GAXER

GAXER
3


__ADS_3

Aku selalu berharap, agar kamu segera datang dan menghapus air mata ku


Tiba tiba Ramuel meneteskan air matanya.


"Iya, maaf kan papa baru memberitahu kalian sekarang, papa sangat kecewa dengan diri papa sendiri.. Hiks"


Mereka ikut sedih dan diam menunggu Ramuel melanjutkan kalimatnya.


"Papa tidak dapat menjaga Kerlina dengan baik"


"Kalian paham? Jadi kalian tau apa tugas kalian?" tanya Kafi kepada anak anaknya.


"Paham yah" sahut mereka bersamaan kecuali Gavendra.


Anak itu sedari tadi memikirkan sesuatu, entah mengapa nama itu tidak asing baginya. Kemudian dia menggelengkan kepalanya karena teringat dengan Xerlin gadis yang selalu teman temannya bicarakan.


"Kenapa?" tanya Deon pelan yang tersadar dengan tinglah aneh Gavendra.


"Gak" sahut Gavendra.


"Kalian pernah mencari tahu sebelumnya tentang ini?" tanya Deon mengalihkan perhatiannya ke depan.


"Papa sempat mencari tahu, namun... hiks.. Nama keluarganya saja papa tidak bisa menemukannya" isak ramuel kembali menangis.


"Namun papa tau nama suaminya" lanjut ramuel.


"Siapa?" tanya Gavendra datar.


"Thomas" celetuk ramuel.


"Hanya itu pa?" tanya karel.


"Iya"


"Yang lain?" tanya Gavendra tidak jelas. Membuat semuanya mengerjit heran, kecuali John yang sudah mengerti maksud dari putra nya dan karel, kafi yang memiliki otak jenius.


"Maksud bang gev, ada info yang lain ga pa, selain nama suaminya" Jelas Karel.


"Papa tau dimana tempat berakhir nya berada" jawab ramuel.


"Kita akan mengunjunginya setelah ini. Ada yang ingin bertanya lagi?" tanya Devan.


"Tidak dad" sahut mereka bersamaan.


"Baiklah kita tutup rapat hari ini".


_____________________________________


"Bunda tahu. Ayah telah berubah. Tidak ada yang menyayangi Xerlin di rumah setelah keberadaan Criline"


Sekarang sudah pukul 5 sore. Sudah 2 jam lamanya. Xerlin menangis sambil bertekuk lutut dan memeluk batu nisan di sebelah kuburan ibunya. Gadis itu bercerita banyak hal yang terjadi kepadanya sejak awal dia datang ke Indonesia.


"Xerlin balik dulu ya bun. Bantu xerlin untuk mendapatkan hak warisan harta ibu. Assalamualaikum " pamit xerlin sambil mengelap air matanya dan berdiri.


Xerlin berbalik dan berjalan menuju pintu pemakaman.


Disisi lain, Calon inti Albatross dan para orang tua masuk ke dalam pemakaman dan berhenti di pemakanan Kerlina. Ramuel bertekuk lutut dan menangis diikuti yang lainnya ikut duduk di sekitar kuburan.


"Ini kuburan nya Kerlina. Aku mengetahuinya saat aku mencari tau tentang suaminya"


Semuanya menatap sendu kuburan itu. Berbeda dengan Gavendra, dia memperhatikan.. Bunga? Kenapa ada bunga yang sepertinya baru di letakkan? Sedangkan mereka saja baru datang ke sini 5 menit yang lalu.


keluarganya baru mengunjungi nya tadi, keluarganya sering mengunjungi nya. Gue harus cari tau siapa keluarganya. Ya. Gue harus kesini lain hari untuk mengecaknya batin Gavendra sambil melihat ke arah pintu lain pemakanan.


"Ayo kita balik, ini sudah setengah enam".


Lamunan Gavendra seketika buyar ketika mendengar ucapan Ramuel. Mereka pun segera pulang lewat jalan masuk mereka. Gavendra langsung menaiki motor nya dan segera pergi dari sana. Namun ketika di perjalanan. Gavendra melihat seorang gadis yang sedang berjalan di trotoar sambil menunduk yang sepertinya pernah dia lihat? Gavendra pun memelankan motornya untuk melihat wajah gadis itu dengan jelas.


"Xerlinn!!!" panggil karel. Membuat Gavendra mengalihkan perhatiannya ke Karel.


"Xerlin?" tanya Gavendra.


"Yah, dia cewek yang jadi bahan taruhan gue sama deon"


Xerlin pun menengok ke arah Karel dan heran. Dia melihat karel sedang menuju kearahnya.


"Lo kenapa? Mau gue anter gak?" Tanya Karel yang hanya di balas gelengan oleh Xerlin.


