
Sore harinya diruang makan yang juga berfungsi sebagai ruang pertemuan kru kapal The Promise Land ini, Melodie nampak dengan gembira menyuapi Hati Samudera dengan campuran ******* ganggang laut dan daging ikan yang telah disaring sebelumnya. Komposisi ini sendiri didapat setelah dirinya dan Maikel Stefen yang sama-sama memiliki latar belakang berbasis pendidikan biota laut ini meneliti cairan lendir kehijauan yang terdapat di dalam rahim Ibu Hati Samudera.
Hasil yang mereka berdua dapat ternyata menunjukkan bahwa cairan lendir kehijauan tersebut ternyata merupakan cairan nutrisi yang sebagian besar terbentuk dari pati ganggang laut dan juga protein hewani. Maikel Stefen dengan dibantu Marco Ferdinand kemudian mengumpulkan ganggang laut dan ikan-ikan kecil secukupnya untuk dilumat dan disaring menjadi cairan makanan dan kemudian diberikan kepada Melodie untuk diberikan kepada bayi kecil Hati Samudera. Sang bayi pun nampak dengan lahapnya memakan habis setiap suapan yang diberikan oleh gadis ahli biologi kelautan ini.
“Lahap benar makannya ya Mel… Kalau dilihat dari nafsu makannya yang seperti ini, sungguh tidak kelihatan kalau bayi ini baru beberapa jam tadi dilahirkan…” ucap Bob Barry
“Ia Bob, nafsu makan anak ini memang sangat besar… mungkin karena dirinya kelelahan meronta-ronta dalam perut sang ibu tadi pagi sehingga sekarang akhirnya jadi kelaparan… dan coba lihat! Bayi ini terlahir sudah memiliki gigi-gigi kecil runcing namun lucu…!” ucap riang sang gadis sambil terus menyuapi dan bermain dengan sang bayi yang berada dalam baskom berisi air laut.
Karena diberi nama Hati Samudera oleh Bob Barry, Melodie dan yang lainnya pun kemudian sepakat untuk memanggil sang bayi dengan nama panggilan “Samuu” dan lucunya bayi ini akan selalu tertawa dan berpaling lucu menggemaskan setiap kali namanya dipanggil! Seolah-olah bayi ini mengerti dan menyenangi nama yang diberikan kepadanya.
“Oh ia… Omong-omong Maikel, apa kau sudah menaruh jasad ibu Hati Samudera ke dalam peti pendingin…?” tanya Bob Barry beberapa saat kemudian.
Maikel Stefen yang saat itu sedang terlihat mengusap-usap benjolan di kening Marco dengan kain kasa langsung membalas sigap.
“Sudah Kept! Tadi aku dan Melodie langsung memasukkan makhluk itu kedalam peti pendingin setelah kami selesai mengambil sampel yang diperlukan…”
“Aduuuh…! Pelan-pelan Kel! Sakit tahu…!” jerit Marco tiba-tiba kala dirasanya Maikel Stefen agak keras menekan benjolan pada keningnya
“Tahan sedikitlah Co! jangan mewek gitu kayak anak kecil…! Ucap Maikel sembari kembali mengusap-usap Benjolan di kepala si bengal dengan kain kasa yang telah dicelup pada minyak jelantah sebelumnya.
“Pelan-pelan Brooo… Pelan-pelannnnn…..!” desis Marco sambil meringis menahan sakit.
“Iyaa… Iyaaa… Ini juga sudah pelan! Bawel amat sih…” ucap Maikel sambil terus melakukan usapan-usapan pada benjol yang malang tersebut
“Nah… Sekarang sudah selesai…!” ucap Maikel seraya memandang hasil karyanya dengan pandangan puas.
“Sudah Kel? Tapi kok benjolannya terasa masih ada ya? Perasaan kok tidak kempes-kempes ya…?” ucap Marco sembari meraba-raba benjol dikeningnya yang kini terasa licin oleh minyak jelantah itu.
“Ya memang kalau cuma pakai minyak jelantah saja tidak akan kempes benjolannya Bro…!” ucap Maikel Stefen serius.
“Te.. Terus apa gunanya tadi benjol ku kau usap-usap pakai minyak bekas goreng bawang itu…?” tanya Marco penasaran.
