Hati Samudera

Hati Samudera
Kabur!


__ADS_3

Bob Barry berlari di sepanjang koridor sambil memondong Hati Samudera di tangan kanan sementara tangan kirinya terlihat menggenggam erat tangan Melodie. Dengan napas memburu mereka akhirnya sampai juga di depan lift kristal di ujung koridor dan bergegas masuk kedalamnya. Sang Kapten pun kemudian menekan tombol bertuliskan angka sembilan dan lift pun mulai bergerak turun.


Melodie sambil menggigit bibir diam-diam menatap Sang Pemuda yang berdiri diam sambil menimang bayi Hati Samudera yang nampak tertidur lelap dalam pondongannya. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, sang gadis melihat ada begitu banyak luka terpahat di tubuh pemuda satu ini. Dari luka sayatan, luka bacokan, memar dan lebam hingga sampai adanya tanda-tanda bekas perkelahian menggunakan senjata tajam.


Saat pandangan sang gadis membentur tangan kiri Bob Barry yang masih memegang erat tangannya, tanpa terasa mata sang gadis mulai berkaca-kaca.


Tangan kasar yang menggenggam erat jemari halusnya itu terlihat gerompal dan berwarna biru lebam! Dari keempat tulang tinju yang menjorok keluar hampir-hampir tidak terlihat lagi adanya sisa kulit yang menutupinya! Luka separah itu tentunya menimbulkan rasa sakit yang luar biasa namun wajah Bob Barry malah tidak menunjukkan tanda apa-apa seolah semua luka di sekujur tubuhnya itu tidak terasa sakit sama sekali!


“Ka.. Kau datang ke tempat ini… Sampai berkelahi hingga terluka habis-habisan seperti ini… Hanya.. Hanya demi aku Bob…?”


Bob Barry memalingkan wajah dan tersenyum


“Bukan cuma buat kamu lho Mel… Tapi juga buat Samuu.. Dan aku tidak datang sendiri, teman-teman semua juga datang menjemputmu… Mereka semua juga khawatir saat kau tiba-tiba menghilang dari atas kapal tempo hari…”


“Marco… Maikel dan juga Putra?” ucap Melodie seakan tak percaya


“Iya… Semuanya ada… Mereka menungu kita sekarang di lantai sembilan..”


Sang gadis memandang Bob Bary dengan mata membelalak besar. Dirinya benar-benar tak menyangka kalau Bob Barry dan rekan-rekannya ini ternyata sangat mempedulikan dan memperhatikan dirinya sampai-sampai berani datang mempertaruhkan nyawa hanya untuk menjemput dirinya dan Hati Samudera!


“Yahh… Mewek lagi…” ucap Bob Barry seraya tertawa kecil manakala melihat Melodie yang kembali nampak menangis sambil bersandar ke bahunya.


“Sudahlah Mel jangan menangis lagi… Akhir-akhir ini kok jadi cengeng banget sih…”


Sang gadis pun langsung menepuk pelan lengan sang kapten dan nampak cemberut. Melihat hal ini Bob Barry pun langsung tertawa lepas.


“Tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau gadis cantik sekretaris Jefri Kalangit itu ternyata adalah penyamaran seorang anggota Interpol! Benar-benar luar biasa gadis itu… Sendirian berani menyamar seperti itu di tengah sarang macan dan juga harimau…” ucap Bob Barry setelah puas tertawa


Melodie nampak mengangguk sambil menghapus air matanya


“Kau benar Bob, Nona Cella memang gadis yang luar biasa… Aku pun sungguh tak menyangka kalau dirinya adalah seorang anggota Interpol yang sedang menyamar… Kita sungguh berhutang budi kepadanya karena dia sudah membantu kita untuk melarikan diri dari ruangan itu…”


“Ah… Aku harap nona itu dan kedua anggotanya baik-baik saja dan kemudian bisa berhasil meringkus boss besar perusahaan Langit Corporation itu…” Lanjut Melodie


Kening Bob Barry nampak berkerut “Nampaknya tidak semudah itu buat mereka untuk meringkus Jefri Kalangit Mel, dia terlalu licin dan berbahaya! Dari gerakannya mencengkram robek topeng yang dikenakan oleh sekretarisnya tersebut menunjukkan kalau manusia satu itu juga rupanya memiliki ilmu kepandaian yang tidak rendah!”


“Tapi ngomong-ngomong Mel, kenapa kau bawa koper hitam milik Jefri Kalangit itu…? Aku juga tadi kok tidak melihat saat kau mengambilnya?” tanya Bob Barry dengan kening berkerut saat melihat tangan kiri Melodie nampak menggenggam koper hitam yang sebelumnya dilempar oleh Bodyguard Jefri Kalangit ke kakinya itu.


Melodie melihat tas hitam yang dipegang dengan tangan kirinya sesaat lalu kemudian nampak tertawa.


