Hati Samudera

Hati Samudera
Hati Samudera


__ADS_3

a


Mendengar seruan Marco, Bob Barry dan yang lainnya pun sontak ikut terperanjat dan terpana kala melihat tubuh duyung tersebut terlebih khusus didaerah perutnya, tiba-tiba nampak terlonjak dan bergerak-gerak liar! Sungguh tidak habis pikir! Seharusnya makhluk yang sudah mati jelas tidak akan mungkin bisa bergerak-gerak seperti itu, demikian batin Bob Barry dan rekan-rekannya dengan penuh keheranan. Namun kemudian mereka semua tiba-tiba tersadar oleh pekikan Melodie!


“Tuhan Maha Besar! Bayi dalam kandungan makhluk itu ternyata masih hidup Bob..! Dia masih hidup! Bayi itu masih belum menyerah...!” sorak sang gadis penuh keharuan


“Ta.. Tapi kau bilang sebelumnya bayi itu...”


“Diagnosa ku ternyata salah Bob…! juga semua perkiraan kita tadi tentang proses Mumifikasi juga ternyata meleset! Semua itu salah besar...!”


“Apa maksud perkataanmu Mel...?” tanya Bob Barry bingung


“Makhluk ini...” Melodie bahkan sampai tersedak dengan mata berlinang sebelum kemudian melanjutkan ucapannya


“Makhluk ini rupanya menyadari ajal akan segera menjemputnya... Oleh karenanya demi mempertahankan bayi dalam kandungannya, makhluk ini kemudian menyalurkan semua cairan nutrisi, enzim dan protein yang ada di tubuhnya kedalam rahimnya..! Karena itulah tubuhnya kemudian menjadi kering kaku seperti ini... Semua ini dilakukan oleh sang ibu guna menjaga rahim dan perutnya tetap aman buat sang bayi selama mungkin yang dia bisa… Demi Tuhan… Sang ibu mengorbankan nyawanya untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi di dalam perutnya..! Inilah... Inilah pengorbanan tertinggi seorang ibu untuk anaknya Bob...!” ujar Melodie dengan air mata bercucuran.


“Kalau begitu kita harus menyelamatkannya Mel, kita harus melakukan sesuatu...! Kita tidak boleh menyia-nyiakan pengorbanan Makhluk ini...” seru Bob Barry sembari meremas jemari sang gadis.


Melodie menatap sang kapten yang terlihat tegang, dan tanpa terasa sang gadis pun kemudian membalas remasan jemari sang kapten.


“Aku… Aku akan coba akan mengeluarkan bayi ini… Aku akan coba melakukan operasi Caesar…!” ucap Melodie seraya menyeka air mata di pelupuk matanya


“Ka… Kau bisa melakukannya Mel…?” tanya Bob Barry dengan pandangan terkejut.


“Sejujurnya aku belum pernah melakukan pembedahan Caesar pada manusia, tapi aku pernah membantu melakukan pembedahan Caesar pada lumba-lumba dan paus bungkuk…”


“Kalau begitu cepat lakukan Mel… Cepat keluarkan bayi itu sebelum dia kehabisan pasokan oksigen di dalam sana!” Seru Maikel Stefen tiba-tiba!


Mendengar ucapan sang pemuda bertopi kupluk, sontak wajah Melodie langsung memucat!


“Kau benar! Mengapa aku bisa sesembrono ini..?? Karena makhluk ini telah berhenti bernafas dan jantung makhluk ini juga telah berhenti berdetak, akibatnya pasokan oksigen ke rahim sang ibu kontan juga terhenti! Bayi ini meronta ingin keluar karena bayi ini mulai kekurangan oksigen didalam rahim sang ibu!” Seru sang gadis dengan mata terbelalak!


“Kita harus segera mengeluarkannya sekarang…! Tidak bisa ditunda lagi! Apa kalian memiliki perangkat bedah seperti pisau dan tang operasi…?” tanya Melodie kemudian seraya mengedarkan pandangan kearah Bob Barry dan rekan-rekannya.


“Kami memilikinya Mel! Tunggu sebentar akan Segera kuambilkan...” ucap Maikel Stefen seraya berlari ke satu lemari kabinet yang berada di ruangan tersebut.


Sang pemuda bertopi kupluk kemudian terlihat membongkar isi lemari tersebut dan kemudian bergegas kembali sambil membawa sebuah nampan besi kecil berisi berbagai alat bedah seperti sarung tangan karet, pisau berbagai ukuran, tang, gunting operasi dan juga Alkohol serta larutan desinfektan.


