
Pertama kali mengenalmu adalah langkah terbaik dalam hidupku
John mengerutkan keningnya ketika melihat gadis itu.
"Siapa nama mu nak? Bagaimana keadaan mu? Kenapa mereka bisa menyerang mu? Apa kau tidak melawan mereka?" Citra langsung memberikan pertanyaan beruntun ketika mencapai ke gadis itu.
Gavendra hanya memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan ibunya. Dia pun duduk di salah satu kursi di ruang makan.
"Emmm"
"Mom, biarkan dia duduk terlebih dahulu. Lihatlah, di bingung ingin memjawab yang mana" tutur John melihat keheranan pada gadis itu.
"Oh iya, ayo duduk disini" Citra membawa gadis itu duduk di sebelah Gavendra.
Citra pun ikut duduk di sebelah John. "Lalu? Siapa namamu nak?"
"Xerlin"
"Nama panjang?" tanya Citra lagi.
"Xerlin Gita Alexandra"
Citra menganggukkan kepalanya mendengar nama panjang. Bagaimana keadaan mu sekarang? Kenapa kamu bisa pingsan kemarin?"
"Aku baik baik saja tante. Kemarin aku hanya alergi dingin" jawab Xerlin kaku ketika berbicara dengan keluarga Gavendra.
Lagi-lagi citra menganggukkan kepalanya "Preman kemarin bagaimana?"
Xerlin pun melototkan matanya ternyata Citra tau bahwa dia di serang preman. Dia hanya melirik kearah Gavendra untuk meminta jawaban. Gavendra yang di lirik pun mengerti maksud lirikan mata Xerlin
"Sudah mati"
Uhuk uhuk
Xerlin tersedak ketika mendengar ucapan datar Gavendra yang santai.
"Xerlin kenapa, minum ini" Citra menyodorkan air minum sambil berbicara. Xerlin pun menghabiskan air minum dengan lahap.
"Hufttttt" Xerlin pun membuang nafas secara perlahan.
_Itu orang santai banget si ngomong di depan makanan_ batin Xerlin kesal dengan Gavendra.
"Kamu kenapa?" tanya Citra dengan suara lembutnya.
"Tidak apa apa tante" jawab Xerlin kikuk
"Kamu hari ini berangkat bareng gev ya"
Uhuk uhuk
Bukan Xerlin, melainkan Gavendra. Gavendra tersedak ketika mendengar ucapan Citra. Citra pun langsung memberikan gelas berisi air kepada Gavendra.
Xerlin menatap heran Gavendra. Namun tiba tiba Xerlin melototkan matanya ketika tersadar tentang motornya. "Bang ven motor gue mana?"
"Hah? Bang ven?" tanya John dan Citra bersamaan.
"Namanya kan Gavendra. Jadi aku ambil kata ven dan tambahkan bang karena dia lebih tua" jelas Xerlin membuat John dan Citra menganggukkan kepala mereka.
"Motor gue mana?" tanya Xerlin sambil mengarahkan wajahnya ke Gavendra.
"Markas"
"Hah? Maksudnya di markas bang ven?" tanya Xerlin merasa tidak jelas dengan ucapan Gavendra.
"Hm"
"Selamat pagi dunia tipu tipu" teriak Deon dari arah lift.
"Astaga kenapa kamu teriak teriak nak" sahut Citra ikut berteriak.
"Hehehe, pagi aunty" sapa Deon sambil berjalan menuju meja makan.
"Eh ada abangnya Grifa" celetuk Xerlin.
"Morning Xerlin"
"Oh iya? Bang Deon ngontrak di rumah bang ven?" tanya Xerlin polos membuat Deon ternganga.
"Bukan ege, Gavendra itu sepupu gue ama Grifa. Tapi grifa jarang kesini" jelas Deon.
"Ooooo" Xerlin pun mengangguk mengerti mendengar penjelasan Deon.
"Ayok" ajak Gavendra kepada Xerlin
"Kemana?" tanya Xerlin.
"Ambil motor lo" celetuk Gavendra.
"Eh anjir. Nanti aja ambil tuh motor. Bentar lagi masuk. Markas kan jauh. Mending lo antar Xerlin dulu" saran Deon sambil duduk dan mengambil makanan.
__ADS_1
"Iya. Kamu itu gev, sama cewe jangan kasar kasar donk. Kalian kesekolah barengan dulu pokoknya" paksa Citra kepada Gavendra.
