
Aku akan menyembunyikan kekagumanku sampai kamu menjadi milikku.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Xerlin dan dua sahabatnya saat ini sudah berada di Auditorium sekolah untuk latihan dansa.
"Grif abang lo ikut dansa?”
"Iya, dia ikut bareng geng nya.. Katanya mau sambil nyelesaiin misi." Grifa menjawab pertanyaan Zevanya.
"Misi? Emangnya mereka apa, kok ada misi?" tanya Xerlin
"Lo nggak tau?"
"Mereka itu calon pemimpin mafia, tapi untuk mendapatkan tahta itu, mereka harus menyelesaikan suatu misi" jelas Grifa.
"Artinya lo anak pemimpin mafia donk grif?" tanya Xerlin lagi.
"Iya, daddy gue wakil Albatross" sahut grifa
"Eh itu kalung lo baru Xer?" Zevanya bertanya sambil menunjuk kalung yang baru dia lihat di pakai Xerlin
"Oh iya gue mau cerita tentang kal.."
"Selamat malam"
Suara kepala sekoalah dari pengeras suara memotong ucapan Xerlin dan mengalihkan perhatian mereka semua.
"Anak anak sesuai yang bapak katakan. Malam ini kita akan mengadakan latihan dansa. Latihan akan kita adakan selama tiga hari dan di hari ketiga, bapak akan memilih siswa terbaik dan pasangan kalian yang akan mengikuti lomba hari sabtu" ucap bapak kepala sekolah dari pengeras suara.
"Baik pak"
"Selamat malam anak-anak" sapa bu fira.
"Malam bu"
"Perkenalkan mama ibu, Fira Asyela. Ibu yang akan menjadi guru dansa kalian, berbaris lah kita akan melakukan pemanasan terlebih dahulu.
Merekapun langsung menuruti perintah bu Fira dan mengikuti arahan gerakan dansa bu fira sebagai pelatih dansa.
Disisi lain, masih di gedung sekolah. Terdapat dua orang yang sedang mengintai ruang Auditorium sekolah.
"Mereka akan selesai, sebentar lagi, setengah 9." ucap orang itu kepada orang yang ia telepon.
"Baiklah" sahut orang dari balik telepon.
"Gimana menurut kalian tentang dansa tadi?" Tanya xerlin kepada sahabatanya.
Saat ini Xerlin dan kedua temannya sedang berjalan menuju tempat parkir. Mereka saat ini menggunakan motor masing-masing karena setelah pulang dari mall mereka langsung pulang ke rumah mereka untuk beristirahat sebentar.
"Bagus sih, bu fira lincah banget tadi. Gue suka lihat dia praktek apa lagi sama pak suryo, hahaha" ucap Grifa sambil tertawa ketika mengingat bu fira mempraktekkan gerakan dansa bersama pak suryo.
"Iya anjir apa lagi itu pak suryo nya hampir kesandung karpet lagi hahah" lanjut zevanya sambil tertawa.
"Parah banget kalian, udah lah, dah malam yok balik, lo pulang sama si grif?" Tanya Xerlin kepada Grifa.
"Sama abang gue" sahut grifa.
"Oh iya xer, lo besok ceritain ke kita tentang kalung itu ya"
"Oh iya gue lupa, besok gue cerita. Yaudah deh, gue balik duluan deh" pamit Xerlin.
"Gue juga" sahut Zevanya sambil menaiki motornya.
"Byeee" Grifa pun melambaikan tangan kepada kedua sahabatnya.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi terdapat 2 orang yang sedang memperhatikan mereka dari jarak yang jauh.
"Target sudah dalam perjalanan, bersiaplah" ucapnya kepada orang yang sedang dia telepon.
__________________________________
"Seharusnya tadi gue pergi naik mobil aja kali ya, malam ini dingin banget" gumam xerlin dalam perjalanan.
Cittt
Tiba tiba motor Xerlin dihadang oleh dua orang preman yang membuat motor Xerlin berhenti di jalanan yang sepi.
"Astaga kalian siapa lagi, kenapa kalian berdiri di jalan. Kalau tadi gue tabrak gimana. Ga mau gue tanggung jawab" celoteh Xerlin.