“Bukankah Jefri Kalangit sudah memberikan Tas ini kepadamu Bob…? Sayang kan kalau ditinggal begitu saja… Selain itu kan ini memang sudah menjadi hak mu dan rekan-rekan lainnya yang sudah bekerja keras untuk menemukan koper Titanium itu… Iyakan…??”


“Hmm… Iya juga sih…” ucap Bob Barry setelah berpikir sesaat


“Nah.. Benar kan? Tapi kalau kau tidak menginginkannya yaaaa aku ambil sajaa…! Kan aku juga turut berpastisipasi menemukan koper ini… He.he.he…” Sambung sang gadis sambil kemudian tertawa dan menjulurkan lidahnya kearah Bob Barry.


Rupanya keceriaan sang gadis akhirnya kembali muncul setelah dirinya bisa bertemu dan berkumpul lagi dengan Sang Kapten.


Setelah bersenda gurau beberapa saat didalam lift, akhirnya Bob Barry dan Melodie pun sampai juga dilantai sembilan. Keduanya pun kemudian beranjak keluar dari lift dan berlari kearah Jembatan besi di tengah Aquarium.


Begitu sampai diatas jembatan, keduanya sontak terkejut besar manakala melihat kondisi air Aquarium yang nampak berputar kencang bagaikan angin putting beliung!


Dan yang paling mengejutkan keduanya, ditengah aquarium yang sedang bergejolak tersebut, terlihat Marco dan juga Maikel berenang berputar-putar sambil mati-matian berusaha menghindari mata pusaran agar tidak terseret masuk!


“Apa yang kalian lakukan sampai terputar-putar model begitu…?” teriak heran Sang kapten kala melihat kondisi dua rekannya yang terlihat menyedihkan seperti gula di mesin arum manis itu.


Sang kapten kemudian menyerahkan Hati Samudera kepada Melodie dan kemudian berlari menggapai dua buah jerigen kosong yang berada didekat situ dan kemudian melemparkannya kearah Marco dan Maikel yang terputar-putar lemah didalam Aquarium.


Keduanya pun kemudian berhasil menggapai dua buah jerigen kosong tersebut dan berpegangan erat pada badan jerigen. Usaha ini sungguh sangat membantu karena walaupun masih berputar-putar namun setidaknya jerigen kosong tersebut sangat membantu keduanya untuk tetap mengapung dan tidak terseret tenggelam kedalam mata pusaran.


“Kapteeen… Melodieee….” Ucap lemah keduanya dari atas jerigen yang masih berputar-putar.


“Dimana Putra…? Kenapa aku masih belum melihatnya…?”


“Putra masih di dasar Aquarium Kept, dia masih menggiring hiu-hiu putih raksasa itu agar mau masuk kedalam pusaran!” Jawab Marco dari atas jerigen kosong.


Sebenarnya bagaimana bisa Putra Gilang sampai tiba-tiba muncul di gedung Langit Tower? Apa yang sebenarnya dia lakukan sehingga baru muncul sekarang?


Jadi begini Kawan, Sebelum para kru kapal The Promise Land ini berangkat menuju Jakarta, Bob Barry dan rekan-rekannya rupanya sudah saling mengatur siasat dan membagi tugas masing-masing.


Jika Bob Barry dan kedua rekannya bertugas untuk menerobos kedalam gedung dan merebut Melodie serta Hati Samudera, maka tugas Putra Gilang adalah untuk mempersiapkan dan membuka jalan keluar bagi rekan-rekannya melalui terowongan bawah tanah yang menghubungkan Aquarium raksasa gedung Langit Tower dengan lautan lepas!


Beberapa saat sebelum Bob Barry dan kedua rekannya memasuki gedung milik Jefri Kalangit ini, Putra Gilang rupanya telah terlebih dahulu bekerja keras didalam laut untuk membongkar dan mengelas jeruji dan filter besi yang menutup lubang terowongan bawah tanah yang terdapat di samping kanal banjir selatan kota Jakarta ini.


Dalam pekerjaannya, Putra Gilang dituntut untuk harus bekerja cepat dalam membongkar lajur-lajur besi dan membersihkannya keluar dari dalam terowongan yang setengah terendam air laut itu agar menghindari terjadinya cedera saat proses keluarnya Bob Barry dan rekan-rekannya nanti.


Beruntung dengan adanya lapisan pelindung pakaian selam Posseidon’s Armor, Sang Mekanik kapal The Promise Land ini menjadi lebih mudah untuk mengangkat berbagai lajur besi yang telah dilepasnya untuk kemudian ditempatkan di laut lepas yang lebih aman.


