Hati Samudera

Hati Samudera
Elegy Pagi


__ADS_3

Keesokan paginya, Kapal The Promise Land pun akhirnya mulai memasuki perairan kepulauan Sulawesi tepatnya di selat Lembeh. Selat Lembeh sendiri adalah satu perairan yang memisahkan ujung utara pulau sulawesi atau lebih tepatnya di Kota Bitung dengan sebuah pulau yang terletak membujur didepannya yang dikenal dengan sebutan Pulau Lembeh. Kota Bitung merupakan sebuah kota kecil namun indah yang berjarak sekitar satu jam berkendara dari kota Manado yang merupakan ibu kota Propinsi Sulawesi Utara. Untuk mencapai Kota Bitung yang terkenal dengan ikan Cakalangnya ini bisa melalui jalur darat melalui Manado atau jalur laut dimana kita akan disambut sebuah dermaga pelabuhan besar yang dikenal dengan sebutan Pelabuhan Samudera Bitung.


Setelah memasuki Perairan Selat Lembeh dan melewati Pelabuhan besar ini maka perjalanan kapal The Promise Land pun bisa dibilang hampir mencapai tempat yang dituju karena untuk mencapai pulau Serena yang terletak hampir ditengah-tengah perairan selat Lembeh ini, Kapal The Promise Land hanya perlu menempuh perjalanan laut selama kurang lebih dua puluh menit lagi.


Sementara itu di anjungan sebelah dalam kapal eksplorasi bawah laut tersebut, nampak Bob Barry berdiri memegang kemudi kapal dan kemudian terlihat menurunkan tuas kendali disebelahnya guna memperlambat kecepatan kapalnya beberapa Knot*.


“Istirahatlah dulu sebentar Kept, biar aku yang gantikan dirimu memegang kemudi kapal…” ucap Maikel Stefen seraya menepuk pundak Bob Barry


“Ah ya… terima kasih…” ucap Bob Barry seraya menyerahkan kemudi kapal kepada pemuda bertopi kupluk ini.


Bob Barry kemudian terlihat berjalan keluar dari anjungan menuju kearah haluan dimana seorang gadis dengan rambut panjang berkibar nampak sedang berdiri sambil memandang dermaga pelabuhan Samudera Bitung di kejauhan.


“Selamat pagi Mel…”


“Eh, selamat pagi juga Kapten..”


“Bagaimana tidurmu semalam…?”


“Hmm, lumayan… cukup nyenyak… sangat pulas malahan…” ucap melodie sembari merenggangkan kedua tangannya.


“Oh… Pantas…” ucap Bob Barry sembari tersenyum jenaka


“Pantas kenapa…?”


“Semalam kukira Putra lupa mematikan generator pompa air di ruang mesin, tapi setelah diperiksa ternyata bukan, suara generatornya rupanya bukan datang dari kamar mesin melainkan datang dari ruangan kabin tamu…” ucap Bob Barry seraya menahan senyum


Mata sang gadis sontak membesar dan dengan cepat tangannya tiba-tiba bergerak kesana-kemari mencubit sang kapten!


“Enak saja..!!! Kapan aku tidur ngorok kayak generator ? ayo coba bilang lagi kalau berani…?”


“Aampun… Ampun Mel.. sakiiit…! Toloong hentikan… aku tak kuat lagi…!” hiba sang kapten yang kesakitan sekaligus kegelian karena dihujani cubitan oleh Melodie


Setelah puas mencubiti sang Kapten, Melodie pun akhirnya menghentikan aksinya dan memandang Bob dengan bibir cemberut.


“Siapa suruh pagi-pagi sudah usil…”ucapnya sembari menyilangkan kedua tangan di depan dada.


“Iya.. iya maafkan saya Nyonya Abdullah…” ucap Bob Barry sembari meringis kecil


“Eh, mulai lagi nih…? Gak kapok-kapok yah…?” ucap sang gadis sembari mengangkat kedua tangannya bersiap untuk kembali mencubit Bob Barry!


