GAXER

GAXER
11


__ADS_3

Gue janji, gue akan selalu ngelindungi lo, apapun masalah lo, gue akan selalu menemukan jalan keluar buat lo


Gavendra mengalihkan perhatiannya ketika mendengar seseorang yang memanggilnya.


"Tuan, saya pembantu rumah ini, sudah sejak nona Xerlin di lahirakan saya bekerja disini, saya tahu, dimana nona Xerlin tuan, saya mendengar Tuan Thomas saat ini sedang membawanya ke pengacara agar nona Xerlin langsing menandatangani berkas harta ini tuan" ucap wanita paruh baya itu tanpa basa basi.


Gavendra yang mendengarnya pun langsung pergi tanpa mengucapkan terimakasih dan masuk ke mobilnya.


"Va, cari siapa pengacara keluarga Alexandra, kabari gue secepatnya" ucap Gavendra kepada rava dari alat komunikasi sebelum dia menjalan kan mobilnya.


_"Pak sutiyo, pengacara keluarga Alexandra, coba bang, lo ke firma hukum"_ tutur Rav


Gavendra pun menuruti perintah rava untuk ke firma hukum.


_____________________________________


Disisi lain, di rumah Pak Sutiyo, gadis yang sedang Gavendra cari cari sedang terbaring lemah.


"Dia anaknya Kerlina?" tanya Pak Sutiyo, pengacara keluarga Alexandra.


"Iya pak"


"Kenapa dia pingsan?" heran Pak Sutiyo


"Dia sedang tidak enak badan dan sakit. Tapi dia akan segera sadar" jawab Thomas.


"Maaf Tuan. Saya rasa Xerlin bisa menandatangani surat, ketika dia sembuh saja."


Mendengar itu membuat Thomas melotot tidak terima "Tidak! Setelah dia sadar, dia akan menandatangani itu" bentak Thomas.


"Baiklah, saya akan mencari dokumennya, dan akan membacakan persyaratan setelah dia sadar" sahut Pak Sutiyo.


"Baiklah"


_____________________________________


"Dimana Orang yang bernama Sutiyo?" tanya Gavendra kepada resepsionis firma hukum.


Setelah sampai di firma hukum, Gavendra langsung menghampiri meja resepsionis.


"Pak Sutiyo tidak masuk hari ini tuan, dia ada pertemuan dengan klien di rumahnya"


Mendengar jawaban dari resepsionis,  Gavendra langsung menanyakan  alamat rumah pak Sutiyo "Dimana rumahnya?"


"Di komplek sejati no 47 tuan" sahut resepsionis itu, kikuk.


Tanpa mengucapkan sepatah apapun, Gavendra langsung pergi menuju tempat yang di sebutkan resepsionis tersebut. Untung saja tempat itu dekat dengan Firma hukum membuat Gavendra akan cepat menemukan Xerlin.


_"Gue janji, gue bakal ngelindungi lo"_ batin Gavendra


_____________________________________


"Maafkan saya tuan, tapi menurut data dari nyonya kerlina, hanya Xerlin yang dapat mewarisi semua hartanya"


"Tapi Xerlin akan segera memberikan itu kepada kami, iya kan nak?" tanya Thomas kepada Xerlin. Xerlin hanya mengangguk dan membuat Thomas tersenyum.


"Cepat buatkan surat pengalihan harta" titah Thomas membuat Criline tersenyum puas.


"Baiklah, nona Xerlin boleh tanda tangan disini"


Sebenarnya Xerlin ingin menolak tapi kesadarannya yang di ambil alih oleh obat membuatnya harus menandatangi kontrak pengalihan harta itu. Thomas memberikan pena ke tangan Xerlin dan Xerlin langsung menerima Pena itu.


Settttt


Xerlin sudah menandatangani itu yang membuat Criline dan Thomas tersenyum miring.


_Akhirnya harta itu sudah jadi milik Tua bangka ini, Gue akan buat dia menjatuhkan harta itu kepada Angel dan membuatnya menandatangani surat perceraian_ batin Criline yang ternyata mempunyai rencana licik untuk menjatuhkan Thomas.


_sekarang harta kerlina sudah jadi milik gue, bukan milik anak sialan ini_ batin Thomas.


Brakkkk


Pintu utama yang terbuka kasar mengalihkan perhatian mereka semua Menampilkan Gavendra dengan mata tajamnya menatap semua orang yang ada di ruangan itu dan beralih menatap Xerlin yang dalam keadaaan tak berdaya  sedang melamun ke arah kertas.


_Xerlin_ batin Gavendra.


Pria itu langsung berjalan menuju ke arah thomas dan..


Bug


Gavendra mendaratkan satu pukulan di pipi kanan Thomas.

