
Aku berharap ini pertemuan kita yang akan menjadikan kamu milikku seutuhnya
"Siapa satunya?" tanya Deon dari balik alat komunikasi karena Karel menggantungkan ucapannya.
"Xerlin Gita Alexandra, Gadis kelahiran 17 april 2006" jawab Karel sambil melirik ke Xerlin yang sedang tidur di mejanya.
"Kita harus cari tahu tentang mereka" ucap Deon.
"Mulai dari Xerlin" celetuk Gavendra datar.
"Bu Arleta datang!" seru benzo, wakil ketua kelas mereka ketika melihat bu Arleta menuju ke ruang kelas membuat Xerlin terbangun dari tidurnya.
"Selamat pagi anak-anak" sapa Bu Arleta.
"Pagi bu"
"Karel, kamu sudah mengumpulkan nama nama yang akan ikut dansa dari kelas kita?" tanya bu arleta dengan Karel yang merupakan ketua kelas.
"Sudah bu" jawab karel.
"Siapa saja?"
"Saya, Rava, Dimas, Xerlin, Tisya, Ralita"
"Baiklah, nama yang di sebutkan tadi, malam ini kita akan latihan gedung Auditorium sekolah"
"Baik bu" jawab mereka bersamaan.
Kringg kringg
"Baiklah anak anak, silahkan istirahat"
Bel istirahat berbunyi bu Arleta pun keluar dari kelas, di ikuti siswa siswi yang ingin keluar.
Xerlin pun ikut keluar untuk menemui kedua sahabatnya.
"Xerlin" panggil grifa ketika melihat Xerlin.
Xerlin pun segera menghampiri mereka.
"Kalian mau kemana?" tanya Xerlin.
"Tadi kami mau ke kelas lo, tapi karena lo udah disini, yok ke kantin" jawab Zevanya sambil menarik tangan Xerlin menuju kantin.
Mereka pun sampai di kantin. Namun keadaan kantin sangat lah ramai membuat mereka bingung memilih tempat duduk.
"Sudah penuh semua" celetuk Zevanya melihat tidak ada kursi yang tersisa.
"Disana?" Xerlin berkata sambil menunjuk tempat dimana calon inti Albatross duduk.
"Lo yakin mau duduk di sana?" tanya Zevanya.
"Disana ada bang deon kan, abangnya grifa? Jadi ayok kita kesana" Xerlin pun mengajak kedua temannya untuk duduk disana.
"Enggak lah, ga... Lah? Itu kenapa Xerlin sama temannya menuju kesini?" Ucapan Karel yang sebelumnya terputus ketika melihat Xerlin dan kedua temannya.
Settt
Xerlin langsung duduk di sebelah Gavendra tanpa izin yang membuat semuanya melototkan matanya lebar.
"Semuanya selamat makan, ayo grifa, zeva duduklah" ucap Xerlin sambil menyuruh kedua sahabatnya duduk.
"Bukan semuanya selamat makan, tapi selamat makan semuanya" celetuk Rava membenarkan ucapan Xerlin.
"Sama saja tidak ada bedanya, zev, grif ayo duduk" ketus Xerlin.
"Pergi" Usir Gavendra dengan suara datarnya kepada Xerlin membuat Zeva dan Grifa meringis.
"Ayo kita pergi xer" ajak Zevanya menarik lengan Xerlin, namun xerlin malah menahannya dan melirik ke arah Gavendra dengan mata menajam.
"Lo siapa berani ngusir kita? Emang ini sekolah bapak lo?" Xerlin berdiri dan berkacak pinggang sambil membentak Gavendra.
"Sekolah ini memang punya ayahnya Xer" bisik grifa kepada Xerlin membuat xerlin membuka lebar matanya.
_pantes aja kemarin tuh satpam patuh sama dia_ batin Xerlin meringis.
"Bang, kita boleh numpang sebentar gak? Tempat duduk yang lain udah full" tanya grifa kepada Deon.
Deon sedari tadi asik dengan bakwan kesukaannya. Dia pun mendongak dan melihat adiknya itu.
"Duduk aja disitu, jangan di sebelah Gavendra, bahaya" jawab deon sambil menunjuk kursi di sebelah Karel.
Grifa pun menarik tangan Xerlin yang sedang menatap Gavendra dan Zevanya duduk di tempat yang di tunjuk Deon.