“Ya biar cuma kelihatan mengkilap…! Kan Tjakeep Bro…! Jadi lebih terlihat Blink-blink Macho kinclong kayak batu bacan gitu cooy…!” ucap Maikel dengan nada seakan tak berdosa.
Untuk sesaat si bengal kita ini nampak terpana mendengar penjelasan si pemuda bertopi kupluk, namun kala didengarnya Melodie, Bob Barry dan juga Putra Gilang tiba-tiba tertawa terpingkal-pingkal, maka tak hitung detik langsung saja dikejarnya Maikel Stefen sampai berputar putar di ruang makan hingga bahkan sampai ke luar anjungan!
“Hooii Kampreet…! Jangan lariii… Kemari kau Setaan…!! Biar ku buat jidatmu juga blink-blink kinclong macho kayak batu Bacan…!” teriak sewot Marco yang berlari keluar mengejar Maikel Stefen yang telah terlebih dahulu berlari tunggang langgang di sepanjang koridor kapal sambil tertawa terpingkal-pingkal!
Setelah kedua orang konyol tersebut meninggalkan ruang makan, Putra Gilang pun kemudian bertanya kepada Bob Barry
“Lalu bagaimana dengan jasad makhluk itu Kept…? Apa yang harus kita lakukan dengannya…? Kita toh tidak mungkin terus-menerus menyimpannya di dalam peti pendingin…”
“Untuk itu aku sudah memikirkannya Put, kita akan mencari satu pulau kosong yang cukup jauh dari jangkauan manusia lalu kita akan menguburnya secara layak disana…”
“Mengapa tidak kita kita kubur saja di dasar laut? Bukankah kita bisa menyelam dan memilih satu tempat di dasar laut untuk mengubur makhluk ini..?
Sang kapten nampak menggelengkan kepala mendengar usulan ini
“Tidak bisa seperti itu Put, aku khawatir arus laut akan membongkar dan membuat tubuh jasad makhluk itu terekspos dan bisa saja kemudian diketemukan oleh nelayan sehingga menimbulkan kegemparan…”
Mendengar penuturan ini Putra pun nampak menganggukan kepala.
“Lalu kemudian langkah apa lagi yang harus kita ambil? Kita sudah mendapatkan koper yang ditugaskan kepada kita untuk kita temukan… Apa sebaiknya kita hubungi langsung tuan Kalangit dan memberitahukan kalau misi penyelaman kita sudah kita laksanakan dengan sukses…?”
“Untuk sementara jangan dulu Put, kita harus lebih dahulu memprioritaskan penguburan ibu Hati Samudera. Untuk masalah koper saya rasa Tuan Jefri Kalangit pastinya masih bisa menunggu satu atau dua hari...” ucap Bob Barry
Sementara itu beberapa saat kemudian, dengan langkah lebar dan sambil terkekeh senang, Marco Ferdinand kemudian terlihat kembali memasuki ruang makan sambil diikuti oleh Maikel Stefen yang mengomel panjang pendek dengan dahi yang celemongan bersalut berkas minyak jelantah!
Rupanya si bengal berhasil juga membalas dendamnya kepada pemuda bertopi kupluk satu ini.
“Kawan-kawan, coba minta perhatiannya dulu… Ada hal yang ingin ku katakan sebentar…” ucap Bob Barry beberapa saat kemudian.
“Hari ini kita sudah menyelesaikan pekerjaan penyelaman yang telah ditugaskan kepada kita dengan hasil yang sukses dan menggembirakan. Oleh karenanya aku selaku kapten kapal ini mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya akan kerja keras kalian selama satu hari ini… “ ucap Bob Barry sembari tersenyum senang.
