Glory Of God: Dewa Yang Bosan Dengan Hidup Nya

Glory Of God: Dewa Yang Bosan Dengan Hidup Nya
⟨Chapter 1⟩


__ADS_3

...Di Dunia Yang Gelap...


Abacaden perlahan membuka matanya dan melihat keadaan sekitar.


Ia perlahan sadar, jika dia sedang berada didalam dunia mimpi.


Dengan atap yang melengkung dan dinding yang membentuk lurus panjang, tepatnya seperti belahan pipa.


Jiwa yang seakan terpisah dari raganya. Tanpa memikirkan hal apapun, ia berjalan lurus ke depan mengikuti kilauan cahaya dari kejauhan.


Ia tak merasa lelah ataupun merasa tertekan setelah ribuan tahun melalui lorong yang tiada akhir.


Didepannya muncul Roh api berwarna biru tepat diwajahnya.


Mahluk itu tidak lain dan tidak bukan adalah ciptaannya sendiri.


"Ini adalah tahun yang ke sepuluh ribu" Ia berkata dengan suara bergema.


"Tidak mungkin, setelah jutaan jiwamu gagal melalui tes ini, hanya dikau satu-satunya yang berhasil" Ia melanjutkan perkataanya dengan nada bergema.


"Aku tidak peduli" Abacaden menjawabnya dengan nada datar.


"Tidak salah lagi, Ini adalah ciptaan yang terbaik, diku bisa melihat jelas kekosongan yang terpancar jelas dari mata mu itu" Roh itu berkata dengan nada bergema.


"Sungguh konyol jika, kau menilai ku, hanya dengan menatap tubuh boneka ini" Jawab abacaden dengan nada datar.


"Benar-benar konyol" Ia melanjutkan ocehannya.


"Apakah kau kesepian?" Jawab roh tersebut dengan nada bergema.


Abacaden seketika merasa tidak tertarik untuk melanjutkan percakapannya dengan Roh tersebut.


"Tidak ada jawaban?"


"Diku bisa saja membukakan Ruang Universal, jika dikau ingin merebut paksa kepingan memori yang berasal dari seluruh alam semesta" Roh itu berkata dengan nada bergema.


"Itu tidak diperlukan, pasti ada alasan mengapa ingatan lama ku dilenyapkan" Jawab abacaden dengan nada datar.


Perlahan didepannya muncul sebuah gerbang diliputi dengan kepalan asap.


"Diku akan menarikmu paksa ke dalam Ruang Universal ini" Roh itu berkata dengan nada bergema.


"Jangan lakukan itu, apa kau berencana ingin melawan tuanmu sendiri?" Jawab abacaden dengan emosional.


"Yang diku katakan tadi adalah kebohongan semata" Roh itu menjawab dengan nada bergema.


"Diku disini hanya bertugas sebagai penguji tes, dari jiwa-jiwa yang ingin melalui tahap reinkarnasi" Ia melanjutkan perkataannya dengan nada bergema.


Abacaden nampak tidak memahami dengan apa yang diucapkan oleh Roh tersebut.


"Baiklah sesuka mu saja" Abacaden kembali menjawabnya dengan nada datar.


Roh tersebut duduk hormat mempersilahkan untuk Abacaden masuk ke dalam Ruang Universal.


Gerbang telah terbuka lebar. Ruang hitam pekat beserta kilauan cahaya dari bintang-bintang terlihat jelas di mata Abacaden.


Ia terjun masuk kedalam Ruang Universal. Dengan jumlah angka yang tidak terbatas, memori dari seluruh mahluk hidup masuk secara paksa ke dalam fikirannya.


Roh tersebut kemudian memandangi tuannya yang sedang melahap seluruh memori dari alam semesta.


Tapi sayangnya dengan cepat ribuan kepingan memori jatuh berhamburan dikarnakan kapasitas yang berlebih masuk menembus ke dalam fikirannya.


"Celaka, aku harus menariknya" Gumam roh tersebut dengan raut wajah yang panik.


"Ini terlalu berlebihan, rasanya kepalaku seakan ingin pecah" Abacaden mengoceh akan kegagalannya.