“Iyaa.. Ampun… Maaf sudah kapook… Sudah tidak berani…” ucap Sang Kapten seraya merangkapkan kedua tangan diatas kepala.


“Makanya jangan nakal… Sudah tua tapi masih saja suka godain orang!” sahut kesal Melodie.


“Halaah gitu aja marah…”ucap Bob sembari tersenyum geli.


Melodie nampak melengoskan kepala pertanda sebal


“Iya deh maaf… Jangan ngambek gitu donk Mel…”


“Masa Bodoh…!”


“Ih jelek tahu kalo ngambek gitu… Dah kayak kentang lho…”


“Kentang? Kok kentang? Kentang apaan?” tanya Melodie penasaran yang kemudian dibalas Bob Barry dengan sinar mata dan senyuman jenaka


“Kentang… Kentang ting-ting-tang-ting-tung… Kentang-ting-ting-tang-ting-tuuuung…. Kentang-ting-ting-tang-ting-tuuuung…!”


“Apaan sih, gak lucuu tauu…!”ucap sang gadis dengan bibir cemberut, namun lama-kelamaan bibir cemberutnya tadi perlahan berubah menjadi senyuman dan akhirnya pecah juga menjadi tawa berderai!


“Dari dulu kau memang selalu sukses membuatku tertawa Bob…” rajuk sang gadis seraya memukul pelan dada Sang Kapten.


“Ya iya lah… Bob Barry gitu lho! He.he.he… By the way, kau yakin tidak mau singgah pulang ke rumah barang sebentar Mel? Kalau kau mau aku bisa meminta Maikel untuk menyandarkan kapal ini di dermaga pelabuhan dan menunggumu kembali barang tiga atau empat jam…”


Rupanya merupakan satu kebetulan dimana gadis bernama Melodie ini ternyata asli dari daerah kota Bitung yang notabene berdekatan dengan Pulau Serena, tempat yang mereka tuju.


Melodie kali ini nampak tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Rasa sebal yang tadi ditunjukkannya rupanya telah hilang terpupus guyonan sang Kapten


“Aku baru pulang dua minggu yang lalu Bob… dan lagi setelah kupikir-pikir lebih baik kalau kita mengutamakan pekerjaan dahulu baru bersenang-senang kemudian, Bukan begitu Kapten Flamingo?”


“Oh jadi ngebales nih ceritanya? Kan sudah kubilang jangan diingatkan lagi tentang hal itu…”


“Ha.ha.ha… Susah Bob! Kenangan seperti itu jelas tidak mungkin akan bisa dilupa… Ingat tidak saat kau berjalan mengendap-endap dengan rok tutu dan kepala flamingo mainan hanya demi mengambil sebutir sampel telur di sarang burung malang itu…?”


“Burung malang yang mana? Aku yang malang Mel! Aku ini korbannya! Aku dipatuk habis-habisan oleh burung-burung setan sialan itu! Lari kesana-kemari tunggang-langgang dikejar-kejar bahkan sampai nyemplung ke laut dan hampir dimakan Paus Orca…!”


“Ini belum lagi ditambah soal harga diriku yang tercabik-cabik oleh rok tutu merah jambu sialan, yang kau paksa untuk ku pakai saat itu…” sambung sang kapten dengan bibir cemberut


Sang gadis kontan tertawa terpingkal-pingkal saat mengenang kembali kenangannya bersama sang kapten saat sedang menemaninya melakukan penelitian tentang migrasi burung Flamingo di Kepulauan Galapagos, Ekuador sebelas tahun yang lalu itu.

__ADS_1


“Kayaknya menikmati sekali penderitaan orang ya…? Sudah jangan tertawa lagi! Coba kau lihat dermaganya… Belasan tahun berlalu namun tidak banyak yang berubah yah Mel…” ucap Bob Barry sembari menunjuk kearah dermaga Pelabuhan Samudera Bitung yang terlihat di bibir pantai.