Melodie pun bergegas menempatkan diri di samping jasad sang duyung dan mulai bersiap untuk melakukan pembedahan.


Yang pertama dilakukan oleh sang gadis adalah memilih sebuah pisau yang paling tajam serta sebuah tang kecil. Kedua alat itu kemudian direndam kedalam larutan alkohol dan larutan desinfektan. Sang gadis pun kemudian terlihat membasuh kedua tangannya dengan alkohol dan memakai sarung tangan karet sebelum kemudian kembali berujar.


“Aku membutuhkan banyak handuk, larutan air garam hangat dalam botol pipet dan juga sebuah wadah yang cukup besar yang berisi air laut… Bisa kalian usahakan secepatnya…?”


Bob Barry dan ketiga rekannya nampak mengangguk dan masing-masing bersiap untuk mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan oleh Melodie. Namun saat Bob Barry juga hendak melangkahkan kaki keluar ruangan, sang gadis tiba-tiba menahannya.


“Kau disini saja Bob, aku perlu seseorang untuk menahan pergerakan bayi serta membantuku menariknya keluar dari dalam perut makhluk ini…”


Keringat dingin serta merta mengucur deras dikening sang pria.


“Kau pegang perutnya yang sebelah sini Bob, aku akan mencoba membuat irisan secara vertikal di daerah Laparatomi*” ucap Melodie sembari memperhatikan perut makhluk didepannya yang nampak terus bergerak-gerak tak terkendali.

__ADS_1


“Sial… Kalau bayinya terus bergerak seperti ini aku bisa kesulitan melakukan pembedahan…” Batin sang gadis dengan hati berdegup kencang,


Beberapa saat kemudian, rekan-rekan Bob Barry pun berdatangan ke laboratorium sambil membawa berbagai keperluan yang diminta oleh Melodie.


“Put, aku akan mulai membuka luka sayatan, tolong nanti kau semprotkan larutan garam hangat yang kau bawa itu ke bukaan lukanya ya…” ucap Melodie kepada Putra Gilang yang tentu saja langsung di iyakan oleh si pemuda.


Melodie pun kembali fokus memperhatikan gerakan di daerah perut sang duyung. Pada satu kesempatan, gerakan di perut terlihat agak menyundul ke sebelah kiri atas. Melihat hal ini, Melodie pun langsung berseru keras kearah Bob Barry.


“Tahan kepalanya dengan lembut di tempat itu Bob! Usahakan dia jangan berpindah dari posisinya!”


Begitu Bob Barry menahan tonjolan yang bergerak yang tadi di tunjuk oleh Melodie, sang gadis pun kemudian dengan lincahnya membuat sayatan pada Laparatomi sang ibu di sebelah kanan agak kebawah.


Sreeetttt…


Semprotan lendir berwarna kehijauan spontan memercik dari luka sayatan yang terbuka namun hanya beberapa saat karena Putra Gilang kemudian dengan sigapnya menyemprotkan larutan garam hangat ke luka sayatan yang terbuka itu.


Melodie terus menggerakkan mata pisau bedahnya dengan hati-hati hingga akhirnya mencapai daerah Histerotomi* pada tubuh sebelah bawah sang Makhluk.


“Tekan pelan-pelan tubuh sang bayi kearah luka sayatan itu Bob!” seru Melodie tiba-tiba!


Mendengar perintah Melodie, Kapten Barry yang sedari tadi menahan kepala sang bayi pada posisinya tersebut pun langsung melakukan apa yang dipinta sang gadis dan mendadak…”


Cruuut… Srreeetttt…..!!!


“Astaga…! Cepat tangkap bayinya dengan handuk handuk yang kau bawa itu Maikel…!” Teriak Melodie panik kala melihat bagaimana satu sosok kecil tiba-tiba melesat dengan cepatnya dari jalur sayatan yang dia buat!


Maikel Stefen yang sempat terbengong kala melihat kejadian yang memang berlangsung sangat cepat tersebut kemudian sontak tersadar dan langsung melompat untuk menyambut sang bayi yang terlempar keluar dari rahim sang ibu dengan handuk-handuk yang dia bawa. Dan dia berhasil! Maikel Stefen berhasil menangkap sang bayi!


Beruntung ada Marco Ferdinand yang kemudian dengan sigap melompat membanting diri sembari mengangsurkan baskom yang berisi air laut yang dibawanya tepat dibawah kaki Maikel Stefen!


Benar-benar sangat menegangkan…!


