
Tok tok tok
"Masuk"
Ceklek
"Halo gev" sapa deon sambil duduk di sofa.
"Hm" sahut gavendra
Yah, saat ini gavendra sedang berada di kantor manic's bersama deon yang baru masuk kedalam.
"Lagi ngapain lo?" tanya deon.
Namun pertanyaan itu tidak dijawab sama sekali oleh Gavendra. Pria muda itu malah sibuk melihat ke arah jendela.
Ckrikk
"Ck, kenapa lo foto gue?" Tanya gavendra.
"Satu kali elah" jawab Deon yang membuat Gavendra hanya memutar bola matanya malas. Kemudian Deon mengeluarkan buku dan pena dari tasnya.
"Gue mau buat novel, tapi pakai kisah hidup lo" izin deon.
"Ck, cari yang lain" Gavendra berdecak sambil menolak permintaan sepupunya itu dengan suara datarnya.
"Ya elah, turuti donk permintaan sepupu lo yang ganteng tiada obat ini, gue aduin lo ke mommy tau rasa lo" ancam deon.
"Hm" sahut gavendra.
"Yesss"
"Cepat" ketus gavendra.
"Gavendra Leon Manic. Sebutkan orang menurut lo paling penting dalam hidup lo!" perintah Gavendra.
"Mommy, Daddy, Inti albatross dan.."
"Dan siapa?" tanya deon karena gavendra menggantung jawabannya tadi.
"Her" Gavendra menjawab sambil matanya mellirik ke arah jendela yang membuat deon tersenyum miring.
______________________________________
GAVENDRA LEON MANIC ?
Tap citt Tap citt
Terdengar suara langkah kaki seseorang bersautan dengan bunyi benda yang di gesekkan dijalanan. Seorang pria muda yang menyeret sebuah katana melangkahkan kaki nya masuk kedalam gang yang sangat gelap. Meskipun gelap, pria itu melirikkan matanya kesana kemari untuk memastikan keadaan dengan mata tajamnya.
"Hihihihihi"
Pria itu berhenti dan tertawa dengan tawa khasnya yang dapat menambah suasana gang itu menjadi sangat mengcengkram.
Terdapat tiga orang pria berbeda generasi disana. Terlihat seorang pria tua sedang duduk bersimpuh lutut memohon ampun.
"Ampun tuan, saya hanya mengikuti perintah tuan luxim, lepaskan saya tuan" mohon pria tua kepada pria muda itu.
"Berani mengganggu keluargaku, MATI!" bisik pria muda kepada pria tua itu.
Blassssh! Gluduk!
__ADS_1
Pria muda itupun memenggal kepala pria tua itu.
"Sudah gev?"
"Hm" jawab gave.
Yah, pria muda itu adalah Gavendra Leon Manic. Gavendra seorang anak SMA yang berwajah datar dan sangat irit bicara. Pria muda ini adalah satu satunya pewaris dari perkumpulan mafia yang bernama Albatross. Pria itu tadi sedang membunuh orang yang telah mengusik keluarganya.
"Bereskan!" titah deon kepada bawahannya.
Deonan Rabica adalah sepupu dari Gavendra. Pria itu terbiasa menemani Gavendra saat dia sedang mengeksekusi lawannya.
"Balik?" tanya Deon kepada Gavendra.
"Hm" sahut Gavendra.
Mereka pun keluar dari gang dan masuk ke dalam mobil yang berada di luar gang itu.
Tringg tringg
"Halo gev. Gimana?" tanya seseorang dari balik telepon.
"Aman" sahut Gavendra.
"Bagus boy"
Tut tut
Gavendra pun segera mematikan teleponnya. Dia menyenderkan kepalanya di kursi mobil sambil mengejamkan matanya.
"Kita mau kemana gev?" tanya Deon yang sedang menyetir.
"Oke"
Ketika mereka sampai di depan gerbang mansion Manic, penjaga gerbang langsung membukakan gerbang agar mobil Gavendra bisa masuk. Deon pun memarkirkan mobilnya di depan mansion Manic. Mereka pun turun dari mobil.
"Kalian dari mana saja?" tanya Citra yang ternyata dari tadi menunggu kedatangan mereka dengan tangan bersedekap dada. Citra Manic adalah ibu dari Gavendra.
