GAXER

GAXER
9


__ADS_3

Gue gak pernah paham dengan yang namanya cinta, apakah ini yang di maksud dengan jatuh cinta?


Tiba tiba Xerlin pingsan. Membuat mata Gavendra melotot dan langsung mengangkat tubuh Xerlin yang terbaring di lantai.


"Gavendra, ingat nama gue" ucap Gavendra sebelum dia pergi membawa tubuh Xerlin.


"Yon, kirim kan mobil ke rumah Xerlin" ucap Gavendra dari alat komunikasi.


_emangnya ada apa gev?_ tanya deon heran.


"Cepatlah" ketus Gavendra.


_oke_ sahut Deon


Gavendra pun langsung melangkah keluar rumah itu dan melihat mobil datang tepat waktu dan cepat.


"Dia yang kau katakan anak pemilik sekolah?" Tanya Thomas kepada Angel putri tirinya.


"Iya Yah, kenapa dia menyelamatkan Xerlin apa hubungan mereka?" Heran Angel.


_____________________________________


"Astaga Xerlin kenapa?!" Teriak Citra ketika melihat putra nya menggendong Xerlin dari dalam mobil.


"Mommy panggilkan dokter" celetuk Gavendra sambil membawa Xerlin ke ruang keluarga.


"Iya, sebentar" sahut Citra.


Citra langsung menghubungi dokter leta, dokter pribadi keluarga Manic dan kembali melihat keadaan Xerlin.


"Katakan apa yang terjadi dengan Xerlin" perintah Citra.


"Nanti tunggu Xerlin sadar mom"


"Selamat malam nyonya Manic" sapa dokter leta yang baru datang.


"Dokter, periksa dia" perintah Gavendra yang melihat Dokter leta datang.


"Baik tuan muda" jawab dokter itu kikuk.


Dokter itu langsung memeriksa keadaan Xerlin. Terlihat rautan di kening Dokter itu membuat Gavendra ingin tau keadaan Xerlin.


"Kenapa?" tanya Gavendra datar.


"Tubuh gadis ini baru habis di suntikkan obat yang membuatnya lemah dan pingsan, tapi kenapa tubuhnya bisa sampai terkena obat seperti itu? Biasanya obat itu di gunakan seseorang untuk memaksa seseorang melakukan sesuatu" jelas dokter Leta.


_Thomas bedebah itu ingin memaksa Xerlin berbuat apa? Gue harus minta penjelasan Xerlin_ batin Gavendra.


"Kapan obat itu akan hilang dari tubuhnya dok?" Tanya Gavendra membuat Citra terkejut dengan tingkah putranya yang peduli dengan Xerlin.


"Pengaruh obat ini akan sangat besar tuan muda. Obat ini dapat mengganggu saraf otak dan membuat gila. Makanya dia akan menurut ketika setelah menggunakan obat itu. Karena saraf otaknya terganggu. Tetapi dia juga bisa menolak. Obat itu tidak akan bisa langsung hilang. Perbanyaklah minum susu untuk menghilangkan sedikit sedikit pengaruh obat itu" tutur dokter Leta.


Gavendra pun menggeram dan mengepalkan tangannya mendengar pernyataan dari dokter Leta.


"Kapan dia akan tersadar dok?"


Suara lembut Citra mengalihkan perhatian mereka semua.


"Sekitar jam 9an dia pasti sadar"


"Terimakasih dokter" ucap citra kepada dokter Leta.


"Saya izin pamit, ini sudah malam, saya akan kembali besok untuk memeriksa keadaan nya. Oh iya, siapa nama gadis ini?"


"Xerlin" sahut Citra


"Baiklah, saya izin pamit untuk pulang"


Dokter Leta pun langsung keluar dari mansion Manic diikuti beberapa penjaga mansion.


"Sayang siapa yang sakit?"


Lagi lagi suara berat seseorang mengalihkan perhatian Citra, kecuali Gavendra yang masih menatap sendu Xerlin.


"Xerlin bee" sahut Citra.


"Dia kenapa?" tanya John datar.


"Aku juga ngga tau, tadi Gavendra yang membawa nya dari rumah nya" sahut Citra.


Gavendra tidak menghiraukan percakapan orang tua nyDia membuka hp nya yang sudah di penuhi notif dari temannya.



Gavendra pun langsung membuka notif dan membalas pesan mereka.