"Maaf atas kecerobohanku tuan, diku akan segera memperluas kapasitas ingatmu ke angka infinity" Jawab roh dengan nada bergema.


"Sudah hentikan, saat ini rasanya kepala ku di isi dengan ribuan dialog yang saling bertabrakkan" Jawab abacaden dengan emosi yang tidak stabil.


"Kurasa ini lah alasan, mengapa dia melenyapkan seluruh ingatan lamanya" Curhat abacaden.


"Demi mencapai inti dari kekosongan, diriku terus mengorbankan jiwa-jiwa nya, dan berkali-kali menguji kesabarannya untuk bisa melalui ujian tes ini" Abacaden melanjutkan curhatnya.


"Tepat sekali tuan" Jawab roh tersebut dengan nada bergema.


"Tapi dari juta-an kegagalannya, hanya dikau yang mampu melewati tahun yang ke sepuluh ribu" Roh tersebut menjelaskan perkataannya dengan nada bergema.


"Bagaimana dengan raga ku?" Tanya abacaden mengarah ke roh tersebut.


"Diku tak bisa menjawabnya karena itu pertanyaan yang rumit" Roh tersebut menghindari percakapan yang tidak diperlukan.


"Benar juga, seperti apa bentuk sejati ku?" Tanya abacaden dengan raut wajah yang penasaran.


Seketika ia dihujani pertanyaan oleh Abacaden, perlahan Roh tersebut menghela nafasnya.


"Kesampingkan pertanyaan tersebut, bagi anda apa yang terpenting saat ini?" Roh tersebut seperti menghindari percakapan yang tidak diperlukan.


"Aku tidak, apa yang terjadi denganku, mengapa aku harus mengatakannya, kenapa aku, siapa, ini--" Abacaden perlahan memiliki sisi lain dari biasanya.


"Tuan apa kau baik-baik saja?" Tanya Roh tersebut dengan raut wajah yang panik.


"Tuan, seperti nya rencana yang kita lakukan percuma saja" Roh tersebut bergumam dengan sendirinya.


Abacaden mengerang keras kesakitan, perlahan air matanya menetes berjatuhan ke tanah.


Perasaan nya yang berasal dari kepingan memori, mengubah nya menjadi manusia seutuhnya.


"Diku tak bisa membuatnya merasa tersiksa lebih dari ini" Roh tersebut segera menghapus kepingan memori yang berasal dari ingatan nya.


"Sucikan ia dari ingatan yang tidak seharusnya ada"


...Dengan kekuatannya Roh tersebut mampu membersihkan kekacauan yang terjadi pada ingatan tuanya....


Seakan seperti memisahkan air dari genungan minyak, memori buruk yang berasal dari alam sadarnya Abacaden terkikis habis.


"Sekarang apa dikau merasa mendingan, tuanku?" Tanya Roh tersebut dengan nada bergema.


"Seharusnya hal semacam ini tidak harus dilakukan" Ucap Abacaden dengan nada yang kembali datar.


"Tidak bisa, hal semacam ini perlu dilakukan untuk membuat anda mencapai puncak dari kesempurnaan" Roh tersebut melanjutkan perkataannya dengan nada yang bergema.


"Kesempurnaan ya... kurasa itu tidak buruk"


"Bersiaplah untuk melanjutkan masuk ke dalam Ruang Universal untuk yang kedua kalinya" Jawab Roh tersebut dengan nada bergema.


"Ya tentu saja, dan jika sesuatu terjadi padaku, maka segera pisahkan memori yang tidak seharusnya ada" Abacaden tiba-tiba mengoceh panjang lebar.


"Baik, diku mengerti" Roh tersebut menjawab nya dengan singkat.


Dengan kapasitas yang lebih besar Abacaden perlahan mampu menyerap seluruh kepingan memori yang berasal dari alam semesta.


Seakan seperti black hole yang perlahan semakin membesar, ia perlahan menyerap seluruh isi dari alam semesta.


Meski tubuh bonekanya bergetar dengan sangat hebat, ia masih tetap mampu menahannya.


Roh tersebut menggelengkan kepalanya dengan ekspresi takjub akan kekuatan absolut yang dimiliki oleh tuan nya.


