
Jangan pernah merasa sendiri, karena gue selalu ada buat lo.
Gavendra saat ini sudah berada di lorong rumah sakit. Dia saat ini sudah menuju kamar Xerlin.
Saat berada di depan kamar Xerlin dia melihat para penjaga menundukkan kepalanya. Gavendra pun tak menghiraukan mereka. Namun saat Gavendra ingin membuka pintu, dia mendengar teriakan Xerlin dari dalam kamar.
Gavendra langsung melototkan matanya dan membuka pintu ruang inap Xerlin.
Ceklek
"Kenapa?"
Gavendra melihat Xerlin dengan wajah yang sudah pucat sedang menutup matanya dengan tangan dan dia pun bertanya.
Xerlin pun membuka matanya perlahan dan dia melihat sosok Gavendra berdiri di daun pintu.
"Bang ven, lihat" Xerlin pun berkata sambil menunjuk pisau yang sudah tertancap sempurna di senderan ranjang rumah sakit.
Gavendra yang melihatnya pun langsung melihat ke arah pintu balkon memang yang sudah terbuka.
"****" ucapnya sambil berlari ke arah balkon, dia pun tidak menemukan apa apa disana.
"Cepat ke rumah sakit" ucap Gavendra kepada teman temannya dari alat komunikasi.
"Bang ven" panggil Xerlin. Membuat Gavendra menoleh kearahnya dan berjalan menuju ranjang Xerlin.
Xerlin pun reflek memeluk Gavendra ketika Gavendra sudah dekat dengannya. "Gue takut" rengeknya.
Gavendra pun langsung membalas pelukan Xerlin dan melihat kearah pisau yang tertancap sempurna di sandaran itu. Gavendra pun memakai sarung tangan dan langsung mencabutnya.
_Dia tidak aman berada di sini_ batin Gavendra.
Ceklek
Pintu pun terbuka menampilkan teman teman Gavendra yang sudah melototkan matanya.
"Lo mau bunuh Xerlin bang?" celetuk Karel.
Pasalnya saat ini Xerlin sedang memeluk Gavendra, dan Gavendra memegang pisau. Seperti Gavendra ingin membunuh Xerlin
Gevendra tidak menghiraukan ucapan Karel dia hanya memutar bola matanya malas melihat tingkah temannya.
"Periksa sidik jari yang ada disini" Gavendra berucap sambil memberikan pisau ke mereka.
Mereka pun segera melangkah masuk ke ruang inap Xerlin dan Deon pun menerima pisau yang gaganggnya sudah di lapisi plastik.
"Apa yang terjadi?" tanya Deon ketika melihat Gavendra sepertinya sedang menahan amarah.
"Pindah kan Xerlin"
_Gue gak akan bisa berlama lama suruh lo disini, disini gak aman_ batin Gavendra.
Xerlin yang mendengar pun segera langsung mendongakkan kepalanya. "Gue pulang ke mansion?" tanya Xerlin.
"Hm" sahut Gavendra
Deon pun menganggukkan kepalanya mengerti "Jadi kita urus administrasi pemindahan Xerlin ke mansion?" tanyanya kepada Gavendra
"Hm" sahut Gavendra lagi.
__________________________________
Saat ini mereka semua sudah berada di mansion. Begitu pula dengan peralatan rumah sakit yang di butuhkan Xerlin semuanya sudah berpindah ke kamar kosong di mansion Manic.
"Sebenarnya apa yang terjadi bang?"
Calon inti Albatross saat ini sudah berada di ruang rapat. Mereka akan membahas kejadian yang ada di rumah sakit yang menjadi alasan mengapa Xerlin di pindahkan.
"Ada yang menyerang Xerlin" jawab Gavendra menjawab pertanyaan dari Karel.
"Nah ini CCTV kamar Xerlin" ucap Rava setelah menemukan rekaman kamar Xerlin.
"Lihat ini, pria misterius itu lagi, pria itu berasal dari mana tiba tiba sudah muncul di balkon Xerlin?" heran Karel
Rava pun mengangguk anggukkan kepalanya juga heran. "Iya ya"
"Kamar sebelah" celetuk Gavendra yang membuat semua orang melihat kearahnya.
Deon pun langsung mengarahkan pandangannya ke Rava. "Rav, coba lo cari tahu siapa yang menginap di rumah sakit kamar VVIP 8" titah Deon.