"Ck, baiklah" sahut Gavendra.
Xerlin hanya menatap heran mereka semua. Karena tidak ada yang meminta persetujuannya sama sekali disini.
"Ayok"
"Kemana?" tanya Xerlin karena Gavendra tidak menyebutkan tempat tujuannya saat mengajak.
"Sekolah"
"Maksud? Bang ven mau antar gue?" tanya Xerlin lagi karena tidak mengerti maksud kelimat Gavendra yang datar.
"Hm" sahut Gavendra.
"Tante, om xerlin pamit dulu ya. Makasih tumpangannya malam kemarin, makanannya juga" pamit Xerlin sambil berterimakasih dan menyalami tangan mereka.
"Lain kali kamu main kesini lagi ya Xerlin, tidak usah ragu kalau mau datang. Datang aja, tante akan sangat senang. Lagi pula tante selalu sendiri setiap hari. Gev sekolah, kadang dia tidak ada rumah, ayahnya kerja. Jadi kalau mau main datang lah kerumah menemani tante" Celoteh Citra panjang.
Xerlin menganggukkan kepalanya dan memberikan jempol "Oke tante".
Xerlin dan Gavendra pun segera keluar dari rumah itu menuju tempat parkir.
"Kita naik apa?" tanya Xerlin kepada Gavendra. Namun Gavendra hanya meliriknya tanpa menjawab pertanyaan Xerlin.
"Ck, bang ven. Orang nanya tuh di jawab. Kalo ngga di jawab apa gunanya mulut co.."
"Masuk"
Celotehan Xerlin terpotong dengan ucapan datar Gavendra.
"Waw kita pakai mobil" sahut Xerlin dengan mata berbinar.
Xerlin pun segera masuk ke dalam mobil dan di ikuti oleh Gavendra yang langsung membawa mobil keluar dari mansion. Sepanjang perjalanan Xerlin berceloteh tidak jelas.
"Oh iya, Bang ven. Bang ven harus tanggung jawab!"
Ucapan tegas xerlin membuat Gavendra menaikkan alisnya bingung.
"Bang ven kemarin yang ganti baju gue kan? Bang ven harus tanggung jawab!" tegas Xerlin.
"Bukan gue yang ganti" ucap gavendra datar.
"Terus siapa, kan bang ven bilang tadi, bang ven yang ganti?" Xerlin bertanya sambil bersedekap dada menatap tajam Gavendra.
"Maid"
"Hm, turun"
"Kita sudah sampai?" Xerlin menyipitkan matanya menatap sekitar.
Benar mereka sedang berada di parkiran sekolah. Namun banyak siswi di luar membuat xerlin bingung.
"Kenapa para siswi pada di luar?" gumam Xerlin.
Ceklek
Suara pintu terbuka menyadarkan Xerlin yang sedang melamun. Gadis itu melihat Gavendra yang sudah membuka pintu mobil. Dia pun segera ikut membuka pintu mobilnya.
Ceklek. Settt
"Eh kok itu murid baru naik mobil sama Gavendra"
"Iya ya mereka ada hubungan apa"
"Tapi cocok sih, xerlin kan cantik"
"Tapi gatel gak sih, baru aja masuk sekolah udah deketin gev padahal ga sekelas"
"Xerlin cantik, cocok sama Gavendra"
"Apasi, gue yang cocok sama Gavendra"
Teriakan pujian dan ejekan terhadap Gavendra dan Xerlin menyambut kedatangan mereka. Xerlin sudah misuh misuh tidak jelas merutuki orang yang mengejeknya sedangkan Gavendra masih setia dengah wajah tanpa ekspresi nya menanggapi teriakan siswi siswi.
"Siapa si yang ngejek gue, kesel banget gue" gumam Xerlin.
"Bang lo udah dateng?" Teriakan Karel mengalihkan perhatian Xerlin.
"Kalo udah disini, artinya udah dateng ege" ketus Deon yang baru saja membuka helmnya.
"Eh bang deon juga baru datang" celetuk karel sambil tersenyum memperlihatkan giginya.
"Eh gue lupa. Halo nona Xerlin" sapa Karel kepada Xerlin.
Xerlin pun hanya memberikan Karel senyuman manis nya.
"Ada yang mau gue beri tahu sama kalian tentang misi" celetuk Rava di belakang karel.
__ADS_1
"Di kantin" sahut Gavendra.
