GAXER

GAXER
16


__ADS_3

Mengapa menemanimu saat ini adalah candu ku?




Xerlin pun membaca chat lain yang ada di handphone nya dan membalasnya.



Saat ini siswa siswi SMA Rajawali sudah pulang sekolah. Grifa dan Zevanya pun memutuskan untuk pergj menjenguk Xerlin. Saat ini Grifa sudah berada di depan gerbang mansion dan menunggu Zevanya.


"Aduh Zevanya kemana sih, bisa semutan gue nunggu" gumam Grifa sambil menyenderkan badannya di sisi mobil nya.


Citttt


"Hai grif, cepat amat lo sampe" sapa Zevanya setelah dia sampai di depan mobilnya Grifa. Dia pun segera melepaskan helm nya dan merapikan poni nya.


Grifa pun menyengirkan giginya. "Iya gue udah dari zaman nenek moyang lo lahir" celetuk Grifa.


Zevanya pun memasang wajah terkejut. "Artinya lo udah nenek nenek dong".


Grifa pun berdecak ketika Zevanya tak kunjung turun dari motornya. "Ck, terserah lo dah, mau masuk bareng gue ga, atau gue tinggal lo disini" ancam Grifa.


Zevanya pun melototkan matanya dan segera turun dari motornya. "Iya iya"


"Ayok" ajaknya sambil menggandeng tangan Grifa.


Tok tok tok


"Kenapa lo ketuk pintu Zev, ada bel" ucap Grifa kesal karena ke bodohan temannya itu.


"Astagoii gue lupaa" sahut Zevanya sambil memukul kepalanya dengan tangannya.


Ting tong


Ceklek


Pintu pun terbuka dengan cepat menampilkan wanita paruh baya yang masih terlihat muda sedang tersenyum manis.


"Eh Grifa" sapa Citra sambil memeluk ponakannya itu. Tatapan Citra pun beralih kepada gadis di sebelah Grifa.


"kalau ini siapa? ya" tanya Citra sambil melepaskan pelukannya.


Bukannya menjawab, Zevanya malah menarik lengan Grifa mengkode nya untuk membantu menjawab.


"Apasih lo" ketus Grifa.


"Dia Zevanya aunty, kami temannya Xerlin. Xerlin nya ada?, kita mau jenguk Xerlin". Ucap Grifa kepada Citra sambil mencari Xerlin.


"Ooh mau jenguk Xerlin, masuk aja ayok" ajak Citra kepada mereka berdua.


"Xerlinnya ada di lantai 2 kamar kosong itu, ruangannya sudah kami ubah seperti ruangan di rumah sakit. Kalian mau minum apa? Biar di antar kesana sekalian?" Citra memberi tahu lokasi Xerlin kemudian menanyakan minuman yang mereka inginkan.


"Emmm, kita mau es krim aja aunt, panas panas gini enaknya makan eskrim" sahut Grifa.


"Oke" sahut Citra.


"Kita ke atas dulu aunt" pamit Grifa.


"Iya nak" mendengar jawaban Citra, Grifa pun segera pergi menuju lift.


Ting


Lift pun tertutup.


"Jadi itu yang ibunya Gavendra?" heran Zevanya.


"Iya itu aunty" sahut Grifa.


"Walau udah punya anak yang sebentar lagi tamat SMA, aunty masih kelihat muda anjir, gue jadi takjub, cantik lagi" puji Zevanya dengan mata berbinar.


"Bibi gue gitu lo" sombong Grifa.


Ting


Karena tujuan mereka hanya lantai 2, pintu lift pun sampai dengan cepat. Mereka pun keluar dari lift.


"Ini mansion udah kayak istana, banyak amat dah jalannya, lewat mana kita" celetuk Zevanya ketika melihat lantai 2 yang terlihat ada 3 lorong dengan tujuan yang berbeda.


"Kalo kamar ada disini, ikut gue" ajak Grifa sambil membawa Zevanya ke lorong yang pertama.


"Itu ujung, itu kamar yang mommy kamar kosong" tunjuk Grifa pada salah satu kamar yang berada di ujung.

__ADS_1


Zevanya pun mengangguk anggukkan kepalanya mengerti.


Tok tok tok


"Masukkk" terdengar suara Xerlin dari dalam ruangan membuat mereka langsung membuka ruangan itu.


Ceklek


"Grifaa Zevaaa" panggil Xerlin ketika melihat Grifa dan Zeva masuk ke dalam ruangannya.


Mereka pun langsung mendekat dan menghamburkan pelukannya ke Xerlin yang sedang duduk di sofa.


"Aaaa gue rindu banget sama kalian" teriak Xerlin.


