GAXER

GAXER
13


__ADS_3

Aku akan selalu bersamamu di saat kamu mengalami masalah


"Perasaan gue gak enak untuk ninggalin Xerlin" ucap Gavendra.


Deon pun tersenyum mengejek. "Ya elah, udah jatuh cinta aja ni orang" gumam Deon


"Kenapa lo punya firasat kek gitu Gev?" tanya Deon heran.


"Kemarin ada yang nyerang gue di tempat parkir" ucap Gavendra kembali berjalan


"Apa?, kenapa lo gak biilang dari kemarin?" tanya Deon lagi sambil ikut berjalan.


Bukannya menjawab, Gavendra malah memberikan perintah kepada Deon. "Suruh rava cek kamera CCTV di tempat parkir!" titah Gavendra.


"Oke"


Deon pun langsung mencari telepon genggamnya di dalam saku, mencari nomor Rava dan menelpon nya.


"Va, lo dimana?" tanya Deon.


"_Gue udah di sekolah bang, kenapa?_"


"Bagus, coba lo cek kamera CCTV tempat parkir rumah sakit kemarin malam"


_"Dari jam berapa bang?"_


"Coba dari jam setengah 9, kalo udah ketemu simpan aja, lo tunjukkinnya di kantin sekolah istirahat" titah Deon.


_"Oke"_


Tepat setelah mematikan telepon, Deon melihat sosok orang berbaju hitam di dekat lorong sebelah. Ia merasa sedang di awasi sosok hitam.


"Gev, lo merasa ada hal aneh?" tanya nya kepada Gavendra.


"Hm" sahut Gavendra.


"Di lorong no 4 gev" ucap Deon, Deon pun langsung berlari mengejar sosok orang berbaju hitam itu. Gavendra pun mencari jalan yang berbeda arah, agar bisa mengepung sosok itu.


Brak sett brak


"Maaf" teriak Deon ketika tidak sengaja menabrak suster dan orang orang.


"Heh jangan lari lari di rumah sakit donk"


Pria misterius itu langsung berlari ke tempat parkir, melihat mobil berwarna hitam. Pria misterius itu langsung berlari, namun tiba-tiba Gavendra sudah berada di hadapannya.


"Buka masker" titah Gavendra.


Dor


"Gev!!"


Bukannya menjawab, pria itu malah mengeluarkan pistol dan menembak, namun tidak tepat sasaran, karena Gavendra lebih dulu menghindar.


Pria misterius itu melihat kearah mobil hitam yang sudah ada di seberang rumah sakit, pria itu langsung berlari di saat Gavendra berputar menghindar Peluru. Pria itu menyebrang jalanan yang luas.


"Astaga"


Deon yang menyadari pun juga ikut mengejar, tapi tiba tiba jalan di penuhi mobil yang berlewatan membuat Deon susah menyebrang. Deon pun melihat tempat dimana mobil hitam tadi berada, sekarang sudah tidak ada.


"****, cepat sekali perginya" gumam Deon. Dia pun berbalik.


"Lo gapapa?" Tanya nya ketika Gavendra sudah berada di hadapannya.


"Hm" sahut Gavendra.


__________________________________


"Apa?!" Rava dan Karel berteriak terkejut dan langsung berdiri ketika mendengarkan cerita Deon tentang kejadian di rumah sakit.


"Ck, coba ga usah teriak-teriak, lihat seluruh orang liatin kalian" kesal Deon.


Mereka pun langsung melihat sekeliling dan menyatukan tangan, tanda minta maaf dan langsung duduk kembali di kursi kantin.


"Apa itu Famix ya?" Tebak Rava


"Famix ga mungkin ngirim orang untuk mengawasi, sejarah, mereka suka terang terangan menyerang" jawab Karel.


"Gue gak tau, tapi intinya itu orang licik" sahut Deon.


"Gimana rekamannya?" tanya Gavendra kepada Rava.


"Ini bentar lagi bang, gue login, Nah!" Rava kembali berteriak ketika dia sudah login ke akun CCTV rumah sakit. Rava pun menunjukkan rekaman itu ke Karel Deon dan juga Gavendra.


"Pria itu serba hitam dan memakai masker" heran Karel


Deon pun menatap fokus rekaman yang ada di tablet milik rava "Bentar, lo liat, dia bersembunyi di belakang mobil hitam setelah nyerang lo pakai pisau, dan mobil hitam itu sama seperti mobil yang pria misterius tadi masuki" ucapnya sambil berpikir.


"Gue rasa itu orang yang sama, iya kan gev" sambung Deon


"Hm" sahut Gavendra


"Lo harus perketat penjagaan Xerlin" titah Deon


"Iya, meski bang gev ga da hubungan sama Xerlin, tapi cukup dekat dengan Xerlin akan membahayakannya" jelas Karel.

