
Aku yakin kamu akan selalu menjadi pelindung ku di saat aku sedang dalam bahaya
Xerlin berteriak ketika mobil mendengar suara tembakan yang menembak belakang mobil mereka
"Astaga siapa yang menembak!" teriak Xerlin lagi.
_bang anak famix ngikutin lo_ ucap rava dari alat komunikasi.
Gavendra tidak merespon ucapan rava dia hanya tersenyum miring.
"Pakai sabuk pengaman" ucap Gavendra datar kepada Xerlin.
"Hah? Kita mau apa?" tanya Xerlin was was
"Balap" ucap Gavendra singkat.
"Hah? Sejak kapan ada balap di jalan raya?" heran Xerlin
Dorrr prangg
"Aaaaaa" Xerlin langsung menutup matanya erat erat.
Gavendra tidak memghiraukan teriakan Xerlin. Pria itu fokus dengan mobil yang di kendarainya. Dia beliuk liukkan mobil agar tembakan tidak mengenai ban mobil itu.
_bang belok kiri disana ada yang tawuran 5 menit lagi. Lewati jalan itu sebelum 5 menit. Setelah itu jalan akan tertutup bang_ ucap Rava
Gavendra melakukan apa yang di perintah rava. Dia menginjakkan gas agar mobil cepat sampai sebelum lima menit.
Tepat 5 menit, mobil Gavendra melewati jalan yang di sebutkan Rava.
"Sempurna"
Gavendra berucap saat melihat kebelakang, jalan sudah di tutupi orang yang sedang tawuran. Lawan akan susah untuk melewatinya.
Gavendra pun melanjutkan perjalanan menuju markas dimana motor Xerlin berada.
"Turun" ucap Gavendra datar setelah mereka sampai di markas. Namun tidak ada yang mengubris ucapannya.
"Xerlin Gita Alexandra turun"
Lagi lagi Xerlin hanya diam dengan menutup matanya dengan tengan yang membuat Gavendra kesal dan langsung menarik tangan Xerlin.
Setttt
_gadis ini benar benar_ batin Gavendra kesal ketika melihat Xerlin ternyata sudah tertidur di dalam mobil.
Deg
Gavendra yang berniat untuk menggoyang goyangkan tubuh Xerlin untuk membangunkannya, terhenti ketika melihat matanya. Gavendra langsung mengalihkan perhatiannya.
_kenapa gue gak tega buat bangunin dia sih anjir, arghhh ada apa dengan gue_
Akhirnya gavendra memutuskan untuk menggendong Xerlin membawanya ke kamarnya di markas Albatross.
"Siapa dia gev dan kenapa?" tanya Devan ketika melihat Gavendra masuk ke markas membawa seorang gadis.
"Teman sekolah tidur"
Devan memutar bola matanya malas mendengar jawaban singkat dari Gavendra.
"Ck, uncle tidak paham kalau kamu bicara singkat seperti itu, sudah lah bawa masuk dia" ketus Devan sebelum keluar melewati Gavendra.
"Makanya pintar" celetuk Gavendra yang mulai dengan mode julidnya.
Langkah Devan terhenti ketika mendengar ucapan keponakannya.
"Astaga Gavendra. Jangan keluarkan mode julid mu sekarang. Uncle sedang badmood. Jika uncle kesal nanti, bisa uncle buang kamu ke pantai seribu" celoteh Devan kesal.
"Coba saja" tantang Gavendra sambil masuk membawa Xerlin menuju kamarnya.
"Hufttt, memang harus butuh kesabaran menghadapinya ketika mode julid" gumam Devan sambil membuang nafas dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah keponakannya itu
Settt
Gavendra meletakkan Xerlin di atas kasur kamar nya ketika mereka sampai di kamar markas.
_"bang lo di markas?"_ tanya Karel dari alat komunikasinya.
"Hm" sahut Gavendra.
_"kita langsung kesana atau ke rumah sakit?"_
"Rumah sakit, gue kesana" ucap Gavendra datar sambil keluar dari kamarnya dan menutup pintu.
_"Oke"_ sahut Karel
_____________________________________
"Bagaimana bisa gagal?!" terdengar bentakan dari telepon seseorang.
"Saya tidak tau tuan. Anak buah saya dua duanya tergeletak tidak bernyawa di lokasi" jawab bima. Bima adalah pimpinan gangster yang di gunakan untuk memyerang orang ketika di suruh/dibayar orang lain.
"Argghhh! Saya hanya menyuruh kalian untuk menangkapnya bukan membunuhnya. Saya sudah membayar kalian,tapi mengurus satu gadis saja tidak bisa. Kelompok tidak berguna, kembalikan uang saya!"
