GAXER

GAXER
8


__ADS_3

Rahasia apapaun dalam hidup lo, bakal gue cari sampai ujung akarnya.


Suara pintu terbuka kuat mengalihkan perhatian mereka semua. Menampilkan Rava dengan tabletnya.


"Bang gue ada kabar penting" rava masuk sambil memberikan tabletnya kepada Gavendra.


"Kenapa bang?" Tanya Karel melihat Gavendra tak kunjung bersuara setelah membaca isi tablet itu. Gavendra pun langsung memberikan tablet itu kepada Karel.


"Adiknya Rasev pemimpin Famix masih hidup dan di sembunyikan" Karel membaca isi tablet itu dan berpikir. "Apa gunanya disembunyikan?" Gumam Karel.


"Terus tadi Famix nyerang bang gev, kenapa?" Tanya rava heran.


"Apa mereka menginginkan Xerlin?" Pikir Karel.


"Kepala gue pusing mikir ini" celetuk rava.


_Gue harus tanya ke gadis itu nama ibunya sebelum masalah ini semakin rumit, dan dokter kemarin, gue bakal susul orang itu secepatnya buat tau nama suaminya alm.Tante Kerlina_ batin Gavendra.


"Lo tahu sesuatu bang?"


Pertanyaan dari Karel membuat lamunan Gavendra buyar. "Gak"


"Oke"


"Bang Deon mana bang?" Tanya Rava


"Mall. Aunty ajak belanja" ucap Gavendra datar. Rava pun mengangguk anggukkan kepalanya faham.


"Kita latihan kan malam ini?" Tanya Rava lagi.


"Iya ogeb. Besok hari terakhir latihan dan penentuan pasangan. Gue berdoa semoga gue dapat Xerlin" sahut Karel sambil mengadahkan tangannya ke atas seperti berdoa.


Rava hanya memutar bola matanya malas melihat tingkah Karel. Sedangkan Gavendra, dia sudah melototkan matanya mendengar doa karel.


_Gue harap itu gue_ batin Gavendra


Dreett


Kursi yang tergeser membuat perhatian Karel dan Rava mengarah ke Gavendra yg sedang berdiri.


"Lo mau kemana bang?"


"Kamar" sahut Gavendra menjawab pertanyaan Rava.


"Oke.. Artinya rapat sudah selesai kan?" tanya Karel.


"Hm"


Gavendra pun langsung segera keluar dari ruang rapat dan menuju kamarnya di Markas.


Ceklek


"Dimana dia?" Gumam Gavendra ketika melihat kamarnya tidak ada orang.


"Tuan muda saya ingin melapor" ucap salah satu penjaga yang baru datang di depan kamarnya.


Gavendra pun mengalihkan perhatiannya ke penjaga tersebut.


"Gadis yang berada di kamar tuan tadi, Sekarang saat ini sedang berada di dapur dan membuat ke kacauan tuan muda" tutur penjaga tersebut


Gavendra pun langsung masuk ke dalam lift untuk menuju dapur markas.


Disisi lain, tepat di dapur markas. Seorang gadis sedang duduk di atas meja.


"Kalian ini bagaimana, membuat bolu saja tidak bisa, gue lapar astaga, kalian malah membuat kue gosong. Gue makan apa coba" celoteh Xerlin kepada anggota Albatross.


"Saya tidak bisa membuat bolu, saya anggota mafia bukan chef di dapur terkenal" ketus salah satu anggota Albatross.


"Diam lo, jika lo pada berisik, gue aduin ke bos kalian" ancam Xerlin membuat Anggota Albatross terdiam.


"Apa apaan ini"


Suara tegas seseorang membuat semua mengarahkan perhatiannya. Terlihat Gavendra yang sedang menatap datar dapur yang sudah berantakan sesuai dengan perkataan penjaga tadi.


"Maaf tuan tadi non.."


"Bang ven, gue lapar. Tapi mereka ngga bisa masak"


Ucapan Anggota Albatross terpotong dengan ucapan Xerlin yang merengek kepada Gavendra.


"Kenapa gak go food?"


Ucapan datar Gavendra membuat membuat Anggota Albatross yang mendengar terkejut. Karena biasanya hanya kepada keluarganya atau saat rapat, Gavendra berbicara panjang meski datar. Namun saat ini sedang berbicara dengan Gadis yang hanya sebagai adik kelas nya, pria itu berbicara panjang dan cerewet meski datar.

__ADS_1


"Ga ada uang" celetuk Xerlin sambil mengecurutkan bibirnya.


