
Sembari menggerutu dan mengelus-elus jidatnya yang tadi dijitak oleh Melodie, Marco pun kemudian beranjak kearah salah satu lemari di ruangannya dan kemudian kembali sambil membawa sesuatu.
“Oke, sekarang sebelum kita melangkah ke proses coating atau pelapisan tiga lapisan Posseidon’s Armor® Diving Suit, sebaiknya kau kenakan ini dulu…” ucap Marco sembari mengangsurkan sebuah helm berbentuk aneh kepada Melodie.
“Lha helm gua mana..?” tanya Maikel
“Noh ambil sendiri di lemari… Manja banget! biasanya juga main nyelonong ngambil sendiri…”
“Helm apa ini Co? aku baru pertama kali melihat helm yang seperti ini…” ucap sang gadis seraya membolak-balik Helm yang bentuknya seperti helm pahlawan super ini
“Helm ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelapis pakaian selam Posseidon’s Armor® yang kuciptakan. Hanya yang membedakan adalah untuk Helm Ini dapat dipakai terus secara terpisah…”
“Helm ini memiliki rangka Aluminium Alloy super ringan yang di perkeras, sehingga dijamin tahan dari benturan maupun hantaman sekeras apapun. Kemudian untuk bagian visualnya sendiri terbuat dari kaca teknologi Godzilla Glass® versi terbaru yang juga dipergunakan oleh para astronot NASA. Kaca ini memiliki ketahanan terhadap radiasi tinggi, anti embun, anti silau, anti pecah dan yang pastinya tahan terhadap benturan maupun tembakan…”
“Disamping itu helm ini juga dilengkapi dengan kamera, lampu dan perlengkapan audio-visual antar pengguna sehingga kamu nanti bisa berkomunikasi dengan tim di anjungan dan kita yang berada di dalam Spongebob Mel…”
“Wah luar biasa sekali kalau begitu… Lalu bagaimana dengan tabung udaranya? Sedari pertama aku berada di kapal ini, aku tidak melihat ada satu tabung atau regulator atau perlengkapan bantu nafas lainnya di kapal ini… Padahal kapal ini kan kapal untuk kegiatan penyelaman. Kok bisa seperti itu…?”
“Untuk tabung selam, kami memang memilikinya dan disimpan digudang, hal itu karena kami memang sudah tidak membutuhkannya Mel, untuk masalah pasokan udara selama menyelam kami menggunakan suatu alat yang bisa dicabut pasang pada helm selam ini. namanya adalah Posseidon’s Detachable Breath Apparatus® atau aku pribadi menyebutnya…”
“BigMouth…! Marco dan mulut besarnya…” Potong Maikel sambil tertawa lebar
“Iya… Ketawa aja terus… Tapi nih alat sudah banyak bantuin kita! Ingat itu!” ucap Marco sewot.
“Cup..cup..cup… Anak manis jangan ngambek donk…” ledek Maikel sambil tertawa lebar
“Sudahlah Kel, jangan diledek terus… Ayo Marco lanjutin penjelasannya…” bela Melodie.
Marco pun kemudian terlihat menjulurkan lidahnya kearah Maikel dan kemudian melanjutkan penjelasannya.
“Alat bantu nafas BigMouth ini pada prinsipnya mengambil cara kerja insang pada ikan Mel, kau bisa lihat dua silinder celah kipas yang berlapis-lapis ini kan? ini adalah filter yang bertugas menyaring oksigen murni sebanyak-banyaknya dari air laut dan kemudian mengumpulkannya dalam hitungan mikro/detik lalu disalurkan kedalam helm atau bisa juga dengan cara melepasnya dari helm dan menaruhnya langsung kedalam mulut layaknya alat Snorkeling. Dengan alat ini kita sudah tidak perlu lagi membawa peralatan yang berat-berat seperti halnya tabung oksigen…”
“Wah, praktis sekali kalau begitu… Alat ini jelas sangat kami butuhkan dalam kegiatan kami sebagai peneliti biologi kelautan lho Co…”
“Tenang saja, nanti aku akan berikan satu untukmu… Sedangkan untuk produksi masalnya, masih akan menunggu dua tahun lagi lho…”
“Beneran nih Co? Asiiikk…” seru Melodie kegirangan
“Duh sampai sebegitu senangnya sampai lupa tugas…” timpal Maikel sembari tertawa
“Ah iya benar! Kita harus bergegas Mel! Sekarang sudah waktunya kau dan Maikel untuk melapisi pakaian selam kalian… Ayo sebelum Kapten datang dan kita disemprot habis-habisan!”
