Glory Of God: Dewa Yang Bosan Dengan Hidup Nya

Glory Of God: Dewa Yang Bosan Dengan Hidup Nya
⟨Chapter 10⟩ Arc: Timeline yang berbeda (2/4)


__ADS_3

"Apa-apaan dengan dewa yang satu ini" tanya Kami-sama.


"Jangan menghindar! Dasar penakut!" kata Abacaden.


"Apa?! J-Jangan bercanda!" sahut Kami-sama.


Melihat kekuatan dahsyat dari Inferno miliknya, itu membuat Kami-sama bertanya-tanya akan sumber kekuatannya Abacaden. "Darimana sumber kekuatan dahsyat miliknya berasal?" gumam Kami-sama.


Melihatnya yang terdiam Abacaden segera mengerti apa yang dipikirkannya dan berkata."Akan ku jelaskan sedikit mengenai perubahan besar yang terjadi perubahan dalam diriku" jelas Abacaden.


"Apa yang kau bicarakan? Seakan kau membaca isi dari pikiran ku!" tanya Kami-sama.


****************


Di sisi dunia lain. Pria bernama asli Abaren Clorin bergegas pergi dari rumah gubuk miliknya.


Langit-langit murung akan ambang akhir dari kehidupan.


"Kau telah melakukan yang terbaik, Clorin" gumam Abaren. didepan kuburan rivalnya, selagi meletakan bunga di atas tanah. dan lalu pergi meninggalkannya.


****************


Disisi lain.


"Ya.. Dari sekian banyaknya jiwa yang telah dikorbankan, hanya aku lah yang mampu melalui ujiannya" jelas Abacaden.


"Jadi gitu ceritanya 🗿" lanjut Abacaden.


"Begitu rupanya, Ahem... Aku hanya sedikit terkejut dengan penjelasan mu tentang jiwa-jiwa yang gagal tsb" sahut Kami-sama.


Kami-sama kini mengerti, asal muasal dari kekuatan absolut miliknya Abacaden, oleh karena itu, tubuhnya nya bergetar hebat.


"Aku bisa saja langsung melenyapkan mu, Kami-sama" ucap Abacaden dengan raut wajah yang kembali datar.


Pada dasarnya Abacaden memang tidak memiliki personalitas, Ia berkomunikasi hanya dengan mengandalkan pecahan ingatan yang dia lahap dari alam semesta.


"T-Tidak, tolong ampunilah dosaku (っ˘̩╭╮˘̩)っ" belas Kami-sama.


"Tidak, justru aku semakin ingin melenyapkanmu secepatnya, itu karena aku bosan dengan kegaduhan yang kau lakukan, ditambah lagi kau mau menghancurkan hutan yang berisikan koloni ku!" jelas Abacaden.


"Tidak, tolong ampunilah aku!" belas Kami-sama.


Kami-sama sangat takut akan kekuatan dahsyat miliknya Abacaden. Baginya sudah percuma untuk melawannya.


"Apa kau mengerti sekarang!" bentak keras Abacaden dengan jubah hitamnya yang berkibar tinggi di atas langit.

__ADS_1


"Tolong beri aku kesempatan untuk hidup!" belas Kami-sama.


Kami-sama terus memohon ampun guna mendapatkan kesempatan hidup untuk yang terakhir kalinya.


"Permohonan mu, kutolak!" bentak Abacaden dengan mengeluarkan pedang Antimatter Blade dari belakang dadanya.


"T-Tidak tolong, beri aku kesempatan!--" teriak histeris Kami-sama.


Abacaden segera ia menghunuskan pedangnya dengan sekejap mata langsung menebas kepalanya.


Darah muncrat dari tubuh Kami-sama yang terputus menjadi dua bagian.


"Dengan ini berakhirlah, sejak awal memang rival ku sudah lama mati" gumam Abacaden selagi mengibaskan pedangnya dari cairan darah yang menempel.


Tapi Dewa tidak semudah itu mati, Kami-sama segera bangkit dari tidurnya dan berdiri kokoh didepan Abacaden.


"M-Mungkinkah?!" kaget Abacaden yang melihatnya terdiam murung dengan raut wajah yang datar.


Kami-sama terbangun dengan sendirinya, itu membuatnya berfikir bahwa mungkinkah dia juga melewati tahap reinkarnasi


Kami-sama terbangun dengan sendirinya. Itu membuat Abacaden berfikir bahwa mungkinkah Kami-sama juga telah melewati tahap reinkarnasi.


"Selama ini, tidak, lebih tepatnya satu detik yang lalu, Aku selalu menunggumu akan kehadiranmu." ucap Kami-sama.