"Sungguh luar biasa, dengan ini ujianmu telah kunyatakan telah berakhir" Ujarnya Roh tersebut dengan nada yang bergema.


"Sucikan lah ia dari ingatan yang tidak seharusnya ada" Roh tersebut mengucapkan mantra dengan nada yang bergema.


Seakan seperti memisahkan air dari genungan minyak.


Sebagian ingatan yang tidak seharusnya ada dimusnahkan dalam ingatan tuanya Abacaden.


Perlahan atap-atap langit mulai menimbulkan dampak retakan.


"Bagaimana dengan mu, apa kau ingin tetap berada di dalam dunia ini?" Abacaden mencemaskan keadaan sang Roh tersebut.


"Tak apa tuan, karena disini lah tempat abadi dimana diku berasal" Roh tersebut menjawab perkataan Abacaden dengan nada yang bergema.


Dunia mimpi perlahan mulai kehilangan akan keseimbangannya, dikarenakan melemahnya daya kehidupan dari sang pencipta Abacaden.


Retakan tanah membuat sang Roh terjatuh kedalam kegelapan.


Lengkungan lorong tersebut dalam waktu singkat pecah menjadi partikel-partikel kecil.


Abacaden dengan sangat kencang berterima kasih atas perhatian yang diberikan oleh Roh tersebut.


"Semoga kita bisa bertemu lagi di masa mendatang" Teriak Abacaden dengan meneteskan air mata diwajahnya.


Roh itu langsung menunjukan senyuman kagum di wajahnya, sesaat setelah mendengar ucapan terima Abacaden kasihnya terhadap dirinya.


"Diku akan selalu menunggu akan kehadiranmu Tuanku" Roh tersebut menjawab nya dengan nada yang sangat bergema.


Perlahan Roh itu langsung lenyap bersamaan dengan partikel-partikel.


****************


"Selamat datang kembali, apakah proses reinkarnasi anda berhasil?" Tanya Dewi tersebut.


Dibelakangnya terdengar suara Dewi yang melintas melalui pendengaran nya.


Dewi itu memiliki paras wajah yang sangat cantik, ditambah dengan tubuhnya yang indah, membuat siapa saja langsung jatuh cinta padanya.


Abacaden saat ini sedang berada dalam lengkungan bola kaca yang mengambang dari ketinggian melebihi awan.


Pijakannya saat ini dikelilingi oleh tanaman ditambah dengan beberapa bambu beserta kolamnya.


Yang mana sudah jelas ini adalah tempat haremnya Abacaden yang sebelumnya.


"Tempat ini terlalu kekanak-kanakan" Abacaden tiba-tiba mengoceh akan kekesalannya.


Dewi tersebut menahan geram, karena baru kali ini seseorang menghiraukan perkataannya.


Ditambah dengan tempat ciptaan tuanya, diejek habis-habisan.


"Ah ya ampun~ pria yang malang~ aku bisa saja melemparkan mu ke neraka~" Dewi tersebut menahan emosinya dengan nada onee-san.


Saat ini dosa dan pahala nya Abacaden akan ditimbang, jika dosa nya lebih besar dari pahalanya, maka dia akan dilemparkan ke dalam neraka.

__ADS_1


"Dosa 100 Persen, Pahala 0 Persen, Ya ampun~ apa saja yang ia lakukan semasa hidupnya" Dewi tersebut menghela nafasnya.


"Yah mau bagaimanapun juga, aku harus menyeretnya masuk ke dalam neraka" Gumam Dewi tersebut.


"Bagaimana tanggapanmu tentang persentase timbangan dari dosa dan pahala mu tadi?" Dewi tersebut mencoba menyulut emosi Abacaden.


"Siapa yang menciptakan tempat ini" Tanya Abacaden dengan nada datar.


Sekali lagi Abacaden menghiraukan perkataan Dewi tersebut.


"Oh ya ampun~ tempat ini tercipta atas kuasa dan izin dari tuanku yang absolute Abacaden~ apa kau terkejut~" Jawab Dewi tersebut dengan nada onee-san.


