Glory Of God: Dewa Yang Bosan Dengan Hidup Nya

Glory Of God: Dewa Yang Bosan Dengan Hidup Nya
⟨Chapter 6⟩


__ADS_3

Nue mengerang keras didepannya dan melancarkan cakramnya.


Abacaden yang mampu dengan jelas melihat pergerakan Nue, Ia berkata. "Ini jauh lebih mudah, dari dugaan ku"


Nue terus menyerangnya secara membabi-buta, sementara itu, Abacaden melancarkan serangan pertama nya selagi menghindari setiap serangan dari Nue.


Dengan serangan nya yang mampu meretakkan bumi itu. Nue terpental sangat jauh dikarenakan serangan dahsyatnya.


Dari berbagai arah pohon-pohon runtuh berjatuhan ke tanah. Itu karena hebat nya libasan angin dari Nue yang terpental.


Namun Nue tidak selemah itu, dan satu hal yang diketahui oleh Abacaden tentang Nue. Adalah kelemahannya yaitu tidak bisa mengendalikan kesadarannya saat dalam mode beast.


Mode beast nya sendiri biasanya muncul secara tiba-tiba, disaat-saat. Ia mengalami perubahan drastis dari sikap biasanya.


Karena itulah Abacaden menyingkirkan dua anak goblin yang berada didekatnya. Guna menghindari kematian yang sia-sia.


Saat ini, Nue tergeletak sekarat di runtuhan pohon-pohon. Dengan sekejap mata Abacaden muncul didepannya dengan kecepatan cahaya.


Dalam benaknya Abacaden. Ia bisa kapan saja mengakhiri hidup dari bawahannya Nue, tapi karena merasa bersalah karena telah menggodanya. Ia mencoba menenangkan pikiran nya.


"Apa kau baik-baik saja?!" Tanya Abacaden selagi memandangi tubuh lemas nya Nue.


Sialnya... Nue semakin malu, dan pikirannya semakin kacau balau. Membuat kesadarannya semakin memudar.


"Tidak ada cara lain lagi" Gumamnya Abacaden.


Ia segera menendangnya ke atas langit guna meminimalisir kerusakan yang terjadi di hutan.


Beberapa tulang rusuk dari mode beast nya retak, akibat tendangan dahsyat yang dilancarkan Abacaden.


Nue yang tak sadarkan diri terpental jauh ke langit hingga mencapai lima puluh ribu kaki dari permukaan bumi.


Dengan kecepatan cahaya miliknya Abacaden mampu melacak keberadaannya Nue. Hanya dalam beberapa detik.


"God Cather!" Ia merapalkan mantera miliknya.


Nue yang mengapung lemas. Tak mampu melawan kekuatan absolut yang dimiliki Abacaden.


Kurang dari 7 detik, dari kejauhan 10 kilometer dari keberadaan nya. Abacaden mampu menarik Nue, dengan kekuatan spesialnya God Cather.

__ADS_1


Abacaden menepatkan seluruh energinya ke bagian lengan. Dengan begitu serangan nya kali ini mampu mengakhiri penderitaan yang diderita nya. Itu berasal dari amukan mode beast milik Nue. Ia segera merapalkan mantera miliknya. "BLOW PUNCH !!!"


Ucap nya, setelah mantra nya bereaksi hebat di bagian lengan. Sesaat Abacaden menunjukkan raut wajah yang kasihan kepada Nue.


"Dengan ini, berakhir lah!" Teriaknya Abacaden. Selagi Ia mengepalkan genggamannya dan segera meninju Nue dengan kekuatan yang berlipat-lipat dahsyat.


Nue yang sedang dirasuki oleh mode beast nya. Langsung terpental jauh hingga sampai ke permukaan bulan. Seluruh tulang rusuk nya hancur lebur yang mana, Itu membuat nya terapung lemas di atas gravitasi.


Jauh dibawah, lagi-lagi Abacaden meluncur tinggi dengan kekuatan dahsyat miliknya. Ia sampai ke bulan hanya kurun waktu 10 detik.


"God Cather!" Ia merapalkan mantra andalannya untuk yang ketiga kalinya.


Ia menangkap Nue yang tak sadarkan diri, sedang lemas terapung di gravitasi. Abacaden perlahan menarik ke bulan dengan hati-hati guna meminimalisir kerusakan yang terjadi pada organ dalam milik Nue.


"Syukurlah, kamu baik-baik saja" Ucap Abacaden selagi ia meratapi tubuhnya Nue yang telah terpisah dari mode beast miliknya.


Abacaden dengan perlahan-lahan menggendongnya seperti bayi yang sedang rewel. Ia menerjang dari bulan menuju bumi dengan kecepatan cahaya miliknya.


