
Kabin yang telah ditempati oleh Melodie dalam dua hari ini ruangannya cukup apik dan bersih terawat. Ada sebuah ranjang kecil, sebuah lemari pakaian, sebuah meja tulis beserta kursinya, sebuah televisi, sebuah dispenser dan sebuah unit air conditioner serta kamar mandi yang dilengkapi dengan sebuah wastafel dan bak mandi didalamnya. Kabin tersebut memang merupakan kabin yang diperuntukkan bagi tamu yang menginap di kapal The Promise Land ini.
Dengan semua fasilitas dan kenyamanan yang dimiliki oleh kabin tersebut, seharusnya mampu membuat orang yang tinggal didalamnya merasa betah dan nyaman. Namun sayangnya tidak begitu, sudah dua hari ini penghuni yang mendiami kabin tersebut malah dilanda kegelisahan dan perasaan gundah yang tidak jelas. Hampir setiap waktu dihabiskannya dalam kabin itu untuk melamun. Dari pagi merangkak hingga malam merayap hanya melamun saja yang terus dilakukan oleh sang gadis. Seperti halnya sore ini, Sang gadis kembali tenggelam dalam lamunannya sembari menatap ombak yang menghempas melalui jendela kaca bulat di dalam kabinnya. Sedang asyiknya melamun, tiba-tiba terdengar suara ketukan pada pintu kabin yang sontak langsung membuyarkan lamunan sang gadis.
“Ya tunggu sebentar…” ucap Melodie seraya bergegas menuju wastafel di dalam kamar mandi untuk mematut diri sejenak. Setelah merasa penampilannya cukup rapi dan pantas, sang gadis pun kemudian beranjak dan membuka pintu kabinnya.
Satu wajah berkacamata dengan senyum konyol menampakkan wujud dari balik pintu.
“Makan malam sudah siap non cantik, apa mau bergabung bersama kami atau dibawa kemari lagi seperti biasa…?” siapa lagi kalau bukan Marco si anak nakal yang bersuara.
“Ehm, kali ini mungkin aku akan makan bersama kalian saja… aku sudah bosan cuma diam disini terus-terusan…”
Si pemuda konyol langsung bersorak kegirangan.
“Nah, begitu donk… jangan cuma mendekam aja terus-terusan di dalam kabin, entar sekalinya keluar langsung semaput gegara ngeliat Kapten dah jadi aki-aki…” seloroh Marco yang langsung dibalas tawa berderai oleh Melodie
“Ah… Kapten kalian itu memang sudah kakek-kakek! Chasing luarnya saja yang keliatan muda… Coba, mana ada anak muda suka ngambegan sama hobi banget darah tinggian kayak Kapten kalian itu…? Iya kan…?” ucap sang gadis yang kali ini gantian membuat Marco tertawa riang
“Jadi Kapten kami itu memang dari dulu orangnya suka ngambek dan pemarah model begitu?”
Melodie langsung mengiyakan dengan menganggukkan kepala
“Begitulah! Apalagi kalau lagi tidur, jangan sekali-kali ada yang berani bikin ribut. Jangan kan orang, kodok nyanyi minta hujan saja langsung di tombak! Makanya dikampungnya dulu kalau musim kemarau, kodok sudah gak ada lagi yang berani nyanyi-nyanyi minta hujan. Mereka cuma berani nyanyi nya lewat sosmed..”ucap sang gadis sembari terkikik geli.
“Gokil… gokil… ah benar-benar dah… loe benar-benar gokil orangnya ternyata ya Mel…”ucap Marco sembari tertawa terpingkal-pingkal.
“Sudahlah co, aku sudah lapar nih… jangan ketawa terus…”
“Ok… ok… baik, mari nyonya besar, mari ikut saya ke ruang makan…”
“Kok Nyonya besar sih…? Kalau aku nyonya besar terus yang jadi tuan besarnya siapa…?”
“Ya jelas Kapten Barry donk…” kekeh Marco sembari kemudian berkelit kesana-kemari menghindari hujan cubitan dari Melodie!
“Eits… gak kena.. gak kenaa… cie... cie… ciee… ada yang tersipu malu-malu kambing…”
Buseeet…! beda jaman beda juga malu-malunya! Kemarin perasaan masih malu-malu kucing deh coeg! Sekarang ternyata sudah berubah lagi jadi malu-malu kambing! Kambing rupanya sekarang juga sudah mulai ikut trend kekinian!