Setelah berhasil melepas lajur-lajur besi penahan dalam terowongan, Putra Gilang sambil membawa peralatan las bawah airnya kemudian berenang di dalam terowongan yang cukup besar itu hingga akhirnya sampai di ujung terowongan yang merupakan sebuah panel baja bulat besar yang terhubung langsung dengan Aquarium raksasa didalam gedung Langit Corporation! Putra pun kemudian mempersiapkan alat lasnya dan mulai melakukan pengelasan guna membuka paksa panel baja yang terkunci dari sebelah dalam itu. Setelah mengelas di beberapa titik, tiba-tiba Pintu Panel tersebut terhempas keras hingga hampir saja mengenai tubuh Putra Gilang! Tekanan dari air yang berada dalam Aquarium pun langsung menerpa keluar terowongan hingga akhirnya menciptakan pusaran dahsyat di dalam Aquarium!


Sang Pemuda pun kemudian terlihat berupaya memasuki lubang panel baja yang sedang menyemburkan air dengan tekanan cukup keras tersebut dan tidak memakan waktu yang lama, Putra pun akhirnya berhasil menembus terjangan air yang sangat deras itu dan kini telah berada di dasar Aquarium!


Kekuatan Hidro Skeleton Sintetis yang terkandung pada lapisan Pertama cairan Y-Flub beserta Helm Posseidons’ Armor benar-benar sangat membantu Putra Gilang dalam melawan tekanan arus yang menerjang keluar dari dalam lubang panel Aquarium. Kembali lapisan pelindung ciptaan Marco Ferdinand ini memberikan manfaat yang tidak sedikit bagi rekan-rekannya.


Putra pun kemudian mulai berenang ke permukaan aquarium sambil menjauhi pusaran air yang bergerak liar, namun gerakannya mendadak tertahan oleh serangan tiba-tiba dari tujuh ekor hiu putih raksasa yang menyerangnya secara bersama-sama! Rupanya keributan di gedung Langit tower membuat para penjaga aquarium raksasa ini lupa memberi makan hewan-hewan buas yang berada di dalam Aquarium ini hingga menjadi kelaparan dan berubah ganas!


Walaupun dilindungi oleh lapisan pelindung Posseidon’s Armor hingga dirinya tidak mendapat luka, namun serangan keroyokan tujuh ekor hiu putih ganas ini tentu saja membuat sang Pemuda menjadi sangat kerepotan! Dua ekor ikan hiu putih ini memang kemudian berhasil ditangkap ekornya oleh Putra dan dilempar kedalam pusaran hingga akirnya tersedot keluar terowongan, namun kelima ekor hiu lainnya malah menjadi semakin buas dan menyerang Pemuda kru kapal The Promise Land ini dengan serangan gigi-gigi tajam laksana pedang! Sementara itu Maikel dan Marco yang terputar-putar lemah diatas permukaan juga sebenarnya melihat bagaimana Putra Gilang rekan mereka harus sendirian menghadapi keroyokan hiu-hiu putih yang ganas itu di dasar Aquarium, namun mereka tak kuasa memberikan bantuan karena sadar tidak mengenakan pakaian pelindung.


Pada saat itulah datang Bob Barry beserta Melodie yang langsung memberikan pertolongan kepada Maikel dan Marco dengan cara melemparkan dua buah jerigen kosong


“Kau pegang dulu Samuu Mel, aku akan pergi membantu Putra dibawah sana…” ucap Bob Barry sambil menyerahkan sang bayi kedalam pelukan Melodie.

__ADS_1


“Berhati-hatilah Bob, dan kembalilah dengan selamat… Aku dan Samuu menunggumu disini…” ucap khawatir sang gadis yang langsung dibalas oleh anggukan kepala sang pemuda.


Bob Barry pun kemudian kembali meloloskan belati komet dari balik jaketnya yang penuh robekan itu dan langsung melompat ketepi aquarium. Dengan gesit sang pemuda kemudian menyelam ke dasar Aquarium dengan membawa belati yang karena terkena air laut kini kembali terlihat memancarkan cahaya dan hawa panas kebiruan!


Seperti halnya juga makhluk-makhluk Duyung yang berada di dasar Ceruk Serena, Hiu-hiu putih raksasa ini rupanya juga langsung terlihat takut dengan aura dan perbawa yang keluar dari belati kecil yang dibawa Oleh Bob Barry sehingga kemudian terlihat berenang berserabutan menjauhi Sang Kapten. Putra Gilang sendiri setelah terbebas dari keroyokan hiu-hiu putih ganas tersebut kemudian berenang kearah Bob Barry dan langsung memberikan satu unit alat bantu pernapasan BigMouth dari dalam tas kecil yang tergantung di pinggangnya.


Setelah mengenakan Bigmouth yang diberikan oleh Putra, Kapten kita ini pun kemudian bekerjasama dengan sang mekanik kapal The Promise Land ini saling bahu-membahu menggiring Hiu-hiu dan hewan lain yang tersisa untuk masuk kedalam pusaran air. Dengan adanya bantuan belati bintang jatuh yang ditakuti oleh para hewan laut ini, maka tidak lama kemudian Putra dan Bob Barry pun akhirnya berhasil menggiring semua hewan yang berada didalam Aquarium untuk keluar melalui pusaran air.