Yap, tempat ini dibangun oleh Abacaden yang dulu, jauh sebelum jiwa baru nya disempurnakan.


"Kalau begitu atas izin kuasa dari tuanmu yang absolute itu, akan kuhancurkan tempat ini" Abacaden menjawab perkataan Dewi itu.


"Hahaha~ Sesukamu saja~ sungguh pria yang malang~" Dewi tersebut nampak meremehkan kekuatannya, dan menganggapnya gila.


"Lahirlah berbagai macam jenis ras, dan hancurkanlah tempat ini, semua atas izin dari kuasa ku" Abacaden merapalkan mantra nya.


Ratusan raksasa muncul dan berjatuhan mereka ditugaskan untuk menghancurkan kaca-kaca.


Naga bermunculan dari berbagai belahan awan dan para naga tersebut menyemburkan cairan asam ke berbagai arah.


Para peri merapal berbagai macam jenis mantra dan menyerang dari berbagai sisi.


Sedangkan para manusia, mereka seakan lahir hanya untuk dilenyapkan.


"Sungguh kekuatan yang luar biasa, bahkan mungkin kekuatannya setara dengan milik tuanku, Abacaden" Dewi tersebut kagum dengan mulut terbuka lebar.


Disaat yang bersamaan Dewi tersebut menahan tangisnya akan tempat nya, yang dihancurkan oleh Abacaden.


"Aku tidak akan memaafkan orang sepertimu, tuanku Abacaden pasti akan menghancurkan mu" Ia pergi dengan amarahnya yang menggebu-gebu.


Dewi tersebut pergi untuk melaporkan kejadian ini kepada tuannya Abacaden.


Tanpa ia sadari, di belakangnya ada Abacaden yang mengikuti nya.


Abacaden pergi jauh dari tempat yang telah dihancurkan nya.


Mereka berdua terbang dengan kecepatan tinggi, untuk itu Abacaden perlu merapalkan jurus yang bisa menghilangkan keberadaanya.


Dari kejauhan nampak bangunan yang seperti gerbang ruang dimensi, Dewi tersebut menerjang masuk ke dalam portal dengan posisi tubuhnya yang lurus.


Saking cepatnya kecepatan terbang dari Dewi tersebut, rerumputan disekitarnya langsung terhembus ke udara.


Namun beda dengan Abacaden, Dia masuk dengan kecepatan yang ratusan kali lipat dari Dewi tersebut.


Hanya dengan libasan kecepatan anginnya, tanah-tanah disekitarnya retak berhamburan.


Sesampainya tembus ke ruang dimensi, tubuhnya masih bergerak lurus dengan kecepatan cahaya, menembus tanah sampai ke intinya, karpet-karpet lantai langsung terbakar dikarenakan kecepatan absolute Abacaden.


Dewi disampingnya kaget bukan main karena ajal hampir saja menjemputnya.


"Serangan musuh!!" Teriak para penjaga istana setelah melihat Dewi tersebut yang muncul tiba-tiba beserta meteorit dahsyatnya.


...****************...


Mendengar teriakkan dari para penjaga, Abacaden mampu mendengar suara di lokasi yang di tandai nya.


"Sial, aku harus segera kembali" Kata Abacaden tersebut dengan nada serius.


Seakan ia seperti semut yang sedang memutari kelereng, ia menembus tanah dengan kecepatannya cahaya miliknya.


"Itu dia" Abacaden melihat lubang lebar dari atas nya.


"Ini hanya kesalahan fahaman" Dewi tersebut menahan tangisnya.


Sementara itu Abacaden muncul disaat Dewi tersebut dikepung oleh berbagai macam jenis ras penjaga.


"Yo, makhluk-makhluk kesayangan ku" Abacaden seketika menyapa seluruh mahluk ciptaannya.


"Da-dasar Monster, aku akan membuat mu, merasakan dahsyatnya kekuatan ku" Teriak seorang penjaga ras jenis manusia.


"Be-benar, Tuan ku Abacaden akan melenyapkanmu dengan kekuatannya yang absolute" Suara dari seorang penjaga ras jenis peri.


"Oh itu dia tubuh sejatiku" Gumamnya Abacaden.


