Glory Of God: Dewa Yang Bosan Dengan Hidup Nya

Glory Of God: Dewa Yang Bosan Dengan Hidup Nya
⟨Chapter 8⟩


__ADS_3

Nue sendiri salah satu ciptaannya yang ter abrsurd bagaimana tidak, dari jenis ras demon lord, bersayap di belakang dadanya, ditambah tanduk di kepala. Dan tiba-tiba saja Nue bertranformasi menjadi Mahluk Mitologi Jepang. 🗿


"Ehh?" kaget Nue.


"Kok... aku gak berubah?!" lanjut Nue.


Abacaden langsung mencetak kepalanya setelah melihat Nue hampir saja berulah kembali.


"Syukurlah Aku berhasil mengembangkan kunci tsb" ucap Abacaden.


"Kunci?" sahut Nue.


"Yah, kunci! Itu untuk mengurung mode beast mu!" senyum kejam Abacaden.


"Uwaaargh! ( ՞ਊ ՞)→" kaget Nue.


"Wajahmu tolong dikondisikan" ucap Abacaden.


"Eh?? Ahem... dasar kasar! anda harusnya lebih lemah lembut terhadap gadis seperti ku( ≧Д≦)" sahut Nue.


Di tengah keramaian kota, Nue & Abacaden serta Roh Api tsb. Mereka bertiga tergeletak letoy di tempat atas langit gedung kantor milik seseorang.


Emosi Kami-sama yang menggebu-gebu telah padam saat Abacaden mengantarkan nya masuk ke dalam rumah miliknya. Itu karena dia ingin lekas-lekas melanjutkan streaming anime.


Di sisi lain Artemis dan Zeus menghentikan kegiatan mereka dan pulang ke rumahnya masing-masing.


"Ayah aku pulang!" salam Artemis.


Anak berusia 7 tahun jenis ras goblin yaitu Artemis segera dimarahi oleh ayah nya karena baru pulang sekitar jam pukul 7:00 PM.


"Kemana saja kau baru pulang, dasar anak bandel!" sambut Ayahnya.


"Ampun daddy🗿" sahut Artemis.


"Pergi makan cepat sana, ibumu yang khawatir itu sedang menunggu di depan meja makan!" bentak Ayahnya.


"Y-Yessir!" sahut Artemis.


"Astaga naga, Artemis!" teriak Ayahnya ketika melihat Artemis masuk dengan baju yang basah.


Zeus pun juga sama, Ia dimarahi oleh orang tuanya karena bandel!


Hari mulai gelap gulita. Abacaden segera pulang bersama bawahannya Nue dan Roh Api, kembali menuju ke hutan koloni yang merupakan tercipta akan gagasan dari kegabutannya Abacaden.


Sesampainya di hutan, puluhan mahluk ciptaannya menunduk hormat takjub akan kekuatan absolut yang dimiliki oleh Abacaden.


"Yohoho!" kaget Abacaden.


Ia dikagetkan dengan banyak nya desa-desa dan istana khusus yang dibuat untuknya sejak kepergiannya melawan Kami-sama.


"Kastil ini besar sekali!" ucap Abacaden.


"Terimakasih atas pujian anda, tuan!" sahut para Tukang Bangunan.


"Aku sangat senang!" senyum Abacaden.

__ADS_1


"Luar biasa!" ucap Roh Api.


"Bagaimana Nue, bagus banget kan?" tanya Abacaden.


Ia meliriknya sekilas ke wajah Nue, namun dengan kejap Nue membalas pertanyaannya.


"Y-Yaa... memang bagus, tapi perlu diingat, aku tidak tak akan pernah tidur sekamar berdua dengan anda, dasar Mesum! (ᗒᗩᗕ)" sahut Nue.


Abacaden yang mendengar jawabannya seketika tertawa terbahak-bahak karena tingkahnya Nue yang berlebihan.


"Haduh... Hahaha!" tawa Abacaden.


"Duh apa yang anda tertawakan! dasar mesum!" tanya Nue.


"Ya ampun... Ha-ha-ha" lanjut tawa Abacaden.


"Apa yang lucu sih?! `(>▂<)💢" geram Nue.


"Tidak... hanya saja Hahaha... ha-ha-ha" tawa Abacaden.


"Arghhh dasar aneh!" sahut Nue.


Dengan raut wajah yang merah merona ia pergi meninggalkan tuannya Abacaden yang terus menertawakan dirinya. Dan masuk ke dalam kastil untuk mencari kamar mandi.


Disisi lain.


Emosinya Kami-sama kembali menggebu-gebu karena WiFi nya Abacaden yang tiba-tiba tumbang akan masa pemakaiannya telah habis.