Setelah itu keduanya pun berenang naik ke permukaan melalui tepian aquarium yang agak sedikit jauh dari mata pusaran air. Setibanya dipermukaan, Putra pun kemudian mulai membagi-bagikan beberapa unit alat bantu pernafasan BigMouth yang dibawanya kepada Marco, Maikel dan juga Melodie untuk kemudian kembali bersiap turun menyelam kedasar Aquarium.


“Bob, walaupun tubuhnya lebih besar dan perkembangannya lebih cepat dari bayi manusia, namun aku rasa Samuu masih terlalu kecil untuk bisa melewati arus deras pusaran air dibawah sana… Apakah kau ada ide…?” ucap Melodie tiba-tiba kepada sang kapten.


Bob Barry pun dengan kening berkerut memandang sang bayi dan kemudian mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Begitu matanya tertumbuk pada dua jerigen kosong yang sebelumnya dipakai oleh Marco dan Maikel untuk mengapung di permukaan Aquarium sang kapten pun kontan bersorak kegirangan.


“Ah… Pakai ini saja! Ini Pasti bisa kita pergunakan Mel!”


Bob Barry pun kemudian memotong mulut salah satu jerigen dengan belati yang dimilikinya dan kemudian melipat irisan mulut jerigen tersebut sehingga bisa dibuka tutup.


“Kita masukan Samuu kedalam jerigen ini sebelum kita menyelam menembus arus dibawah sana Mel, aku sangat yakin jerigen ini cukup tebal dan mampu bertahan menghadapi tekanan arus dibawah sana…”


“Kau Jenius Bob! Ini benar-benar usul yang bagus…!” girang Melodie.


Sang gadis pun kemudian dengan dibantu oleh Bob Barry kemudian memasukkan Samuu kedalam Jerigen.


“Diam dulu disitu ya Samuu… Setelah keluar dari sini kita main lagi ya nak….” Ucap Sang gadis seraya memandang dan mengusap kepala sang bayi duyung yang terlihat tertawa-tawa di dalam jerigen.


Bob Barry pun kemudian menerima jerigen yang berisi bayi Hati Samudera dari tangan Melodie dan langsung mengajak rekan-rekannya untuk menyelam melalui tepian Aquarium. Rombongan sang kapten pun akhirnya mulai menuruni Aquarium setinggi sembilan lantai ini dengan berusaha sedapat mungkin untuk menghindari tarikan pusaran air.


Setelah beberapa saat menyelam, akhirnya sampai jugalah mereka di dasar Aquarium yang merupakan Basement gedung Langit Corporation ini. Bob Barry kemudian memberikan tanda kode melalui gerakan jari kepada Putra Gilang yang langsung dibalas dengan anggukan kepala oleh sang pemuda. Putra pun kemudian terlihat berenang mendekat kearah panel lubang yang sedang dilewati aliran air yang membentuk pusaran kencang maha dahsyat itu. Setelah sampai di samping panel lubang, pemuda satu ini kemudian melakukan hal yang luar biasa! Dengan kedua tangan dan kedua kakinya Putra kemudian nampak memasang kuda-kuda dan menahan pinggiran lubang sehingga menghalangi pusaran air yang menerobos keluar!


Hal ini tentu saja membuat pusaran air kemudian mulai melemah sehingga memudahkan Bob Barry dan yang lainnya untuk berenang mendekat kearah lubang panel dan kemudian menyusup keluar melalui celah tubuh Putra Gilang! Setelah memastikan rekan-rekannya sudah keluar dari Aquarium raksasa dan telah berada di dalam terowongan, Putra pun kemudian melepaskan pegangannya dan meloloskan diri dari lubang panel bersama arus air yang kembali melaju kencang. Rombongan Bob Barry pun akhirnya berenang di sepanjang Terowongan yang cukup panjang itu hingga akhirnya sampai di laut lepas.


Kita tinggalkan dulu Kapten Barry dan rekan-rekannya yang sedang berenang menuju kapal The Promise Land yang rupanya membuang sauh di dekat mulut terowongan bawah tanah milik perusahaan Langit Corporation itu. Ada baiknya kita kembali melihat apa yang terjadi di lantai teratas gedung Langit Tower.


Tepat seperti yang dikatakan oleh Bob Barry sebelumnya, bukanlah satu hal yang mudah untuk meringkus dan melumpuhkan Sang Boss besar perusahaan Langit Corporation ini.


Ditengah ruangan kaca yang berantakan nampak dua orang anggota Interpol bersama sang Komandan, Cella Natalia dengan kewalahannya bertarung mengerubuti Jefri Kalangit yang terlihat mengamuk beringas dengan sepasang cakarmya! Tubuh para anggota Interpol ini nampak penuh luka akibat cakaran Jefri Kalangit, sementara potongan sobekan rompi dan patahan senjata api serta pisau komando nampak berserakan setelah berhasil direnggut paksa oleh sang Bigg Boss yang ternyata memiliki kemampuan beladiri layaknya siluman ini!