“Namun guys… Terlepas dari kesuksessan kita menemukan kembali tas koper milik tuan Kalangit yang terjatuh itu, ada satu hal yang membuatku jujur cukup bingung dan penasaran…” ucap nya kembali
“Selama ini kita sudah menjelajahi begitu banyak samudera dan lautan, ada banyak tempat yang juga pernah kita kunjungi termasuk juga dasar-dasar laut dan samudera. Selama ini pula kita memang mendengar tentang kisah-kisah dan legenda-legenda tentang Mermaid, putri duyung dan sebagainya… Namun aku benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa semua kisah dan legenda itu malah nyata kita temukan di sini...! Di negara kita…! Jika saja makhluk-makhluk bawah laut tersebut diketemukan di belahan dunia lain mungkin aku tidak terlalu heran, tapi ini diketemukan disini! Di indonesia! Bahkan tempatnya sangat dekat dengan tempat dimana aku dan Melodie pernah tinggal dan dibesarkan…!” ucap Bob Barry dengn kening berkerut dan ekspresi serius.
__ADS_1
Setelah terdiam beberapa saat sang kapten kemudian melanjutkan ucapannya.
“Ini benar-benar sangat menggangu pikiranku guys…! Mengapa dari sekian banyak pulau dan perairan di dunia, mereka malah memilih Perairan pulau Serena ini sebagai tempat mereka bermukim? Dan yang lebih hebatnya lagi selama ini tidak ada yang pernah melihat penampakan mereka sampai ceruk di jurang tubir laut itu terbuka dan kita masuki…!”
“Tuu… Tunggu dulu Kept… Tunggu sebentar…” ucap Marco Ferdinand tiba-tiba dengan suara bergetar penuh antusias.
“Kalau menurut pendapatku secara pribadi, mungkin keberadaan makhluk-makhluk ini malah ada kaitannya juga dengan keberadaan pulau dan perairan ini sendiri…!”sambungnya kembali.
“Seperti apa kaitannya…? Coba kau jelaskan teorimu itu…” timpal Bob Barry
“Begini teman-teman… Pasti kalian semua sudah mengetahui bahwasanya makhluk-makhluk ini memiliki banyak nama dan juga sebutan, kita mengenal sebutan putri duyung, orang barat sendiri menyebutnya Mermaid. Namun asal-usulnya sendiri justru lebih banyak mengacu pada makhluk mitology Yunani yang bernama Sirens atau Sireiness…” Marco terlihat berhenti sejenak untuk menarik nafas
“Sirens adalah makhluk laut bertubuh manusia setengah ikan yang dikabarkan banyak mencelakakan pelaut-pelaut dahulu kala dengan melantunkan nyanyiannya. Selain itu untuk diketahui, negara tetangga kita yaitu Filipina ternyata juga memiliki makhluk mitos yang sama yang mereka sebut dengan penamaan yang juga hampir sama dengan makhluk mitologi Yunani itu… di Filipina, mereka menyebut makhluk mermaid atau sirens ini dengan sebutan Sirena…!”
“Lalu apa hubungannya? dari penjelasanmu itu, aku malah menjadi semakin bingung…! aku belum melihat sama sekali adanya benang merah antara makhluk-makhluk itu dengan pulau di depan kita ini…!” Sanggah Maikel Stefen kali ini.
“Hubungannya jelas ada Broo…! Tahukah kau kalau menurut kisahnya, Mermaid atau makhluk Sirens itu biasanya hanya mau menempati pulau yang memiliki banyak batu karang khususnya yang ada karang bolongnyanya? Kemudian tahukah kalian nama tempat dalam mitologi Yunani itu yang dikatakan sebagai tempat kediaman para Sirens…?” tanya Marco semakin menggebu.
“Aku tahu…! Aku tahu…!” ucap Melodie dengan girang. Rupanya Hati Samudera telah menyelesaikan makan siangnya dan kini nampak bermain dalam pelukan sang gadis.
Sepertinya keberadaan bayi ini membuat sifat riang Melodie mejadi bertambah beberapa kali lipat.
“Menurut yang pernah aku baca, Sirens atau bangsa Mere itu tinggal di pulau bernama Sirenum Scopuli dan juga Pulau Sirenusian!” lanjut gadis sambil menimang-nimang hati Samudera dalam pondongannya.