"Pftttt" Deon yang melihatnya pun menahan tawa. Deon juga memelankan motormya melihat interaksi Karel dan Xerlin.

__ADS_1


"Lo Xerlin? Gue abangnya Grifa, Deon Rabica" Ucap Deon sambil mengulurkan tangannya mengajak untuk bersalaman. Xerlin pun membalas uluran tangan Deon.


"Mau ikut gue? Bentar lagi magrib" ajak Deon.


"Ngga usah kak. Gue mau jalan kaki, rumah gue dekat kok" tolak Xerlin berbohong. Rumahnya jauh jika harus berjalan dari pemakanan.


"Oh yaudah. Gue pergi dulu, hati hati" pamit Deon. Xerlin hanya membalasnya dengan senyuman. Dia melihat Deon pergi dan di ikuti oleh Karel dan salah satu temannya yang Xerlin tidak ketahui namanya.


"Gue juga pergi, bye Xerlin." Pamit Karel.


_____________________________________


"Dari mana saja kamu?"


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 sedangkan Xerlin baru sampai di rumahnya. Xerlin tersenyum pahit mendengar pertanyaan yang di ucapkan ayahnya.


"Kenapa kamu tersenyum? Kamu tidak tau orang di rumah ini mengkhawatirkan mu Xerlin!" Bentak Thomas.


"hahaha, Khawatir?" Tanya xerlin sambil tertawa.


Pakkk


Satu tamparan mendarat di wajah Xerlin.


"Apakah kamu tidak tahu sopan santun?" Tanya Thomas menatap tajam Xerlin yang sedang meneteskan air mata.


"Gue rumah bunda, lo ngga usah khawatir sama gue" cetus Xerlin sambil menghapuskan air matanya dan segera berlari menuju kamarnya.


Gadis itu membanting badannya di kasur kemudian mengambil hp nya yang sudah di penuhi notif chat dari temannya.



Xerlin pun beralih ke no tak di kenal yang mengechatnya.



Setelah membaca chat itu dan teringat dengan syeqa dan tugas kelompok matematika yang di berikan tadi pagi. Dia pun segera menyimpan no syeqa dan menjawab pesannya.



Xerlin pun kembali meletakkan handphone nya di atas nakas dan kembali duduk mengambil buku matematika untuk mengerjakan tugas kelompoknya.


_____________________________________


Tok tok tok


Suara ketukan pintu yang sangat kuat membuat Gavendra terusik dari tidurnya. Dia mulai membuka matanya perlahan dan melirik ke arah pintu.


"BANG GEV BANGUN WOI UDAH MAU MASUK!" Teriak Karel dari depan pintu kamar Gavendra membuat Gavendra memutar bola matanya malas.


"Bang gev lagi tidur kali" sahut rava.


"Makanya di bangunin, ege" ketus karel.


"Masih belum dibuka?"


Suara lembut seseorang mengalihkan perhatian mereka berdua.


"Iya aunty" jawab mereka bersamaan.


"Gavendra Leon Manic bangun dan buka pintunya!!!!!" Teriak Citra membuat para remaja disana menutup telinganya.


Ceklek


Pintunya pun terbuka menampilkan gavendra yang hanya menggunakan celana boxer sambil mengusap matanya dengan tangan.


"Aunty jangan teriak teri.. " ucapan Deon yang baru saja keluar dari kamarnya dengan seragam sekolah terpotong saat melihat Gavendra.


"Lo belum siap gev?" Tanya deon ternganga.


"Hufttt. Masuk dan bersiap lah. Yang lain turun ke bawah, kita sarapan dulu" perintah Citra kepada para remaja itu setelah membuang napas pelan.


Gavendra langsung kembali menutup pintu kamarnya dan segera mandi agar tidak terlambat.


_____________________________________


Tidak jauh berbeda dengan keadaan di mansion Manic. Di kediaman Alexandra, Xerlin bergerak cepat menyiapkan barang barang yang akan di bawa sekolah. Tidak lupa dia membawa tugas matematika kelompok yang sempat dia kerjakan malam kemarin.


"Astaga kenapa gue bisa telat bangun" gumam Xerlin sambil memasang dasinya.

__ADS_1


Xerlin menuruni tangga dan langsung keluar dari rumahnya menuju ke sekolah tanpa sarapan. Xerlin mengemudikan motornya di atas rata-rata.


Brak


Tiba-tiba saat di persimpangan. Ada seseorang yang hampir menabrak Xerlin. Namun orang itu terlihat seperti ahli mengendarai motor hingga hanya membuat motor keserempet. Mungkin Xerlin hanya terluka kecil, namun oramg yang hampir menabrak nya sepertinya sangat parah. Xerlin pun mengangkat motornya membawa ke pinggir dekat trotoar dan mengecek pengendara motor tersebut.


