Glory Of God: Dewa Yang Bosan Dengan Hidup Nya

Glory Of God: Dewa Yang Bosan Dengan Hidup Nya
⟨Chapter 2⟩


__ADS_3

Saat ini Abacaden beserta ribuan mahluk ciptaannya, berkemah didalam hutan dekat aliran sungai.


"Baiklah kurasa sudah cukup, sekarang waktunya pesta!" Ucap Abacaden dengan meriah.


Penjaga disekelilingnya berteriak heboh akan pesta yang akan segera dimulai.


Tet!📈Bom!🎉


Tet!📈Bom!🎉


Tet!📈Bom!🎉


Para penjaga setia nya Abacaden ras jenis goblin menembakan konfeti berhamburan kemana-mana🎊


Mereka yang ras jenis goblin memang ahli dalam bidang mencuri, jadi kalau cuman mencuri konfeti, itu adalah hal yang mudah bagi mereka.


"Celaka konfeti ku sudah habis!" Ucap dari beberapa penjaga ras jenis goblin.


"Hey kawan, bagi lah beberapa konfeti mu!"


Tet!📈Bom!🎉


Tet!📈Bom!🎉


Tet!📈Bom!🎉 Bom!🎉 Bom!🎉



"Bjir meledak🗿" Gumamnya Abacaden dengan nada yang datar.


"NOOO! Konfeti ku lenyap!" Teriak histeris dari penjual konfeti yang berada disekitarnya.


Para mahluk ciptaannya Abacaden berlarian kemana-mana untuk menghindari serangan dari ledakan tersebut.


Sementara itu di dalam keramaian hutan yang lebat Abacaden melakukan penyamaran untuk bergegas menyerang tempat Kami-sama.


Abacaden meninggalkan surat kepada penjaga setianya Roh Api dan surat tersebut berisi tulisan:


"Tolong jangan dibaca, sekian"


Dengan demikian siapapun yang membacanya akan langsung terpancing untuk memakai 100% kapasitas otak mereka, untuk memahami isi tulisan brilian dari Abacaden.


****************


Di sisi lain Abacaden telah berdiri tegak menghadap musuh bebuyutan nya Kami-sama.


Kami-sama kaget bukan main, karena Abacaden yang merupakan musuh bebuyutannya, berdiri tegak didepannya.


"Ada apa, Kami-sama?" Tanya Abacaden yang melihatnya terdiam murung.


"Tidak, aku hanya terkejut jika kau yang sekarang mampu melacak keberadaanku" Jawab Kami-sama dengan nada yang santai.


Abacaden perlahan dikepung oleh para penjaga Kami-sama.


"Jangan bergerak atau akan ku tebas leher mu itu" Teriak seorang penjaga yang mengancamnya.


Ini adalah yang ke tujuh belas ribu lima ratus tujuh puluh tiga, sejak pertempuran pertamanya dengan Kami-sama dimulai.


"Hey, Abacaden, apa kau masih ingat pertemuan pertama kali kita?" Tanya Kami-sama dengan raut wajahnya yang bosan.


"Y-yah, memang nya kenapa, itu membuat ku malu saja" Abacaden menjawab nya dengan nada feminim.


Abacaden perlahan mengingat kenangan nostalgia nya bersama Kami-sama.


"Sungguh kenangan yang indah, apa kau ingat saat kecil dulu kita berdua memperebutkan kotoran sapi--"


Abacaden seketika menangis haru dengan hanya mengingat kenangannya bersama Kami-sama.


"Kau lengah bung!"


Kami-sama berhasil menangkap Abacaden dengan serangan telak.


"Jadi kau bermain kotor ya?"


Abacaden segera memecahkan tali rantai yang dikendalikan oleh Kami-sama.

__ADS_1


"Peningkatan kemampuan yang sangat drastis, apa saja yang sudah kau lewati Abacaden!" Geram Kami-sama melihat dahsyatnya kekuatan yang dimiliki oleh Abacaden.


"Aku gak ngapa-ngapain, makanya gacha bos" Jawab Abacaden.


"Disaat yang seperti ini, kau masih bercanda?!"


Kami-sama seketika mengeluarkan pancaran aura yang dahsyat.


Abacaden yang tidak mau kalah, Dia juga ikut-ikutan mengeluarkan pancaran aura yang begitu dahsyat.


"Seharusnya aku yang bilang begitu!" Abacaden menjawabnya dengan nada yang bergema.


Mereka berdua saling menatap, seakan-akan saling memahami satu sama lain, namun nyatanya tidak 🗿


"Abacaden, mungkin saja ini menjadi pertarungan kita yang terakhir kalinya, jadi--"


"Tidak! ini akan terus berlanjut hingga salah satu dari kita mati"


"Ayolah kawan, lebih baik kita bicarakan dengan baik- baik"


Abacaden yang saat ini berdiri tegak, tiba-tiba penjaga ras jenis manusia menepuk pundaknya.


"Kubilang jangan bergerak, dasar Monster!"


Penjaga tersebut menodongkan tongkat kayu nya kepada Abacaden.


Namun Abacaden sama sekali tidak tertarik untuk meladeninya.


"Majulah Abacaden!"


Saat ini Kami-sama melayang di udara dan menghadap lurus kearah musuhnya Abacaden.


Mendengar teriakkannya Abacaden langsung terpancing untuk melawannya.