__ADS_1
"Kalian duduk aja, biar gue yang pesan" suruh grifa sambil berdiri.
"Heh mba Xerlin, jangan sampe segitunya donk natap Gavendra ntar suka lo" Celetuk Karel yang sedari tadi memperhatikan tatapan Xerlin.
"Ck, ga mungkin" Xerlin pun tersadar dan berdecak mengalihkan perhatiannya.
__________________________________
"Kenapa lo ajak kita kesini gev?"
Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30. Sma Rajawali sudah pulang sejak tadi. Sekarang calon inti Albatross berada di tempat pemakaman karena di ajak Gavendra dan mereka sudah berada di depan makam almarhum Kerlina
"Pasang perekam suara di dekat sini" suruh Gavendra membuat teman temannya ternganga..
"Lo mau dengar suara pocong yang lagi jalan bang? Sampe harus pasang perekam suara" tanya rava heran.
"Kita akan mengetahui siapa anak almarhum tante kerlina dari perekam suara" ucap Gavendra datar.
"Maksudnya?" heran Deon.
"Ck, pasang saja" ketus Gavendra datar setelah berdecak.
"Oke bang" Rava menempelkan perekam suara di belakang nisan yang telah di lindungi oleh plastik agar tidak rusak saat terkena hujan.
"Ini bakal berhasil gev?" Tanya Deon kepada gavendra.
"Hm" jawab Gavendra.
__________________________________
"Mereka kok belum datang sih"
Disisi lain ada seorang gadis manis yang sedang duduk menunggu temannya di depan rumah.
Tin tin
"Xerr" panggil Grifa dari dalam mobil.
Xerlin pun langsung mendekati mobil mereka.
"Kalian lama banget dah" celetuk Xerlin.
"Itu si zeva milih baju nya pake drama" Grifa berucap sambil melirik Zevanya yang sedang berkaca.
Sudah 15 menit di perjalanan. Xerlin mulai merasakan haus. "Grif grif" panggil xerlin.
"Kenapa?"
"Berhenti di toko itu ya, gue mau beli air mineral" suruh Xerlin.
"Oke"
Citt
Grifa memarkirkan mobilnya di dekat toko. Xerlin pun segera turun dari mobil untuk membeli minuman.
"Permisi, pak disini ada air mineral ga?"
"Maaf kak stok air mineral sudah habis" jawab penjual tersebut.
"Huftt, di mana ya ada jual air mineral?" Tanya xerlin.
"Coba kakak masuk ke gang itu disana ada pasar kecil banyak toko"
"Baiklah terimakasih pak"
Xerlin pun berjalan menuju gang yang di tunjuk bapak itu. Setelah beberapa langkah gadis itu melihat pasar yang bapak itu sebutkan. Banyak toko, mulai dari toko perhiasan, makanan dan lainnya. Gadis itu pun membeli Air mineral di toko jajanan ringan di sana.
"Cepat berikan kami uang 10 juta!" Bentak seseorang.
Namun ketika ingin balik dan melewati lorong di dekat toko jajanan itu. Gadis itu mendengar suara bentakan. Gadis itu berniat mengintip asal suara itu.
Xerlin melihat terdapat 3 orang yang berbeda generasi dan salah satu di antara mereka sedang memegang pisau yang di arahkan ke leher seorang pria muda yang sedang menggunakan masker.
"Kenapa lo diam! Berikan uang 10 juta, atau kami akan membunuh mu!" Bentak salah satu orang lagi.
"Heyy!!" Tanpa berpikir panjang Xerlin datang sambil berteriak.
"Lepas kan pria itu!" Bentak Xerlin.
"Siapa lo berani sama kita?" Tanya salah satu preman yang sedang memegang pisau membuat xerlin tersadar.
_astaga xerlin, lo bego banget sih, ngapain lo kaya superhero segala_ batin Xerlin meringis.
__ADS_1
"Gue? Gue superhero pemberantas orang orang seperti kalian" Xerlin memeberanikan diri sambil menunjukkan ototnya.
Preman itu pun tertawa mendengarnya. "Hahahaha"
"Cepat serahkan uang yang lo punya atau kami akan membunuhmu" ancam preman itu sambil mengarahkan pisau ke leher Xerlin.