“Sudah deh Marco, jangan menggoda lagi! Atau aku balik lagi ke kabin nih!” ancam Melodie sembari berlagak cemberut dan memutar tubuhnya.
“Iya… iya deh sorry… gitu aja marah…” ucap marco sembari tertawa dan menggaruk-garuk rambut ikalnya.
“Mari kita langsung saja ke ruang makan… Putra dan Maikel sudah menunggu kita disana…”
“Lho, Kapten Barry tidak makan bersama kita?”
Marco nampak menggeleng lemah
“Aku tadi sudah membujuknya namun dia hanya diam saja sambil berdiri di haluan. Terus terang saja Mel, semenjak bertemu denganmu tempo hari, Kapten jadi jauh lebih pendiam dan jarang sekali menyentuh makanan. Kalaupun dia makan pastinya hanya beberapa sendok dan kemudian ditinggal pergi begitu saja…”
“Astaga..! bisa sampai begitu…?”
“Iya Mel, aku dan rekan-rekan yang lainnya jadi cemas dan khawatir kalau-kalau Kapten jatuh sakit karena hal ini…”
“Ya sudah, kalau begitu kau pergilah duluan ke ruang makan, biar aku coba untuk membujuknya…”
“Semangat ya Mel, kami bergantung padamu lho.. usahakan dia mau memakan makanannya soalnya perutnya belum terisi apa-apa sejak kemarin malam…” ucap Marco sembari mengacungkan jempolnya.
“Sip…Sipp…” ucap sang gadis yang kemudian berbalik arah dan berjalan terus kearah depan.
Sesampainya di haluan kapal, langkah sang gadis kemudian nampak terhenti kala memandang punggung sang Kapten yang sore itu terlihat berdiri sembari bersandar kearah salah satu tiang pembatas pagar kapal.
Angin bertiup mulai terasa kencang kearah buritan, namun mata dan alam pikiran Bob Barry justru melanglang menembus batas sampai kearah horizon di kejauhan.
“Sedang memikirkan apa…”tanya sang gadis lembut.
“Melodie…?”
Bob Barry nampak terkejut akan kehadiran sang gadis yang tiba-tiba terlihat berdiri dibelakangnya.
“Ti.. tidak memikirkan apa-apa…”Ucap sang pemuda dengan kikuk dan agak terbata
“Kita sudah berteman lama sejak masih kanak-kanak Bob, dan sejak dari dulu kau bukan tipe orang yang pandai berbohong…” ucap Melodie sembari tersenyum.
__ADS_1
“Aku… Aku hanya beristirahat sejenak melepas penat.. sebentar lagi aku juga akan balik ke anjungan dan melanjutkan perjalanan kita..”
“Ah pasti bohong…”
“Sesukamu lah kalau memang tidak percaya…” ucap Bob Barry sembari membuang muka mencoba mengalihkan pandangannya dari wajah sang gadis
“Oke… Oke aku percaya… hanya saja dua hari ini menurut yang aku dengar, kau jadi lebih banyak berdiam diri. Kemudian menurut Marco, kau pun juga kini jadi jarang menyentuh makananmu… Apa gara-gara aku? Atau kau memang masih marah karena kutampar kemarin? Kalau memang begitu kan sudah kukatakan sebelumnya kalau kau boleh balas menamparku kapan saja kalau kau mau…!” cecar Melodie sembari berpindah tempat kesamping sang pemuda sambil kemudian menatap dalam-dalam sepasang mata kikuk Bob Barry.
“Ti..Tidak! bukan karena itu…” ucap Bob Barry gelagapan.
“Lalu karena apa Bob..? Belasan tahun kita baru bertemu kembali… Jujur pada mulanya aku begitu terkejut dan juga sekaligus senang saat Tuan Kalangit memberitahukanku kalau aku akan bekerjasama dengan kalian… namun saat aku ingat peristiwa bagaimana kau meninggalkan ku tanpa pamit di Galapagos, saat itu juga aku pun spontan menjadi kesal! tahu gak kalau kamu itu benar-benar orang yang menyebalkan..?!”
Bob Barry nampak menundukkan kepalanya.
