Glory Of God: Dewa Yang Bosan Dengan Hidup Nya

Glory Of God: Dewa Yang Bosan Dengan Hidup Nya
⟨Chapter 11⟩ Arc: Timeline yang berbeda (3/4)


__ADS_3

"Crystal Sword!" Kami-sama merapalkan mantra miliknya.


Penggunaan pedang tsb memiliki tingkatan yang berbeda-beda, mulai dari Stone: Ice, Crystal: Ice, Unbreakable: Ice dan Bedrock: Ice masing-masing memiliki kelebihan dan keunggulan nya.


"MATI LAH!" Kami-sama segera menghunuskan pedangnya dan dengan sekejap mata Abacaden langsung seketika membeku didalam es.


Kami-sama segera terbang ke langit hingga mencapai seratus ribu kaki dari permukaan bumi.


"Rasakan lah amarahku!" Kami-sama langsung menebas bumi dengan pedangnya.


Bumi seketika terbelah menjadi dua bagian, hingga membuat inti bumi terlihat jelas dari pantulan cahaya matanya Kami-sama.


Dari ketinggian sana Kami-sama bergumam. "Ini semua salah anda!" kesal Kami-sama.


"Mengisi kekosongan hatinya yang hanya karena rival sejatinya mati?


"Mengisi kekosongan hati anda, karena kematian rival? Jangan bercanda!" amuk Kami-sama dengan membabi buta membelah inti bumi yang telah terpecah-pecah.


Meteorit berjatuhan hebat di atas langit itu karena dahsyatnya beban dari amukan Kami-sama.


"Tuan, anda begitu kejam!" gumam Kami-sama yang sedih.


Di sisi lain.


Abacaden yang berada dibawah sana, memang sengaja membiarkannya membabi buta diatas langit.


"Apa kau sudah puas?" tanya Abacaden dengan raut wajah yang datar.


Kami-sama seketika memucat sesaat suara Abacaden melintas melalui pendengarannya.


"Ku tanya sekali lagi apa kau--" Abacaden menghentikan ucapannya setelah mendengar bentakan keras Kami-sama.


"PUAS? Jangan bercanda! Kenapa anda begitu kejam!" Kami-sama menangis di sela-sela perkataannya. Itu ia karena mengetahui betapa ampasnya kehidupannya selama ini.


"Teruslah membabi-buta, hingga kekecewaan mu itu meredam" ucap Abacaden.


Mendengar perkataannya seakan menantang dirinya. Kami-sama segera menghunuskan pedangnya tepat didepan mata Abacaden.


"MATI LAH!" Kami-sama segera menebas kepalanya setelah mendengar ucapan Abacaden.


Kepalanya Abacaden seketika terputus dari tubuhnya, melihat tuannya yang telah mati, Kami-sama menunjukkan raut wajah yang tersenyum lebar ala-ala psikopat.


"Bumi sudah kuhancurkan, dan sekarang dengan mudahnya aku bisa membunuhmu? Jangan bercanda!" Bentak Kami-sama.


Itu karena dia masih memiliki rasa kekecewaan yang mendalam terhadap takdirnya.


"Bangunlah ini hanyalah sebuah ilusi" sahut Abacaden.


"Ilusi? Jangan bercanda! jelas-jelas bumi sudah kuhancurkan!" jawab Kami-sama.


"Ini hanyalah dunia replika yang tercipta dari mantra milikku" sahut Abacaden.

__ADS_1


Sebelum mengucapkan kebenarannya, Abacaden telah bersiaga untuk menangkal kerusakan fatal yang dilakukan oleh Kami-sama. Dengan mantra Dunia Replika miliknya, ia mampu mengoceh Kami-sama hingga sampai di titik ini.


"Ilusi katamu? Dunia Replika katamu? Jangan bercanda!" sahut Kami-sama.


"Membuat koloni di dalam hutan? Jangan bercanda!" ejek Abacaden yang kesal akan ucapannya Kami-sama yang selalu menambahkan 'Jangan bercanda!'. diakhir katanya.


"Aku akan membunuhmu tanpa rasa sakit sedikitpun" gumam Abacaden.


Ia segera menarik Pedang Antimatter Blade miliknya dari belakang dadanya. Dengan kecepatan cahaya ia menebaskan pedangnya tepat dilehernya Kami-sama.


Namun bukannya menghilangkan rasa sakitnya, Kami-sama justru kena sial sebab efek slowmo dari pedang miliknya Abacaden, yang bereaksi dengan musuh secara perlahan-lahan.


Satu jam telah berlalu dan akhirnya efek slowmo dari pedangnya Abacaden telah berlalu, Kami-sama akhirnya mati dengan lega sebab satu jam lamanya ia tersiksa darimu efek slowmo tsb telah berakhir.


"Jiwamu akan segera ku kirim ke surga! Perantaranya melalui pedang ini" pesan Abacaden.