"Uang itu tidak akan kembali! Gara-gara gadis mu itu, anak buah saya meninggal dunia, saya rugi besar. Jadi saya tidak akan mengembalikan uang mu!" bentak bima.
__ADS_1
Tut tut tut
"Arghhh, bagaimana bisa melawan seorang gadis tidak bisa" heran bima dengan anak buah nya.
"Maaf tuan. Saya mendapat kabar, gadis itu di tolong oleh Gavendra, calon pewaris Albatross" ucap salah satu bawahannya.
"Gavendra, punya hubungan apa dia dengan pria berbahaya itu?" Tanya bima kepada bawahannya.
"Tidak ada hubungan apa-apa tuan"
"Semoga saja kita tidak terjerat masalah dengannya, saya tidak mau hanya karena menyerang seorang gadis membuat kita bermasalah dengan Albatross" ucap bima.
_____________________________________
"Siapa nama pasiennya?"
"Kerlina" sahut Deon.
"Kerlina salah satu wanita yang meninggal sesudah melahirkan karena terinfeksi racun. Wanita ini melahirkan seorang anak perempuan. Dokter yang mengurusnya adalah Dokter Eksa" ucap suster dari rumah sakit itu setelah melihat dokumen rumah sakit dari komputernya.
"Hah?!" Heran mereka bersamaan.
"Apakah ada nama lengkapnya" tanya Karel.
"Namanya hanya Kerlina, tuan muda" jawab suster itu.
"Data rumah sakit harusnya lebih lengkap. Apa hanya itu Informasinya? Nama suaminya? Nama anaknya? Apa tidak ada?" celoteh Deon.
"Datanya disini memang tidak lengkap tuan muda."
_seperti di sembunyikan_ batin Gavendra
"Dokter Eksa" celetuk Gavendra.
"Ya, Dokter yang mengurus Kerlina, Dokter Eksa, mungkin dia tau. Beliau pernah menjadi dokter pribadi mereka yang bekerja di rumah sakit ini. Namun dokter itu tidak bekerja lagi disini setelah kematian Kerlina. Mungkin dia merasa bersalah. Tapi kami memiliki identitasnya" tutur suster resepsionis rumas sakit tersebut.
"Minta datanya"
"Kami akan print datanya. Tunggu sebentar tuan muda" ucap suster tersebut.
Suster itu langsung mengeprint data Dokter Eksa yang di katakannya dan memberikannya kepada calon inti Albatross.
"Terimakasih" celetuk Rava
"Kami senang membantu tuan muda" jawab suster itu.
Calon Inti Albatross langsung keluar dari rumah sakit. "Lo yakin ini semua ada urusannya sama Xerlin? Atau Lo yakin kalau Xerlin itu anak Kerlina?" Tanya Deon kepada Gavendra ketika mereka sampai di tempat parkir rumah sakit.
"Hm" Sahut Gavendra.
"Bang Gev kenapa?" Tanya Rava kepada karel. Karel yang mendengarnya hanya mengangkat bahu tidak tahu.
_____________________________________
"Astagaaaa!!!! Lepasin gueee!!!!" Xerlin berteriak karena tangannya saat ini di tahan oleh beberapa penjaga.
"Anda telah menyusup di markas kami. Siapa anda?!" Bentak salah satu penjaga markas.
"Ini gue dimana aja gue kagak tau, mau nyusup gimana?" heran Xerlin.
_Gue gigit aja nih orang_ batin Xerlin kesal.
Takkkk
"Aushhhh" ringis penjaga yang memegangi tangan Xerlin karena Xerlin menggigitnya.
Penjaga itu langsung melepaskan tangan Xerlin membuat Xerlin memanfaatkan kesempatan untuk pergi. Xerlin pun langsung berlari keluar markas.
"Heyy tangkap diaa!!" teriak penjaga itu kepada penjaga yang lain.
Xerlin pun terus menghindar dari sentuhan penjaga yang ingin menangkapnya. Sampai saat ini Xerlin belum bisa di tangkap oleh penjaga markas.
Brummm
Perhatian mereka teralihkan karena ada mobil yang masuk ke gerbang markas.
"Bang ven" gumam Xerlin.
"Tuan gev datang, cepat tangkap dia"
Xerlin pun kembali berlari ketika mendengar teriakan salah satu penjaga. Gadis itu memutar tubuhnya berlari mendekati mobil Gavendra.
Brukk
"Awssss"
Ketika Gavendra turun dari mobil. Xerlin tidak sengaja menabrak tubuh Gavendra saat berlari membuat tubuhnya yang mungil terjatuh ke lantai.
"Tuan muda, dia penyusup markas. Dia telah membuat 3 orang penjaga markas kita babak belur" ucap salah satu penjaga di sana membuat Xerlin membuka bola matanya lebar dan segera berdiri.