“Baiklah kalau begitu! Ayo kita mulai sekarang! Aku juga sudah siap dari tadi kok!” jawab Melodie enteng
“Oh ya Mel, kamu tidak memiliki masalah Claustrophobia* kan?” tanya Marco yang dibalas gelengan kepala oleh Melodie.
“Bagus kalau begitu, sekarang masuklah ke tabung sebelah kiri dan berdiri yang santai, supaya tidak tegang kau bisa melihat dan meniru Maikel yang juga nanti menempati tabung sebelah kanan… oh ya, nanti kita berkomunikasi melalui mikropon dan speaker yang ada di dalam helm kalian ya” ucap Marco sambil memasang earphone nirkabel ke telinganya
Melodie pun kemudian beranjak memasuki tabung kaca yang terdapat disebelah kiri ruangan tersebut sementara Maikel Stefen sendiri terlihat memasuki tabung kaca sebelah kanan.
“Ok, cek sound… cek sound… apa suaraku terdengar jelas…?”
Melodie dan Maikel terlihat menganggukkan kepalanya dari dalam tabung kaca
“Baiklah, sekarang aku akan mengalirkan lapisan pertama kedalam tabung kaca, harap jangan bergerak agar pelapisan materi pertama ini bisa berjalan dengan sempurna…” ucap Marco sambil mengetik sesuatu di keyboard komputer.
Dari dasar tabung kaca yang berupa logam berpori kemudian terlihat merembes keluar cairan berwarna kebiruan yang perlahan-lahan mulai memenuhi tabung kaca hingga akhirnya berhenti pada batas leher helm yang dipakai oleh Maikel dan Melodie.
“Ini cairan apa? Kenapa seperti menggelitik di pori-pori?” ucap Melodie sembari mengerenyitkan keningnya.
“Tahan sebentar Mel, lapisan pertama adalah lapisan Y-Flub yang sudah dimodifikasi dengan jaringan Hydro Skeleton Sintetis. Kerapatannya memang menurun hingga ke satuan Femto* partikel, namun lapisan pertama ini memiliki kelebihan yaitu mampu bersinergi dengan semua otot dalam tubuhmu dan meningkatkan akslerasi serta kekuatannya hingga tujuh kali lipat!”
“Wah aku jadi lebih kuat donk?” ucap Melodie melalui mikropon dalam helmnya.
“Betul sekali Mel, bukan hanya kekuatanmu saja yang meningkat namun juga kegesitan dan daya refleksmu didalam air juga naik dengan drastis berkat bantuan lapisan pertama buatan Marco ini…” ucap Maikel dari tabung sebelah kanan.
“Wuiih… Mantap… Mantap…! Bisa jadi kayak super hero Wonder Women nih…” tawa Melodie kegirangan
“Sayangnya tidak bisa begitu Non! Jaringan Hydro Skeleton Sintetis hanya bisa berfungsi jika pemakainya berada didalam air! Jadi kalau didarat ya walaupun dipakai berpuluh lapis juga jangan harap bisa kuat kayak super hero…” kekeh geli Marco
“Yaaa Marco… Payah ah! padahal orang sudah mengkhayal bisa jadi super hero…” Sungut sang gadis dengan nada kecewa
Tiga menit kemudian cairan kebiruan itu pun perlahan mulai surut dan turun kembali hingga akhirnya habis tak tersisa dari dasar lantai tabung kaca yang berpori-pori tersebut.