Sebenarnya sudah sejak lama Interpol menaruh curiga akan sepak terjang pengusaha terkenal asal indonesia ini. Sang pengusaha selama ini memang dikenal sebagai pemasok bahan baku persenjataan militer kelas dunia, namun dirinya rupanya juga dicurigai oleh pihak Interpol menjual bahan baku senjata pemusnah massal dan juga senjata berhulu ledak nuklir di pasar gelap!


Puncaknya adalah saat terjadinya kasus pencurian satu kilogram tabung kaca berisi bahan radioaktif Californium-252 yang tersimpan di Universitas Barkley California dan satu tabung kaca lagi yang juga berisi satu kilogram Californium-252 dari sebuah universitas di Warsawa, Polandia.


Petunjuk-petunjuk yang tertinggal dan berhasil dikumpulkan oleh Pihak FBI dan Interpol kemudian mengarah kepada pengusaha sukses asal Indonesia ini. Hal inilah yang membuat Interpol kemudian mengutus salah satu anggota terbaiknya yaitu Cella Natalia untuk menyusup dan melakukan penyamaran di dalam perusahaan Langit Corporation.


Paras cantik dan kemampuan intelektual yang memadai membuat sang gadis kemudian dengan mudahnya diterima dan menduduki posisi sekretaris yang kebetulan saat itu memang sedang kosong. Sekian lama menyamar sebagai sekretaris, Cella Natalia terus berusaha untuk mencari informasi dan petunjuk tentang keberadaan bahan radioaktif yang dicurigai oleh Interpol dicuri dan disembunyikan oleh Jefri Kalangit ini.


Keberuntungan rupanya kemudian sampai juga di tangan sang gadis manakala pada satu hari, Jefri Kalangit melakukan transaksi rahasia dengan para pembeli dari pasar gelap yang dilakukan diatas kapal pesiarnya yang membuang sauh tepat diatas perairan pulau Serena. Karena keteledoran sang miliarder, koper Titanium berisi barang berharga dengan nilai trilyunan rupiah yang sedang di perdagangkan oleh Jefri Kalangit tersebut terjatuh kedalam laut tanpa sepengetahuan para pembeli dari pasar gelap yang berada di kapal itu!


Karena hal inilah, Jefri Kalangit pun lalu membatalkan proses jual beli dan mengutus Mario Kaontole untuk sedapat mungkin menemukan orang-orang yang kiranya bisa mengangkat koper tersebut dari dalam laut. Hal ini semua tentu tidak lepas dari pengawasan Cella Natalia yang diam-diam selalu membuntuti dan mengawasi boss besarnya di perusahaan Langit Corporation ini. Sang gadis pun kemudian melapor kepada atasannya dan mulai menyusun rencana penyerbuan yang ternyata kebetulan jatuh tepat bersamaan dengan datangnya Bob Barry dan rekan-rekannya ke gedung Langit Tower!


“Makan cakarku ini pengkhianat keparat!” teriak geram Jefri Kalangit seraya menerkam kearah Cella Natalia dengan sepasang cakar terkembang!


Sang gadis tentu saja tidak ingin wajah cantiknya kembali terkena cakaran untuk yang kedua kalinya! Oleh karenanya Cella Natalia pun segera membuang tubuhnya kearah kiri sambil menendangkan kakinya menyampok lengan sang Big Boss dari arah samping!


Melihat datangnya serangan tendangan menyerong sang gadis komandan Interpol, bukannya menghindar Jefri Kalangit malah dengan geramnya kemudian merobah gerakannya dan menangkap kaki Cella Natalia kemudian ditariknya untuk dibantingkan keatas lantai! Sang gadis yang berhasil tertangkap kakinya ini kontan saja menjadi panik!


“Lepaskan tanganmu dari Komandan…!” teriak panik dua orang bawahan Cella Natalia sambil menubruk kearah Jefri Kalangit yang dengan telak berhasil meringkus sang gadis.


“Enyah…!” bentak Jefri Kalangit sambil memutar kakinya menendang secara bersamaan kedua orang anggota Interpol tersebut hingga terpental telak membentur dinding kaca!


“Mati Kau gadis Pengkhianat…!!!” Teriak Sang Miliarder seraya bersiap membanting tubuh mungil sang gadis keatas lantai Granit!


Gawat! Ini benar-benar berbahaya…!


Sedetik lagi tubuh Cella Natalia akan menghantam lantai granit, tiba-tiba dari beberapa utas tali yang terjulur di luar jendela yang pecah, melesat turun beberapa orang anggota Interpol lainnya yang kemudian serempak menyerbu dan menarik jatuh tubuh Jefri Kalangit!


“Kau tidak apa-apa Komandan…?” ucap salah seorang anggota Interpol yang membantu Cella Natalia untuk berdiri.


“Terima kasih… Aku tidak apa-apa… “ ucap sang komandan sambil membenahi rambut dan pakaiannya yang terlihat kusut akibat perkelahian dengan mantan Bossnya itu.