Gavendra pun langsung meletakkan hp nya kedalam saku celananya. Masih setengah jam lagi Xerlin akan sadar. Gavendra memutuskan untuk membawa Xerlin ke dalam kamar tamu. Dia pun segera menggendong Xerlin.


"Mau di bawa kemana nak?" tanya Citra yang melihat Gavendra menggendong Xerlin.


"Kamar tamu mom"


"Kenapa kamar tamu? Siapa yanga akan menjaganya di ruang tamu?" celoteh Citra.

__ADS_1


"Gev yang akan jaga dia mom" jawab Gavendra membuat Citra tersenyum.


"Baiklah. Tetaplah bersamanya sampai dia tersadar ya" pinta Citra.


"Hm" sahut Gavendra.


Gavendra pun langsung membawanya masuk ke dalam lift untuk membawanya ke lantai 3 di mana kamar tamu berada.


Settttt


Gavendra langsung meletakkan tubuh Xerlin di atas kasur. Sambil menunggu Xerlin sadar, Gavendra memutuskan untuk tidur di sofa di sana.


_besok gue akan tanya Xerlin tentang ayahnya. Untuk sementara gue ga akan cari tau tentang Kerlina_ batin Gavendra sambil mengejamkan matanya.


_____________________________________


"Awshhh, kepala gue sakit banget" gumam Xerlin sambil memegang kepalanya.


Xerlin pun melihat kearah sofa melihat Gavendra yang sedang tertidur. Dia pun melihat ke arah nakas. Di sana ada handphone nya. Dia pun langsung mengambil handphone di nakas dan membuka nya. Terlihat notif dari handphone nya.



Dia pun langsung membalas chat dari temannya.




Xerlin pun kembali meletakkan hp nya di nakas dan ingin mengambil minum disana karena merasa kepala nya sakit.


Tarrr


Gelas yang ingin Xerlin pegang itu terlepas dari tangannya terpecah dan menyadarkan Gavendra.


"Kenapa?" tanya Gavendra yang sudah ke posisi duduk.


"Gue haus" celetuk Xerlin mendongak ke arah Gavendra.


Gavendra pun langsung mengambil gelas yang baru dan mengisikannya air untuk diminum.


"Makasih" ucap Xerlin.


"Ada yang sakit?" tanya Gavendra datar.


"Kepala gue pusing"


Tiba-tiba Gavendra teringat perkataan dokter Leta yang berkata bahwa Xerlin harus di berikan banyak Susu agar hilang dari pengaruh obat.


"Gue kebawah dulu" izin Gavendra datar.


_____________________________________


"Gev, apa yang terjadi dengan Xerlin?" tanya Deon sambil merangkul bahu Gavendra.


Saat ini mereka sedang berada di dapur dan Deon baru saja dari mengantar Grifa pulang kerumah setelah latihan dansa.


"Gue gak tau, saat gue masuk ke rumahnya, dia sudah di kurung di dalam gudang oleh Tn.Alexandra." cerita Gavendra kepada Deon.


"Ada yang nggak beres dengan kehidupannya. Apa ini akan menjadi salah satu misi kita?" Tanya Deon.


"Hm" sahut Gavendra sambil berjalan membawa susu masuk kedalam lift.


"Gev, Xerlin sudah sadar?"


Teriakan seseorang menhentikan kegiatan Gavendra. Gavendra langsung menoleh ke wanita yang baru saja bersuara. Terlihat Xerlin yang berjalan di ikuti John yang merangkul posesif pinggangnya.


"Sudah mom" sahut Gavendra.


"Mommy mau ikut ke kamarnya" ucap Citra sambil ikut masuk ke dalam lift.


Ting


Mereka pun sudah sampai ke lantai dua. Mereka berjalan menuju kamar Xerlin.


Ceklek


Pintu pun di buka oleh Gavendra. Deon, Citra dan John pun masuk kedalam.


"Xerlin" panggil Citra dengan suara lembutnya.


"Aunty" sahut Xerlin sambil tersenyum.


"Kamu ngga papa kan nak?" Tanya Citra kepada Xerlin.


"Tidak apa apa aunty" jawab Xerlin.


"Minum" Gavendra berucap sambil menyodorkan segelas susu kepada Xerlin.


"Aunty bantu duduk ya" Citra pun langsung membantu Xerlin untuk duduk.