****************


Selagi meratapi wajah datar tanpa ekspresi dari Abacaden, perlahan Nue. Mulai mendapatkan kesadarannya kembali, Dan berkata. "T-Tuan, Anda harus bertanggung jawab, dasar mesum!"


"Wow" Gumam Nue, dengan raut wajahnya yang hanya menyisakan sisa rerongkangan tulang.


"Regenenasi Full Version!" Abacaden merapalkan mantera regenerasi miliknya.


Ia merapalkan mantra tersebut guna harapan untuk mengembalikan tubuh dan bentuk wajah yang kembali seperti semula.


Itu terjadi karena Abacaden & bawahannya Nue. Tidak mampu menahan dahsyatnya beban dari gravitasi.


Bayangkan saja. Meloncat dari bulan menuju bumi dengan hanya kurun waktu kurang dari 0.1 Detik.


Di sisi lain Artemis dan temannya Zeus, menyaksikan pertandingan hebat dari Kami-sama melawan Roh Api.


Di ketinggian sepuluh ribu kaki dari permukaan bumi. Roh Api, Dan Kami-sama, saling menjaga jarak satu sama lain dan siaga dengan kuda-kuda mereka.


"Dimana tuanmu berada!" Teriak kesal Kami-sama.


Melihat emosi yang menggebu-gebu dari Kami-sama, Itu berhasil membuatnya merinding ketakutan. Namun Roh Api segera menjawabnya dengan berkata "Pergilah dari sini, tuanku sedang ada urusan!"

__ADS_1


Kami-sama yang tidak tahan dengan perlakuan mengusir, dari bawahannya Abacaden tersebut. Langsung menantangnya untuk Duel.


"Duel katamu?! Hah!~ Untuk apa daku menghabiskan energi, Hanya untuk orang letoy sepertimu!" Jawab Roh Api tersebut dengan nada yang sangat bergema.


"Apa katamu?!" 💢 Kami-sama semakin jengkel akan perilakunya yang sombong itu.


Saat ini emosinya memang menggebu-gebu karena jaringan WiFi nya tiba-tiba mati, akibat dari kerusakan satelit yang dilakukan oleh Abacaden beserta bawahannya Nue.


Tapi disaat yang bersamaan. Kami-sama tertawa terbahak-bahak saat Roh Api tersebut mengatakan bahwa dirinya adalah mahluk yang lemah.


Melihatnya yang tertawa terbahak-bahak, membuat Roh Api kesal dan berkata. "Apa yang lucu!"💢


"Baiklah... sepertinya mahluk seperti mu perlu diberi pelajaran..." Ucap Kami-sama dengan raut wajah nya yang tersenyum paksa dengan emosi yang menggebu-gebu.💢


Mereka berdua saling menatap satu sama dengan raut wajah yang sangat kesal.


"Bersiaplah, daku tak segan-segan untuk mematahkan tulang rusukmu itu!" Ucap nya dengan nada yang bergema.


"Leafy Rain!" Kami-sama merapal mantra dengan kuda-kuda nya.


Ribuan dedaunan setajam silet berhembusan menyerang fisik dari Roh Api tersebut, dan membuka luka yang cukup fatal.


Namun Ia tak peduli akan serangannya yang letoy itu. Roh Api segera mengangkat bulatan besar dari bawah tanah-tanah.


"B-Bagaimana kau bisa mengangkat batu besar seperti itu?!" Tanya Kami-sama dengan raut wajah yang mengejek.


Roh Api, langsung melemparkannya batu besar yang berada digenggaman lengannya. Seketika batu tersebut terlempar dengan cepat hingga menghasilkan libasan angin yang berhembus kencang disekitarnya.


Tanpa basa-basi, Kami-sama meninju bebatuan besar yang ada didepannya. Batu tersebut retak pecah menjadi abu akibat pukulan dahsyat miliknya.


"Masih belum!" Teriaknya Roh Api. Dengan membawa Kobaran Api di udara. "Dengan ini berakhirlah! Roh tersebut dengan percaya diri. Menyerang Kami-sama dengan Kobaran Api tersebut.


Ia tertawa terbahak-bahak akan lemahnya kemampuan dari Roh Api tersebut. Dan berkata. "Apa kau kira serangan sekecil upil ini, mampu melenyapkan ku?!"


Namun dari kejauhan, Seseorang berkata. "Terimakasih telah mau membuang waktumu untuk melawan kloningan ku!"


Itu adalah Roh Api. Ia sedang menerjang menuju Kami-sama dari permukaan bumi.


Sewaktu kloningan nya bertarung melawan Kami-sama. Roh Api tersebut mengumpulkan beberapa energi alam yang berasal dari serat-serat kehidupan.

__ADS_1


"A-Apa?!" Kami-sama merinding ketakutan akan kekuatan dahsyat yang dipancarkan oleh sang anak matahari yaitu Roh Api.


__ADS_2