Melodie nampak menggerakkan tubuh dan tangannya yang terasa lengket
“Ternyata tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya… Cairan ini walaupun terasa lengket di kulit namun juga tidak menimbulkan rasa kesat…” batin Sang gadis sembari memperhatikan kedua telapak tangannya. Sekujur tubuh sang gadis hingga ke pangkal lehernya ternyata telah tertutupi oleh lapisan tipis kebiruan yang perlahan mulai mengeras namun tetap elastis
“Baik, sekarang aku akan melapisi kalian sepenuhnya dengan materi murni Y-Flub. Aku harap kalian bisa menahan nafas selama sepuluh detik karena aku akan menyelubungi seluruh tubuh kalian dari ujung kaki sampai ke keujung kepala..” ucap Marco kemudian.
“Lho nanti BigMouth sama Kaca helmnya tertutup juga sama lapisannya donk Co…?”
“Tenang saja Mel, BigMouth dan Lapisan kaca Godzilla Glass mengandung materi yang memiliki sifat menolak lubrikasi. Jadi lapisan Y-Flub tidak akan menempel disitu walaupun nanti selama beberapa detik tertutupi olehnya…”
“Oooh… tapi nanti efek radiasinya malah bisa masuk melalui pernafasan donk…? Kan cuma disitu saja yang tidak tertutupi oleh materi lengket ini…”
“Tidak tertutupi bukan berarti tidak terlindungi, BigMouth sudah dirancang untuk hanya menyerap oksigen murni dari air laut. Partikel sekecil apapun selain oksigen jangan harap bisa melaluinya…”
“Ck.ck.ck.. Benar-benar alat yang sangat berguna…” sahut Melodie penuh takjub
“Sudah kita harus cepat nih, aku lanjut proses kedua ya…” ucap Marco sambil kembali mengetik di panel keyboardnya.
Dari dasar tabung kaca kembali keluar cairan kental yang kali ini berwarna putih susu. Cairan kental ini kemudian naik perlahan-lahan dan terus memenuhi tabung kaca dimana Melodie dan Maikel berada.
“Sekarang tahan nafas kalian sampai sepuluh detik” ucap Marco melalui handsfree-nya
__ADS_1
Maikel dan Melodie terlihat mengangukkan kepalanya dan bersamaan dengan itu, cairan putih kental itu pun langsung menutupi tubuh mereka hingga akhirnya seluruh tabung pun akhirnya dipenuhi oleh cairan tersebut.
Setelah menunggu sampai sepuluh detik, Marco pun kemudian mengetikan perintah pada komputernya yang kemudian akhirnya membuat cairan Y-Flub murni pada kedua tabung tersebut kembali menyusut dan akhirnya habis tak tersisa di dasar tangki. Jika sebelumnya tubuh Melodie dan Maikel terbungkus lapisan Biru sampai sebatas leher, sekarang dari ujung kepala hingga ujung kaki mereka berdua kini tertutup lapisan berwarna Putih susu. Hanya pada bagian kaca dan bagian mulut pada helm yang berbentuk silinder kecil saja yang terlihat tidak terlapisi lapisan putih tersebut.
“Oke kalian sudah bisa bernafas dengan normal…”
Melodie pun terlihat menghembuskan nafasnya dan kemudian berujar dari dalam tabung kaca.
“Marco, kau bilang lapisan ini adalah lapisan Y-Flub murni dengan kerapatan nol persen yang membuat mustahil untuk ditembus oleh partikel radiasi, tapi kenapa urutan pelapisannya jadi yang kedua? Harusnya yang pertama donk…?” tanya Melodie penasaran.