"Surga katamu? Jangan bercanda!--" Kami-sama seketika lenyap bersamaan dengan partikel-partikel.


Dunia kembali seperti semula, sebab kehancuran yang dilakukan oleh Kami-sama hanya terjadi dalam dunia replika miliknya Abacaden. Didalam dunia tsb.


Disisi dunia lain.


Pengarang diary dari alur cerita Abacaden, yaitu Abaren Clorin aka Abacaden.


Abaren segera pergi meninggalkan makam milik rivalnya. Dan di tengah perjalanannya Ia berpapasan dengan seorang pria paruh baya yang berusia 77 tahun.


Pria paruh baya tsb, memiliki sayap hitam dan jenggot putih di belakang dadanya. Abaren tanpa lewat begitu saja darinya.


Mendengar ucapan tsb, Abaren seketika kaget sebab kemiripan karakteristik kakek tua tsb dengan Kami-sama dari diary miliknya.


"Tunggu sebentar!" teriak Abaren.


"Apakah anda Kami-sama?" tanya Abaren didepan kakek tua tsb.


"M-Mungkinkah, kita ditakdirkan bertemu?!" seru Kami-sama.


"A-Apa kau bisa mengubah nasibku?!" tanya Kami-sama.


Di tengah-tengah sunyi tempat padi, Abaren dan Kami-sama meloncat-loncat gembira hebat akan pertemuan mereka.


"Mengubah mu menjadi dewa!" sahut Abaren.


"Bagaimana, jika membunuh Abacaden?!" sahut seru Kami-sama.


"Membuatnya tunduk padamu!" sahut seru Abaren.


Abaren dan Kami-sama, terus berbincang-bincang di sela-sela perjalanannya.


"Baiklah aku akan memulai nya dari mengakhiri hidupnya Abacaden!" seru Abaren.


Note: "Arghhh Erghhh!" tiba-tiba saja Abacaden kena serangan jantung sesaat setelah mengalahkan Kami-sama.

__ADS_1


Dengan demikian hidupnya Abacaden telah berakhir melalui pandangan dari Abaren.


Setelah melihat-lihat dialog yang terjadi persis dalam hidupnya Kami-sama segera berkata. "B-Bagus nak Abaren! Sekarang saatnya kau menghidupkanku kembali ke dunia tsb" seru Kami-sama.


"Y-Yessir!" sahut Abaren.


Note: "Arghhh Erghhh" tiba-tiba saja Kami-sama terbangun karena keajaiban.


Namun nampaknya tidak semudah itu.


"Mengapa aku masih berada disini, Abaren!" tanya Kami-sama.


"Tidak, seharusnya kau telah hidup didalamnya" sahut Abaren.


"Cobalah buat lebih realistis!" ucap Kami-sama.


"B-baik...!!!" sahut Abaren.


Do you want to delete "Arghhh Erghhh!" selected (YES/NO) >> [Yes!]


Note: "Jangan bercanda, apanya yang surga?! Cepat hidupkan kembali diriku seperti semula!" bentak Kami-sama.


Tiba-tiba saja ada suara yang datang melintas melalui pendengarannya Kami-sama.


"Atas ketidakadilan yang terjadi pada hidupmu, aku akan memberikan kesempatan hidup sekali lagi!" sahut Dewi Reinkarnasi yang baru.


Dan setelahnya Kami-sama melalui tahap reinkarnasi, Ia menjumpai Abacaden yang menunduk hormat didepannya.


"Selamat atas keberhasilan reinkarnasi anda tuan Kami-sama!" tunduk Abacaden.


****************


"Kurasa itu sudah cukup, tapi kenapa?!" tanya Abaren yang sedang mengarah Kami-sama.


"Aneh sekali! Apa mungkin beda timeline?! Ini mirip anime saja" sahut Kami-sama.


"Sebenarnya siapa pencipta dari novel fiksi ini? Aku kah? atau si Nizo Rintake aka Artemis?!" tanya Abaren.


Dengan kebodohannya, mereka dihujani tanya-tanya yang berasal dari alam bawah sadar nya masing-masing.


Disisi lain.


Setelah Abacaden berhasil melenyapkan Kami-sama, Ia pulang ke hutan koloni dengan raut wajah yang suram.


"Selamat datang--" sahut Nue yang berada didepannya.


"Ara ara~ ehh! oii! tuanku apa yang terjadi denganmu!" cemas Nue yang melihat bekas darah, yang melekat pada jubahnya.


"Aku pulang... OSU!" sahut Abacaden dengan raut wajah yang datar.


---------------------------<>---------------------------

__ADS_1


Terimakasih telah meluangkan waktu anda untuk membaca novel ini. Jangan lupa untuk berikan Like dan Kritik & Saran, sekian dan terimakasih.


__ADS_2