
Di keluarga yang bisa dibilang sederhana, dan memiliki hubungan yang baik, Abakaiden terlahir dengan normal seperti pada umumnya. Hidupnya bisa dibilang tentram karena berada jauh dari kerajaan.
"Aku akan memberinya nama yaitu Abakaiden" ucap Ayahnya. Lalu disampingnya ada Ibunya yang dengan sigap membalas perkataannya. "Abakaiden? kenapa harus Abakaiden? bukankah ada banyak nama-nama yang lebih bermakna" tanya heran Ibunya.
Mendengar istrinya yang terus mengoceh, dengan sigap ayahnya Abakaiden segera menjelaskan maknanya. "Dengarlah, Abakaiden itu sendiri memiliki banyak makna, mulai dari huruf awalnya yaitu 'A' yang mengartikan Abadi, dilanjutkan dengan huruf 'B' yaitu Berkat, lalu dilanjutkan dengan huruf 'a' yaitu--" dengan cepat ibunya Abakaiden menghentikan penjelasannya dan berkata. "Itu sangat tidak masuk akal!" bentaknya.
"Apanya yang tidak masuk akal?" sahut Ayahnya Abakaiden. Lalu ibunya berkata. "Kau itu hanya mengada-ada, ahem... menurutku lebih baik jika namanya Abaren, cukup Abaren saja" jawab Ibunya.
"Tidak, aku lebih menyukai nama Abakaiden" bantah Ayahnya Abakaiden. Lalu Ibunya dengan sigap membantahnya dan berkata. "Tidak, aku lebih suka Abaren!" bentak Ibunya.
Ayahnya menghela nafas panjang setelah mendengar bantahan istrinya. Lalu setelahnya, Ia melanjutkan perkataannya. "Aku punya saran, bagaimana jika begini saja, Aku memanggilnya Abakaiden, dan kau boleh memanggilnya dengan sebutan Abaren" jelas Ayahnya.
"Tidak boleh, nama anak tidak boleh dipermainkan seperti itu!" bantah Ibunya. Lalu dengan sigap Ayahnya membalas perkataannya. "Aku tidak mempermainkan nama anak kita, hanya saja menurutku lebih baik demikian daripada harus berdebat hanya karena nama, yang mana sudah jelas lebih baik Abakaiden daripada Abaren..."
Disampingnya ada ibu-ibu tua yang membantu lahiran Abakaiden. Karena keributan yang terjadi didalam, ibu-ibu tua tsb pergi meninggalkan mereka berdua.
"Tunggu...! tuh kan, gara-gara kamu sih, dia jadi pergi" kesal Ibunya Abakaiden. Lalu Ayahnya segera membalas perkataannya. "Bukan, ini adalah salahmu" bantah Ayahnya.
Dan tiba-tiba, Anak yang baru saja lahir tsb, berkata. "Abakaiden... Abakaiden..." seketika Ayah & Ibunya ternganga dengan mulut yang terbuka lebar. Lalu dengan sigap Ayahnya merespon ucapan anaknya. "Itu benar anakku, Abakaiden adalah nama yang keren!" disamping itu, Ibunya bergumam. "Ini anak ajaib, bagaimana bisa di usia yang baru saja lahir, tiba-tiba ia bisa berbicara dengan lancar?!" kaget Ibunya.
"Apa kau dengar itu? anak kita saja lebih memilih Abakaiden dibandingkan dengan Abaren!" jelas Ayahnya, yang sedang meloncat-loncat kegirangan.
Ibunya yang kalah debat segera memalingkan wajahnya karena kesal akan kebodohan yang dimiliki oleh suaminya.
__ADS_1
**************
Hari-harinya Abakaiden berlalu dengan indah dan tentram, itu karena selama ini Abakaiden terus dimanjakan oleh Ibunya. Dan keluarga nya Abakaiden bisa dibilang berkecukupan, itu karena Ayahnya adalah seorang pelaut, karena itulah, keluarganya Abakaiden mampu hidup dengan layak.
Di usia nya yang menginjak 1 bulan, Abakaiden sudah mampu berjalan lurus dengan posisi tegak, dan tentu itu membuat kedua orangtuanya sangat kaget. Dan di usia nya yang menginjak 2 bulan Abakaiden sudah mampu berlari dengan cepat, yang mana itu lagi-lagi, membuat kedua orangtuanya sangat kaget.