“Begini Mel akan aku jelaskan, aktifitas penyelaman yang masuk dalam kategori berbahaya mutlak memerlukan kekuatan dan kegesitan yang diatas rata-rata, oleh karenanya diperlukan penyesuaian atau adjustment otot dan jaringan tendon dari penyelam itu sendiri. Bayangkan saat menyelam di dalam gua atau lorong dasar laut kemudian terjadi longsor atau gugur batu didalam laut yang menyebabkan seorang penyelam terhimpit bebatuan, kalau dia tidak memiliki kekuatan diatas rata-rata tentunya dia akan kesulitan untuk membebaskan diri bukan?”
“Selain itu teknologi Hydro skeleton sintetis pada lapisan pertama juga digunakan bukan hanya untuk meningkatkan kekuatan otot pemakainya, namun juga berguna untuk melindungi organ internal serta menyesuaikan dengan tekanan air laut disekitarnya. Semakin dalam tekanan airnya maka biasanya semakin banyak juga pelapisan dilakukan…” tutup Marco
“Benar sekali apa yang dijelaskan oleh Marco Mel, saat aku dan kapten menuruni Palung Mariana beberapa waktu yang lalu, Marco sampai harus melapisi kami dengan lapisan pertama hingga tiga puluh satu kali lapisan! Dan ternyata sangat menolong kami pada saat tersebut, dimana tekanan air laut di palung itu ternyata memiliki kekuatan yang dapat meremukan sebuah mobil truk hingga menjadi sebesar kepalan tangan!”Sambung Maikel dari tabung sebelah
“Hmm, oke sekarang aku sudah mengerti… Jadi selanjutnya apa?”
“Selanjutnya kita akan melakukan pelapisan akhir menggunakan materi Y-Flub yang juga telah dimodifikasi dan disinergikan dengan materi lain. Dan kali ini aku menggunakan substansi logam fleksibel namun memiliki kekerasan yang paling tinggi didunia. Adamantine Steel!”
“Ma… Maksudmu baja Adamantium seperti yang punya Wolverine di film-film itu Co?” tanya Melodie dengan mata membesar tak percaya
“Bukan Adamantium Mel, tapi Adamantine! Adamantium itu logam fiksi khayalan yang hanya ada di Film-film Marvel…” koreksi si bengal
“Terus fungsinya apa? Jangan bilang nanti cakarku bisa memanjang kayak punyanya si Logan! Terus kalau nanti mau Meni-Pedi gimana donk!” ucap Melodie polos dan tentu saja langsung disambut tawa oleh Marco dan juga Maikel
“Ha.ha.ha.. Meni-Pedi dia bilang Co… memang di dasar laut mau Meni-Pedi sama siapa Non? Sama ikan Cucut?” ledek Maikel dari dalam tabung kaca yang tentu saja langsung bersambut gayung oleh celetukan Marco
“Kenapa gak sekalian aja Rebonding sama Faisal… Ups, Maksud ku Facial!”
Maikel dan Marco pun kemudian kembali terlihat tertawa terpingkal-pingkal sembari memegang perut masing-masing
“Hissh, kalian berdua jahat banget deh! Kan aku cuma bercanda! Awas ya kalo aku sudah keluar dari tabung kaca ini! bakalan kupersen masing-masing satu jitakan!” ucap sang gadis bengis.
Tiba-tiba dari dari saluran komunikasi mereka terdengar suara batuk dan gemerisik beberapa saat.
“Ribut sekali seperti di pasar! Kalian bisa tenang sedikit tidak? Ini sudah jam berapa? kalian ngapain aja sih dari tadi?”
Suara Bob Barry! Ternyata sang kapten sudah bangun dan memonitor mereka dari dalam anjungan!
“Si… siap Kept! Kami sedang melakukan pelapisan pakaian selam tahap akhir! Tinggal sebentar lagi selesai” Ucap Marco sedikit gugup
“Bergegaslah! Dan kalau sudah selesai cepat bergabung di anjungan! Putra juga sudah selesai mengisi bahan bakar Spongebob. Kita akan segera turun menyelam sesegera mungkin!”