Ternyata bukan hanya Melodie, Kapten Barry pun rupanya memiliki keterikatan khusus dengan kota yang mereka lihat dibibir pantai pulau Sulawesi tersebut.


“Iya Bob, jadi ingat kalau pulang sekolah pas kita masih SD dulu, kita suka main sepeda bersama-sama dan duduk hingga sore hari di dermaga itu…”


“Aku malah ingatnya waktu kamu nangis-nangis saat mengantarkan aku pindah ke Surabaya bersama keluargaku di dermaga itu… He.he.he.. Sampai-sampai kamu nangis mendeprok dilantai pelabuhan!”


“Ah iya benar! dan kamu itu jahat banget tahu gak? Kan janjinya akan datang pas ulang tahunku tahun berikutnya.. Tapi mana? Selama tiga tahun setiap hari ulang tahunku aku selalu datang ke dermaga nungguin kamu… Tapi kamunya mana…? Mana…?”


“Ha.ha.ha… Sampai segitunya? Ya ampuun Mel! Maaf deh, kalau soal itu aku benar-benar tidak tahu! Tapi kan habis itu kamu juga pindah ke Surabaya dan kita sekolah sama-sama lagi walaupun setelah itu kita beda tempat kuliah..”


“Iya… Tapi waktu SMA dan Kuliah kamu gak lucu lagi kayak SD dulu! Banyakan diam dan gak peka nya…!”


“Ya iyalah Mel! Masak aku harus Jejingkrakan pecicilan terus kayak anak SD sih? Ya harus Jaim donk!”


“Padahal aku lebih suka kamu yang waktu SD lho Bob… Lebih manis dan gak nakal!”


“Ha.ha.ha… Kalo yang sekarang? Masih manis kan?”


“Preet…!” ejek sang gadis seraya kemudian mengeluarkan lidahnya yang kembali membuat Bob Barry tertawa lepas.


Sang gadis kemudian terlihat merapikan anak rambut dipelipisnya yang tersibak tertiup angin.


“Waktu berganti dan orang-orang berubah… Namun tempat ini dan lautan masih tetap sama… masih tetap memberikan kedamaian dihati…” ucap lirih sang gadis sambil melihat laut dan dermaga yang mereka lewati.


“Dari dulu kau memang sudah suka dengan lautan ya Mel. Makanya kau pun kemudian memutuskan mengambil kuliah di jurusan Biologi kelautan kan…?”


Melodie menganggukan kepala


“Iya Bob, bagiku laut sudah layaknya rumah kedua… Apalagi saat aku harus melewati saat-saat berat itu…” kali ini gantian suara sang gadis yang terdengar serak


Bob Barry yang paham dengan situasinya cepat merangkul pundak Melodie dan mengusapnya perlahan untuk menenangkan hati sang gadis.


“Sudahlah jangan bersedih lagi Mel.. Beliau pastinya bangga dengan dirimu dan semua yang telah kau capai selama ini… yakinlah akan hal itu…”


Sang gadis nampak meneteskan air matanya dan perlahan menjatuhkan kepalanya di bahu pemuda disampingnya ini.


Sang pemuda hanya bisa menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskannya. Dibiarkan sang gadis terisak menumpahkan segala isi hati dipundaknya yang kini mulai basah oleh air mata itu.


Kawan, kehilangan orang yang kita sayangi memang merupakan satu hal yang sangat menyedihkan. Namun orang yang kita sayangi dan yang akhirnya kemudian pergi meninggalkan kita, pastinya tentu tidak ingin kita yang ditinggalkan terus-menerus tenggelam dalam duka dan kesedihan yang tak berkeputusan. Seyogyanya kita harus menyadari bahwa kematian tidak pernah memisahkan kita dari orang-orang yang kita cintai. Kematian hanya memberikan kita kesempatan untuk lebih menyadari dan menghargai arti dari kehadiran.


