
Gue janji tidak akan membiarkan lo sedih karena, Lo milik gue.
"Jadi seluruh harta itu sudah di tangan Thomas?"
"Iya dad" ucap Gavendra.
"Itu peninggalan terakhir bunda, bunda memberikannya kepada ku, tapi ayah mengambil hiks semuanya" hisak Xerlin.
Saat ini calon inti dan juga inti Albatross sedang berada di dalam ruang VVIP Xerlin. Teman Xerlin sudah pulang sejak sore tadi.
"Menurut sepengetahuan papi, harta warisan itu tidak akan bisa di berikan kepada orang lain, kecuali keturunannya"
"Jadi maksud papi, surat kemarin tidak lah sah?" tanya Karel, meminta kejelasan.
"Menurut papi begitu, tapi surat itu bisa sah, ketika Xerlin meninggal atau tidak memiliki keturunan" jelas Kafi
"Xerlin, kalo boleh tau, siapa nama almarhum bunda mu?" Tanya Ramuel.
"Xerlin tidak tahu" sahut Xerlin
"Hah?!" Heran mereka semua.
"Ayah tidak memberi tahu nama bunda" celetuk Xerlin, dia pun langsung menundukkan kepalanya.
"Kenapa?" Tanya Devan
"Karena kata ayah, aku hanya anak pembawa sial, bunda meninggal saat aku lahir"
Deg
Kalimat terakhir Xerlin membuat semua orang terkejut.
_bukannya Alm.Kerlina juga meninggal karena melahirkan? Apa perkiraan gev benar, xerlin anaknya Kerlina?_ batin John
"Karena itu, ayah membenci Xerlin dan menikahi hiks Criline" sambung Xerlin.
_Kerlina juga meninggal saat melahirkan_ batin Gavendra.
"Sudah lah sayang. Kami akan membantu mu dalam perebutan harta itu" Ucap Citra lembut.
Xerlin pun langsung menghapus air matanya dan memeluk Citra. "Terimakasih Mommy" ucapnya.
Citra pun membalas pelukan Xerlin
_____________________________________
"Kalian semua yakin bahwa Xerlin itu anaknya Kerlina?" tanya John kepada putra putranya
"Kami hanya menemukan beberapa data, tapi di data itu kami telah menemukan fakta. Tanggal kelahiran anaknya Kerlina dan Alasan Kerlina meninggal. Tanggal kelahirannya sama dengan tanggal lahir Xerlin, dan juga alasannya meninggal sama dengan ucapan Xerlin." tutur Karel.
Saat ini mereka berada di ruang rapat markas Albatross. Mereka sengaja meninggallan Xerlin karena paksaan dari para ibu ibu untuk membutuhkan waktu wanita bersama Xerlin.
"Gadis itu memang anaknya Kerlina" celetuk Gavendra.
"Iya anjir" teriak Rava.
Semuanya pun terkejut karena Rava menyebutkan itu sambil berteriak.
"Coba ga usah teriak teriak ege" ketus Karel.
"Kenapa nak?, kau menemukan apa?" Ramuel bertanya ketika mendengar rava berteriak.
"Kalian semua masih ingat tentang bang gev yang minta untuk pasang perekam suara di dekat kuburan Kerlina? Gue dan bang gev mendengar suara Xerlin pagi tadi. Coba kalian dengar ucapannya" tutur Rava sambil menyetel rekaman suara yang dia punya.
_bunda, bunda tau, xerlin ketemu sama orang orang yang sangat baik lho, bunda tau? Bang Ven itu salah satu kakak kelas Xerlin hiks, tapi dia baik dengan Xerlin, dia bawa Xerlin kerumahnya melindungi Xerlin dari ayah, dan juga aunty Citra, dia suruh Xerlin panggilnya mommy, bunda ngga marah kan sama Xerlin kalo Xerlin panggi ibu nya bang gev, Mommy, sekarang mommy lagi nemenin Xerlin ke Mall,itu dia lagi di depan, dia yang antar Xerlin kesini, Udah ya bun, itu aja yang mau Xerlin bilang, kan ga enak kalo mommy Citra nunggu lama, Xerlin sayang bunda, maafkan Xerlin kalo karena ngelahirin Xerlin bunda jadi pergi, Xerlin pamit ya bun_
"Gue jadi mewek" ucap Karel setelah mendengar rekaman itu sambil berpura pura nangis.
"Drama lo" cibir Deon.
"Jadi kita bilang gitu ke dia kalau Rava sepupunya Xerlin?" tanya Karel.
"Tunggu dia keluar dari rumah sakit" celetuk Ramuel.
"Gue setuju sama papa" ucap Deon.