“Siap Kept! Laksanakan!” ucap Maikel dan Marco serempak
Marco pun kemudian langsung terlihat sibuk mengetikan perintah di keyboardnya dan kembali berujar kepada Melodie dan Maikel yang berada dalam tabung kaca
“Baik, aku akan langsung melakukan proses pelapisan tahap akhir. Sebagai informasi buat Melodie, Lapisan terakhir Posseidon’s Armor® Diving Suit ini merupakan pelapis pakaian yang berguna melindungi tubuh dari kontak benda tajam semisal karang ataupun serangan hewan bergigi tajam seperti hiu maupun ikan pedang. Jadi kalau nanti dibawah sana ada gerombolan hiu atau binatang lain yang memiliki gigi yang tajam kau tidak perlu khawatir lagi akan terluka. Namun sebisa mungkin kontak fisik tetap harus dihindari ya Mel…” tutup Marco sembari kemudian memulai inisiasi proses pelapisan tahap akhir dengan menekan tombol Enter pada keyboard komputernya.
Begitu tombol Enter ditekan, dari permukaan dasar tabung kaca kembali menyeruak cairan kental yang kali ini berwarna hitam keperakan. Karena tingkat kekentalan yang cukup pekat, cairan ini terlihat bergerak naik cukup lambat.
Melodie dan Maikel pun kemudian terlihat mengambil nafas panjang saat cairan kental hitam keperakan tersebut sudah mulai menyentuh dagu helm mereka, dan seperti tadi tabung kaca tersebut pun kemudian kembali dipenuhi oleh cairan Y-Flub hingga ke puncaknya. Setelah lewat sepuluh detik, cairan kental itupun kemudian mulai menyurut hingga akhirnya habis tertelan dan meninggalkan Melodie dan Maikel yang berdiri dengan tubuh tersalut lapisan hitam keperakan.
Beberapa menit kemudian, Marco pun memberi tanda kepada Melodie dan Maikel untuk keluar dari tabung kaca. Keduanya pun kemudian keluar dari tabung kaca dan beranjak mendapati Marco yang nampak tersenyum-senyum
“Bagaimana rasanya pakaian selam mu sekarang Mel? Ada yang ganjil? Atau mungkin kelewat berat?” tanya Marco
“Hmm… Biasa saja sih.. Cuma memang berasa agak ganjil dan seperti kayak pakai baju yang kelewat ketat gitu deh…”
“Tenang saja Mel, nanti juga akan terbiasa dan kalau nanti kau sudah berada didalam air, perasaan ganjil itu juga akan hilang dengan sendirinya…”
“Terus nanti kalau lapisan pelapis ini mau dilepas bagaimana Co? apa harus masuk kedalam tabung kaca itu lagi?” tanya Melodie yang langsung dibalas gelengan kepala oleh Marco
“Tidak perlu Mel, untuk melepas tiga lapisan Y-Flub kita bisa menggunakan alat vakum portabel khusus yang nanti akan kusiapkan sesudah kalian menyelesaikan misi penyelaman.
Melodie kembali terlihat menganggukan kepala
“Hik.hik.hik… Tapi lucu juga pakaian dan helm ini ya? Jadi berasa kayak main ninja-ninjaan gitu deh…” cekikik Melodie yang langsung dibalas celetukan Marco Ferdinand
“Ninja apaan? Mana ada Ninja suka Meni-Pedi? Kalo ada mah itu berarti dia Ninja CucooKkk…”
“Marcoooo jeleeek…!!!” teriak Melodie seraya berusaha kembali menjitak si bengal yang tentu saja langsung berkelit karena tidak rela kepalanya dijitak untuk kedua kalinya
“Sudaah…. Sudah…! kita sudah ditunggu Kapten dan Putra di anjungan, ayo kita bergegas kesana sebelum kita kembali disemprot habis-habisan oleh Kapten…” ucap Maikel sembari kemudian menyeret Melodie dan Marco keluar dari ruang kerja si bengal dan berjalan menuju anjungan.