Abacaden perlahan berjalan mendekati tubuhnya yang duduk lemas, menatap dirinya yang baru terlahir.


Abacaden perlahan berjalan mendekati tubuhnya yang tanpa jiwa, berbagai jenis ras penjaga istana tersebut mengepung pergerakan Abacaden.


Namun tak satupun yang bisa menyentuh aura kegelapan yang dimiliki oleh Abacaden.


"Kekuatan macam apa itu, aku bahkan tidak bisa bergerak" Gumam dari seorang penjaga jenis ras demon.


Selagi Abacaden berjalan mendekati tubuhnya, berbagai serangan tertuju padanya.


"Lindungi Tuan kita dari monster itu" Teriak penjaga nya jenis ras Demon lord.


Sama halnya mendekat kan magnet ke sesama magnet, tak satupun yang berhasil bertahan mendekati tubuhnya Abacaden.


Dikarenakan auranya yang memancarkan sinar negatif, maka tak satupun orang yang bisa melukai nya.


"Ara~Ara~ Apa yang ingin lakukan terhadap tubuh tuanku yang absolute Abacaden" Desah dari penjaga jenis ras Demon.


Abacaden sejenak terhenti melihat pancaran aura dashyat didepan nya, dan itu adalah penjaga lamanya bernama Nue.


Nue sendiri bisa dikatakan sebagai ras demon terkuat dari penjaga lainnya.


Seperti pada umumnya, dia memiliki sayap di belakang dadanya, ditambah dengan dua tanduk di atas kepalanya.


"Aku tidak bisa bergerak, oh tidak, aku terpental, apa-apaan dengan monster yang satu ini" Teriak dramatis Abacaden dengan pose tangan ke dahi.


"Beraninya kau mengejekku, dasar mahluk payah!"


"Da-dasar Monster, apa-apaan dia ini"


"Dia mengejekku, sialan kau!"


berbagai macam jenis ras tersulut emosi dikarenakan ejekan yang dilakukan oleh Abacaden.


Abacaden saat ini berdiri didepan tubuhnya yang lemas di atas singgasana dikarenakan hilangnya jiwa dari raganya.


"Ampun bang jago 🗿" Seseorang penjaga tiba-tiba menendangnya terpental jauh ke pilar-pilar.


"Hey Hey Not Bad 🗿" Abacaden merasakan kenikmatan dari serangan yang dilancarkan oleh penjaga terkuat nya jenis ras Peri.


Tanah-tanah terkikis, karpet-karpet terbuka dan lenyap menjadi abu, dikarenakan kecepatan tinggi dari tendangan keras yang dilakukan oleh penjaga terkuat nya jenis ras Peri.


"Bagusss! rasakan itu dasar Monster sialan!"


"Hahaha, rasakan itu, dasar Monster payah!"


"Ba-bagus seperti itu lah harusnya!"


Meski begitu, Abacaden tetap berdiri tegak seakan tidak terjadi apa-apa.


"Release Aura!" Abacaden merapal kan mantera nya.


"Hmmu?!"


"Apa yang sedang ia lakukan"


"Bo-bodoh mana kutahu!"


"Seperti nya tidak terjadi apa-apa"


"Kasihan, apa kau kehabisan bahan bakar?"


Seketika semua penjaga dari istana tertawa terbahak bahak mendengar lawakan yang diucapkan oleh salah satu seorang penjaga.


"Apa hanya sebatas ini kah humor yang dimiliki oleh ciptaanku" Gumamnya Abacaden.


"Aku kecewa" Abacaden tanpa basa-basi, segera menghentikan waktu, Dan berjalan menuju tubuh sejati nya.


"Rupa ini kurasa tidak buruk, umu" Abacaden langsung melepaskan dirinya dari tubuh boneka nya yang sebelumnya.


Abacaden langsung masuk ke dalam raganya, setelah itu waktu kembali seperti sediakala.


"Apa yang terjadi?"


"Dimana monster itu?"


"Apakah kita berhasil melenyapkannya?"


Puluhan anggota saling menatap dengan raut wajah yang bingung.


"Bagus sekali, akhirnya setelah sekian lama, aku bisa kembali ke dalam raga ku!" Teriak semangat Abacaden.