“Rasa-rasanya baru sekarang aku mendengar nama-pulau-pulau itu… Memangnya ada dinegara mana letak keberadaan kedua pulau itu? Apa di Yunani…?” tanya Maikel Stefen
Sang gadis dengan enteng terlihat mengangkat bahu
“Aku sendiri juga tidak tahu dengan pasti apakah kedua pulau tersebut ada di daerah Yunani atau tidak… Ada tidaknya pulau-pulau itu juga aku sendiri juga masih sangsi dan belum yakin seratus persen karena aku hanya membacanya sepintas lalu melalui internet…” sambung gadis sambil masih menimang sang bayi
“Nah kalau begitu informasinya belum benar-benar jelas donk Mel! Bagaimana ini Marco…?” seru Maikel Stefen
“Ya, apa yang dikatakan oleh Melodie itu memang benar, kedua pulau itu memang belum dikonfirmasi kebenarannya, namun maksudku begini Kawan-kawan, terlepas dari ada atau tidak nya kedua pulau tersebut, pada esensinya penyebutan kedua pulau itu sendiri juga sebenarnya telah memberikan satu petunjuk yang sangat berharga buat kita guna menemukan keberadaaan makhluk-makhluk Sirens atau yang disebut dengan sebutan bangsa Mere oleh Melodie…”
“Petunjuk apa…?” ucap Bob Barry dan yang lainnya berbarengan.
“Na… Nama kedua pulau itu…! Nama kedua pulau itu mengandung kata Sirens!” seru Bob Barry
“Tepat sekali Kept! Jadi tentunya kalian semua sekarang pasti telah menyadari dan tidak menganggap nama pulau dan perairan Serena ini hanyalah sebuah nama kosong dan kebetulan belaka saja kan…?” tawa si bengal dengan penuh kemenangan.
Mendengar penuturan Marco Ferdinand, Bob Barry dan yang lainnya termasuk juga Melodie kemudian hanya bisa sesaat saling berpandangan dan tenggelam dalam alam pikiran masing-masing.
“Sebagai informasi tambahan, menurut mitologi baik mitologi Yunani maupun mitologi Filipina, tokoh Sirens yang dikatakan paling kuat dan paling mematikan adalah Sirens bernama Serena! Kesukaannya adalah bersembunyi di pulau dengan tebing karang yang memiliki lubang dan kemudian bernyanyi untuk membuat para pelaut yang melintas terkejut terpesona dan akhirnya menabrak karang! Serena the Sirens! Sirens of Serena! Island of Serena! Terdengar sangat masuk akal kan sekarang guys…?” lanjut Marco kembali
“Oke, anggap saja penjelasan dan teorimu itu benar dan tidak terbantahkan, kita punya yang namanya pulau Serena, ada karang bolongnya, juga yang terlebih penting ada makhluk Sirensnya di dasar lautnya, namun kenapa selama ini aku tidak pernah mendengar adanya laporan penampakan atau setidaknya catatan tertulis yang mengatakan bahwa kita di indonesia juga memiliki makhluk mitos yang bernama Sirens itu…!” kembali Maikel Stefen memberikan sanggahan.
“Lho siapa bilang tidak ada? Coba kau ke perpustakaan atau buka-buka tentang cerita rakyat indonesia di internet. Kau pasti akan menemukan cerita atau legenda tentang putri duyung asli indonesia! Bahkan kalau aku tidak salah, ada satu kisah duyung bagus dan mengharukan yang berasal dari daerah Sulawesi selatan…”
“Ah itu hanya legenda Bro... pengantar tidur untuk anak-anak… Sangat disangsikan keakuratannya! yang aku maksud itu catatan historis, jurnal ilmiah atau minimal sebuah buku yang menyebutkan bahwa indonesia juga memiliki makhluk mitos yang bernama Sirens itu…” tawa Maikel Stefen
Putra Gilang yang sedari tadi hanya terlihat diam kini tiba-tiba ikut menimpali perkataan sang pemuda bertopi kupluk
“Sebenarnya catatan tentang itu ada lho teman-teman.. Sayangnya catatan tersebut tersimpan di luar negeri…!” ucap sang kepala kamar mesin kapal The Promise Land ini.
Apa yang dikatakan pemuda ini jelas langsung menarik minat rekan rekannya.