"Berapa no rekening lo?" tanya Gavendra kepada Xerlin. Dia belum tersadar dengan tatapan aneh bawahannya.


"Bang ven mau kirim uang?" tanya Xerlin dengan mata berbinar.


"Hm"


Mendengar jawaban Gavendra. Xerlin langsung memberikan nomor rekening nya.


"Hah? Banyak banget" Xerlin terkejut karena Gavendra mengirimkannya 10 juta hanya untuk go food. "Makasih Bang Ven"


"Hm"


"Permisi bos, kami pamit kembali ke posisi" Bawahan Gavendra pun bersuara membuat Gavendra tersadar dengan perilakunya tadi, pasti membuat bingung Anggota mafia yang melihat..


"Hm" sahut Gavendra tetap terlihat tenang.


"Ayo" ajak Gavendra setelah bawahannya pergi.


"Kemana?" tanya Xerlin heran.


"Mansion"


"Artinya go food nya alamat rumah bang ven?" tanya Xerlin


"Hm" sahut Gavendra.


_____________________________________


"Dia sudah dekat dengan Gavendra, raja sekolah, pemilik sekola" geram Angel


"Apa? Anak itu dekat dengan pemilik sekolah? Waw hebat sekali dia, baru saja masuk sekolah sudah dekat dengan pemilik sekolah" cetus Criline.


"Apapun yang terjadi, kita harus menculiknya dan membuatnya menandatangani berkas itu sebelum hari pengesahan, agar semua kekayaan ini menjadi milik kita" tutur Thomas.


"Bagaimana caranya?" tanya Criline.


"Dia tidak mungkin berlama lama pergi atau menginap di rumah temannya. Hari ini dia akan balik, hari ini kami ada dansa, pasti dia akan balik untuk mengambil peralatannya. Kita tahan saja dia, kita buat dia pingsan dan ikat di gudang" Criline menjelaskan rencana liciknya, Thomas dan Criline pun tersenyum dengan rencana putri mereka.


"Kamu pintar nak" puji Thomas.


_____________________________________


Saat ini sudah pukul 18.30. Xerlin dan Gavendra sudah bersiap menuju ke rumah Xerlin karena Xerlin akan mengganti baju nya terlebih dahulu.


"Hati-hati ya. Nanti main kesini lagi. Kamu juga gev, hati hati, jaga Xerlin nya."


"Hm" sahut Gavendra membuat Citra menggelengkan kepalanya.


Xerlin pun segera menaiki motor yang berbeda dengan Gavendra, karena dia akan membawa motornya balik ke rumah. Mereka pun segera pergi ke rumah Xerlin beriringan.


"Bang gev, tunggu disini ya, gue mau ganti baju dulu" ucap Xerlin setelah meraka sampai ke depan rumah Xerlin.


Xerlin pun langsung memasukkan motornya kedalam gerbang, sedangkan Gavendra menunggu di luar gerbang.


Ting tong


Ceklek


"Selamat datang tuan putri" ketus Criline.


Xerlin pun langsung masuk tanpa berucap satu patah kata pun kepada ibu tirinya itu.


"Kenapa kamu baru pulang?" Tanya Thomas ketika melihat Xerlin menaiki tangga.


"Seharusnya gue yang nanya, kenapa lo tega kirim penjahat untuk bunuh gue" lirih Xerlin. Matanya pun berkaca kaca melihat ayahnya. Dia pun segera menaiki tangga, namun..


Settt


"Hmpppp"


Xerlin berteriak ketika mulutnya di bungkam oleh seseorang dari belakang. Sayangnya kain yang di gunakan untuk membukan Xerlin sudah di taruh obat bius, sehingga Xerlin langsung pingsan.


"Nah, bawa dia ke dalam gudang. Kita ikat dia" perintah Criline sambil tersenyum miring.


"Akhirnya, anak ini sudah kita aman kan disini" lega Thomas ketika sudah mengikat tangan Xerlin dengan banyak tali.


"Aku aka suntikkan ini ke dia. Sebentar lagi dia akan sadar dan kita akan langsung minta tanda tangannya, dia akan menurut dengan kita" celetuk Angel.


Disisi lain, masih berada di kediaman Alexandra. Tepat di depan gerbang rumah itu. Gavendra masih menunggu Xerlin yang tidak keluar dari rumahnya.


"Dia ganti baju, atau tidur sebenarnya"

__ADS_1


Sudah 30 menit Xerlin tak kunjung keluar dari rumahnya. Membuat Gavendra kesal menggerutu kesal.