Rupanya ketika Abacaden berada didalam dunia mimpi, waktu nya di dalam sana seakan terhenti.


Jika di konversasi 1 detik di bumi, maka di dalam dunia mimpi nya akan seperti milyaran tahun.


"Tuan ku?!"


"Oh ternyata begitu, jadi yang barusan adalah jiwa anda tuanku Abacaden"


"Tuan kita?!"


"Ampunilah kecerobohan kami barusan tuanku Abacaden!"


"Ampunilah kami!"


"Ampun bang jago 🗿"


"Berisik, mending rakit pc" Abacaden berbicara dengan nada yang bergema.


"HAHAHAHAHA!"


"Aowka!"

__ADS_1


"Lucu banget Hyung!"


"Sasuga Abacaden sama!"


"DIAM!" Teriaknya Abacaden.


"Bersiaplah kita akan melakukan war dengan musuh bebuyutan ku Kami-sama!" Abacaden melanjutkan perkataannya.


"Siap tuanku Abacaden yang abnormal!"


"Hah?!" Abacaden seketika kaget karena baru kali ini seseorang memanggilnya dengan sebutan abnormal.


"Typo bang jago 🗿"


"Dikiranya lucu amnjinc" Abacaden.


Di keheningan malam, seketika setelah Abacaden mengucapkan kalimat terakhirnya, seorang penjaga ras jenis peri menendangnya untuk yang kedua kalinya.


"Beraninya kau merasuki tubuh tuanku yang absolute!" Gumam nya penjaga peri tersebut.


"Ti-tidak ini salah faham!" Abacaden panik dengan nada feminim nya.


"Woi kenapa aku ikut-ikutan bicara terbata-bata"


...****************...


"Bicaralah sesukamu, yang jelas aku akan mengakhiri hidupmu" Penjaga peri tersebut melanjutkan perkataannya.


"Yahoo?! menarik" Abacaden menjawab perkataan yang dilontarkannya dengan nada santai.


"Larva Hole!" Peri tersebut merapalkan mantranya kearah tuannya Abacaden.


Larva mencret dimana-mana, para monster berteriak kepanasan dikarenakan cipratan larva tersebut.


"Ahhh~"


"Baru saja aku mandi, larva sialan"


"Pakaian ku jadi kotor, woi ngotak dong!"


"Ahhh~ kimochi"


Namun, Abacaden menghiraukan serangan letoy yang dilakukan oleh penjaga ras jenis peri tersebut.


"Helium Friontal Yeim Minotracle Holium Rintacle Netralisir!" Abacaden merapal mantra nya dengan nada yang sangat tinggi k*p*d* l*w*nny* y**t* penj*g* ny* s*nd*r* y*ng j*n*s r*s per*


"Lawak lu badut--" Peri tersebut terbahak-bahak mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Abacaden.


Helium!


Gelombang leser tertembak hingga menembus bulan.


Friontal!


Inti bumi tertuju pada isi dari leser tersebut.


Yeim!


Seluruh mahluk bumi beserta kuman tidak bisa bergerak dan bernafas.


Minotracle!


Suara dentuman ber volume tinggi memecahkan siapapun yang mendengarnya.


Holium!


Meteorit berjatuhan ke bumi.


Rintacle!


Ribuan kastil tercipta dimana-mana.


Netralisir!


Dan itu hanya di alami oleh penjaga peri tersebut, ia merinding ketakutan akan kekuatan absolut yang dimiliki oleh Abacaden.


"Bangunlah, ini hanya ilusi" Abacaden menepuk pundak nya dengan raut wajahnya yang tersenyum jahat.


"Aku tidak percaya, bagaimana aku bisa terkena ilusi seperti itu, mungkinkah?!!" Penjaga ras jenis tersebut berbicara dengan raut wajah yang heran.


"Apa ini benar-benar, anda tuanku?!" Penjaga ras jenis peri tersebut melanjutkan perkataannya.


Abacaden meninggalkan penjaga ras jenis peri tersebut, dan melanjutkan percakapannya dengan Dewi yang dia temui di tempat reinkarnasi.