"Oke"
"Xerlinnn!!!"
Teriakan Grifa dan Zevanya mengalihkan perhatian mereka semua.
"Lo gapapa? Kemarin Bang Deon bilang lo di serang preman" tanya grifa yang sudah tau kejadian yang menimpa Xerlin malam kemarin.
"Iya, gue gapapa" sahut Xerlin.
"Huftttt syukurlah" celetuk Zevanya.
"Ayo kita ke kelas" ajak Xerlin
__________________________________
Kringggg
Bel istirahat sudah berbunyi. Xerlin langsung pergi keluar kelas untuk menemui temannya yang berbeda kelas dengannya.
"Yok kantin kuy" ajak Xerlin kepada dua sahabatnya.
Mereka pun segera berjalan menuju ke kantin bersama. Namun ketika di perjalanan. Ada seseorang yang menabrak bahu xerlin dan membuatnya terjatuh.
Brukkk
"Awssss" rintih Xerlin karena lututnya terasa sakit.
"Heh! Lo apa apaan hah?!" bentak grifa kepada orang yang menabrak Xerlin.
"Seharusnya lo tanya sama kawan lo itu. Dia yang nabrak gue, tapi malah dia sendiri yang jatuh" cibir stevi ratu hujat SMA Rajawali.
"Gue lihat sendiri pakai mata gue, lo yang tabrak dia, apa apaan lo!" balas zevanya tidak jauh ketus setelah menolong Xerlin
"Udah udah gapapa, ayo kita ke kantin aja" lerai Xerlin sambil menenangkan kedua temannya dan mengajaknya kekantin.
"Dia itu dari dulu selalu aja. Geli banget gue liat nya" geram Grifa.
"Gue mau cerita sama kalian tentang kalung ini" celetuk Xerlin ketika mereka sudah sampai di kantin.
"Oh iya lo dapat dari mana?" tanya Zevanya.
Xerlin pun langsung menceritakan kejadian nya bersama Gavendra ketika di lorong hingga Gavendra membelikan Xerlin kalung itu.
Disisi lain kantin, Calon inti Albatross sedang membahas sesuatu tentang Xerlin.
"Bagaimana di data tidak ada nama Xerlin. Sedangkang nama xerlin ada nama belakang Thomas. Gue jadi bingung" celetuk Karel
"Kita harus langsung tanyakan ini dengan Xerlin ngga sih bang?" tanya Rava kepada deon dan juga Gavendra.
"Kok masalah nya jadi ribet. Memangnya ini ada urusannya dengan Kerlina?" tanya deon heran, mengapa mereka jadi membahas keluarga Xerlin.
"Masalah keluarga Xerlin sama dengan halnya data Kerlina yang tidak tertulis nama keluarga, dan Xerlin salah satu gadis yang kelahiran 17 april, jadi kita mulai dari dia" jelas karel.
"Rumah sakit"
"Hah apa?" tanya rava karena ucapan Gavendra tidak jelas.
"Maksud nya kita harus cari rumah sakit tempat Kerlina melahirkan?"
"Hm" sahut Gavendra dengan penjelasan Karel.
"Baiklah gue faham. Rava lo cari rumah sakit tempat dimana Kerlina melahirkan. Setelah itu kita akan pergi kesana dan mencari data anak dan juga suaminya" jelas Karel yang paham dengan jalur pikir Gavendra.
"Oke"
Rava langsung mengotak atik tabletnya dimana dia bisa mencari data siapapun di sana.
"Rumah sakit Bakti Indah rel"
"Kapan kita akan kesana bang?" tanya karel kepada Gavendra.
"Pulang sekolah" sahut Gavendra datar.
"Bukannya lo mau antar Xerlin?"
Mendengar pertangaan Deon Gavendra pun langsung teringat dengan Xerlin. "Setelah mengantar Xerlin"
"Oke" jawab mereka bersamaan.
Kringgg kringgg
Bel masuk pun berbunyi. Mereka langsung berjalan masuk ke kelas begitupun dengan Xerlin cs yang sudah menuju ke kelas sejak tadi.
__________________________________
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 3 siang. Murid murid SMA Rajawali sudah di pulangkan sejak tadi. Saat ini Xerlin dan Gavendra sedang berada di dalam mobil untuk menuju ke markas dimana motor Xerlin berada.
__ADS_1
Dorrr tranggg
"Aaaaaaaaaa"