Melodie pun beberapa saat kemudian mulai nampak bisa mengendalikan perasaan sedihnya. Isak tangisnya telah berhenti sedari tadi dan perlahan kepalanya pun akhirnya diangkat dari sandaran pundak Bob Barry


“Bob…” bisik lirih sang gadis


“Ya Mel…? Masih sedih?” tanya Bob yang dibalas gelengan kepala oleh Melodie


“Kamu Bob…”


“Iya, aku kenapa Mel…?”


“Kamu belum mandi… Bauu Asyeem…” ucap sang gadis sambil mengerling nakal dan menjepit cuping hidungnya. Kesedihannya tadi berangsur pupus tergantikan senyumannya yang ceria seperti biasa.


“Astaga…! Benar-benar kurang ajar ya…? sudah dipinjemin bahu buat bersandar nangis malah dikatain bau…? Nihh… nihh rasain baunya gua nihh…!” ucap Bob Barry sembari menarik sang gadis dan mengempitnya di bawah ketiak!


“Hwaaa… Bob Jorok…! Gila…!” teriak sang gadis sembari meronta melepaskan diri dan kemudian berlari sambil tertawa-tawa di sepanjang haluan sambil dikejar-kejar oleh Bob Barry!


Sementara itu didalam anjungan kapal, dua pasang mata nampak memandang Sang kapten dan Melodie dengan pandangan iri.


“Noh…! Loe lihat sendiri Kapten kita Co, kalau sama kita galaknya Naudzubillah sudah kayak Fir’aun…! Tapi pas lagi sama cewek eh buseet langsung berubah mesra-mesra manja kayak Firmansyah…!” ucap Maikel dengan pandangan sirik.


“Firmansyah yang mana nih? Tengku Firmansyah atau Firmansyah Idol? Yang jelas donk Bro…” ucap Marco sambil tertawa.


“Firmansyah penyanyi dangdut jebolan Pasar Tua Idol!” sahut Maikel yang membuat Marco kembali tertawa geli


“Untung ya Kel, loe kemarin gak jadi nanem pohon mangga dalam pot buat di taruh di haluan kapal. Begini dah dipake joget muter-muter ala Kuch-kuch Hota Hai sama tuh Kapten Rahul dan Rani Mukherjii…”sambung si bengal sembari bergoyang erotis ala india dan kali ini gantian membuat Maikel Stefen sukses tertawa terpingkal-pingkal.


Sementara itu tanpa terasa Kapal The Promise Land pun akhirnya sampai di perairan Pulau Serena. Melihat sang kapten dan Melodie yang masih bersenda gurau mesra saling berkejaran di haluan kapal, Marco dan Maikel pun secara bersamaan dengan usilnya langsung menekan tombol peluit kapal kuat-kuat! Dan selayaknya kapal pada umumnya, corong peluit kapal The Promise Land ini juga tepat berada di atas haluan kapal! Kapten Barry dan Melodie yang saat itu sedang bercengkrama di haluan kapal kontan terlonjak kaget bahkan sampai terduduk dilantai kapal karena bunyi peluit yang memang sangat keras memekakkan telinga itu.


“Hooiii Setaan!… Sudah bosan hidup ya…?” teriak Bob Barry sembari mengangkat tinjunya tinggi-tinggi kearah jendela anjungan kapal.


“Maaf Kept, Sorry banyak-banyak..!! Tapi kita sudah sampai di Perairan Pulau Serena… makanya Peluitnya saya bunyikan…”ucap Maikel melalui pengeras suara. Sementara si bengal sudah dari tadi terlihat mendekap mulut menahan tawa dan terguling-guling di lantai anjungan


Bob Barry kemudian terlihat berpaling kearah sang gadis yang nampak merapikan bajunya yang agak kusut karena dipakai berlari kesana-kemari tadi.


“Kau tidak apa-apa…?”


Melodie terlihat tersenyum sambil mengelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Aku tidak apa-apa Bob..”