"Elo!" seru Xerlin ketika melihat pengendara tersebut berdiri dari duduknya.


"Apa lo suka banget nabrak orang hah? Kemarin di sekolah, hari ini di jalan dengan motor? Lo memang ga ada mata ya?!" teriak Xerlin.


Gavendra hanya memutar bola matanya malas mendengar teriakan Xerlin.


"Diam, Gue telat" ucap Gavendra datar sambil mengangkat motornya kembali dan menaikinya namun Xerlin menahannya.


"Iiiih Ganti motor gue anjir, tuh lecet" rengek Xerlin sambil memegangi motor Gavendra.


"Lecet doank"


Xerlin melototkan matanya ketika Gavendra mengucapkan kata itu.


"Ganti atau gue aduin lo ke polisi" ancam xerlin.


"SIM di buat ketika umur sudah 18 tahun. Sekarang gue tanya apa lo udah punya SIM? Gue yang bisa lapor lo ke polisi. So? Mending lo diam." tutur Gavendra datar sambil menghidupkan mesin motornya dan pergi meninggalkann xerlin yang ternganga.


Huftt sesial ini kah hidup gue batin Xerlin meringis setelah menghembuskan nafas pelan.


Xerlin pun segera menaiki motornya kembali dan mengendarainya menuju sekolah.


_____________________________________


Xerlin pun sudah sampai di depan sekolah. Gadis itu melihat gerbang yang sudah di gembok sambil melirik orang yang di sebelahnya.


"Kenapa lo dari tadi diam? Ini semua gara gara lo, kalo lo ngga hampir nabrak gue, pasti gue udah cepat sampai" celoteh xerlin.


Gavendra diam tidak menghiraukan ucapan Xerlin. Dia hanya maju dan mengetuk gerbang itu 3 kali membuat penjaga gerbang datang.


"Buka gerbang" ucap Gavendra datar membuat penjaga gerbang tersebut segera membuka gerbangnya, dia pun masuk ke dalam sekolah.


Xerlin hanya melihat semua itu dengan mata yang melotot. dia siapa? Kok ini bapak nurut sama dia


"Masuk"


Ucapan Gavendra membuat lamunan Xerlin buyar. Gadis itu segera masuk sebelum gerbang di tutup kembali. Xerlin berniat mengucapkan terimakasih, namun langkah Gavendra yang lebar membuat Xerlin tidak dapat mengejarnya. Gadis itu melihat gavendra yang berjalan menuju gedung Ipa lantai 3 dimana kelas XII berada.


Kakak kelas gue ternyata gumam Xerlin.


Gadis itu segera masuk ke kelasnya untung saja pelajaran belum di mulai karena guru guru sedang rapat membahas lomba dansa. Xerlin pun memilih untuk membaringkan kepalanya di atas meja.


Disisi lain, masih di kelas XI IPA 1. Karel dan Rava memanfaatkan waktu jam kosong nya dengan mencoba mencari tau nama asli Kerlina.


"Dapat?" tanya Karel kepada Rava.


"Disini hanya tertulis. Kerlina memiliki 1 anak dan Anak itu memiliki tahun lahir yang sama dengan kita" celetuk Rava.


"Apa? Artinya seumuran dengan kita?" tanya Karel lagi.


"Iya"


"Kapan?" terdengar suara gavendra yang sedang bertanya dari alat komunikasi yang berada di belakang telinga mereka.


" 17 april 2006, sepupu gue lebih tua dari gue" jawab Rava.


"Kan lo memang di lahirin untuk menjadi anak terakhir" celetuk Karel. Rava hanya berdengus kesal.


"Namanya ga ada?" tanya Deon dari alat komunikasi.


"Kagak ada bang. Disini hanya tertulis Kerlina melahirkan anak perempuan pada tanggal 17 april 2006 sebelum dia meninggal dunia" Uca Rava membacakan kalimat yang tertulis.


"Cari gadis kelahiran 17 april" Ucap Gavendra datar dari alat komunikasinya.


Rava langsung melakukan apa yang di perintah Gavendra.


"Ck, Banyak kali anjir" decak Rava.


"Coba sini gue lihat" ucap Karel sambil menarik tablet rava.


"Gimana gak banyak, lokasi nya aja seluruh indonesia. Bego banget lo" Ketus Karel.


"Oh iya gue lupa" jawab rava kikuk.

__ADS_1


"Ada 7 orang kelahiran itu disini. Audrey Fatih, Greya Malika, Sefa Adtin, Driana Aley, Griana Aley kembarannya, Pina Lovita, dan... Hah!"


__ADS_2