“Iya aku memang menyebalkan! Namun toh aku tidak meninggalkanmu seorang diri disana… kan disana juga sudah ada Arga…”
Mata Melodie nampak tiba-tiba membesar
“Oh jadi semua itu karena Arga? Bukannya alasanmu waktu ku telpon saat kau pulang diam-diam itu adalah kau harus pulang karena ayahmu sedang sakit…? Kenapa tidak berterus terang saja sejak awal Bob…?”
“Bukan Mel! Bukan karena Arga! Ayahku benar-benar sakit kala itu Jadi aku memang harus pulang secepatnya… aku benar-benar minta maaf karenanya.. selain itu…”
“Selain itu apa…?”
“Selain itu… kamu kan pacarnya Arga. Walau bagaimanapun juga Arga juga adalah temanku Mel, aku jelas merasa tidak enak dengan dirinya…”
“Astaga…!!! Siapa yang bilang begitu…? Arga…? Tidak Bob! Itukan menurut cerita Arga sendiri, bukan ceritaku! Kalau memang aku dan Arga sudah jadian waktu itu, sudah jelas kaulah orang yang pertama kali akan kuberitahu…!”
“Jadi kalian tidak pacaran waktu itu…?” ucap Sang kapten gamang, entah kenapa lututnya tiba-tiba terasa lemas
“Oh Tuhan Bob! Kau memang benar-benar tidak peka! Coba kau pikir baik-baik, kenapa aku yang mengajakmu untuk menemaniku melakukan penelitian ke Galapagos dan bukannya si Arga? Masa kau tidak bisa melihat setiap sinyal dan kode yang kuberikan padamu saat itu…?” gemas Melodie
“Ja… Jadi waktu itu kamu pun… aku… tapi… kenapa… aku…ah…” kali ini Bob sampai terbata-bata dan tidak bisa lagi berucap saking terkejutnya.
Sungguh tak pernah disangkanya kalau gadis di hadapannya, gadis yang dulu sangat disukainya sejak masih kecil namun terus dipendamnya dalam hati ini ternyata dulu juga memiliki rasa yang sama! Cintanya ternyata tak bertepuk sebelah tangan! Sayang, butuh waktu belasan tahun untuk mengetahui sebuah kebenaran. Dan belasan tahun jelas bukanlah sebuah waktu yang singkat!
Sementara itu Melodie akhirnya hanya bisa menghembuskan nafas panjang sembari mengangkat bahu.
Bob Barry nampak menundukkan kepalanya dan menutup matanya untuk sesaat, setelah mengambil nafas yang cukup panjang dan kemudian menghembuskannya, sang Kapten pun kemudian berucap dengan nada yang agak bergetar.
“Kita masih sama-sama teramat muda dan naif kala itu Mel, jadi wajar kalau bisa terjadi hal seperti itu… ternyata ini memang salahku, aku yang memang bodoh dan tidak peka…” ada sedikit getir penyesalan tertangkap dari nada bicara Bob Barry
“Sudahlah Bob, hal itu juga bukan salahmu sepenuhnya… dan lagi itu juga sudah menjadi masa lalu buat kita berdua, yang jelas untuk sekarang ini kau masih menganggapku teman kan..?”
Mendengar pertanyaan itu, Bob pun perlahan mengangkat wajahnya. Dan untuk pertama kalinya setelah dua hari tenggelam dalam kemurungan, satu senyum kini nampak terlukis di bibirnya!
“Nah.. kalo senyum gini kan cakeep… Jadi keliatan gantengnya…” ucap Melodie sembari menowel hidung Bob Barry
“Ah kau ternyata masih sama usilnya Mel…! dari dulu ternyata tak berubah… Lalu bagaimana kabarnya si Arga? Kalian sudah punya anak berapa…?” tanya Bob yang langsung dibalas tawa berderai oleh Melodie
“Ha.ha.ha… anak Arga dari Timbuktu? Kan sudah dibilang kalau aku tidak jadian dengan dia…”
“Jahat banget deh kamu Mel…! Kenapa kamu gak terima saja dia jadi pacarmu? padahal dia kan sampai capek-capek nyusulin kamu ke Galapagos lho…”
“Kalau tidak suka ya bagaimana mau diterima? Ini masalah hati Bob, tidak bisa dipaksakan lah.. Tapi tahu gak yang paling bikin ngeselin? Yang gak disuka datang gigih berjuang, Sementara yang disuka malah butek ****! Dikasih berbagai sinyal dan kode tapi masiiih juga gak peka… Malah habis itu ngilang pergi terbang diam-diam…! Benar-benar ngeselin kan? dasar Flamingo Bodoh..!” ucap Melodie dengan pipi bersemu merah.