Sesampainya di anjungan mereka hanya melihat Putra Gilang sementara sang Kapten kapal malah tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.
“Lho Put, Kapten dimana?” tanya Maikel sembari memandang kesekliling anjungan
“Masih tidur tuh di kabinnya, kelihatannya beliau capek banget…” ucap Putra Gilang dengan santai
“Lha kalo begitu yang tadi itu…?”
Melodie tiba-tiba tertawa geli
“Hik.hik.hik… Ternyata ada juga yang bisa sukses ngerjain kalian berdua…”
Maikel dan Marco pun saling memandang sesaat sebelum kemudian akhirnya tersadar dan langsung memburu dan bergelayut pada tubuh besar Putra Gilang!
“Sialan banget Loe Put! Gua kira emang Kapten! Ternyata elo…” sembur Maikel seraya mengempit kepala Putra gilang di ketiaknya
“Iya nih…! Pake niru-niru suara Kapten segala! Mana suaranya beneran mirip banget lagi! Sompreet!” sahut Marco sambil mengacak-acak rambut sahabatnya yang berbadan gempal ini.
“Ha.Ha.Ha… Ampun Bro… Ampun… Saya minta maaf! Habisnya kalian rame banget sih… sampe kedengaran jelas di monitor…”
__ADS_1
“Rame sih rame… Tapi jangan pakai suara Kapten buat nakut-nakutin kita donk!” sembur Maikel
“Ho’oh…! Bikin kerja jadi buru-buru kayak dikejar-kejar setan…!”sambung Marco tak kalah kesalnya
Sementara itu Melodie yang melihat kelakuan tiga orang rekan Bob Barry ini kemudian akhirnya hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.
“Benar-benar kumpulan orang konyol yang menyenangkan…”Batin sang gadis
“Sudah dong… Saya kan sudah minta maaf… Ayolah Marco, Maikel… Lepaskan dulu… Waktunya sudah siang, aku harus membangunkan kapten biar kita selekasnya selesaikan pekerjaan penyelaman kita hari ini…” ucap Putra Gilang yang akhirnya membuat Marco dan Maikel melepaskan Rekan kerjanya yang gempal ini dari pelukan dan gelayutan masing-masing.
Setelah terbebas dari gelayutan kedua rekannya ini Putra pun kembali berujar.
“Kalian bertiga sebaiknya langsung saja turun ke Platform dan bersiap-siap untuk turun bersama-sama kapal selam Spongebob. Aku tadi sudah mengisi bahan bakarnya jadi hanya tinggal menunggu kedatangan Kapten…”
“Oke kalau begitu kami turun sekarang untuk bersiap-siap di landasan, dan kau jangan lama-lama ngebangunin Kapten… Kalau perlu disiram saja sekalian! Ya kalau situ berani sih…” ucap Marco yang dijawab oleh gelak tawa oleh Putra gilang
Maikel dan Marco kemudian akhirnya nampak beranjak keluar dari anjungan bersama-sama dengan Melodie, Sementara Putra nampak berjalan kearah kabin Bob Barry untuk membangunkan sang kapten dari tidurnya.
Selang tak begitu lama, Bob Barry yang nampak telah segar kembali pun kemudian datang menghampiri dan menyapa rekan-rekannya.
“Bagaimana kawan-kawan…? Apa kalian sudah siap?”
“Siap Kept!” jawab Maikel dan Marco serempak
“Dan kau sendiri Melodie? Bagaimana? Apa bisa kita mulai sekarang?”
Melodie nampak tersenyum dan mengangukkan kepalanya guna menjawab pertanyaan sang Kapten.
“Baiklah sebelum kita melakukan kegiatan penyelaman pada siang hari ini, selayaknya pribadi-pribadi yang beragama dan beriman mari kita berdoa sejenak untuk kelancaran proses penyelaman kita nanti. Mari kita berdoa…!”