“Yang benar Put? Kok aku sampai tidak tahu ya… Coba kau ceritakan tentang catatan-catatan tersebut…” ucap Marco tidak sabaran
“Jadi begini Bro sekalian, ada sebuah Buku* yang terbit di Amsterdam, Belanda pada tahun 1718. Buku tersebut mengupas soal kehidupan aneka satwa yang terdapat di Samudera Hindia. Buku ini dilengkapi dengan artikel, deskripsi aneka hewan, sketsa dan juga gambar. Dalam buku itu hal yang paling menarik adalah adanya satu catatan detail yang menyebut tentang duyung atau makhluk Sirens…!”
“Catatan tersebut berbunyi seperti ini: “Ada monster berwujud wanita setengah ikan, tertangkap di perairan Amboyna (gugus kepulauan Maluku) berdasarkan pengukuran, Makhluk yang tertangkap itu memiliki panjang tubuh sekitar 59 inci (147 .5 cm) dan bentuknya mirip belut laut atau yang oleh penduduk setempat disebut dengan sebutan Moa. Makhluk ini hanya bertahan selama 4,5 hari setelah ditangkap dan ditempatkan di dalam sebuah akuarium. Selama pengurungan, makhluk ini diberikan ikan-ikan kecil dan hasil laut lainnya namun sayang ia tidak merespons makanan tersebut dan akhirnya mati…” Putra Gilang terlihat menghela nafas berat sebelum kembali melanjutkan.
“Selain itu juga ada satu kesaksian tertulis selama perang dunia kedua dari satu peleton pasukan jepang yang dipimpin oleh seorang prajurit berpangkat sersan bernama Taro Horiba yang ditempatkan di kepulauan Kei, Maluku. Sersan Taro Horiba dan pasukannya menjadi saksi penemuan Sirens yang terjerat jaring nelayan penduduk setempat. Menurut penduduk lokal, makhluk yang mereka sebut dengan sebutan “Orang Ikan” ini memang sering terjerat pada jala dan jaring yang mereka pasang...” tutup sang pemuda.
“Lalu kedua catatan tersebut tersimpan dimana bro?” tanya Bob Barry
“Untuk buku yang pertama tersimpan di museum peninggalan sejarah di Amsterdam Belanda, sementara catatan terakhir yang kubilang berada di pusat data historis pemerintahan Jepang di Nagoya…”
__ADS_1
“Kau benar-benar hebat Big Broo! Referensiku ternyata masih kalah jauh dari referensi yang kau miliki…” tawa Marco seraya menepuk-nepuk bahu Putra Gilang.
“Sebenarnya kenapa kau begitu tertarik tentang sejarah dan keberadaan Bangsa Mere di Indonesia sih Bob…? Aku sekarang malah jadi gantian penasaran…!” Selidik Melodie tiba-tiba seraya menatap Bob Barry dengan pandangan tajam
Pandangan gadis ini sontak membuat sang kapten kikuk seketika. Setelah beberapa saat dan setelah menghela nafas panjang Bob Barry pun akhirnya berujar pelan dan hati-hati.
“Sebenarnya aku tidak enak mengatakan ini kepadamu Mel, terlebih kulihat kau sudah sangat dekat dengan bayi itu… Bayi itu jelas adalah salah satu keajaiban terindah yang kita pernah lihat dan dianugerahkan Tuhan kepada kita… Namun dunia diluar sana belum siap untuk menerima keberadaannya Mel… Tempat bayi ini bukan berada bersama kita… Melainkan bersama kaumnya… Oleh karena itu…” ucapan Bob Barry tiba-tiba langsung dipotong oleh Melodie dengan sengit!
“Oleh karena itu kau kemudian ingin aku kembali terjun ke ceruk itu, dan dengan entengnya memberikan Samuu kepada makhluk-makhluk buas bertombak tajam di bawah sana? Begitu kan maksudmu…?”
“Bukan begitu maksudku Mel! Kita memang harus mengembalikan Hati samudera ke tengah kaumnya namun jelas bukan sekarang! Saat ini jelas bukanlah saat yang tepat… kita harus melihat dan mempelajari dahulu segala sesuatunya… Aku tidak ingin terburu-buru menyerahkan bayi ini kepada mereka disaat kita belum begitu mengetahui tentang sifat dan perilaku bangsa itu… Apalagi mengingat pertemuan terakhir kita dengan bangsa itu tidak berakhir dengan baik…” ucap sang pemuda yang akhirnya membuat Melodie diam termenung.