“Jefri Kalangit! Cepat katakan dimana Koper Titanium berisi bahan radioaktif itu kau simpan!” bentak Cella Natalia sambil berlutut di samping Sang Boss Besar yang kini nampak tengkurap tak berkutik karena ditindih enam orang anggota Interpol berbadan besar.


“Cuiiih…” bukannya menjawab pertanyaan Sang Miliarder malah meludah keras kearah mantan sekretarisnya ini!


Beruntung Cella Natalia yang sudah menduga hal ini selalu berada dalam keadaan waspada, hingga bisa berkelit dari ludahan mantan bossnya ini.


“Geledah setiap jengkal tempat ini dengan teliti dan jangan lupa untuk mengumpulkan setiap berkas dan laporan untuk dijadikan barang bukti… Aku yakin koper Titanium itu pasti disimpan diruangan ini…” perintah Cella Natalia kepada anak buahnya.


“Siaaap Komandan..!” hormat seluruh anggota Interpol kepada sang gadis sebelum akhirnya berpencar meneliti seluruh jengkal kantor mewah milik Jefri Kalangit ini.


“Kalian akan menyesal telah melakukan semua ini…! Kau, Bob Barry dan gadis ahli biologi kelautan itu! Aku bersumpah kalian semua akan merasakan pembalasanku…! Tunggu saja waktunya…!” teriak geram Jefri Kalangit dengan mata berkilat penuh dendam!


Sementara itu, dua hari setelah peristiwa penangkapan Jefri Kalangit oleh petugas Interpol, diatas kapal The Promise Land nampak Melodie sambil menggendong Hati Samudera menceritakan setiap kejadian yang terjadi sejak dirinya menghilang dari atas kapal beberapa hari yang lalu.


“Begitulah Bob, aku terpaksa diam-diam menaruh obat tidur kedalam air minum kalian pada malam itu atas perintah Mario dan kemudian saat kalian telah terlelap, aku mengikuti tangan kanan Jefri Kalangit itu turun dari kapal dan terbang menggunakan jet pribadi miliknya langsung menuju Jakarta…”


“Disana Jefri Kalangit langsung terperangah kala melihat Samuu dan langsung merebutnya dari tanganku… Aku… Aku melihat sendiri kala mereka melakukan percobaan-percobaan dan pemeriksaan yang membuat Samuu menangis dan berteriak kesakitan… Aku jadi teringat akan sumpahku kepada ibu Samuu… Aku telah berjanji tidak akan membiarkan seorangpun menyakiti dan membuat Samuu menangis… Oleh karenanya aku pun kemudian berbohong kepada Jefri Kalangit dengan mengatakan kalau dibawah Piramida bawah laut di ceruk Serena tersebut, tertimbun emas dan permata yang tak terkira jumlahnya! Aku pun mengancam dengan mengatakan bahwa hanya aku dan dirimulah yang mengetahui jalan masuk kedalam Piramida itu…”


“Dengan modal cerita bohong inilah akhirnya aku berhasil meyakinkan dan meminta kepada Jefri Kalangit untuk menghentikan penelitian ilmuwan-ilmuwannya atas Samuu dan memberikan Samuu kembali padaku… Maafkan aku Bob.. Maafkan aku teman-teman… Aku sudah menyusahkan kalian…” tutup Melodie sambil menunduk kearah Bob Barry dan rekan-rekannya dengan air mata menetes di pipi


“Kau tidak bersalah dalam hal ini Mel, semua yang kau lakukan adalah demi melindungi Samuu… Aku dan teman-teman sama sekali tidak menyalahkanmu atas semua kejadian ini… Benar begitu bukan teman-teman?” ucap Bob Barry yang langsung diamini riuh oleh rekan-rekannya.

__ADS_1


Sang gadis langsung tersenyum sembari menghapus berkas air matanya.


“Terima kasih kasih teman-teman… Kalian orang-orang yang baik, padahal aku sudah menyusahkan kalian hingga sampai semuanya terluka seperti ini…” ucap Melodie sembari menatap Bob Barry dan rekan-rekannya dengan pandangan haru


“Ralat Non… Cuma mereka bertiga yang terluka, sementara aku sendiri tidak tergores sama sekali tuh..! Tapi tidak apa-apa Mel… Benar kata Kapten, jangan terlalu merasa bersalah… Mereka bertiga ini memang sudah dirancang dan tercipta untuk terluka dan selalu disakiti… Tidak seperti saya…” ucap Putra Gilang sambil menahan tawa


Mendengar hal ini kontan saja Maikel dan Marco langsung melompat dan memiting sahabat besarnya ini dan menghujaninya dengan kelitikan disekujur tubuh!


“Apa kau bilang Put? Kami tercipta untuk terluka dan disakiti? benar-benar kurang ajar…! Marco! Kelitiki dia lebih keras! Jangan dikasih Ampun!” teriak Maikel sambil menggelitiki tubuh gempal Putra gilang hingga sang pemuda berkoak-koak minta ampun kegelian!