Bob Barry beserta rekan-rekannya termasuk Putra Gilang yang berada di anjungan nampak sejenak menundukkan kepalanya untuk memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa
“Berdoa selesai…” ucap Sang kapten beberapa saat kemudian yang langsung diamini oleh Rekan-rekannya
Setelah selesai memanjatkan doa, Kapten Barry kemudian beranjak menaiki kapal selam Spongebob diikuti Marco yang langsung menempati ruang kokpit atau ruang kemudi.
Sebagai gambaran dari kapal selam Spongebob, kapal selam berwarna kuning terang ini berbentuk bulat bundar dengan sepasang tabung lonjong di kiri-kanannya yang bertugas untuk menghisap dan mengeluarkan air agar bisa mengapung atau untuk tenggelam ke dasar laut. Ruangan kokpit sendiri berbentuk bulat dengan kubah berbentuk bundar setengah lingkaran/Dome yang terbuat dari kaca yang tembus pandang. Untuk memasuki ruangan kokpit maka kubah kaca tersebut harus diangkat keatas dan kemudian ditutup kembali setelahnya.
Setelah Marco dan Bob Memasuki rungan kokpit, Maikel Stefen kemudian beranjak untuk menutup dan menurunkan kubah kaca. Lalu beberapa saat kemudian Maikel terlihat memberi tanda kepada Putra yang berada di Anjungan untuk menurunkan Landasan tersebut kedalam Laut.
Bunyi berderak dari rantai yang diturunkan pun kembali terdengar manakala Putra melalui anjungan menggerakkan tuas pengendali untuk menurunkan kapal selam Spongebob beserta Maikel dan Melodie ke dalam laut.
Setelah kapal selam Spongebob yang ditumpangi Kapten Barry dan Marco telah terbenam sepenuhnya, Marco pun kemudian langsung menyalakan mesin kapal selamnya untuk beranjak menjauhi landasan. Dan setelah Kapal selam kuning tersebut bergerak turun kedalam laut, landasan itupun kemudian kembali diangkat keatas kapal oleh Putra Gilang.
“Titip kapal ya Put, jangan nakal-nakal diatas sana…” canda Bob Barry melalui mikropon kapal selam Spongebob
“Siap Kept, tapi jangan lupa pulangnya nanti bungkusin BigMac sama gorengan ya…” ucap Putra Gilang lewat mikropon anjungan
“Gak sekalian sambelnya Put?” balas Maikel kali ini melalui headset di helmnya
“Boleh…Boleh…! Tapi yang sambel petE’ sachetan saja… Biar praktis Bro…”
“Ha.ha.ha… Dasar ngaco! Satu kapal ternyata isinya orang-orang konyol dan kurang beres semua…” sambung Melodie sembari tertawa geli.
Sementara itu perlahan-lahan Maikel dan Melodie pun mulai menyelam menuruni jurang laut sembari berpegangan pada badan kapal selam Spongebob yang juga turun bersama-sama dengan mereka.
Dan setelah menyelam beberapa saat, Bob Barry dan kawan-kawan akhirnya sampai juga di mulut ceruk Serena.
Maikel kemudian memberi kode kepada Melodie untuk beranjak meninggalkan kapal selam Spongebob dan berenang menuju kearah mulut Ceruk.
Setelah memperhatikan dengan saksama keadaan sekitar, Maikel Stefen pun kemudian berujar
“Ceruk ini tidak bisa dimasuki oleh dua orang sekaligus Kept, jadi saya minta ijin untuk masuk terlebih dahulu dan baru kemudian disusul oleh Melodie…” ucap Maikel Stefen sembari menatap kearah sang gadis yang dibalas oleh anggukan kepala.