Sang gadis juga sesunguhnya menyadari cepat atau lambat dirinya pasti akan berpisah dengan Hati Samudera, apalagi mengingat janjinya dihadapan jenasah sang ibu. Namun entah mengapa, begitu berat rasanya untuk melepaskan bayi mungil menggemaskan ini dari dalam pelukannya. Seakan dirinya merasa bahwa dirinyalah yang paling berhak memiliki bayi itu dan bukan bangsa buas bertombak yang mendiami ceruk Serena dibawah sana.
“Mau kemana kau Mel…? Aku belum selesai bicara…!” ucap Bob Barry saat dilihatnya Melodie tiba-tiba terlihat beranjak keluar sambil memondong Hati Samudera.
“Aku lelah! Aku ingin beristirahat di kabinku bersama Samuu… Jadi tolong jangan diganggu..!” ucap sang gadis ketus.
“Oh ya, kalau aku masih boleh mengajukan permintaan, tolong gantikan air laut di baskom ini dengan yang baru lalu bawakan ke kabinku… Itu juga kalau ada yang bersedia…”
“Nanti aku ganti dan bawakan ke kabin mu Mel, tenang saja…” ucap Marco yang dibalas anggukan oleh sang gadis yang kemudian langsung beranjak pergi.
“Waktunya saja yang memang tidak tepat untuk menyinggung masalah itu Kept…” ucap Putra Gilang sembari menepuk pundak Bob Barry
“Kau benar Put! Padahal aku sudah berusaha bicara berputar-putar kesana kemari namun akhirnya sama saja! Nampaknya memang belum seharusnya aku terburu-buru menyampaikan hal itu kepada Melodie. Gadis itu terlihat teramat sangat menyayangi bayi itu…” keluh Bob Barry
“Baiklah, mungkin untuk hari ini sampai disini dulu… Kalian semua juga pasti sudah lelah. Oleh karenanya beristirahatlah kalian karena besok pagi kita akan melanjutkan perjalanan kita untuk mencari pulau kosong untuk mengubur jasad ibu Hati Samudera…” tutup sang Kapten yang kemudian terlihat berjalan gontai menuju kabinnya.
Putra Gilang dan juga kedua rekannya pun kemudian nampak diam tertunduk dan kemudian masing-masing pergi meninggalkan ruang makan tersebut tanpa mengeluarkan suara. Mereka semua sungguh tak menyadari bahwa dari sudut tergelap di kapal itu, satu pasang mata berkilau nampak tersenyum sinis melihat kepergian mereka!
Keesokan harinya kegemparan terjadi diatas kapal The Promise Land! Melodie dan Hati Samudera hilang lenyap tak berbekas! Dan juga bukan hanya mereka berdua yang hilang, jasad sang ibu Duyung dan koper Titanium milik Jefri Kalangit juga tiba-tiba raib dari tempatnya! Hal ini tentu saja mengejutkan semua kru dan sontak membuat Bob Barry Murka!
“Tenang dulu Kept, redakanlah amarahmu dan coba kita pikirkan baik-baik dengan kepala dingin… Pakaian gadis itu dan perlengkapannya masih tersimpan rapi di dalam lemari dan juga kita tidak kehilangan satupun sekoci yang kita miliki! Jadi tidak mungkin gadis itu bermain gila lari pergi dengan cara berenang membawa Hati Samudera kan..?” ucap Putra Gilang
“Jadi maksudmu ada seseorang yang menculiknya begitu…?”
“Hal itu bisa jadi Kept, ingat, kita tidak berada di perairan lepas! Disini ada begitu banyak kapal baik kapal nelayan maupun kapal cepat yang mondar-mandir berlalu lalang! Seseorang atau mungkin lebih pasti menyusup naik dan kemudian menculik Melodie dan bayi itu saat kita tertidur lelap…” ucap Putra Gilang.