"Berdiam diri di ruang delusi selama hampir 8 miliar lamanya Melalui ujian tes yang lebih menyiksa dari yang kau lalui"


"Aku selalu menunggumu kehadiranmu! Abacaden!" seru Kami-sama. setelah menjelaskan semuanya.


"Apa?!" sahut Abacaden.


"Ya... berbahagia lah Abacaden. Berkat penjelasanmu itu. Dengan segera aku menghentikan waktu dari hidupku" lanjut Kami-sama.


"Apa kau mengerti bagaimana rasanya berada dalam Alarm Clock Tower selama hampir 8 miliar tahun lamanya?!" ucap Kami-sama.


"Tentu saja tidak!" sahut Abacaden.


"Kepalaku hampir pecah dibuatnya! Selama hampir 8 miliar tahun lamanya, aku terus dipaksa untuk beradaptasi" jelas Kami-sama.


"Itu terdengar menarik, kekuatan apa yang kau dapatkan?" tanya Abacaden.


"Kau ini bicara apa?!"


"Jangan salah faham! Meski kedengarannya lebih menyiksa, nyatanya aku tidak mendapatkan apa-apa" bentak Kami-sama.


Abacaden sedikit menunjukkan raut wajah belas kasihan setelah mendengar penjelasan dari penderitaannya.

__ADS_1


"Lalu, apa yang kau inginkan?" tanya Abacaden.


"Waktu aku masih didalam sana, aku sama sekali tidak diberikan izin untuk mengakhiri hidupku. Hingga kini pun aku selalu saja dipaksa untuk beradaptasi" sahut Kami-sama.


Mendengar penjelasannya yang tidak masuk akal, Itu membuat Abacaden melepas rasa belas kasihnya, dan membuatnya bergumam."Jadi begitu kah, aku mengerti"


"Ini karena kau tidak ingin mati kan? Oleh karena itu kau berakting guna mendapatkan kesempatan untuk hidup, bukan begitu?" jelas Abacaden.


"Apa yang kau katakan?!" kaget Kami-sama.


"Pada dasarnya kau memiliki 6 nyawa oleh karena itu, kau membuat keadaan seakan-akan takdir yang sedang menyudutkan mu, bukan begitu?" jelas Abacaden.


Kami-sama dibuat kaget akan penjelasannya Abacaden. Itu memang benar bahwa dirinya saat ini hanya mengada-ada untuk mencoba menarik perhatian Abacaden.


"Tidak, kau salah faham!" alih Kami-sama.


"Tidak salah lagi!" bentak Abacaden.


Kami-sama seketika memucat akan bentak Abacaden yang tidak terbantahkan.


"Kenapa kau mengetahui begitu banyak tentang diriku?" tanya Kami-sama.


"Itu sudah jelas, sebab aku adalah tuanmu" sahut Abacaden.


Kami-sama memang sengaja didesain untuk melayani perannya sebagai rival dari Abacaden.


"Dan aku lah yang menciptakanmu!" lanjut Abacaden.


Kami-sama yang mendengarnya seketika terduduk lemas, serta kepalanya menunduk murung akan kekecewaannya kepada takdir.


"Ini tidak adil, anda begitu kejam! tuan Abacaden!" amarah Kami-sama meluap-luap.


Kami-sama yang kini, sudah sadar bahwa dirinya hanyalah mainannya Abacaden.


Ia begitu kecewa karena selama ini dirinya diciptakan, hanya untuk mengisi kekosongan hati Abacaden akan rivalnya yang telah lama mati.


"Begitu kah, jadi selama hampir 3000 tahun lamanya hidupku hanyalah mainan untukmu? Jangan bercanda!" bentak Kami-sama dengan emosinya yang semakin meluap-luap.


"Tapi baiklah, kurasa tidak buruk juga karena bisa hidup sebagai rivalmu, meski palsu sekalipun" sedih Kami-sama selagi mengelap air mata diwajahnya.


Abacaden hanya terdiam dengan kekosongan didalam benaknya, selagi mendengarkan sumpah serapah akan kekecewaan Kami-sama.


"Tapi sebelum itu, akan ku janjikan performa yang lebih dahsyat dari sebelumnya, tidak, lebih tepatnya bumi akan segera kuhancurkan!" kesal Kami-sama.


"Tidak akan kubiarkan!" bentak Abacaden.

__ADS_1


---------------------------<>---------------------------


Terimakasih telah meluangkan waktu anda untuk membaca novel ini. Jangan lupa untuk berikan Like dan Kritik & Saran, sekian dan terimakasih.


__ADS_2