Grifa yang mendengarnya pun mengusap telinganya. "Astaga, kenapa lo teriak teriak Xerlin, kek udah ga ketemu 1 abad aja" cibirnya


"Iii gue itu udah rindu banget sama kalian" rengek Xerlin.


Zevanya pun langsung menyelidiki Xerlin yang terlihat sangat bersemangat "Gimana keadaan lo?" tanyanya kepada Xerlin


"Iya terus gimana rasanya tinggal di rumah bang Gev?" tanya Grifa juga.


"Bentar, gue jawab satu satu. Gue udah lumayan baik sih, cuman ga tau kadang otak gue kayak gak singkron dan gue mudah banget sedih, gue gak tau itu kenapa. Terus rasanya tinggal disini, enak banget, gimana gak enak? mommy baik, maid maid disini juga baik, disini gue di jaga, di perlakukan dengan baik, begitu juga dengan bang ven, dia juga berlaku baik sama gu-"


"Hah?" Jawaban Xerlin pun terpotong dengan teriakan Grifa dan juga Zevanya.


"Lo bilang apa tadi? Bang ven eh bang gev berlaku baik sama lo?" Heran Grifa, Xerlin pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Padahal dia kalo sama gue dingin banget, kami pun ga pernah ngobrol walaupun sepupu, dia juga gak pernah berperilaku baik sama orang yang gak dia kenal, dia pasti akan berperilaku kasar" cicit Grifa. "Dan sama lo dia berlaku baik?" Tanyanya heran.


"Gue sih ga tau, tapi ya gitu lah, awalnya pun dia kasar sama gue, tapi setelah gue dekat dengannya, dia lama-lama jadi baik, tadi aja setelah gue balas chat kalian, dia juga nanya, gue mau di bawain apa" ucap Xerlin santai, tetapi membuat temannya menganga.


"Apa jangan-jangan ba-"


Ceklek


Ucapan Grifa terputus karena tiba tiba ada yang membuka pintu ruang itu. Pintu itu terbuka dan menampilkan sosok pria muda yang berwajah datar menatap mereka semua yang ada di dalam.


"Halo bang ven" sapa Xerlin sambil mengangkat tangan dan melambaikannya bak orang sedang dada dada.


Gavendra tidak menghiraukan ucapan Xerlin, dia menatap ke dua teman Xerlin. "Keluar" usir Gavendra.


"I-iy-"


"Kenapa kamu menyuruh mereka keluar gev, mereka baru saja datang. Kamu lah yang keluar, kami akan merayakan girl time disini"


"Nah ambillah" ucap citra sambil meletakkan nampan itu di atas meja di depan sofa.


Citra pun ikut duduk di sebelah Grifa dan menatap Gavendra yang sudah sangat kesal.


"Jadi kesal sama mommy?" tanya Citra dengan nada menantang.


"Ngga mommy" sahut Gavendra.


Mendengar jawaban Gavendra, Citra semakin bingung. "Jadi?"


"Aku mau sama Xerlin" celetuk Gavendra santai.


Mendengar itu Citra pun mengulum senyumnya. Sedangkan yang lain sudah keheranan menatap Gavendra yang sepertinya sangat berubah. "Tapi mommy mau ini ada girl time" ucap Citra.


_Itu bang gev apa bukan?_ batin Zevanya meringis.


_Bang gev kesambet apaan sih, kok bisa gini, apa jangan jangan bang gev suka Xerlin_ tebak Grifa dalam hati.


Gavendra pun hanya bisa mengalah jika Citra yang sudah meminta. "Hm, gev tunggu sampai selesai mom" ucapnya sambil membalikkan tubuh untuk menjauh dari ruangan Xerlin.


"Ck ck ck, anak itu" decak Citra melihat tingkah laku putra satu satunya.


Citra pun langsung mengalihkan pandangannya kepada 2 sahabat Xerlin. "Kalian tadi membahas apa?"


"Membahas Gavendra" celetuk Xerlin membuat sahabatnya melotot kepadanya.


_astaga mulut ini anak kok semakin lama semakin cerewet sih_ gerutu Grifa dalam hati karena mutut Xerlin yang ceplas ceplos.


"Tidak apa apa, tidak usah panik ceritakan kepada mommy" Ucap citra yang melihat kepanikan di wajah sahabat Xerlin


Mereka pun menceritakan apa yang mereka semua apa yang mereka bahas tentang Gavendra. Citra pun sesekali tertawa dan menjawab mendengar cerita mereka.


__________________________________


"Gev lo mau kemana" tanya Deon yang baru saja datang bersama dengan 2 temannya dan parkir di depan mansion Manic. Mereka berpapasan dengan Gavendra yang baru saja menaiki motornya.


"Dokter Eksa" sahut Gavendra sambil memakai Helm nya.

__ADS_1


"Hah? Lo mau ke rumah dokter Eksa?" tanya Deon tidsk paham.