Mendengar itu Karel langsung berdiri dan berteriak "Jadi tugas kita selesai? Dan kita akan menjadi Inti Albatross?" Tanya Karel dengan mata berbinar.
"Hahaha siapa bilang?" Tanya Kafi melihat tingkah putra nya itu.
"Kalian harus menyelesaikan masalah pada hidup Xerlin, kami ingin melihat sepintar apa kalian menyelesaikan masalah Xerlin" ucap Devan santai sambil menegakkan duduknya.
"Itu memang tugas kami. Tapi setidaknya berikan kami jabatan Inti Albatross terlebih dahulu" tawar Deon.
"Tidak" tolak John
"Nah, langsung dibalas oleh uncle kalian, yang berani melawan silahkan" tantang Devan sambil berbisik membuat calon inti Albatross bergidik ngeri.
"Gak deh" tolak Rava.
__ADS_1
Devan pun berdiri dan mengakhiri rapat. "Baiklah, semuanya boleh tidur, ini sudah malam besok kalian ingin sekolah, gev, kamu akan kembali ke rumah sakit?" Tanya nya kepada Gavendra.
"Hm" sahut Gavendra sambil berdiri melangkah keluar dan diikuti oleh ayahnya.
Semua pria yang berada di dalam situ pun langsung menggelengkan kepalanya melihat tingkah bapak dan anak itu.
"Sudah lah, daddy mau bobo manis dulu" Devan berucap sampil berjalan menuju pintu
"Eh iya, bukannya kalian juga akan ke rumah sakit menjemput istri kalian?" Tanya Deon kepada semua bapak bapak disana. Langkah Devan terhenti mendengar ucapan Deon
"Astaga anjir gue lupa" ucap Devan sambil menggeplak jidatnya. Kemudian dia berlari di ikuti oleh Kafi dan juga Ramuel.
"Sama istri aja lupa" Ucap Rava sambil menggelengkan kepalanya.
"Udahlah, yok kita aja yang tidur" ajak Deon.
"Gasss, mari bobo tampan" teriak Karel.
_____________________________________
Gavendra saat ini sudah sampai ke tempat parkiran rumah sakit, dia sedikit lama, karena ingin membeli susu untuk Xerlin. Sedangan John sedari tadi sudah sampai di atas.
Saat ini Gavendra sedang keluar dari mobilnya dan sedang menelpon ibunya. "Gev sudah sampai di parkiran mom, bagaimana keadaan Xerlin?"
_"Iya nak, dokter bilang Xerlin sedikit membaik, cepat lah ke atas untuk membawakan susu itu"_ tutur Citra
"Jadi sekarang dia sudah mempunyai seorang wanita yang sedang di rawat di rumah sakit ini, Xerlin" ucap seorang pria misterius yang sedang bersembunyi mengawasi Gavendra sedari tadi sambil tersenyum miring.
Settttt
Tiba tiba pria misterius itu melemparkan pisau ke arah Gavendra, namun karena kepekaan yang pekat, Gavendra pun bisa menghindar dari pisau itu.
Gavendra melihat pisau yang tertancap sempurna di dinding parkiran itu, memandang sekitarnya dan berhenti di mobil hitam.
_"Gev, kenapa nak?"_ Citra bertanya dari telepon membuat lamunan Gavendra buyar.
"Tidak apa apa mom" sahut Gavendra datar sambil berjalan masuk ke rumah sakit.
Sebelum masuk pintu rumah sakit Gavendra menyempatkan untuk menatap mobil hitam, yang menjadi perkiraannya sebagai pelempar pisau itu dengan tajam. Gavendra pun melangkah masuk kedalam rumah sakit.
"Kepekaannya cukup baik" ucap pria misterius itu
Balik kepada Gavendra, Pria saat ini sudah berada di depan ruangan Xerlin.
Ceklek
"Gev" panggil Citra.
"Ini mom" Gavendra pun masuk dan memberikan belanjaannya ke Citra.
"Terimakasih nak"
Gavendra pun langsung menatap Xerlin. Xerlin yang merasa di tatap pun menatap balik Gavendra dan tersenyum.
"Kenapa bang ven?" tanya Xerlin heran.
"Gak" sahut Gavendra.
Citra menahan tawanya ketika melihat ekspresi mencibir yang Xerlin berikan kepada Gavendra. "Xerlin duduk lah dan minum ini" ucapnya.
Xerlin pun berusaha duduk dan di bantu oleh Gavendra "Terimakasih" ucap Xerlin.
Sedangkan Gavendra hanya menatap Xerlin dengan tatapan datarnya yang membuat Xerlin mendengus.
Xerlin langsung menerima susu yang ada di tangan Citra "terimakasih mom". Xerlin pun langsung meminum susu yang ada di tangannya.
