apa coba?' batin Zoya.
" Gue udah biasa bawa motor sendiri bang." Zoya pun masih terlihat cuek.
" Tapi saya mau antar kamu, saya gak menerima penolakan."
" Ishhh lo tu udah ngeyel tukang maksa juga ya bang, serah lu deh." pungkas Zoya, dalam hati kegirangan tapi malu mengakui.
" Zoya, semalam kamu bilang ingin melakukan pendekatan dulu dengan saya, sekarang saya sedang melakukan itu." tutur Aryan membuat Zoya yang terlihat cuek tiba-tiba menjadi salah tingkah.Ada desiran aneh di hati adek Bang.
" Eemmm... lo beneran serius bang mau nikah sama gue?" lagi Zoya mengulang pertanyaan itu, membuat Aryan tersenyum samar disertai anggukan.
" Kapan lo mau jelasin semua ini sama gue? dosa lo banyak ya bang udah sekongkol sama Bang Angga bohongin gue."
" Nanti akan ada saatnya, sekarang saya mau berangkat kerja dulu, udah kesiangan." sambil berlalu meninggalkan Zoya menuju mobilnya yang terparkir di depan toko, tak puas mendengar jawaban Aryan, Zoya pun bersungut kembali.
Sebelum benar-benar meninggalkan Zoya, Aryan pun menoleh kembali.
" Zoya... " panggil Aryan sambil menarik ujung bibirnya dengan kedua jari, mengisyaratkan agar Zoya tersenyum, namun Zoya malah memonyongkan bibirnya ke depan, membuat Aryan semakin gemas.
__ADS_1
" Senyum dong, biar Abang semangat kerjanya."
' Loh...loh...loh...kok udah pinter gombal gitu Bang'
batin Zoya cekikikan melihat sisi lain dari Aryan saputra lelaki yang dikira kaku, ternyata bisa ngelawak juga. Membuat senyum mengembang di bibir ranum nya, Aryan pun ikut tersenyum melihat Zoya, dan segera melaju menuju Kantor.
...****************...
Ternyata Bang Aryan benar-benar menepati janjinya untuk menjemput ku, kami pun menuju ke cafe milik Bang Angga. Sesekali terlibat percakapan ringan, sebatas menanyakan kesukaan masing-masing saat di perjalanan, membuat ku sedikit memahami tentang Bang Aryan.
Setelah 30 menit kami sampai di cafe, saat memasuki cafe ku lihat Bang Angga sedang berbincang dengan seseorang, membuat raut wajah Bang Aryan tiba-tiba berubah, ia pun segera bergabung dengan Bang Angga. Niat hati ingin ikut bergabung namun Shanum telah lebih cepat menyeret tangan ku menuju ruang ganti. Berbagai pertanyaan dia lontarkan tanpa henti.
" Lo beneran mau nikah sama Bang Aryan? lo udah pastiin belum dia beneran normal apa enggak? terus gimana ama si Sapto, dari tadi dia nangis-nangis terus depan Abang lo." ucap Shanum penasaran.
" Jadi yang di depan sama Bang Angga itu Sapto?" ucap ku kaget, bukannya menjawab pertanyaan Shanum aku malah lebih penasaran dengan orang yang bersama Bang Angga. Nggak nggak nggak... nggak bisa di biarin nih, gak dapet Bang Aryan Sapto mau gaet Abang gue? gak boleh, ini gak boleh terjadi. Secepat kilat ku hampiri mereka, terlihat Bang Angga sedang menepuk-nepuk bahu Sapto. Nggak mungkin, ini gak boleh terjadi, pikiran ku udah mulai negatif thinking pemirsa.
" Bang Angga, ngapain lo pegang-pegang Sapto? gue gak rela ya Bang sampai lo belok."
ku tarik lengan Bang Angga agar menjauh dari Sapto, walaupun kita udah kayak Tom & Jerry,tapi gue sayang sama Abang gue satu-satunya. Apa kata dunia persilatan Bang, gue pemegang sabuk hitam waktu di sekolah dulu, punya Abang belok, taruh mana muka gue.
" Lo salah paham lagi dek, Anton kemari mau... " belum sempat Bang Angga menjelaskan sudah ku bekap mulutnya, apapun alasannya aku tak mau tahu.
" Zoya kamu harus dengerin dulu penjelasan Angga." Bang Aryan pun mulai ikut membela, aku sampai lupa bahwa Bang Aryan pun juga sedang terancam, ku tarik juga lengan Bang Aryan agar mendekat padaku. Ku sembunyikan dua lelaki tinggi besar itu di balik badan ku yang mungil ini. Akan ku lindungi kalian berdua.
__ADS_1
Ku tatap seseorang yang begitu menyedihkan di depan ku ini, aneh Sapto tidak seperti biasanya, kali ini dia datang tanpa riasan di wajahnya, rambutnya pun hanya di kuncir asal, tidak ada sepatu hak tinggi menghias di kaki nya, yang ada hanya celana jeans dan sweater tebal melekat ditubuhnya. Sapto hanya menunduk dan menangis, kenapa nih Sapto? sakit kah?
Perlahan ku lepaskan tangan Bang Angga dan Bang Aryan, entah mengapa melihat Sapto dalam kondisi seperti itu membuat ku tak tega. Ku hampiri ia masih saja menangis, patah hati kah?