__ADS_1


"Gue udah kirim 5 bodyguards untuk jaga kamar Xerlin." Sahut Gavendra.


"Cari yang terpercaya bang gev, jangan sampe ke blablasan" saran Rava.


"Gue setuju. Baru kali ini gue setuju sama lo" Karel setuju dengan Rava sambil mengangkat tangan kanannya, membuat rava mencibirnya.


"Buka rekaman lorong 4, lorong 5 tempat Xerlin di inap" titah Gavendra kepada Rava.


Rava pun langsung mengambil Tablet nya dan mengotak atik Tabletnya


"Nah, lihat itu bang" Rava berucap sambil menunjukkan Tabletnya.


"Terlihat dia masuk di ruang sebelah Xerlin" heran Karel.


"Cari tau siapa orang yang di rawat itu"


"Kita masuk diam diam aja kali ya" celetuk Rava sambil meletakkan telunjuk ke dagu nya.


"Tolong ya, bego lo ga usah di bawa kesini dulu" cibir Karel kepada Rava.


"Gue pikir, dia ke rumah sakit memang untuk menemui orang itu, tapi dia gak sengaja ketemu bang gev di parkiran dan dia nyerang lo bang" pikir karel.


"Karena dia menemui bang gev, dia denger percakapan bang gev dan Mommy, sehingga dia tau kelemahan bang gev untuk sekarang adalah Xerlin" lanjut Rava


"Mistrius" celetuk Karel


"Misterius bukan mistrius ege" Rava pun memperbaiki ucapan karel yang salah.


Karel pun melototkan matanya. "Sama aja" belanya.


"Ih, pantes aja telur nilai bindo lo" cibir Rava.


Lagi lagi karel melototkan matanya dan berdiri "Enak aja lo bilang, nilai gue tuh bebek terbang"


"Sama aja ege" ketus Rava ikut berdiri


"Beda"


"Sama"


"Beda"


"Ck, sama yang bontot aja kagak mau ngalah lo" celetuk Rava.


"Ngapain ngalah sama lo" ketus Karel.


"Diam" bentak Gavendra melerai perdebatan mereka.


"Maaf bang gev" Ucap mereka bersamaan dan kembali duduk.


"Sampe pelabuhan bisa terbang, masuk, udah bel" ucap Deon sambil berdiri.


"Sejak kapan bel, kita ga dengar?" Ucap Karel dan Rava bersamaan lagi.


"Sejak kalian masih tinggal di alam mimpi" ketus Deon. Kemudian dia dan Gavendra berjalan manjauhi meja kantin dan keluar dari kantin


Karel pun mengedarkan pandangan nya keseluruh penjuru kantin "Pantesan udah kosong nih kantin" ucapnya


"Yok lah rel" ajak Rava sambil berdiri dan berjalan keluar kantin.


"Tunggu gue ege" Setelah bersuara karel pun ikut berdiri dan keluar kantin.


__________________________________


Dalam sebuah ruangan rumah terlihat seorang bawahan yang sedang melapor ke atasannya dan seseorang yang sedang terbaring sakit.


"Jadi gadis yang dekat dengan Gavendra, kamarnya di sebelah kita?" Tanya orang itu kepada bawahannya.


"Iya tuan, makanya penjagaan di sana sangat ketat" ucap bawahan orang itu.


"Ck ck ck, Gavendra Gavendra akhirnya kali ini kau punya kelemahan dan aku punya senjata untuk menghancurkan mu" Orang itu berdecak sambil tersenyum miring.


"Adikku Rassel, abang lo ini berjanji, akan menghancurkan orang yang berani membuat mu terbaring disini, akan ku hancurkan"


"Bersiaplah untuk bertemu dengan ku" sambungnya.


__________________________________


"Nak Xerlin" panggil Citra.


"Iya mom" sahut Xerlin sambil menoleh ke arah Citra.


"Besok sore, kamu sudah boleh keluar dari rumah sakit" ucap Citra sambil mengusap ujung kepala Xerlin.


Xerlin pun tersenyum kepada Citra, "Terimakasih mom, sesungguhnya Xerlin pun sudah bosan seharian di rumah sakit. Baringan disini menunggu bang ven pulang, minum susu dan lainnya" ucapnya.


Citra pun berhenti mengusap kepala Xerlin dan memegang tangan Xerlin. "Setiap orang sudah biasa seperti itu, dulu saat mommy melahirkan Gavendra pun harus di rawat disini beberapa hari. Sebenarnya mommy tidak mau, tapi daddy nya Gavendra selalu berhasil membujuk mommy untuk tetap disini. Setelah seminggu baru mommy balik." Cerita Citra dengan suara lembutnya.