__ADS_1


"Anak kurang ajar"


Settt Bugh Bugh Brakkk


Thomas akan membalas namun Gavendra cepat menangkap kepalan tangannya, memukul nya dua kali di pipi kiri Thomas dan menghempaskan tubuhnya di atas meja.


"Jangan pernah ganggu gadis itu lagi bedebah!" Murka Gavendra.


"Hahahaha, kau bawa saja anak sialan itu, saya sudah mendapatkan semuanya" Thomas berucap sambil tertawa dan menyeka darah yang keluar dari bibirnya.


Gavendra tidak menghiraukan, pun langsung berlari kearah Xerlin dan menggendong nya ala bridal style.


"Lo udah siapkan mobil?"


_sudah gev_ jawab Deon dari seberang telepon.


Gavendra langsung membawa Xerlin masuk kedalam mobil dan membawanya ke rumah sakit, karena Xerlin saat ini sangat lemah, obat kemarin yang disuntikkan saja belum bisa hilang pengaruh nya, dan hari ini dia harus di suntik lagi.


Sesampainya di rumah sakit, Xerlin langsung di sambut oleh dokter dokter yang menunggu di tempat patkir. Mereka langsung meletakkan Xerlin ke atas kasur dan mendorong masuk ke dalam UGD.


"Lo akan baik baik aja" ucap Gavendra kepada Xerlin yang ikut mendorong Xerlin masuk ke dalam UGD


"Bagaimana keadaan Xerlin nak?" Tanya Citra ketika sudah sampai ke rumah sakit. Wanita itu melihat Rambut Gavendra yang sudah berantakan dan banyak keringat di dahinya.


"Dia akan baik mom" Gavendra menjawab pertanyaan Citra kemudian dia duduk di kursi yang di sediakan untuk menunggu pasien.


Ceklek


Tidak lama kemudian, Dokter pun keluar dari ruang UGD.


"Bag-"


"Bagaimana Xerlin?"


Ucapan Citra terpotong dengan ucapan Gavendra yang cepat menanyakan keadaan Xerlin.


"Keaadaan nona Xerlin sedang tidak baik, keadaan otak nya yang terpengaruh obat semakin memburuk karena obat itu semakin banyak di tubuhnya, kami tidak ada penawar obat itu, seperti yang saya katakan kemarin, hanya susu lah yang dapat menyerap pengaruh obat" tutur dokter pribadi mereka yang bekerja di rumah sakit itu.


_Thomas bedebah itu sangat gila_ batin Gavendra.


"Mungkin waktu itu mereka menyuntikkan obat itu lagi kepada Xerlin" celetuk Citra.


Dokter itu pun langsung masuk dan memerintah suster disana. "Suster, pindahkan nona Xerlin ke ruang VVIP" ucap Dokter itu.


_____________________________________


"Iya, mommy akan ceritakan dan mommy juga akan minta tolong kepada kamu untuk membantu Xerlin." Sahut Citra. Citra pun langsung menceritakan semua apa yang di ceritakan Xerlin waktu itu.


Saat ini mereka sedang berada di ruang VVIP Xerlin, mereka menunggu Xerlin sadar.


"Gev rasa, semua harta itu sudah di tangan Thomas" celetuk Gavendra.


"Hah? Maksud mu?" tanya Citra tidak paham.


Gavendra pun menceritakan apa yang terjadi di rumah pak sutiyo pengacaranya keluarga Alexandra.


Citra yang mendengarnya pun terkejut dan tidak terima. "Gev, kita harus membantu Xerlin nak, bagaimana pun itu harta terakhir bunda nya Xerlin, dan hanya itu yang Xerlin punya dari bunda nya. Cepat hubungi dadd-!"


"Mengapa kita harus membantu dia?, Kita tidak punya hubungan apa apa dengannya, biarkan dia yang memutuskan dan mencari solusinya"


Ucapan Citra terpotong oleh ucapan datar John. Namun ucapan John membuat Gavendra mengepalkan tangannya dan menatap tajam John.


"Kenapa boy?" Tanya John datar yang ikut menatap tajam Gavendra.


"Dia milikku dad" sahut Gavendra tak kalah datar.


Mendengar itu, John pun tertawa dan berucap sesuatu. "Hahahaha, ini yang daddy tunggu tunggu, Akhirnya kau mengatakan ini boy"


"Kita harus membantunya, gev rasa semua ini ada hubungannya sama Kerlina" pikir Gavendra datar.


"Dari mana kau mengetahui itu boy? Apa kau memiliki bukti" Tanya John kepada Gavendra.


"Bukti akan segera Gev temukan dad" sahut Gavendra.