"Bang ven lihat mereka ingin menangkap gue dari tadi" adu Xerlin kepada Gavendra dan bersembunyi di belakang tubuh Gavendra membuat Gavendra menatap tajam pada penjaganya.
Penjaga markas pun heran melihat gadis itu malah bersembunyi di belakang tubuh Gavendra.
"Pengecut" remeh Gavendra kepada penjaga markas membuat Xerlin menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
"Dimana motornya?" tanya Gavendra kepada penjaga markas.
Ucapan Gavendra membuat penjaga markas tersadar, bahwa gadis itu adalah pemilik motor yang Karel bawa ke markas kemarin.
"Kami akan membawakannya tuan muda" Penjaga itu langsung pergi mengambil motor Xerlin.
"Ini tuan muda" ucap penjaga itu setelah membawakan motor Xerlin.
Mata Xerlin berbinar ketika melihat motornya. "Motor gue!" ucap Xerlin sambil bertepuk tangan.
"Makasih bang ven" ucap Xerlin.
"Hm" ucap Gavendra
"Bang Ven malam ini gue boleh nebeng ga?" tanya Xerlin.
"Gak" sahut Gavendra.
Mendengar itu Xerlin pun mengecurutkan bibirnya. "Kalau gue di serang lagi gimana?" tanya Xerlin.
Lagi-lagi Gavendra tidak menghiraukan ucapan Xerlin dan sepintas ide muncul di otak Xerlin ketika melihat Karel dengan motornya sedang masuk gerbang.
_gue nebeng karel aja kali ya untuk malam ini, gue takut ayah bakal lakuin hal nekat seperti kemarin_
"Karel" panggil Xerlin sambil berteriak.
Karel yang baru saja turun dari motornya pun melihat ke arah Xerlin yang memanggilnya.
"Kenapa?" tanya Karel sambil mengangkat satu alisnya.
"Malam ini gue nebeng ya, gue takut di serang seperti kemarin" izin Xerlin.
_karena gue tau, tn.alexandra itu, dia gak akan berhenti celakai gue sampai harta ibu jatuh di tangannya_ lanjut Xerlin dalam hati.
"Oke ap-"
"Gue yang antar" Ucapan datar Gavendra membuat ucapan Karel terpotong.
"Kan gue minta tol-"
"Gue bilang, gue yang antar" tekan Gavendra kepada Xerlin sambil memotong ucapan Xerlin
"Oke" sahut Xerlin sambil cemberut.
_Ini orang kenapa si, kan katanya tadi dia gak mau, yaudahlah intinya gue aman untuk beberapa hari ini_ Kesal Xerlin.
"Bang gue mau ngomong tentang famix?"
"Famix siapa?" tanya Xerlin yang tidak mengenal Famix.
"Famix itu mafia kayak kita. Cuman bedanya kita di sisi putih, mereka di sisi hitam" sahut Karel menjawab pertanyaan Xerlin.
"Katakan di dalam" ucap Gavendra datar.
Settt
Gavendra melihat ke sebelahnya ketika merasakan ada pergerakan di sebelahya. Dia melihat Xerlin yang sudah berada di sebelahnya sambil menunjukkan deretan giginya. Gavendra yang heran hanya mengangkat salah satu alisnya.
"Gue ikut lo ya bang ven, nanti malam kita ke rumah gue bareng" ucap Xerlin.
"Hufttt" Gavendra hanya bisa membuang nafasnya perlahan melihat tingkah Xerlin
"Ke kamar" perintah Gavendra melihat Xerlin yang tak kunjung berhenti mengikutinya.
"Kamar yang tadi bang ven?" Tanya Xerlin
"Hm" sahut Gavendra.
"Eh, tapi gimana kalau ada yang ngejar gue kayak tadi?" Tanya Xerlin was was.
"Gak akan"
"Benarkah?" Tanya Xerlin kurang yakin.
"Hm" sahut Gavendra
"Yaudah, bang ven dimana? Kalo gue di kejar gue ke ruangan bang ven aja"
"Lantai 4 ujung" balas Gavendra singkat.
Xerlin pun mengangguk anggukkan kepalanya paham. "Oke"
_____________________________________
"Kenapa dengan Famix?" Tanya Gavendra ketika mereka sudah sampai di ruang rapat markas.
"Adik dari ketua famix adalah suami Criline, ibu tiri Xerlin"
"Sudah mati?"
"Gue juga kurang tau, sebentar lagi rava datang membawa datanya. Oh iya, kapan kita bertemu dengan dokter itu" Karel menjawab sambil meringis mendengar pertanyaan Gavendra.
"Gue atur" balas Gavendra singkat.
"Oke"
__ADS_1
Bruk