Ia mencoba pergi ke berbagai warnet di sekitar kota, namun tidak ada satupun warnet yang buka, itu karena sepinya pengunjung disaat-saat masa korona ini.


Roh Api yang mulai merasakan hawa pembunuh dari kejauhan. Dan segera mendiskusikan tentang hal ini dengan tuannya Abacaden.


"Tuan, sepertinya hutan ini akan hancur lebur di masa mendatang" bisik Roh Api tsb.


"Apa yang terjadi?" sahut Abacaden.


"Itu karena saya merasakan hawa pembunuh dari kejauhan" bisik Roh Api tsb.


"Kami-sama kah?" gumam Abacaden.


Baginya siapa lagi yang bisa melawan dirinya selain musuh bebuyutannya Kami-sama.


"Aku akan pergi, Roh Api tolong jaga lah Nue & hutan ini" pesan Abacaden.


"Baiklah tuan, saya mengerti!" sahut Roh Api tsb.


tubuhnya Abacaden perlahan mulai berada di ketinggian. Terus meningkat hingga mencapai sepuluh ribu kaki dari permukaan bumi, baginya dengan berada di ketinggian. itu akan mampu meminimalisir terjadinya kehancuran di hutan miliknya.


Ia segera terbang meninggalkan hutan tsb. Dengan kecepatan cahaya miliknya. Angin berhembus sangat kencang dan langsung berubah menjadi tornado.


Dengan hanya dalam kurun waktu lima detik, Ia langsung sampai didepan Kami-sama.


"Apa yang sedang terjadi disini?" tanya Abacaden.


"Aku hanya ingin melepaskan rasa bosanku" sahut Kami-sama.

__ADS_1


Abacaden yang melihatnya sedang menghancurkan kota-


"Aku tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut" gumam Abacaden.


Ia mengerutkan keningnya dengan melihat tingkah laku Kami-sama yang terlalu kekanak-kanakan. Kota-kota dibakarnya habis hingga banjir lahar panas.


"Seharusnya kau tahu batasan meski dirimu adalah dewa sekalipun!" bentak Abacaden.


"A-Ampun bang jago 🗿" sahut Kami-sama.


Karena tanggung jawabnya yang besar sebagai dewa sekaligus pembuat koloni. Ia tentu saja tahu rasanya bagaimana kehilangan banyaknya penduduk akibat sebuah takdir yang tidak bisa dihindarinya.


"Di masa lalu aku telah mempelajari banyak hal" ucap Abacaden.


Kami-sama hanya terdiam bosan melihatnya Abacaden yang terus mengoceh.


"Satu hal yang jelas, aku tidak akan membiarkan mu terus membunuh orang yang tidak bersalah" bentak Abacaden.


"A-Aku hanya ingin melepaskan rasa bosanku" sahut Kami-sama.


"Aku belum pernah semarah ini sebelumnya" kata Abacaden.


Abacaden terus melanjutkan dramatisnya guna mendapatkan amarah yang lebih besar.


"Berhenti lah dramatis, orang-orang yang sudah mati tidak ingin rasa belas kasih mu, urus saja sana koloni aneh mu itu" bentak Kami-sama.


Mendengar ucapannya Kami-sama yang menyinggung perasaan nya. Abacaden tanpa basa-basi langsung merapalkan mantra andalannya. "God Cather!"


"Kau benar-benar membuatku merasa semakin muak" ucap Abacaden.


"A-Ampun bang jago!" sahut Kami-sama.


GOD CATHER!


Tangan dewa transparan miliknya langsung menerjang menuju Kami-sama.


"GRIN HOULS!" Kami-sama merapal mantra nya.


Sebuah mantra yang membuat penggunanya mampu menimbulkan Gerbang Dimensi yang bisa melahap berbagai mantra, yang ditujukan kepada pengguna nya.


Gerbang Dimensi itu adalah salah satu mantra terkuat miliknya Kami-sama. Dengan mantra tsb, Ia mampu melacak dan memakan sesuatu yang tidak bisa dilihatnya.


"Yang ku mau hanyalah sebuah kedamaian" ucap Abacaden.


"Kedamaian ya..." Kami-sama menghela nafasnya.


"Kurasa kau terlalu lama berlarut dalam kesedihan" sahut Kami-sama.


"Bagiku mudah saja untukmu menghancurkan isi bumi hanya dengan satu bawahanmu" lanjut Kami-sama.


"Membuat koloni di tengah-tengah hutan? Diusir pergi meninggalkan Istana karena tak mampu membayarnya? Jangan bercanda!" Kami-sama mengeluarkan unek-uneknya.


"Lah bjir dramatis, suka-suka MC nya dong🗿" sahut Abacaden.


"Kan harus dramatis dulu bos biar epik" lanjut Kami-sama.

__ADS_1


__ADS_2