Melodie dan yang lainnya bahkan sampai merosot mendeprok di lantai laboratorium saking lemasnya!


“Kan sudah kubilang pelan-pelan dorongnya Kapten Dodol…!” Gemas Melodie sembari mendelik besar kearah Bob Barry


“Aku pelan-pelan tadi dorongnya kok Mel..! berani sumpah…!” Elak Bob Barry dengan menunjuk wajah tidak bersalah!


“Sudah… Sudah… Jangan saling menyalahkan…! Yang penting bayinya selamat dan situasinya sudah aman terkendali…” ucap Putra Gilang berusaha menenangkan pertengkaran sang Kapten dan Melodie.


“Aman terkendali engkong loe Malih Tong-Tong…?!? Noh…! Lihat kening gua sampe benjut-benjol model begini…!” protes keras Marco Ferdinand sambil menunjuk keningnya yang terlihat benjut matang membiru sebesar telur ayam!


Rupanya demi menyelamatkan sang bayi yang jatuh terperosot dari pelukan Maikel Stefen, jagoan kita ini melompat dengan membanting diri menyambut dengan wadah berisi air laut dan kemudian sukses menyelamatkan si bayi dari hantaman kerasnya lantai besi dingin kapal The Promise Land.


Namun kesuksesannya kali ini juga harus dibayar mahal dengan keningnya yang membentur kaki meja besi dengan keras sehingga akhirnya menelurkan benjolan cakep di kening si bengal satu ini.


Melihat “aksesoris” tambahan di kening sang pemuda, tanpa terasa Bob Barry dan yang lainnya termasuk Melodie langsung tertawa terpingkal-pingkal meninggalkan si bengal yang nampak kesal cemberut dengan bibir terlihat kuncup memanjang!


Setelah puas tertawa, Melodie dan Bob Barry serta yang lainnya pun kemudian beranjak mendekat kearah baskom yang berada di lantai.


Di dalam baskom tersebut terlihat satu makhluk kecil mungil yang nampak menggeliat dan memandang kearah mereka dengan mata bulat besar lucu berwarna biru kehijauan.

__ADS_1


Tubuh bayi ini juga sepintas nampak sama seperti bayi-bayi pada umumnya. Yang membedakan adalah adanya insang tambahan pada leher sebelah belakang sang bayi, kemudian kedua tangannya yang memiliki selaput pada jemarinya, lalu ekor ikan berwarna kehijauan pada tubuh sebelah pinggang kebawah dan juga mata bayi ini yang jauh lebih besar dari mata bayi pada umumnya dan dilengkapi dengan selaput lendir dibagian bawahnya. Mata besarnya ini pulalah yang kemudian membuat bayi ini semakin terlihat lucu menggemaskan!


“Aduh… Aduuh lucunya…!” seru Melodie seraya melepaskan kaos tangan karet yang dikenakannya dan kemudian langsung mengangkat dan memondong bayi duyung tersebut dalam pelukannya!


Sang bayi sendiri terlihat nampak terpesona memandang wajah sang gadis dan kemudian jemari kecil berselaputnya tersebut diangkat dan digunakan untuk meraba wajah elok sang dara.


“Dia menyukaimu Mel… Mungkin bayi itu menganggap engkau adalah ibunya…” Ucap lembut Bob Barry


Mendengar ucapan sang kapten, tiba-tiba tanpa terbendung air mata nampak membanjir disudut mata sang gadis. Dengan masih memeluk bayi tersebut, Melodie pun terlihat beranjak mendekat kearah makhluk duyung yang nampak terbujur kaku diatas meja besi.


Dengan tangan gemetar sang gadis kemudian nampak membelai lembut dahi sang makhluk yang terlihat membeliak kaku diatas meja. Dengan suara tersendat perlahan sang gadis pun kemudian berujar.


“Tenangkanlah hatimu wahai ibu yang mulia dan luar biasa… Aku… Aku berjanji akan menjaga buah hatimu ini selayaknya menjaga buah hatiku sendiri… Sampai nantinya dia siap untuk kembali ke kaumnya, tak akan ku biarkan satu orang pun menyakitinya… Tak akan kubiarkan pula buah hati mu ini bersedih dan menangis… Aku… Aku berjanji padamu…”


Begitu sang gadis mengakhiri ucapannya, suatu keajaiban tiba-tiba terjadi! Rahang sang makhluk yang semula membuka kaku mengeras tiba-tiba mengatup di ikuti tertutupnya pula kelopak mata sang duyung yang sebelumnya terlihat membeliak menakutkan dan menjorok kedalam rongganya.