“Yang paling membuat heran adalah bagaimana kita semua bisa sampai kompak bersamaan tertidur pulas! Hal ini sangat aneh dan belum pernah terjadi sebelumnya kan teman-teman…?” tambah Maikel Stefen kemudian
“Atau jangan-jangan… Jangan-jangan ada seseorang yang menyelinap ke atas kapal kita dan kemudian mencampuri makanan dan minuman yang kita konsumsi sebelum kita tidur semalam dengan obat penenang atau sejenisnya…!” seru Marco Ferdinand dengan menunjuk muka tegang.
“Itu jelas tidak mungkin Co! tidak mungkin ada orang yang bisa luput dari perhatian kita! Kecuali orang itu memang memiliki kemampuan menyusup dan kecepatan olah gerak yang luar biasa! Apalagi disini ada Putra Gilang yang memiliki pengamatan dan kecepatan yang…” Maikel Stefen tidak meneruskan ucapannya kala satu kilatan tiba-tiba melesat dan menghantam kencang berkas ingatannya!
“Itu dia…! Sudah jelas kini siapa orangnya…!”
“Siapa Kel? Cepat kau bilang siapa pelakunya…!” Desak sang kapten tak sabar
“Tidak salah lagi…! Orangnya pasti dia kawan-kawan! Karena siapa lagi orangnya yang punya kemampuan naik dan turun dari kapal ini sesuka hati tanpa kita ketahui? Orang Bule itu…! Mario Kaontole! Ingat tidak saat dia muncul pertama kali dan menghilang tiba-tiba saat kita masih di Somalia? Kemudian saat di kantor Jefri Kalangit dia bisa tiba-tiba muncul di dalam ruangan penuh kaca tanpa seorangpun dari kita menyadarinya? Karena hal inilah aku sangat meyakini bahwa manusia itulah yang telah datang kemari dan membawa lari Melodie serta Hati Samudera…!” Ucap Maikel dengan amat geram.
“Kalau memang dia yang melakukan, maka sudah dapat dipastikan Jefri Kalangit berada dibelakang peristiwa penculikan ini! benar-benar licik dan tidak dapat dimaafkan orang kaya itu!” Geram Marco Ferdinand dengan tangan terkepal.
“Tapi itu semua baru sekedar dugaan kan teman-teman? kita tidak boleh berburuk sangka terlebih dulu… Namun jika memang Jefri Kalangit ternyata berada dibelakang peristiwa ini, maka setidaknya kita tidak perlu terlalu mengkhawatirkan keselamatan Melodie dan juga Samuu…” ucap Putra Gilang.
“Apa maksudmu berkata begitu Put? Dengan berkata begitu artinya sama saja kau tidak menghargai kami semua yang sangat mengkhawatirkan keselamatan Melodie dan Hati Samudera…!” ucap Marco mulai memanas.
“Bukan begitu maksud perkataanku! Aku pun sama seperti kalian, sangat mempedulikan keadaan Melodie dan juga bayi itu! Aku berkata begitu karena aku ingin menenangkan kalian dan agar kalian bisa berpikir dengan jernih…!” ucap Putra Gilang seraya mengedarkan pandanganan ke rekan-rekan di sekelilingnya
“Coba kalian pikirkan ini dengan kepala dingin, kalau memang Jefri Kalangit benar-benar berada dibelakang semua ini, dia pasti akan sangat membutuhkan semua informasi yang berhubungan dengan Hati Samudera dan juga bangsanya! Jadi dengan sendirinya Jefri Kalangit pasti akan membutuhkan keterangan yang dimiliki oleh Melodie dan memperlakukan dirinya dan Samuu dengan sebaik mungkin…” tutupnya kemudian.
Mendengar hal itu, Sang kapten nampak menutup matanya untuk beberapa saat. Tubuhnya kemudian nampak bergetar sebelum akhirnya sang kapten pun berujar dengan suara serak dan tangan terkepal.
“Semoga saja begitu! Karena kalau sampai ada satu helai saja rambut Melodie dan Hati Samudera yang terlepas… Maka akan kucari dan kukejar bahkan sampai ke lubang neraka sekalipun orang-orang yang bertanggung jawab atas hilangnya mereka berdua!
“Cepat angkat sauh dan bersiap untuk berlayar! Kita langsung menuju Jakarta..!” sambung sang kapten yang kemudian nampak membuka sepasang matanya yang menyorotkan semburat merah penuh amarah!
\* \* \*
__ADS_1