_Kalo gue serahin ini uang, gimana gue mau belanja anjir. Aduh Xerlin kenapa lo bego banget, gue punya apa ya. Haaa, gue kasih kalung pemberian mantan gue kali ya_
"Gue gak punya uang, tapi gue punya sesuatu yang bisa di tukar jadi uang" ucap Xerlin sambil memberikan kalung yang dia pakai.
"Itu kalung harganya 15 jutaan, pemberian mantan gue sih"
Preman yang memegang pisau itu pun langsung menyuruh temannya untuk mengecek harga kalung itu di sebuah toko perhiasan di dekat sana.
"Iya bos kalung ini harga nya sekitar 15 juta" ucap preman itu setelah memeriksa kalung itu di toko.
Preman itu pun langsung menurun kan pisau nya dari leher xerlin dan mereka pergi dari sana.
"Hufttt" Xerlin pun bernafas lega.
Tanpa xerlin sadari, masih ada seseorang yang sedang memperhatikannya sedari tadi. Gadis itu melupakan seseorang yang ingin dia tolong tadi.
menarik ucap pria itu dari dalam hati.
Settt
Pria itu pun memegang tangan Xerlin dan membawa Xerlin pergi dari gang itu.
"Heh! Lo mau bawa kemana astaga? Lo mau nyulik gue? Gue udah nolong lo tadi. Gue kagak punya apa- lagi. Lo juga, Kagak ada terimakasih terimakasih nya. Lepasin gue" Celoteh Xerlin.
"Diam atau gue bunuh!"
Ucapan pria itu membuat Xerlin langsung menutup mulutnya rapat. Pria itu menghentikan langkah nya di depan sebuah toko perhiasan dan membuka maskernya.
Settt
"Lo?!!" teriak Xerlin setelah melihat wajah pria itu.
"Nggak usah teriak teriak. Gue nggak tuli" ketus gavendra datar.
Yah, pria tadi adalah Gavendra. Setelah dari pemakan pria itu memutuskan untuk pergi kesebuah tempat di dekat sana.
"Gak nyangka gue, gue harus ketemu lo lagi, lo siapa sih, apa lo penguntit gue, sampe kita harus bertemu terus?! Apa lo jodoh gue?" tanya Xerlin heran.
"Gavendra"
"Ha apa? Nama lo Gavendra?" tanya Xerlin lagi, ketika tidak mengerti maksud ucapan singkat Gavendra.
"Hm"
Eh anjir irit bicara banget nih orang tapi gue liat liat ganteng juga batin Xerlin sambil memperhatikan wajah Gavendra.
"Tunjukkan kalung paling mahal disini.
Lamunan Xerlin buyar ketika mendengar ucapan datar Gavendra kepada penjual perhiasan.
"Ini tuan, harga kalung ini dua puluh tiga juga lima ratus ribu" Ucap penjual perhiasan sambil menunjukkan sebuah kalung yang hiasannya sangat cantik.
Gavendra langsung mengeluarkan kartu ATM nya untuk membayar kalung itu yang membuat xerlin melototkan matanya.
"Ambil" celetuk Gavendra.
"Ga usah gue bis.."
"Ga ada penolakan" ucap Gavendra menekankan kata katanya.
Xerlin pun mengambil kalung itu. "Lain kali lo kasi uang aja ke gue, ga usah beli kalung kayak gini, kan mahal" celoteh Xerlin cengengesan sambil memakai kalung itu.
"Ambil" Gavendra memberikan Xerlin uang 100.000 sebanyak tiga lembar.
Xerlin pun langsung menerima uang itu dengan senang hati. "Makasih bang ven. Pas banget gue mau belanja."
Setelah mengucapkan kata belanja tiba-tiba Xerlin teringat dengan temannya yang ia tinggalkan di mobil. "Astaga, Grifa sama Zevanya pasti nyariin gue. Gue pergi dulu bang ven" pamit Xerlin meninggalkan Gavendra yang sedang memperhatikannya.
__________________________________
"Xerlin kemana sih, lama banget"
"Itu dia" tunjuk grifa pada Xerlin yang sedang berlari kearah mobil mereka.
"Hehe, maaf lama" Xerlin meminta maaf setelah masuk ke dalam mobil.
"Yaudah, yok jalan grif"
__ADS_1
"Oke" sahut grifa.