"Kamu minumlah, besok kamu tidak usah sekolah dulu, istirahat lah yang banyak" titah Citra kepada Xerlin sambil mengambil gelas yang di sodorkan Gavendra dan di berikan kepada Xerlin.


"Iya aunty"


"Cepat sembuh Xer, gue pamit pulang dulu ya, mommy nyariin" pamit Deon.


"Iya, Makasih bang Deon" sahut Xerlin.

__ADS_1


Deon pun langsung menyalami tangan Citra dan juga John, kemudian dia keluar dari kamar Xerlin.


"Sayang ini sudah malam, tidur lah nanti kamu sakit" ucap John kepada Citra.


"Aku mau tidur disini aja hari ini bee" sahut Citra.


"Gak" tolak John


"Aku maunya disini"


"Ck, baiklah" John pun mengalah kepada Citra, karena ia tau wanita itu selalu benar.


"Gev, keluarlah, ada yang ingin daddy bicarakan"


"Hm" sahut Gavendra.


_____________________________________


"Apakah ada perkembangan dari misi mu?"


"Hm" sahut Gavendra


Saat ini Gavendra dan John sedang berada di ruang rapat yang ada di mansionnya.


"Apa?"


"Mendapatkan alamat dokter yang membantu anak nya melahirkan"


”anak?" tanya John heran


"Kerlina memiliki satu anak, dia melahirkan sebelum meninggal, perempuan" tutur Gavendra


"Dimana anak itu?"


"Tidak tau" sahut Gavendra


"Ck, bagaimana cara kamu akan menemukan itu?" John berdecak ketika mendengar jawaban Gavendra.


"Anaknya kelahiran 17 april 2006" jawab Gavendra.


"Sudah kamu cari siapa saja kelahiran itu?" tanya John lagi.


"Sudah"


John pun mengangguk anggukkan kepalanya mendengar jawaban Gavendra.


"Perkembangan lain?"


"Tidak ada"


"Hahaha, sudah berapa hari kamu menghabiskan waktu. Hanya menemukan ini? Jangan terlalu fokus kepada kehidupan gadis yang tidak berguna Gavendra" celetuk John sambil tertawa sinis.


Gavendra yang mendengar itu pun menatap tajam ayahnya. "Jangan katakan gadis itu tidak berguna dad" desis Gavendra


"Kenapa? Kamu jatuh cinta kepadanya?" ejek John.


Gavendra pun langsung mengembalikan tatapan nya semula dan mengalihkan pandangan.


"Hahahha, dekati dan capailah dia. Jangan buat dia terluka nak" John berucap sambil menepuk pundak Gavendra dan keluar dari ruang rapat.


_apa gue beneran jatuh cinta dengan Xerlin?_ tanya Gavendra dalam hati.


Dia pun segera menyusul daddy nya keluar dan menuju ke kamarnya untuk tidur.


_____________________________________


Kringgggggggg


Malam sudah berganti pagi, namun sang empu masih tidur bergelut di dalam selimut meski alarm nya sudah berbunyi.


Kringggggggg


Tak


"Ck, astaga" Gavendra pun mulai terganggu dengan bunyi alarm. Dia pun langsung mematikan bunyi alarm tersebut dan membuka matanya perlahan.


Tok tok tok


"Masuk" ucap Gavendra


Ceklek


"Gev bangun lah, jangan sampai telat hari ini"


"Xerlin bagaimana?" Tak menghiraukan perintah Citra, Gavendra malah menanyakan hal tentang Xerlin yang membuat Citra tersenyum.


"Dia tidak apa-apa, tadi sudah mommy berikan susu, kalau kamu khawatir setelah mandi, jenguk dia di kamarnya" ucap Citra sambil menahan tawa.


"Mommy kenapa?" tanya Gavendra karena melihat tingkah Citra yang aneh.


"Ah tidak, mommy hanya sedang menertawakan putra mommy yang dulu tidak peduli dengan gadis sekarang malah sedang memperhatikan seorang gadis" tutur Citra sambil tersenyum.


Gavendra yang mendengar itu pun langsung mengalihkan wajahnya malu. Namun wajahnya tetap datar. Gavendra pun segera turun dari kasurnya menuju kamar mandi untuk mandi.


Citra pun segera keluar dari kamar Gavendra dan menutup pintu kamar putra nya itu.


_________________________________

__ADS_1


__ADS_2