“Beres Kel! Pokoknya harus sepadan dengan penderitaan kita-kita!” ucap Marco seraya memeluk erat kaki Putra gilang dan kemudian melempar sendal sang kepala kamar mesin itu dan langsung menggelitiki telapak kakinya!


Pemuda yang malang… Maikel dan Marco dengan kejam menyiksanya dengan cara menggelitiki sekujur tubuh sang pemuda sampai Putra akhirnya tertawa sambil mengeluarkan airmata saking tidak kuasanya menahan geli!


Benar-benar rekan yang jahat!


Melihat tingkah konyol rekan-rekannya ini, Bob Barry dan Melodie pun langsung tertawa terpingkal-pingkal. Dan yang paling menggemaskan adalah saat melihat Melodie dan Bob Barry tertawa, Samuu sang bayi duyung pun juga ikut-ikutan tertawa! Benar-benar menggemaskan!


Setelah puas tertawa, Bob Barry pun kemudian menatap dengan pandangan sedih kearah bayi lucu yang kini berada dalam gendongan Melodie dan sedang dihujani ciuman ini.


“Sayang.. Benar-benar sangat disayangkan…”


“Sayang kenapa Bob…?” tanya Melodie heran


“Sayang waktu kita di gedung itu sangat terbatas… Kita jadi tidak bisa membawa pulang jasad ibu Hati Samudera bersama-sama dengan kita… Itulah yang aku sangat sayangkan Mel…” ucap Bob Barry sambil menghembuskan nafas berat.


“Ma.. Maksudmu apa Bob…? Aku dan Mario tidak membawa Jasad Ibu Samuu bersama-sama dengan kami kala itu…!” Seru Melodie tegang


Mendengar perkataan ini Bob Barry dan yang lainnya nampak saling berpandangan dengan penuh rasa keterkejutan!


“Bagaimana bisa Mel? Jelas-jelas jasad makhluk itu hilang bersama-sama dengan hilangnya kalian malam itu…” Tanya Bob Barry


“Apa betul kalian tidak membawanya? Atau mungkin kau tidak menyadari saat orang bule itu membawa jasad duyung itu diam-diam…” tanya Maikel kali ini


“Tidak Mungkin! Aku selalu bersama-sama dengannya dalam perjalanan kembali menuju Jakarta! Lagian kalau mereka memang mengambil jasad itu, aku harusnya tahu karena kami menaiki pesawat yang sama! Di dalam pesawat jet itu sama sekali tidak ada muatan besar atau hal lain yang mencurigakan …!”


“Kalau begitu siapa yang mencuri jasad itu…? Tidak mungkin kan jasad itu berjalan sendiri kemudian melompat keluar dari kapal…” Ucap Marco sambil bergidik merinding


“Jika memang demikian maka hanya ada satu kemungkinan yang paling masuk akal…” kali ini Putra Gilang yang angkat suara dengan kening berkerut.


Semuanya sontak memandang sang pemuda dengan pandangan menuntut penjelasan


“Jasad duyung itu pasti diambil oleh Makhluk-makhluk penghuni ceruk itu sesaat setelah Melodie dan orang bule itu meninggalkan kapal..! mereka memanfaatkan kelengahan kita yang tertidur lelap untuk menjemput dan mengambil kembali jasad kaum mereka..” ucap Putra kemudian.


Mendengar hal ini Bob Barry dan yang lainnya kontan terdiam dan berusaha mencerna dalam hati apa yang dikatakan oleh Putra Gilang. Jika memang Melodie dan Mario Kaontole tidak membawa Jasad Duyung tersebut maka yang bisa melakukannya memang sudah pasti adalah Makhluk-makhluk duyung yang berada tidak jauh di dasar laut dibawah mereka.


“Melodie…” ucap sang kapten tiba-tiba


“Ya? Kenapa Bob…?” jawab Melodie sambil menatap kearah Bob Barry yang tadi menyebut namanya. Namun bukannya menjawab, sang Kapten malah kemudian nampak kembali menatap sedih kearah Samuu yang berada dalam pelukannya.


Semula sang gadis tidak mengerti apa yang dimaksud oleh sang kapten dengan tatapan sedihnya, namun kemudian akhirnya Melodie sadar juga. Bob Barry rupanya tidak melanjutkan ucapannya karena tidak ingin mengulang kembali pertengkaran yang terjadi antara mereka berdua sesaat sebelum sang gadis menghilang dari atas kapal tempo hari.


Jika benar jasad duyung itu memang diambil oleh para Makhluk di dasar ceruk Serena, maka sudah pasti mereka tentu juga ingin agar bayi ini dikembalikan bersama mereka! Inilah yang membuat Melodie benar-benar sedih, karena sang gadis sudah benar-benar jatuh cinta dan menyayangi bayi duyung ini selayaknya menyayangi anaknya sendiri!