Salah satu preman itu pun langsung melangkah maju menuju Xerlin. Membuat xerlin heran. "Kenapa malah maju. Bukannya menyingkir. Lama lama gue tabrak aja lo"
"Turun dan ikut kami!" bentak preman itu setelah memegang pergelangan Xerlin.
Xerlin langsung menepis tangan preman itu. "Kenapa gue harus ikut lo? Emangnya lo bapak gu.."
Pakkkk
"Shhh"
__ADS_1
Ucapan Xerlin terpotong karena salah satu preman memukul pipi Xerlin membuat Xerlin meringis.
"Ikut kami!" salah satu preman berbicara sambil menurunkan Xerlin dari motor dan menyeretnya.
Settt. Bugggg
Xerlin langsung menghempaskan tangan preman itu dan menendang perutnya.
"Beraninya kau!"
Settt. Bugg bugg
Dengan lincah Xerlin menghindari pukulan dari salah satu preman dan langsung memukul preman yang lainnya.
Xerlin kelelahan membuat Xerlin membungkukkan badannya dan berpegangan pada lutut. Salah satu preman memanfaatkan kesempatan itu. Preman itu langsung mengambil pisau dari sakunya dan....
Settt
"Aaaaa"
Pisau yang di tusukkan ke Xerlin tidak mengenainya karena ada yang menahan pisau itu.
"Bang ven?"
Gavendra. Ya, Gavendra datang tepat waktu ketika pisau itu hampir mengenai perut Xerlin. Gavendra sedari tadi sudah mengikuti Xerlin karena ia sadar saat di sekolah ada yang mengintai gadis itu dan dia tau Xerlin sedang dalam bahaya.
"Heh siapa kau, kenapa kau ikut cam... Arghhh"
Syuuttt
Gavendra langsung melempar pisau yang di genggamnya, tepat ke arah pipi preman yang berbicara membuat ucapan preman itu terpotong.
"Kau?!!"
Sett Bugh bugh
"Huekk"
Gavendra langsung memutar tubuhnya dan menendang perut preman yang satunya, membuat preman itu muntah darah.
"Katakan siapa" ucapan datar Gavendra membuat bulu kuduk mereka merinding termasuk Xerlin.
"Tuan Alexandra"
Deg
Syutt
Sebuah pisau kecil yang tertancap sempurna di mata preman itu membuat xerlin tersadar dari lamunannya.
Brukk
Tiba-tiba tubuh Xerlin ambruk ke jalan. Gavendra langsung menggendong tubuh itu dan mengambil handphone nya di dalam saku untuk menelpon seseorang.
"Bawakan mobil ke gang melati" ucap Gavendra datar kepada orang yang di telpon.
"Oke bang"
__________________________________
"Astaga Gev, siapa dia, dan dia kenapa?"
Gavendra yang baru sampai ke mansion sambil membawa Xerlin yang sedang tidak sadar, sudah di suguhi pertanyaan beruntun oleh Citra, ibunya.
"Halo aunty" sapa Deon kepada Citra yang sedang menatap heran gadis yang sedang di gendong Gavendra.
"Dia siapa nak?" Tanya Citra kepada Deon.
"Dia teman sekolah kami. Dia baru terkena musibah, di hadang preman"
"APA!!!" teriak Citra ketika mendengar jawaban Deon.
"Siapa yang berani menyakiti wanita?! Sini hadapi Aunty. Gev, bawa dia ke kamar mu dan sadarkan dia. Setelah dia sadar ajak dia menemui mommy. Mommy akan tanyakan siapa yang berani menyakitinya, akan mommy berikan perlajaran orang itu!" celoteh Citra tidak jelas.
"Iya mom" sahut Gavendra sambil membawa Xerlin menuju lift.
"Ganti pakaiannya" Gavendra berucap datar kepada maid yang sudah dia suruh datang ke kamarnya dan dia pun segera pergi dari kamarnya
"Baik tuan"
Ceklek
Gavendra pun menutup pintu dan mengambil handphone dari sakunya.
...
__ADS_1
...
...
.........