"Kami habis mengurus penyelundup tadi aunty" jawab Deon sambil menyalimi tangan Citra.
Yah ternyata pria tua yang di eksekusi oleh gavendra tadi adalah penyelundup mansion Manic. Penyelundup itu utusan Luxim
"Apakah dia melukai kalian? Kenapa ada bercak darah di baju mu gev?" tanya Citra khawatir ketika melihat pakaian Gavendra yang ada bekas darah dengan suara lembutnya.
"Ngga ada luka mommy" sahut Gavendra dengan lembut.
"Jadi itu darah siapa?"
"Pastinya itu darah penyelundup tadi" John Landra Manic, ayah Gavendra berjalan sambil berucap. Pria paruh baya itu langsung merangkul bahu istrinya.
"Ayo kita masuk, kamu jangan khawatir sayang. Tidak akan ada satu orang pun yang bisa melukai putra kita" ucap john sambil menatap citra dengan lembut.
"Deon, kamu hari ini menginap disini ya" ajak Citra sambil mengarahkan pandangannya ke Deon, keponakannya itu.
"Iya aunty"
Merekapun berjalan masuk kedalam. Gavendra langsung berjalan menuju lift menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Setelah berganti pakaian dia pun menjatuhkan tubuhnya di kasur dam segera menutup matanya.
Tringg.. Tringg
Namun ketika Gavendra terpejam, tiba tiba ponselnya berbunyi. Dia pun segera duduk dan mengangkat telpon itu.
__ADS_1
"Halo bang gev" mendengar suara pria muda telepon itu membuat gavendra mendengus.
"Hm"
"Bang gev gak ke markas? Kita gak bahas masalah tadi bang?" Tanya Rava.
"Pulang sekolah" jawab gavendra singkat.
Tutt tutt
Kemudian gavendra segera mematikan telepon dan membaringkan lagi kepala nya di bantal. Gavendra menatap langit langit kamarnya sebelum ia tertidur.
_____________________________________
Xerlin Gita Alexandra ?
"Selamat kembali ke Indonesia xerlin"
Seorang gadis manis berbicara kepada dirinya sendiri sambil melangkah menyusuri koridor bandara membawa koper miliknya.
Gadis itu mulai masuk ke dalam taxi online yang sudah dia pesan sedari tadi.
"Gue bakal ambil hak gue disini" Xerlin bergumam sambil melihat ke arah jendela.
Xerlin pun mengambil telepon genggamnya yang berada di tas nya. Kemudian menelpon seseorang.
"Xerlin?" terdengar suara seorang gadis dari teleponnya.
"Gue balik"
"Apaaa?? Hua.."
Tit tit
Xerlin pun dengan cepat mematikan panggilnnya.
Sesampainya di depan gerbang, Xerlin pun turun dari mobil dan menyeret kopernya. Dia pun membuka gerbang dan masuk ke dalam. Gadis itu pun berhenti di depan pintu rumah, menatap pintu itu dan tersenyum miring. Gadis itu mulai menekan bel.
Ting tong ting tong
"Lama sekali astaga"
Cklek
Terlihat seorang gadis yang membukakan pintu sedang melotot karena terkejut.
"Xerlin! Kenapa lo balik?" tanya gadis itu bernama Angel. Angel Ramanita, gadis yang seumuran dengan Xerlin ini merupakan saudara tiri Xerlin.
Xerlin masuk melewati Angel dan berhenti membelakangi Angel. "Ini rumah gue, ada masalah?"
"Oh ya, jangan lupa kasih tau ibu lo itu sama ayah kalau gue pulang" ketus Xerlin.
Xerlin mulai melangkah masuk dan menaiki tangga rumahnya menuju kamarnya. Gadis manis itu masuk ke kamarnya, menutup pintu dan meletakkan kopernya di depan lemarinya. Kemudian dia berjalan menuju tempat tidurnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang empuk dan menatap langit langit kamarnya.
Ting ting
Dentingan telepon genggamnya membuat Xerlin mengalihkan perhatiannya.
Sudah merasa mengantuk dan sangat letih. Gadis itu langsung membuang telepon genggamnya ke sembarang arah dan mulai memejamkan matanya.
__ADS_1