“Kita Sudah Sampai Mel, ayo kita lihat situasinya melalui anjungan kapal…” ucap Bob sembari memapah bangun dan kemudian menggandeng tangan sang gadis serta mengajaknya berjalan kearah anjungan kapal.


Sesampainya dianjungan kapal, keduanya sudah disambut oleh senyum dan tatapan nakal Marco Ferdinand


“Cie…cie…cie… Yang pagi-pagi sudah pakai acara gandeng-gandengan tangan… cie.cie.cie…” goda Marco saat melihat sang kapten dan Melodie berjalan memasuki ruangan kendali kapal.


Mendengar ini wajah Melodie langsung bersemu merah dan cepat-cepat melepaskan genggaman tangan Bob Barry. Melihat hal ini kontan saja Sang Kapten langsung mendelikkan mata besar-besar kearah Si bengal yang terlihat kemudian bersiul-siul sembari berlagak membersihkan panel kemudi dengan ujung bajunya! Benar-benar anak satu ini!


Bob Barry sebenarnya ingin memberikan “wejangan” ala kadarnya pada si bengal ini namun urung dilakukan karena bersamaan dengan kemunculan Putra Gilang yang tiba-tiba dari balik lantai Palka yang terdapat di anjungan tersebut.


“Mesin kapal sudah kumatikan secara manual Kept, apa boleh kita membuang sauh sekarang?”


Sang Kapten terlihat menganggukan kepala.


“Lakukan saja Put, tapi usahakan jangkarnya jangan sampai diturunkan di daerah yang terdapat terumbu karangnya …”


“Siap Kept…”ucap Putra sembari beranjak naik dan berjalan menuju arah buritan kapal.


“Marco…!” ucap keras Bob Barry


“Si.. Siap Kept!”sahut si bengal dengan agak terbata. Keringat dingin nampak mengucur deras dari pelipis si tupai nakal.


“Siapakan satu unit Aquadrone biar kita bisa mendapatkan tampilan visual…”


“Laksanakan Kept…!” ucap sang pemuda lega sembari cepat-cepat beranjak menuju ruangan penyimpanan di lambung kapal.


Tidak berapa lama, pemuda ini kemudian terlihat membawa sebuah Aquadrone berbentuk robot ikan yang berwarna keperakan. Aquadrone ini juga merupakan salah satu karya si bengal yang memiliki berbagai keunggulan, antara lain dapat menyelam hingga kedalaman seribu meter dan mampu mengirim sinyal video dan audio dengan sempurna. Selain itu berbeda dengan aquadrone yang lain yang kebanyakan masih menggunakan tenaga motor dan baling-baling yang ribut, aquadrone yang satu ini berwujud ikan dan bergerak juga seperti ikan asli!


Karena tidak menggunakan motor penggerak melainkan menggunakan jaringan otot sintetis yang digerakkan oleh tenaga baterai, maka aquadrone ini tidak menimbulkan suara bising dan dapat membaur secara alami dengan lingkungan bawah laut.


Setelah menyetel dan meng-kalibrasi frekuensi penangkapan sinyal audio-video pada unit aquadrone dengan tablet yang dimilikinya, Marco pun kemudian beranjak menuju Platform di buritan kapal dan perlahan menurunkan aquadrone ikannya yang sesaat kemudian terlihat meliuk lincah bagaikan ikan asli dan bergerak semakin masuk kedalam dasar laut perairan Pulau Serena.


Pulau Serena adalah sebuah Pulau kecil yang terletak ditengah-tengah Selat Lembeh. Pulau ini memiliki keindahan pantai dan karang bolongnya yang sangat memikat mata sehingga dijadikan obyek wisata yang digemari oleh penduduk sekitar dan turis mancanegara. Hal ini membuat tidak jarang kapal-kapal pesiar kecil nampak terlihat bersliweran di pulau Serena untuk membawa turis dan wisatawan menikmati keindahan panorama pulau cantik tersebut.


“Aku butuh koordinat tepat lokasi ceruk Serena itu Mel! Bisa kau sms ke tabletku…?” teriak Marco sambil menghadap kearah anjungan.