"it-"


Tlittt tlittt


Baru saja Xerlin ingin membalas cerita Citra, ucapannya malah terpotong oleh suara handphone Citra yang berdering.


Citra pun langsung mengangkat telepon. "Halo?"

__ADS_1


_"Sayang, bisakah kamu pulang sebentar?"_ terdengar suara john dari telepon.


"Kenapa dad?, kenapa harus pulang?, aku masih mau menunggu Xerlin disini. Sebentar lagi Gavendra balik, baru aku bisa kesana" tolak Citra


_"Aku nggak bisa nemuin jam yang kemarin aku beli"_ ucap John.


Citra pun memutar bola matanya malas mendengar ucapan John tadi. "Astaga daddy, belum punya cucu udah pikun aja, gimana kalau udah punya cucu malah lupa sama cucu"


_"Sayang, aku nggak akan pernah lupa sama cucu, bisa kesini sebentar? Kata kamu kan, Gavendra sebentar lagi pulang"_


"Iya, Gavendra pulang jam setengah 3 hari ini, masih setengah jam" sahut Citra.


_"Yaudah kalau kamu belum bisa pulang, aku tunggu kamu sebentar lagi"_


Tut


Citra pun langsung mematikan sambungan teleponnya membuat Gavendra berdecak dari seberang sana.


"Kenapa mommy?" tanya Xerlin setelah Citra mematikan teleponnya.


"Biasa, daddynya gev, lupa sama barang yang baru di beli kemarin" ucap Citra malas.


Xerlin pun tersenyum menahan tawa mendengar ucapan Xerlin. "Yaudah, mommy pulang aja bantu uncle, gapapa kok Xerlin di sini, lagi pula di depan ada Bodyguards kan. Xerlin gapapa kok, sebentar lagi bang ven juga pulang."


"Kamu ngga papa?" tanya Citra tidak enak.


"Ngga papa mom" sahut Xerlin.


"Baiklah kalau kata kamu ngga papa, mommy pulang dulu ya" pamit Citra sambil berdiri dari kursi yang ada di sebelah Ranjang.


"Iya mommy"


Citra pun langsung berjalan keluar ruangan Xerlin. Sebelum menutup pintu kamar Xerlin dia menyempatkan untuk melambaikan tangan dengan Xerlin. Xerlin pun membalas lambaian Citra.


"Kalian, saya pulang dulu, sebentar lagi Gavendra datang, tolong jaga Xerlin ya" titah Xerlin kepada para penjaga disana.


"Baik nyonya"


Citra pun tersenyum mendengar jawaban para Bodyguards dan dia melangkah keluar menjauh dari kamar Xerlin.


Di dalam ruangan Xerlin menatap bosan handphone nya. Sama sekali tidak ada yang mengechat


_membosankan_ batin Xerlin.


Xerlin pun menyalakan televisi dan menonton beberapa siaran televisi yang baginya juga membosankan.


"Astaga, siarannya pun buruk sekali" gumamnya.


Tlittt tlitttt


Tiba tiba handphone Xerlin berbunyi dan mengalihkan perhatiannya, tertera nama Bang Ven di hanphone nya. Dia pun tersenyum dan segera mengangkat telepon itu.


"Halo bang Ven" sapanya


_"Mau apa?"_ Tanpa menjawab sapaan Xerlin, Gavendra langsung to the poin menanyakan pertanyaannya.


"Maksudnya?" heran Xerlin.


_"Gue mau kesana, lo mau nitip apa?"_


"Eemm mau silverqueen boleh?"


_"Hm, lagi?"_


"Minum boba coklat aja"


_"Hm"_


Tut


Xerlin pun berdecak ketika telponnya diputuskan oleh Gavendra.


"Nelponnya cuman nanya itu, males banget gue, ga ada nanya kabar, ga ada nanya apa kek. Ngeselin" Celoteh Xerlin.


Xerlin pun menatap seluruh ruangannya di rawat.


"Ini ruangan VVIP, keluarga bang ven pasti yang bayarin gue, gue gak punya apa apa"


Tatapan Xerlin pun tiba tiba berhenti pada sosok hitam yang sedang mengintipnya dari balkon kamar rumah sakit.


_Siapa itu? Aduh gue mau ngecek tapi ga ada tenaga, gue suruh Bodyguards aja kali ya_


Ceklek


Lamunan Xerlin tiba tiba terhenti ketika pintu balkon itu terbuka, sosok hitam itu pun masuk ke kamarnya.


"Hey, Siapa lo?!" bentak Xerlin dengan suaranya yang tersisa.


Pria misterius itu pun langsung mengangkat pisau dan melemparnya ke arah Xerlin.


Setttt


"Aaaaaaaaaaa" Xerlin berteriak sambil menutup matanya.


__________________________________

__ADS_1


__ADS_2