“Baik, kuijinkan kau masuk lebih dahulu dan memang sudah seharusnya begitu. Namun berhati-hatilah kalian berdua, karena kita tidak tahu apa yang ada didalam sana dan kapan gelombang panas akan datang menyembur dari dalam ceruk tersebut. Jadi kalau bisa, temukan koper itu secepatnya dan langsung tinggalkan tempat itu.” Ucap Bob Barry dari dalam kapal selam Spongebob
“Siap Kept...!” ucap Maikel yang kemudian terlihat menyalakan senter yang terdapat di helm selamnya dan beranjak masuk kedalam ceruk diikuti oleh Melodie dibelakangnya
Maikel dan Melodie mulai berenang memasuki lorong yang cukup gelap dan panjang. Namun semakin lama mereka berenang, ukuran lorong yang mereka jelajahi juga semakin besar hingga akhirnya mereka sampai disatu tempat yang besarnya hampir menyerupai sebuah ruangan yang cukup luas.
“Hei Mel! Coba lihat! Bukankah itu koper yang kita cari…!” seru Maikel melalui saluran komunikasi di helmnya.
“Kau benar Maikel! Itu dia koper Titaniumnya!” seru girang Melodie kala melihat kearah yang ditunjuk oleh Maikel Stefen.
Melodie dan Maikel pun kemudian berenang mendekat kearah koper yang terlihat tergeletak dan terjepit diantara dua buah karang kecil di lantai lorong berbatu karang.
“Tunggu sebentar Kel, aku ingin memeriksa dahulu apakah koper dan lingkungan sekitarnya aman dari radiasi radioaktif atau tidak…” cegah Melodie kala melihat Maikel Stefen hendak menyentuh gagang Koper tersebut. Melodie kemudian terlihat melepaskan gadget anti air yang berwujud seperti telepon genggam yang sedari tadi terlihat dikalungkan di lehernya. Gadget tersebut kemudian diarahkan kearah koper Titanium dan sekelilingnya untuk beberapa saat. Setelah menunggu sekian lama dan memperhatikan tampilan layar di gadget yang dipegangnya, rona berseri nampak diwajah sang gadis Peneliti Biologi Kelautan ini.
“Aman Kel! Koper ini tidak mengalami kebocoran maupun kerusakan sedikitpun! Lingkungan air sekitar juga bersih tanpa adanya indikasi polutan maupun paparan radiasi radioaktif! Tugas kita sudah selesai!” girang Melodie sembari kemudian mengangkat koper tersebut dan memeluknya di dada
“Maikel…?” ucap Melodie kala menyadari sang pemuda ternyata tidak berada disisinya.
Sang gadis kemudian mengedarkan pandangan dan akhirnya mendapati sang pemuda awak kapal The Promise Land ini nampak diam terpaku dihadapan sebuah mulut lorong yang rupanya berada di sudut ruangan tersebut.
“Kau sedang melihat apa sih? Sampai sebegitunya hingga tidak mendengar saat ku pangil-panggil…” sungut Melodie sambil berenang mendekat kearah Maikel Stefen.
Begitu sampai disamping sang pemuda, Melodie kemudian menepuk keras pundak sang pemuda.
“Hei… Dengar tidak apa yang kukatakan? Kopernya sudah kudapatkan dan kita sebaiknya….” Melodie tidak jadi meneruskan ucapannya kala melihat apa yang sedari tadi dipandangi oleh Sang Pemuda yang nampak diam tersirap ini
“Aa… Astaga…! i…ini…” ucap sang gadis dengan mata mendelik dan suara terbata
“Te.. Terra Incognita*..” desis Maikel tanpa sadar seolah menjawab ucapan Melodie
Bob Barry dan Marco yang juga sedari tadi melihat apa yang dilihat Maikel dan Melodie melalui kamera di helm keduanya, juga nampak melotot dengan mulut ternganga lebar di dalam kapal selam Spongebob.
__ADS_1
“Terra Incognita… Negeri antah berantah…” ucap Bob Barry beberapa saat kemudian dengan penuh rasa takjub!
* * *