Dengan kekuatan aura absolute milik Abacaden


Ia mampu meretakkan tanah-tanah dari pijakannya.


"Apa-apaan dengan monster ini!--"


"Bersiaplah lah, Kami-sama!"


Abacaden meluncurkan pukulan pertamanya tepat didepan mata Kami-sama.


Meski memuntahkan cairan darah dari mulutnya, Ia masih mampu bergerak balik dan melancarkan serangan balik kepada Abacaden.


Abacaden terpental jauh dikarenakan serangan hebat dari Kami-sama.


"Musuh bebuyutan ku memang hebat!"


Ia berbicara selagi mengusap mulutnya yang bersimbah darah, dan segera Ia menghindari terjunan bebas dari Kami-sama.


"Hebat juga kau berhasil menghindar!"


Karena serangan keduanya gagal, Ia segera merapalkan suatu mantra.


Sesaat setelah Abacaden menghindari terjunan bebasnya, Disaat yang bersamaan Ia lengah karena dibelakangnya Kami-sama secara tiba-tiba muncul.


"Bagaimana bisa--"


Belum sempat Ia memalingkan wajahnya, Kami-sama langsung segera memegang kepalanya, dan menyeretnya ke tanah, hingga karpet-karpet kerajaan terbuka lebar.


"Kau berpindah posisi?!"


Seakan tidak merasakan sakit dari serangan Kami-sama, Ia melanjutkan perkataannya dengan raut wajah yang datar.


"Itu benar!"


Mencoba menghindari kemungkinan serangan jarak dekat yang dilakukan Abacaden.


Ia melepaskan cengkeraman tangannya dari kepala Abacaden, dan melemparkannya ke atas langit.


"G-Gila pertarungan kita tidak pernah se epik ini!"


Abacaden yang masih terpental jauh dari atap kastil, Mengutarakan perasaannya bahwasanya.

__ADS_1


Ia merasa sangat senang baru kali ini pertarungan nya berlangsung se meriah ini!


Tanpa basa-basi Kami-sama langsung berpindah posisi untuk yang kedua kalinya.


"Mungkinkah?!--"


Abacaden terpental sebelum Ia melanjutkan perkataannya dikarenakan serangan kejutan yang dilancarkan oleh Kami-sama.


Abacaden terpental kebawah tepat mengenai toilet umum.


Warga yang sedang berbelanja di pasar, seketika kaget akan suara yang berasal dari kerusakan toilet umum tersebut.


"Oh sial, aku memukulnya terlalu keras"


Dia segera turun ke permukaan bumi dan mencoba melacak keberadaan Abacaden.


"Jadi begitu kah, dia memakan seluruh bawahannya untuk mendapatkan kekuatan yang lebih besar"


Gumamnya Abacaden yang sedang tergeletak di tanah.


"Sial, puing-puing keramik ini membuat tubuhku gatal"


Ia melanjutkan ocehannya.


"Oh! disitu rupanya dia berada!"


Kami-sama yang melayang di atas langit langsung menerjang ke tanah tepatnya dimana letak Abacaden yang tergeletak berada.


Namun melihat serangan berkecepatan cahaya yang dilancarkan oleh Kami-sama.


Abacaden langsung menggeser kan posisi tubuhnya guna mengurangi persentase resiko dari serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh Kami-sama.


"Celaka, dia menghindar dan menanamkan stalagtit sebagai tameng!"


Dengan kekuatan absolut yang dimiliki Oleh Kami-sama.


Dia setidaknya masih mampu untuk memperlambat gerakan nya, dan berusaha mengakali jebakan yang dipasang oleh Abacaden.


"Lahirlah Giant Level Maks!" Ia merapalkan mantra nya.


Giant tersebut sengaja diciptakan dan dimodifikasi sebagai pijakan.


Guna melindunginya dari resiko tusukan stalagtit.


"Apa?! dia berhasil menghindarinya?!" Gumam Abacaden dari kejauhan.


Di sisi lain, Giant Level Maks tersebut memiliki tubuh yang lentur dan kuat sehingga dapat menangkal tusukan dari stalagtit tersebut.


"Nampaknya aku berhasil menghindarinya!"


Gumamnya Kami-sama yang terpental jauh ke langit dikarenakan pantulan dari tubuh Giant tersebut.


"Akhirnya kau mengerti bagaimana serunya dari pertempuran!"


Teriaknya Kami-sama dengan raut wajahnya yang semakin semangat.


"Ya tentu saja, setelah sekian lama akhirnya aku bisa merasakan kenikmatan ini lagi!"


Abacaden menjawabnya dengan raut wajah yang antusias.


Itu karena selama ini dirinya yang lain terjebak dalam dunia mimpi hampir selama 2 milyar tahun.


"Akhirnya rasa bosanku bisa lenyap seutuhnya"


Sejenak ia beristirahat di ketinggian sepuluh ribu kaki dari permukaan bumi!


"Mari kerahkan seluruh tenaga dewa yang kita miliki guna membuat pertarungan ini semakin dahsyat!"


Abacaden menantangnya dengan raut wajah yang serius bercampur antusias.


"Yessir 🗿"


Ia segera menerima tantangan yang dibuat oleh Abacaden.


Dengan perasaan semangat yang berkobar-kobar.

__ADS_1


🔥🔥🔥


__ADS_2