"Bukannya dokter Eksa itu, dokter pribadi Alexandra?" tanya Karel ikut bergabung dalam percakapan.


"Hm" sahut Gavendra.


Deon pun menganggukkan kepala nya mengerti. "Oh lo udah kembali mencari tahu tentang misi ini lagi"


"Lo sendirian bang?" tanya Karel.


"Hm" sahut Gavendra.


"Yaudah kalau ada apa apa hubungi dari alat komunikasi aja" ucap Rava.


Gavendra pun pergi meninggalkan mansionnya. Dia berjalan menuju alamat yang tertera di data yang sudah di print oleh pihak rumah sakit.


_Desa kembang sate, butuh waktu satu jam untuk sampai kesana_ batinnya sambil mengendarai motornya.


Ditempat lain, di Desa tujuan Gavendra, Desa Kembang Sate, terdapat rumah yang lumayan besar di bandingkan dengan rumah lainnya. Namun rumah itu hanya di tempati oleh 2 orang yang berbeda jenis kelamin dan juga usia.


"Arghhhh kenapa kepala ku semakin pusing"


"Kakak kenapa sih harus ngingat masa itu, sudah lupain aja, kita juga udah ada disini" Ucap bano yang letih karena mendengarkan keluhan kakaknya sedari tadi.


"Kakak merasa aak ada sesuatu yang dapat membahayakan kita disini" Ucap Kakaknya Bano yang bernama Eksa.


"Tidak, tenanglah, kita akan aman" sahut Bano.


"Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak terduga disini"


"Tidak akan kak, kenapa kakak berpikiran seperti itu. Tenang lah" Ucap bano yang sudah entah beberapa kalinya menengkan kakak nya yang memiliki feeling tidak baik.


Cittt


Gavendra menghentikan motornya tepat di depan rumah yang lumayan besar di bandingkan rumah yang lainnya itu. Dia menatap rumah itu dengan tatapan tajamnya.


Tak lama kemudian, warga warga desa yang melihat seorang pria datang itu pun langsung datang mendekati Gavendra, mereka mengelilingi motor Gavendra.


"Wah tampan sekali"


"Ini mah, calon suami gue"


"Wahhh, pangeran mau ngelamar gue"


"Tampan sekali"


"Dilihat dari motornya pasti kaya"


Bisikan warga warga yang mengelilingi Gavendra pun semakin menjadi setelah Gavendra membuka helmnya. Gavendra menatap warga yang mengelilinginya dengan tatapan tajamnya.


"Kenapa ya di luar pada ngumpul" heran Bano ketika melihat warga yang sedang berkumpul dari jendela rumahnya.


Eksa pun ikut mengintip dari jendela. "Iya ya, kakak jadi takut" ucap eksa sambil bergidik.


"Kenapa kakak takut, ayo kita keluar" ajak Beno.


"Tidak kakak disini saja" sahut Eksa menolak ajakan Beno.


Beno pun langsung keluar dari rumahnya dia berdiri di teras melihat dari kejauhan apa yang di kerumuni warga di depan rumahnya.


Gavendra melihat seorang pria yang keluar dari rumah yang ingin dia tujui dan menatap tajam orang itu.


"Apa benar ini rumahnya Dokter Eksa?" tanya Gavendra dengan suara datarnya kepada salah satu warga tanpa mengalihkan perhatiannya.


Orang yang di tanya pun terkejut mendengar suara datar Gavendra. "I-iya itu rumahnya kak Eksa" sahutnya gelagapan sambil menatap wajah pria di depannya dengan tatapan terpesona.


Gavendra tanpa mengucapkan terimakasih pun langsung melewati warga itu sambil berjalan menuju pria yang berada di depan rumah itu, pria itu tidak lain adalah Beno adiknya Eksa.


_Kenapa dia menatap ku seperti itu_ batin beno menatap heran Gavendra yang sedang berjalan menujunya.


_Kenapa gue jadi menyesal tidak mengajak Deon, kan gue kaku_ batin Gavendra sadar diri, dengan wajah tetap datar, dia pun berhenti di hadapan Beno.


"Dimana dokter Eksa?" tanya Gavendra sambil menatap Beno depan tatapan datar.


"Dokter?" heran Beno


"Hm"


_Jadi pria ini mencari kak Eksa?_ batin beno itu, kemudian dia tersenyum.


"Kak Eksa ada di dalam? Mengapa? Apa anda ingin melamar kakak ku?" Tanya beno tidak jelas dia pun menyengirkan giginya tanpa berdosa telah menanyakan hal tidak jelas.


"Tidak" sahut Gavendra.

__ADS_1


Sahutan Gavendra membuat Beno cemberut "Jadi?" tanyanya malas.


"Ingin menemui dokter eksa" sahut Gavendra.


__ADS_2