"Kalo itu kita harus minta data ke rumah sakit, mana bisa kita hack itu akun rumah sakit, pasti bakal lama" Sahut Rava.
"Rumah sakit itu penuh teror, ngeri gue" Karel bergidik ngeri jika harus kembali ke rumah sakit itu. Jika harus bertemu sosok hitam yang baginya seperti hantu.
"Cemen" ketus Rava.
"Ck, sudah tidak usah berdebat, kalian berdua ini sejak tadi tidak berhenti berhenti" Lerai Deon agar Karel dan Rava tidak memperpanjang masalah.
__ADS_1
Karel dan Rava pun diam dan saling mencibir dalam hati.
"Jadi kita harus meminta data rumah sakit?" tanya Deon.
"Astaga sebenarnya dia itu musuh kita atau suruhan Thomas sih" Rava berucap sambil meremas pipinya.
"Tidak mungkin juga suruhan Thomas bisa sehebat itu" celetuk Karel.
"Hebat dari mana, dia ingin membunuh Xerlin aja tidak tepat sasaran" ejek Rava.
"Shuttt lo diamlah, liat itu badak udah merah mata mau kejar lo" bisik Deon kepada Rava dan Karel.
Rava dan Karel pun menoleh ke arah mata Deon. "Pftttt" Mereka menahan tawa ketika melihat Gavendra yang sudah menggenggam tangannya erat mendengar kata 'ingin membunuh Xerlin'
Gavendra melirik mereka malas dan membuang nafas perlahan. "Huftttt, besok kita kembali ke rumah sakit"
"Hah?" Tanya mereka sambil mencerna ucapan Gavendra.
"Oke oke" celetuk mereka ketik sudah mengerti.
"Kita harus minta bantuan tetua ngga sih?" Pikir Rava.
"Ck, gue malas banget sama tuh bapak², kita yang kerjain misi, mereka yang dapat nama Albatross" kesal Karel.
"Ini misi kita ege, makanya ini tantangan kita untuk menjadi seorang pemimpin, ini pun seharusnya mereka tidak membantu sedikit pun" tutur Deon menjelaskan maksud dari Tugas tetua.
"Benar juga" gumam Karel.
Rava pun langsung melototkan matanya. "Sekarang gue tau, kenapa misi kita ga kelar kelar. Ini pasti semua karena lo ga iklas ngerjain misi jir" celetuknya.
"Apa lo, gue iklas kok" ketus Karel
"Tadi kenapa lo kesel sama tetua?" Cibir Rava.
"Ya kan-"
"Siapa yang kesal sama kita?"
Ucapannya Karel pun terpotong. Mereka semua pun melihat ke arah pintu yang sudah terbuka di mana disana ada Kafi yang sudah bersedekap dada.
"Tuh Karel" sahut Rava membuat Karel melototkan matanya.
"Bercanda pi" celetuk Karel sambil menunjukkan deretan giginya.
Kafi pun langsung menoleh kearah Karel dan mencibirnya. "Dih, anak bangsul, kalau mau jadi pemimpin, tuh misi abisin dulu, menggali asal usul Kerlina meninggal aja belum, ini udah mau nyelamatin anak Kerlina lagi" celoteh Kafi.
"Bukannya Kerlina meninggal karena melahirkan?" Heran Karel.
Bukan Kafi yang menjawab melainkan Gavendra. Karel, Rava dan Deon pun terkejut, melihat ke arah Gavendra.
"Nah tuh denger" celetuk Kafi.
"Kok lo gak bilang kita gev" tanya Deon heran.
"Gue gak tau, tapi saat gue ke makam almarhum aunty Kerlina, di papannya tertulis dia meninggal tahun 2007 sedangkan Xerlin lahir tanggal 2006" jelas Gavendra panjang, tapi tetap dengan nada datarnya.
"Kok gue gak tau" celetuk Karel.
"Makanya, jangan banyak ngeluh sebelum nyelesain misi, semangat gak sih mau ambil jabatan, kalo ga-"
"Siapa yang bilang ga, orang kita semangat kok, iya gak rav" tolak Karel
Celotehan Kafi pun terpotong dengan tolakan Karel.
Rava pun hanya mengangguk anggukkan kepalanya setuju.
Kafi yang melihatnya pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia pun langsung menatap Gavendra. "Jadi kamu sudah tau gev tentang itu?"
"Hm" sahut Gavendra.
"Rencana selanjutnya?" Tanya Kafi kepada Gavendra.