Namun disisi lain, Melodie juga menyadari akan bahaya yang mengintai diri sang anak duyung jika terus berada bersama mereka. Pengalaman di gedung Langit Tower kala melihat Samuu berteriak dan menangis kesakitan saat diteliti dan menjadi objek percobaan oleh para ilmuwan dan peneliti bayaran Jefri Kalangit akhirnya membuka lebar-lebar mata sang gadis .


Dengan hati pedih sang gadis pun nampak terdiam sambil memeluk erat sang bayi duyung di dadanya. Sungguh! Sangat berat baginya buat melepas bayi ini… Namun sang gadis juga sadar akan lebih berat lagi konsekuensi yang akan dihadapi jika dia tidak mau melepas bayi itu kepada kaumnya…


Benar-benar sebuah dilema…


Melihat Melodie yang mendadak diam membisu sedemikian rupa, semua yang ada disitu pun akhirnya hanya bisa ikut terdiam dan tenggelam dalam alam pikirannya masing-masing. Sehingga untuk beberapa saat, ruangan makan itupun mendadak berubah menjadi hening dan sunyi. Namun kesunyian itu mendadak pecah kala terdengar satu suara nyaring yang rupanya bersumber dari telepon satelit yang terlihat menempel di dinding kapal.


Maikel yang berada paling dekat dengan telepon langsung menyambar gagang telepon satelit tersebut dan mengucapkan salam. Setelah beberapa saat mendengarkan suara dari seberang telepon, wajah pemuda bertopi kupluk ini tiba-tiba terlihat berubah tegang! Sang pemuda kemudian menggantungkan kembali gagang telepon pada tempatnya di dinding dengan tangan bergetar.


“Guys, a.. aku.. aku punya kabar buruk buat kalian…” ucap sang pemuda dengan tegang dan sedikit gugup


“Para Pengacara Jefri Kalangit berhasil mendesak pengadilan untuk mengeluarkan klien mereka itu dari penjara! Jefri Kalangit bebas dari tahanan…!” sambung Maikel yang langsung membuat kehebohan!


“Astaga…!!! Bagaimana bisa begitu..? Alasannya apa…?” teriak Bob Barry tak percaya!


“Interpol tidak berhasil menemukan koper Titanium yang dituduhkan dan barang bukti apapun yang memberatkan… Hal inilah yang membuat pria itu bisa melenggang bebas sedemikan mudahnya…” desah Maikel Stefen.


“Bedebah Licik…! Benar-benar licin orang kaya itu…!” Gemas Marco Ferdinand sambil mengepal mukulkan tinjunya berulangkali


“Jadi sekarang bagaimana baiknya Kept?” tanya Putra sambil memandang Bob Barry yang nampak mengusap-usap mukanya yang nampak mengelam.


“Kita tetap pada tujuan semula Put, namun entah mengapa firasatku mengatakan bahwa manusia satu itu pasti sudah mempersiapkan sesuatu untuk kita… semoga saja cuma firasatku saja yang salah… namun begitu kita harus tetap berjaga-jaga dan tetap waspada…” ucap sang kapten dengan wajah murung.


“Bagaimana ini..? Aku… Aku benar-benar takut Bob…” Ucap Melodie dengan tubuh bergetar


“Jangan khawatir Mel, apapun yang terjadi nanti, aku berjanji kita akan selalu bersama… Aku dan yang lainnya akan selalu berjaga disini… Tidak akan kami biarkan satu orang pun merebut kembali Samuu dari pelukan kita… Aku Berjanji…” hibur sang kapten kepada Melodie.


Prediksi Sang Kapten pun kemudian akhirnya terbukti benar. Sore harinya saat kapal The Promise Land baru saja memasuki perairan selat Lembeh, kapal mereka sudah dihadang oleh dua kapal cepat kecil yang memaksa mereka untuk berlabuh di pelabuhan Samudera Bitung!


Begitu kapal ekspedisi penyelaman ini disandarkan di pelabuhan, puluhan orang berjas dan berjaket hitam langsung berupaya menaiki kapal dan menerobos masuk kedalamnya! Kembali keributan dan perkelahian yang tak terelakan terjadi antara orang-orang tersebut melawan Maikel, Marco dan juga Putera yang berada diatas kapal!


Dan Saat terjadi keributan itulah dari haluan kapal tiba-tiba terdengar suara menderu memekakkan telinga disusul dengan melesatnya keluar sebuah motor lawas besar!


Orang-orang yang berada di pinggir dermaga kontan langsung berhamburan panik kala melihat seorang pemuda dan seorang gadis yang terlihat memeluk sesuatu, tiba-tiba secara mengejutkan melompat keluar dari dalam kapal dengan mengendarai sebuah motor dan nyaris menabrak mereka! Diiringi dengan sumpah serapah, motor yang dikemudikan oleh Bob Barry tersebut kemudian akhirnya nampak melaju kencang meninggalkan pelabuhan yang ramai itu.


 

__ADS_1


\*


 


__ADS_2