Ceklek
Perhatian Gavendra teralihkan ketika maid membuka pintu.
"Sudah tuan"
"Hm" sahut Gavendra.
Gue gak tau Kerlina dengan lo berhubungan atau tidak, tapi untuk sekarang gue bakal cari tahu tentang lo batin Gavendra sambil melihat ke tempat tidur dimana Xerlin berada.
__________________________________
"Engghhh"
Xerlin membuka matanya perlahan. Gadis itu melihat sekeliling kamarnya. Bukan kamarnya melainkan kamar Gavendra. Gadis itu saat ini belum sadar bahwa dia sedang berada di kamar Gavendra.
"Apa kamar gue udah berubah warna dan ukurannya? Kenapa kelihatannya luas. Ini kasur juga kenapa empuk banget?" Gumam Xerlin hilang.
Tatapan Xerlin beehenti ketika melihat seorang laki-laki sedang mengancing baju sekolah sambil berkaca.
"Aaaaaaaaaa.", Xerlin yang tersadar pun berteriak.
Gavendra pun tergelonjak kaget mendengar teriakan Xerlin.
"Kenapa lo teriak teriak?" Tanya Gavendra.
"Kenapa lo ada disini?" Bukannya menjawab pertanyaan Gavendra, Xerlin malah bertanya pertanyaan lain.
"Ini kamar gue" ketus Gavendra.
"Hah? Ini kamar lo? Kenapa gue disini? Lo apain gue bang Ven?" Xerlin bertanya sambil melirik sekeliling ruangan itu lagi dan menatap tajam Gavendra
"Aaaaaaaa. Siapa yang ganti baju gue" Xerlin berteriak lagi ketika melihat pakaiannya sudah terganti.
Gavendra memutar matanya malas "gue"
"GAVENDRA!!!!!!" teriak Xerlin lebih keras lagi membuat Gavendra menutup telinganya.
"Lo apain gue Gavendra?! Tanggung Jawab?!!!" Bentak xerlin sambil menatap tajam Gavendra.
"Diam atau gue bunuh" Celetuk Gavendra membuat Xerlin menutup mulutnya dengan tangan.
"Bersiaplah mandi, dan turun. Itu baju sekolah buat lo.
Xerlin melirik arah tunjuk gavendra dan hanya mengangguk sebagai balasan ucapan Gavendra.
__________________________________
"Gev, kemana gadis yang kamu bawa semalam?"
"Gavendra membawa gadis?" tanya John kepada Citra yang baru saja bersuara.
Saat ini mereka bertiga sedang berada di meja makan menunggu Xerlin dan juga Deon turun ke bawah.
"Iya dad. Gadis itu kemarin di serang oleh preman. Seharusnya kemarin mommy mau dia bercerita, siapa yang berani mengganggu wanita. Rasanya mommy tidak terima dad. Tapi karena dia pingsan, jadi mommy suruh Gavendra bawa gadis itu ke kamarnya dan turun setelah sadar, kenapa dia juga belum turun? Apa dia belum sadar?" celoteh Citra.
"Dia sudah sadar. Bentar lagi akan turun." jawab Gavendra.
"Emangnya dia tau bagaimana cara turun ke lantai bawah?" tanya citra heran.
"Gev jemput Xerlin dulu mom" Gavendra yang mendengar ucapan Citra pun tersadar. Xerlin kan baru di rumah itu. Tidak mungkin dia mengetahui jalan turun ke lantai bawah. Dia langsung berjalan menuju ke lift.
John dan Citra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anak mereka.
Tingg
Dentingan lift yang lain membuat perhatian Gavendra teralihkan. Lift itu sudah terbuka sempurna menampilkan sosok gadis manis yang sedang tersenyum ke arah Gavendra.
"Rumah lo besar sekali bang ven" celetuk Xerlin sambil mendekati Gavendra.
Gavendra hanya memutar bola matanya malas. Pria itu langsung menarik tangan Xerlin membawanya ke meja makan dimana di sana ada John dan Citra.
"Nah itu gadisnya"
John pun melihat arah tunjuk Citra.
Gadis itu...??
__ADS_1