"Ck, terserah kalian, intinya mommy mau, Xerlin harus kita bantu, kalian mengerti?" ketus Citra sambil melipatkan tangannya di depan dada.


"Iya mommy" sahut mereka berdua bersamaan.


_____________________________________


Sudah pukul 3 sore, Xerlin belum terbangun dari tidurnya. Gavendra pun masih setia tidur di kursi sebelah ranjang Xerlin menemani Xerlin, hingga terbangun. Hanya tersisa mereka berdua di ruangan, karena semuanya sudah pulang.

__ADS_1


Inti Albatross pun sebentar lagi akan mengunjungi mereka, karena SMA Rajawali sudah waktunya pulang sekolah.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat tidur Gavendra terusik. Dia pun terbangun dari tidurnya.


Tok tok tok


"Ck, masuk" ketus Gavendra.


Pintu pun terbuka menampilkan 2 sahabat Xerlin. Mereka sebenarnya ingin masuk menunggu Deon dan teman temannya saja, namun Deon yang mengatakan ada urusan membuat mereka harus masuk terlebih dahulu.


"Permisi, Bang Gev, boleh kita masuk" izin Grifa.


Meski mereka sepupuan, Grifa tetap gugup saat bersama Gavendra karena walaupun dia tidur di mansion Manic, tetapi mereka tidak pernah mengobrol atau berbicara.


"Hm" sahut Gavendra.


Grifa dan Zevanya pun masuk membawakan sekeranjang buah yang mereka sediakan untuk Xerlin.


"Xerlin belum bangun" bisik Zevanya kepada Grifa.


"Iya, kita duduk sofa dulu aja" balas Grifa juga berbisik.


"Kapan abang lo kesini" bisik Zevanya lagi kepada Grifa.


"Mungkin sebentar lagi" balas Grifa.


"Enghhhh"


Mereka semua melihat kearah Xerlin yang sedang menggeliat tersadar dari tidurnya.


"Xerlin" ucap Gavendra pelan dan datar.


"Bang ven" panggil Xerlin ketika melihat Gavendra ada di sebelahnya.


"Gue haus" sambung Xerlin.


Gavendra pun langsung berjalan menuju nakas yang sudah di siapkan susu oleh Citra sebelum mereka pergi. Gavendra membantu Xerlin duduk dan bersandar lalu menyuruh Xerlin meminum susu itu.


"Terimakasih" ucap Xerlin sambil tersenyum manis kepada Gavendra. Sedangkan Gavendra masih setia dengan wajah datarnya.


Ceklek


Mereka semua mengalihkan perhatian ke pintu pun yang terbuka, menampilkan 3 sahabat Gavendra yang sedang tersenyum.


"Eh nona Xerlin dah sadar" ucap Karel sambil masuk ke dalam ruangan.


Rava dan Deon pun ikut masuk ke dalam. "Nih kita bawa roti dan juga susu buat lo" ucap Deon kepada Xerlin.


"Terimakasih Bang Deon" sahut Xerlin.


" Zev, Grif" panggil Xerlin kepada dua sahabatnya yang sedang melamun menatap Deon dan gengnya yang baru datang. Panggilan Xerlin pun menyadarkan mereka berdua.


"Eh, Xer, kami bawa ini buah buat lo, ini bisa menyerap racun" ucap Grifa sambil berdiri meletakkan keranjang Buah itu di atas nakas.


"Heh dia bukan keracunan ege" ketus Karel.


Grifa pun langsung melototkan matanya ke karel dan meletakkan tangannya ke pinggang. "Siapa yang bilang dia keracunan?" tanya Grifa.


"Lo tadi" sahut Karel.


"Gue bilang, buah bisa menyerap racun, bukan Xerlin keracunan, apa sih lo" cibir Grifa.


"Kenapa lo bawa buah kalo lo tau xerlin ga keracunan" balas Karel sama sama mencibir.


"Kan biasanya orang sakit di bawain buah ege, makanya otak tuh di pake, punya otak jenius tapi bego" ketus Grifa.


"Pftttt"


Karel pun melototkan matanya. Semua orang yang mendengar jawaban Grifa pun menahan tawa.


"Sudah lah anjir, gini aja kalian debatin" lerai Deon.


"Iya makanya punya otak itu di pake rel" ejek Rava.


"Enak aja lu bilang, lo itu pake otak lo" cibir Karel kepada Rava.


"Gue ahli nya di teknologi, bukan debat debat gak jelas kayak lo" sahut Rava.


"Hahaahah"

__ADS_1


Semuanya pun kembali tertawa mendengar jawaban Rava. Oke karel, kali ini lo yang tereliminasi.


_____________________________________


__ADS_2