"Aku sangat gembira akan pertumbuhannya" ucap Ayahnya Abakaiden. Lalu disampingnya ada Ibunya, yang dengan santai, menjawab perkataannya. "Itu benar, anak kita benar-benar anak yang ajaib, kurasa, ini pasti karena mukjizat yang berasal dari dalam mimpiku" sahut Ibunya Abakaiden.
Dan di usianya yang ke 1 tahun, Abakaiden sudah mampu berenang dan mampu berinteraksi, dengan sangat baik. Lalu di usianya yang ke 2 tahun, Abakaiden sudah memiliki otot di lengannya, dan sixpack di perutnya.
"Anakku Abakaiden! sini peluk ibu" ucap Ibunya Abakaiden yang tersenyum bangga akan pertumbuhannya. Lalu Abakaiden yang mendengar ucapannya, dengan segera Abakaiden langsung memeluk Ibunya.
Hari-harinya berjalan dengan begitu indah, dan di usianya yang menginjak 5 tahun Abakaiden mampu berinteraksi dengan orang dewasa layaknya teman sebaya.
**************
Disana tepatnya didepan pintu kamar, ada Ibunya yang sedang memanggil Abakaiden masuk. "Abakaiden ayo masuk kamar, jangan menganggu disana" ucap Ibunya yang sedang menunggu di depan pintu kamar. Lalu Abakaiden segera mendatanginya dan masuk ke dalam kamar.
Ayahnya dan teman-teman sebayanya meneruskan obrolan mereka, hingga berbincang-bincang soal kerugian dan keuntungan dari penjualan ikan. Disisi lain, Abakaiden dan Ibundanya sedang santai didalam kamar. Lalu tiba-tiba saja, Ibundanya berkata. "Anakku, jika kau besar nanti, kau ingin jadi seperti apa?" tanya Ibundanya.
Mendengar ucapan Ibunya, Abakaiden dengan sigap menjawab. "Aku ingin menjadi diriku sendiri" jawab Abakaiden. Lalu ibunya yang berada disampingnya seketika tertawa haru, dengan meletakkan lengan yang menutupi tawa nya. Dan berkata "Kau ini, ada-ada saja"
Hari mulai mendung akan tandanya hujan yang segera turun, dan teman-teman sebayanya, langsung pulang karena, jam yang telah larut malam. Lalu ayahnya berkata. "Hati-hati dijalan" dengan melambaikan tangannya keatas.
__ADS_1
Ia segera menutup pintu depan rumah dan menguncinya, lalu mematikan lampu-lampunya rumah guna meminimalisir terjadinya kebakaran, dan juga guna mencegah perhatian dari para pencuri.
Didepan pintu kamar, ia tersenyum lebar selagi memandangi anak dan istrinya yang terlelap tidur di kamar, lalu setelahnya, ia segera mematikan lampu-lampu disekitar kamarnya. Dan ikut tidur bersama keluarganya.
**************
Abakaiden hidup di pulau kecil, yang hanya berisikan desa-desa dan beberapa kapal layar, oleh karena itulah jiwa mudanya seakan menyatu dengan lautan.
Di pagi hari yang cerah, ia melambai-lambai kan lengannya ke atas akan kepergian ayahnya yang ingin berburu ikan di lautan.
"Ini bekalnya, sayang" panggil Istrinya.
"Terimakasih" sahut Suaminya, yang lalu pergi setelah mencium kening istrinya.
Setelah memberi salam akan kepergian ayahnya, Abakaiden segera keluar rumah dan bergegas mengangkat jebakan ikan yang dipasangnya saat bersamaan dengan teman-temannya.
Di tepian sungai, Abakaiden dan dua temannya meloncat-loncat kegirangan karena banyaknya jumlah dari ikan tangkapan mereka.
"Keren!" seru Neura yang juga berusia 5 tahun.
"Woaaah! punyaku juga banyak banget" sahut Kairen yang berusia lebih tua 1 tahun dari mereka.
"Ayo, kita lihat jebakan ikan yang terpasang di tempat lain" ucap Abakaiden.
__ADS_1