"Iya, mommy balik dulu ya, gev akan menjaga mu disini" pamit Citra.
"Iya mom" balas Xerlin setelah minum susu.
Citra pun segera keluar dari ruangan bersama John.
Xerlin pun langsung menatap malas Gavendra yang sedang menatapnya penuh arti.
"Sebenarnya ada apa sih bang ven?" tanya Xerlin malas.
"Hati Hati dengan orang di sekitar lo" ucap Gavendra.
"Maksudnya? Oh, dari Criline dan juga Ayah?, bang ven tenang saja, mereka sudah mendapatkan keinginnan mereka" ucap Xerlin sambil mengalihkan wajah sedihnya dari Gavendra.
"Bukan" sahut Gavendra
"Hah?" tanya Xerlin Heran
"Dari siapapun orang yang gak lo kenal" ucap Gavendra datar sambil menatap Xerlin penuh makna.
"Maksudnya?"
_________________________________
__ADS_1
"Bang ven, kapan gue bisa sekolah" ucap Xerlin lesu sambil melihat kearah Gavendra yang sedang membuat susu.
Gavendra pun memutar bola matanya malas, sudah sebanyak 5 kali Xerlin menanyakan hal itu. "Bulan depan"
Xerlin yang mendengar jawaban Gavendra pun melotot. "Bang ven gue serius!" geram Xerlin.
"Hufttt, cepat minum" tidak menghiraukan ucapan Xerlin, Gavendra malah memberikannya susu.
"Gak, jawab dulu pertanyaan gue" tolak Xerlin.
"Ck, minum atau lo gue bawa ke rumah ayah lo" ketus Gavendra datar.
Xerlin pun kembali melototkan matanya. "Bang ven" rengek Xerlin sambil mengecurutkan bibirnya.
"Cepat ambil" tekan Gavendra.
Xerlin pun mengambil gelas dari tangan Gavendra dan meminum susu itu. "Maaf" ucapnya setelah menghabiskan susu itu.
"Jangan bawa gue ke rumah ayah gue bang ven" ucap Xerlin, mata nya pun berkaca kaca.
Gavendra yang melihatnya pun menjadi tidak tega. "Jangan nangis, gue bercanda" celetuk Gavendra.
Xerlin pun kembali tersenyum setelah Gavendra mengucapkan itu. "Jadi kapan gue bisa sekolah?" tanya nya lagi.
"Lusa" sahut Gavendra datar.
Xerlin kembali murung ketika mendengar jawaban Gavendra, padahal dia menginginkan Gavendra menjawab besok.
_ya sudah lah, apa boleh buat_ batin Xerlin pasrah.
"Oh iya dansa nya gimana bang ven?" tanya Xerlin lagi.
"Daddy sudah mengundur waktu pemilihan dan latihan terakhir jadi besok"
"Gue boleh ikut besok?" tanya Xerlin
"Hm"
"Yess" teriak Xerlin
"Gak usah teriak teriak" tekan Gavendra.
Xerlin pun langsung menutup mulutnya. "Hehehe, maaf bang ven, keceplosan" ucapnya.
Tok tok tok
Ceklek
"Masuk" ucap Gavendra dan Xerlin bersamaan.
"Ceileh kompak banget ekhem" celetuk Deon. Gavendra pun menatap malas Deon yang masuk, berbeda dengan Xerlin tersenyum melihat Deon yang masuk.
"Bang Deon, Grifa mana?" tanya Xerlin kepada Deon yang sedang meletakkan Buah buahan di atas nakas.
"Udah pergi bareng Zevanya" sahut Deoj. Xerlin pun hanya mengangguk anggukkan kepalanya.
Ceklek
Pintu pun terbuka lagi menampilkan sosok wanita paruh baya yang masih terlihat muda.
"Morning boys, girl" ucapnya.
"Morning mom"
"Morning"
"Morning aunty"
Mereka bertiga pun menjawab dengan kalimat yang berbeda beda.
"Sangat tidak kompak" celetuk Citra.
"Nah aunty udah datang, Gue sama Gev pamit sekolah dulu ya aunty, Xer"
"Iya" sahut mereka bersamaan. "Hahaha" mereka berdua pun tertawa bersamaan.
"Banyak banyak lah minum susu" titah Gavendra.
"Oke bang ven" sahut Xerlin.
"Pftt"
Deon pun menahan tawa melihat interaksi mereka.
"Yaudah, kita pergi" ajak Deon.
Mereka pun segera keluar dari ruang rawat Xerlin. Pergerakan Deon terhenti ketika merasakan Gavendra tidak ada di sebelahnya. Dia pun melihat ke belakang, Gavendra berhenti menatap pintu ruang rawat Xerlin.
"Kenapa gev?"
__ADS_1