Dari sudut mata duyung malang yang telah tertutup tersebut kemudian nampak keluar berceceran butiran-butiran kristal air mata yang nampak telah mengeras! Sementara mulut sang duyung yang sudah mengatup sempurna itu kini malah membentuk sebuah senyuman kecil! Benar-benar pemandangan yang luar biasa ajaib dan menggetarkan hati! Tak satu pun kru kapal The Promise Land yang tidak meneteskan air mata melihat kejadian ini, termasuk juga sang kapten kapal yang terkenal galak itu.


Melodie yang hatinya paling perasa dan paling peka tentu saja yang paling merasa sedih dan terpukul melihat kejadian ini. Sang gadis sontak langsung meraung keras sejadi-jadinya dan berlari sembari menggendong sang bayi dan langsung menangis menubruk kearah dada Bob Barry!


Sang kapten yang terlihat masih meneteskan air mata itu pun akhirnya hanya bisa membelai pundak sang gadis dan mencoba menenangkannya.


“Sudahlah Mel, kuatkanlah hatimu… Makhluk itu sudah mendengar janjimu dan telah merestuinya… jadi janganlah menjadi lemah seperti ini…”


Tangis sang gadis perlahan mulai mereda manakala dirasanya satu tangan kecil lembut mengusap membelai matanya yang berair. Begitu membuka mata dilihatnya sang bayi duyung nampak tersenyum serta mengerjap-ngerjapkan mata birunya yang terlihat indah menawan tersebut. Tanpa ditahan dan masih dengan suara terisak langsung diciumnya berulangkali wajah bayi yang menggemaskan tersebut, yang kemudian terlihat tertawa lucu karena merasa geli.


“Habis geroak pipi anak itu nanti kau cium-cium begitu Mel…” ucap Bob Barry sambil tertawa.


Mendengar hal itu Melodie sontak menghentikan ciumannya pada si kecil dan langsung memelototkan matanya lebar-lebar kearah sang kapten, namun habis itu sang gadis kembali terlihat asyik menimang si bayi yang lucu menggemaskan itu.


“Nang – ning – nang - ning – nang – ning -nung… anak duyung namanya Nunung… Nang – ning – nang - ning – nang – ning - nung… kalau laki namanya Kenthung…” Senandung sang gadis sambil menimang-nimang si bayi duyung.


Mendengar hal ini Marco yang memang sedang benjol-benjolnya langsung tidak kuasa menahan tawa.


“Bwuuuaaa…ha.ha.ha… Bayi duyungnya di namain Nunung Kenthung! Buseet! Kayak gak ada nama lain lagi Mel?”


Ucapan Marco ini tentu saja langsung menyulut tawa Bob Barry dan yang lainnya.


“Marcoo Jeleek…! Aku kan cuma nyanyi sembarangan! Siapa juga yang mau namain bayi ini dengan nama asal-asalan? Awas yaaa… Kau pokoknya tidak boleh peluk bayi ini…!!” ucap Melodie sembari mendelikan mata kearah Marco


“Jahat…! Bukan cuma kamu doank yang pingin gendong bayi lucu itu Mel! Aku juga mau…! aku sampe benjol babak belur gini buat nyelamatin bayi itu tahu…!” Protes si bengal. Namun sayang protesnya tersebut hanya dibalas juluran lidah oleh sang gadis. Melodie pun kemudian berpaling kearah Bob Barry dan berujar


“Kau saja yang menamai anak ini Bob… Kau kan seorang kapten dan orang yang paling berwenang diatas kapal ini… Aku percaya kau pasti bisa menemukan nama yang paling bagus dan tepat buat anak ini…” Ucap Melodie sembari kemudian menyerahkan bayi dalam pondongannya kedalam pelukan sang kapten.


Bob Barry kemudian mengangkat tubuh bayi tersebut tinggi-tinggi di depan dadanya. Sepasang mata sang kapten kemudian nampak membesar kala menatap menembus jauh kedalam lautan biru kehijauan dimata besar sang bayi yang nampak tertawa dalam pegangannya.


Melihat lautan teduh yang tersembunyi dibalik manik mata makhluk menakjubkan ini, sang kapten kapal The Promise Land ini pun kemudian langsung berkata dengan suara keras dan lantang!


“Hati Samudera…! Kau kuberi nama Hati Samudera nak…” Ucap Bob Barry sambil kemudian terlihat mencium kening sang bayi duyung!


\* \* \*

__ADS_1


__ADS_2