_Sudah setengah jam, dansa sudah di mulai sejak 15 menit yang lalu. Kemana saja gadis ini, gue susul aja_ Batin Gavendra kesal.


Gavendra langsung turun dari motornya dan berjalan ke depan pintu rumah Xerlin.


Ting tong ting tong


Ceklek


Pintu pun terbuka setelah Gavendra memencet bel 2 kali, menampilkan seorang pria paruh baya.


_Tuan Alexandra, apa dia melakukan sesuatu kepada Xerlin?_ tanya Gavendra dalam hati.


"Siapa anda?"


"Temannya Xerlin, Dimana?" Ucap Gavendra datar.


"Xerlin gak ada di rumah, mungkin dia sedang dansa. Ini waktu nya dansa di sekolah" ucap Thomas sambil melihat Jam di tangannya.


"Dia di dalam. Dimana dia?" Ucap Gavendra dengan penuh penekanan dan menatap tajam ke arah Thomas


"Saya bilang, dia tidak ada di rumah!" Bentak Thomas.


Gavendra tidak menghiraukan ucapan Thomas. Dia langsung masuk ke dalam rumah Alexandra.


Sett Brakk


Thomas yang kesal karena Gavendra masuk tanpa izin, dia langsung ingin memukul Gavendra. Namun kepekaan Gavendra sangat pekat sehingga dia langsung menahan pergelangan tangan Thomas dan menghempaskan ke meja dekat sna.


Gavendra langsung naik ke atas dan berpapasan dengan Angel di tangga yang sedang turun dan mengenakan pakaian untuk dansa.


"Gev?" Panggil Angel.


"Dimana Xerlin?” tanya Gavendra datar tanpa melihat ke arah Angel.


"Ga tau gue, mungkin di sekolah, kenapa lo disini?" Ucap Angel sambil mengedikkan bahu nya setelah itu bertanya kepada Gavendra.


Gavendra pun langsung naik tanpa menghiraukan pertanyaan Angel. Gavendra pun melihat kedalam kemar yang ada di lantai dua, namun tidak ada siapa siapa, membuat Gavendra kesall.


"Arghhhh"


Gavendra pun langsung turun dan melihat kedua orang tua Xerlin dan Angel di bawah.


"Saya bilang, dia tidak ada! Keras kepala sekali kamu! Cepat keluar atau saya akan laporkan polisi!" Bentak Thomas.


Lagi lagi Gavendra tidak menghiraukan bentakan Thomas. Dia langsung berjalan menuju dapur untuk mencari Xerlin. Thomas, Criline dan Angel pun ikut menuju kedapur


Tarrr


"Xerlinnn, arghhh!!" Teriak Gavendra di dalam dapurr sambil membanting piring disana.


Disisi lain, di gudang. Xerlin yang mendengar piring pecah pun terbangun.


"Gue di ikat" gumam Xerlin.


"Xerlinn!!" Terdengar teriakan Gavendra dari luar membuat Xerlin tersenyum.


"Dia tidak ada disini Gavendra" Angel berucap lembut untuk menarik perhatian Gavendra.


"Dia ada disini" tekan Gavendra.


"Bang Ven! Gue disini!" Teriak Xerlin dari dalam gudang membuat Thomas, Criline, dan juga Angel melototkan matanya.


"Lihat saja akibatnya" ucap Gavendra sambil menatap tajam mereka bertiga. Membuat mereka bertiga bergidik ngerj.


Brakkk


Gavendra langsung mendobrak pintu gudang dan masuk ke dalam Gudang. Dia melihat Xerlin yang sudah terikat oleh tali. Gavendra langsung melepaskan ikatan talinya dan menyuruh Xerlin berdiri untuk keluar dari gudang.


Namun saat di luar gudang, Thomas langsung menahan tangan Xerlin.


"Dia anak ku. Kau tidak boleh membawa nya sembarangan!" Bentak Thomas mencengkram tangan Xerlin.


"Awssss" rintih Xerlin karena tangannya kesakitan.


Setttt


"Arghh"


Gavendra langsung menepis tangan Thomas sekuat kuatnya membuat Thomas merintih kesakitan juga.


"Lo nggak cocok jadi ayahnya" ketus Gavendra.

__ADS_1


"Anak kurang ajar!!" bentak Thomas lagi sambil memagangi tangannya yang sakit.


Brukkkkkk


__ADS_2