"Pasti kau ingin melaporkan sesuatu?!" Abacaden menunjuk jari nya kepada Dewi tersebut.


Disaat yang bersamaan Dewi tersebut bingung, dan kepalanya rasanya mau pecah dikarenakan hilangnya kesabaran.


ditambah ia dituduh sebagai musuh dengan penyerangan berencana terhadap Tuannya.


Dan sekarang ia berhadapan dengan Tuannya yang telah menghancurkan tempatnya.


Ditambah lagi musuh nya adalah tuannya sendiri, yang sedang cosplay boneka.


Dan terakhir tuannya seakan tidak melakukan apa-apa terhadapnya.


"Kau memang gila tuanku Abacaden yang absolute!" Dewi tersebut berbicara dengan raut wajah yang campur aduk.


"Mulai saat ini juga aku akan mencabut otoritas mu sebagai Dewi" Abacaden berbicara dengan raut wajah yang datar.


"Tapi Tuan--"


Seketika ia terpental keluar dari istana yang dilapisi pelindung transparan, yang mana itu hanya bisa dilewati oleh mahluk yang mempunyai otoritas tinggi.


"Ha-ha-ha-ha-ha-haha-ha-ha-ha-ha-ha" Dewi tersebut memendam rasa cintanya yang besar kepada tuannya Abacaden.


Disaat yang bersamaan ia juga merasa tertekan dikarenakan kegilaan yang dilakukan oleh Abacaden, karena itulah ia menjadi gila dan tertawa tanpa henti.


"Ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha"


"Kasian masih muda 🗿" Gumam para penjaga yang berada diluar batas otoritas.


...****************...


"Bersorak lah untuk Jiwa baru yang terlahir!" Ucap Abacaden dengan nada yang bergema.


Semua penjaga beserta asisten disekitarnya bersorak gembira untuk kepulangan tuannya Abacaden.


"Luar biasa Tuanku Abacaden yang absolut Horas!🎉"


"Horas!🎉"


"Horaas!🎉"


"Horaaas!🎉"


"Horaaaas!🎉"


"Hiduplah Roh ciptaanku!" Abacaden merapalkan mantranya.


"Perkenalkan diku adalah Roh yang--"


Abacaden segera memeluknya, dikarenakan ia merasa sangat kesepian.


Sekejap mata Abacaden menangis haru, melihat Roh tersebut berbicara layaknya, Roh ciptaannya yang berada di dalam dunia mimpi.


"Aku sangat merindukanmu" Gumamnya Abacaden.


"Tuanku?" Roh tersebut menunjukkan raut wajah yang bingung.


"Horas??🎉"


"Horaas??🎉"


"Horaaas??🎉"


"Horaaaas??🎉"


"Diku tidak mengerti apa yang sedang terjadi" Roh tersebut menjawab nya dengan nada yang bergema.


"Tapi, seperti nya ada sesuatu yang telah terjadi diantara kita" Roh tersebut melanjutkan perkataannya dengan raut wajah yang tersenyum haru.


"Oh roh kesayangan ku, berrjanji lah untuk selalu terus berada disisi ku" Abacaden menjawab perkataan Roh tersebut.


"Alay amnjinc jadi war gak?" Teriak penjaga jenis goblin.


"Beraninya dikau, menghina tuan kita Abacaden yang absolut!" Roh tersebut seketika geram dan mengeluarkan pancaran aura yang membunuh.


"Bersorak lebih keras!🎉🗿" Teriaknya Abacaden dengan nada bergema tinggi.


"Horas!🎉"


"Horaas!🎉"


"Horaaas!🎉"


"Horaaaas!🎉"


"Horas!🎉"


"Horaas!🎉"


"Horaaas!🎉"


"Horaaaas!🎉"


...****************...


Kehancuran istana sangat fatal dikarenakan kerusuhan yang terjadi saat Abacaden masuk melalui portal.


Yang mana itu mengakibatkan biaya besar dan waktu konstruksi yang sangat lama.

__ADS_1


Karena tak tahan dengan sumpah serapah pemilik tanah istana tersebut, Abacaden beserta ribuan mahluk ciptaannya berkelana kesana-kemari.


__ADS_2