"Menemui dokter Eksa" jawab Gavendra.
Deon pun menganggukkan kepalanya. "Dokter yang membantu Kerlina melahirkan?" Tanyanya.
"Hm" sahut Gavendra lagi.
"Bagus, kalian harus bergerak cepat"
_________________________________
Gavendra berjalan menyusuri lorong mansionnya. Dia sedang menuju ke kamar dimana Xerlin berada.
Ceklek
Gavendra pun langsung berjalan ke arah ranjang dimana Xerlin sudah tertidur pulas disana.
__ADS_1
"Bunda Xerlin sendiri, Xerlin rindu bunda"
Gavendra melihat ke arah Xerlin yang berbicara namun dia sedang tidur. Pasti dia mengigau.
"Siapa yang bilang lo sendiri?" tanya Gavendra sambil mengusap kepala Xerlin.
"Lo ada gue" sambungnya.
Gavendra pun langsung menarik tangannya kembali setelah mengusap kepala Xerlin. Dia pun langsung berjalan menuju sofa untuk tidur. "Selamat malam" gumamnya sambil melirik ke arah Ranjang Xerlin.
__________________________________
"Minum susu ini" titah Gavendra sambil menyodorkan segelas susu kepada Xerlin.
"Emmm, gue boleh dansa kan hari nih bang ven?" Bukannya mengambil susu itu. Xerlin malah menanyakan hal lain.
"Hm, cepat ambil" ketus Gavendra.
"Gue besok boleh sekolah kan bang ven?" Lagi lagi Xerlin menanyakan sesuatu yang membuat Gavendra mendengus kesal.
"Hm" sahut Gavendra.
Mendengar itu, Xerlin pun tersenyum "Makasih bang ven"
"Huftt"
Gavendra kembali mendengus karena Xerlin belum juga mengambil segelas susu dari tangannya. "Gita cepat ambil"
Xerlin pun langsung menoleh ke arah Gavendra. "Gita?" Tanyanya.
"Hm"
Xerlin pun kembali tersenyum, "Makasih bang ven" Dia pun mengambil segelas susu dari tangan Gavendra dan meminumnya.
"Gue sekolah" pamit Gavendra.
"Belajar yang benar" celetuk Xerlin setelah meminum susunya.
Gavendra pun melihat ke arah Xerlin yang habis bersuara. Dia melihat mulut Xerlin yang celemotan susu. Gavendra pun mendekat ke Xerlin.
Sett
Gavendra pun langsung mengelap bekas bekas susu yang ada di mulut Xerlin dengan tangannya.
_Kok jantung gue kayak lagi karauke ya_ batin Xerlin karena terlalu berdekatan dengan Xerlin.
_Gue kayak kena sengatan listrik_ batin Gavendra setelah tangannya mengelap bekas susu di mulut Xerlin.
Gavendra pun langsung menjauhkan dirinya dari Xerlin.
"Gue pergi" pamit Gavendra.
"Eh, ba-ik-lah" gugup Xerlin
__________________________________
"Gev"
Deon memanggil Gavendra melihat Gavendra mendekati parkiran sekolah.
Gavendra pun langsung membuka helm nya ketika sudah sampai di parkiran sekolah.
"Aaaaaa"
"Oy, Gavendra datangg"
"Masih ganteng"
"Calon laki gue itu"
"Kok gue udah lama ga liat Xerlin ya"
Teriakan histeris siswi sma Rajawali seperti biasa selalu menyambut kedatangan Gavendra. Gavendra pun hanya menghiraukan mereka.
"Ada informasi terbaru?" Tanya Gavendra setelah turun dari motornya.
"Belum ada bang" sahut Rava.
"Hari ini gue ke dokter itu" ucap Gavendra sambil berjalan menjauhi mereka menuju ke sekolah.
"Lo sakit apa bang?" Heran Rava
"Maksud bang gev, dia mau ke dokter yang membantu Kerlina melahirkan ege" ketus Karel langsung ikut masuk kesekolah bersama Deon
"Ooo, hehehe" ucap Rava sambil tertawa ikut berlari mengejar Gavendra.
Disisi lain, masih di halaman sekolah, Angel masih menatap lekat Gavendra dari kejauhan.
__ADS_1
_Xerlin udah gue singkirkan, gue udah ngerebut harta nya, sekarang gue bakal rebut Gavendra darinya, hahaha_ batin Angel sambil tertawa dalam hati.
__________________________________