Melodie pun kemudian terlihat bergegas keluar dari anjungan dan disusul oleh Bob Barry. Sambil berjalan sang gadis terlihat mengetikkan koordinat lokasi pada ponselnya dan mengirimkannya melalui sms keponsel tablet Marco Ferdinand.


“Bagaimana? Sudah terima sms koordinatnya…?” tanya sang gadis yang langsung dibalas acungan jempol oleh Marco.


Dari layar tabletnya, Marco mulai bisa mendapat gambar visual kondisi bawah laut perairan Pulau Serena. Beberapa ekor ikan kecil yang berseliweran bisa dilihatnya langsung melalui layar di genggamannya, namun saat aquadrone tersebut mulai menuruni tubir dimana ceruk Serena tersebut berada, mulai terjadi goncangan pada badan aquadrone yang akhirnya membuat sinyal gambar pada tablet tersebut terlihat goyang dan mulai mengabur.


Marco nampak tercenung melihat kearah layar tablet yang sedang digenggamnya, sepasang alis pemuda ini nampak saling bertaut pertanda sedang berpikir keras.


“Bagaimana co? visualnya sudah bisa didapat? Tanya Bob Barry yang dijawab gelengan gundah oleh si bengal.


“Benar apa yang dikatakan Melodie tempo hari Kept, Arus liar yang bergerak dibawah sana terlalu kuat! Aku tidak bisa mengendalikan unit Aquadrone kita karena fleksibilitas dan tenaganya tidak mampu mengatasi derasnya arus bawah laut. Kalau dipaksakan aku khawatir kita akan kehilangan unit aquadrone kita tersebut…”


“Kalau begitu angkat kembali Aquadrone itu, dan periksa jika ada kerusakan. Lalu setelahnya kita coba turun menggunakan Spongebob…” ucap sang Kapten


“Spongebob…?”tanya Melodie heran


“Maksudku kapal selam mini itu…” jawab Bob Barry sembari menunjuk kearah kapal selam mini berwarna kuning yang teronggok di geladak kapal.


Melodie melirik sekilas kearah kapal selam mini bergambar Spongebob Squarepants tersebut dan kembali tersenyum-senyum riang.


“Kenapa? Mau ngeledek lagi? Itu kerjaannya Marco yang menambahkan gambar Spongebob diatasnya! Karena Kapal selam itu memang buatannya aku jadi tidak bisa protes apa-apa!” sungut sang kapten


“Ya maaf Kept! Itu kan memang tokoh kartun favorit saya…”ucap Marco sembari leletkan lidah


“Aku juga suka Spongebob kok! Lucu dan menggemaskan… Apalagi namanya itu lho… he.he.he…” ucap Melodie sembari melirik nakal kearah Kapten Barry


“Sudah-sudah… Ayo kita sarapan dulu baru kembali bekerja… Ada banyak yang harus kita lakukan hari ini…” ucap sang kapten yang langsung membalikkan tubuh dan berjalan kearah ruang makan. Namun baru beberapa langkah berjalan, sang kapten terlihat membalikkan tubuhnya dan kemudian berjalan kearah Melodie dan kembali menggenggam tangan gadis itu lalu mengajaknya berjalan bersama.


“Iih apaan sih Bob… Pegang-pegang tangan terus… Malu tahu…”ucap Melodie yang bersemu merah wajahnya


“Biarin…!”


“Ih dibilangin juga… Awas yah… Nanti aku pulang ku laporin ke tunanganku Abdullah lho…!”


“Laporin aja…!! Paling banter juga nanti kamu diputusin…”ucap Bob Barry sembari tertawa geli


“Huuuu… Maunya kamu tuh…” ucap Melodie dengan bibir manyun cemberut namun tetap membiarkan jemarinya digenggam erat jemari hangat Sang Kapten.


Kuch Kuch Hota Hai…


Sesuatu sedang terjadi…

__ADS_1


* * *


__ADS_2