“Ah jangan kau ingatkan lagi Mel.. aku jadi malu kalau ingat betapa gobloknya aku saat itu…” ucap Bob yang kemudian mulai tertawa
“Iya… Flamingo Bodoh…!!! Bodoh… Bodoh…!!!” ejek Melodie pula sembari mulai ikut tertawa geli
Keduanya pun akhirnya tertawa saling menimpali satu dengan yang lain. Kecanggungan dan ganjalan yang ada di hati selama dua hari belakangan ini pun akhirnya pupus sudah.
Setelah beberapa lama, suara gelak tawa keduanya pun mulai mereda. Keduanya kini terlihat saling melirik dan menatap sembari saling melempar senyuman satu sama lain.
“Tapi sekarang Flamingo nya sudah pintar lho Mel.. Belasan tahun belajar membuat dia kini akhirnya mampu membaca berbagai sinyal dan juga kode…” ucap Bob kemudian seraya menatap sang gadis dengan pandangan penuh harap
Sinar mata ceria yang sebelumnya terlihat di mata sang gadis entah kenapa tiba-tiba meredup kala menatap mata sang pemuda yang memandangnya dengan sinar mata penuh kasih sayang itu.
“Maafkan aku Bob… Sungguh aku sangat senang mendengarnya.. Tapi aku… Aku sudah bertunangan… Dia orang baik, dan kami sudah sepakat untuk bersama-sama melangsungkan pernikahan pada tahun depan…” ucap Melodie seraya tertunduk dan dengan agak sengaja menunjukkan cincin pertunangan di jari manisnya.
“Kau… Kau mau datang memberi restu selamat kan…?” bisik sang gadis dengan suara nyaris tak terdengar
Bob terdiam beberapa saat sembari menatap kearah cincin emas di jari sang gadis yang selama ini rupanya luput dari perhatiannya. Suatu aliran dingin terasa mengalir di tulang belakangnya dan kemudian menyebar ke seluruh anggota tubuh. Aliran dingin itu kemudian akhirnya kembali dan berkumpul di bagian dada dan kemudian menimbulkan rasa nyeri yang susah dijelaskan oleh kata-kata. Tangannya yang berpegang pada besi pagar pembatas kapal pun, bahkan sampai-sampai nampak bergetar goyah untuk beberapa lama.
__ADS_1
Hening yang teramat dingin sangat terasa menggantung di senja itu ditengah dua hati yang baru kembali bersua. Andai saja belasan tahun lalu Bob Barry memiliki keberanian seperti yang dipunyainya hari ini, mungkin saja ceritanya akan jadi lain. Tapi apa mau dikata? Inilah yang dinamakan dengan kenyataan. Pahit memang terasa. Namun meskipun pahit, meskipun menyakitkan dan juga membuat luka, namun kenyataan pulalah yang kemudian akhirnya membentuk karakter seseorang. Apakah dia akhirnya akan menjadi seorang pemenang atau memilih tidak akan bangkit kembali dan menjadi seorang pecundang!
Bob Barry jelas bukanlah seorang yang lemah, apalagi seorang pecundang! Layaknya seorang pria biasa, hatinya pun juga kadang rentan dan bisa terluka. Namun waktu dan pengalaman telah mengajarinya untuk lebih terbuka dan dewasa dalam menghadapi suatu kenyataan. Kesedihan memang sempat menguasainya untuk beberapa saat, namun seorang Kapten tidak akan diakui sebagai seorang Kapten jika tidak mampu melewati badai pertamanya bukan? entah itu badai di lautan maupun badai di kehidupan.
“Ku ucapkan selamat kalau begitu Mel, aku turut senang mendengar kalau kau kini sudah memiliki seorang calon pendamping… Aku janji aku pasti akan datang ke pernikahan kalian… Cuma kalau boleh tahu, siapakah pria yang beruntung itu…?” ucap sang pemuda dengan nada yang agak serak
Melodie nampak terdiam sejenak sebelum kemudian terlihat menyeka bening di sudut matanya.
Sang gadis rupanya sedang menangis!
“Dia seorang pria Turki yang dikenalkan oleh saudara-saudaraku Bob, orangnya sangat baik dan pengertian. Namanya Abdullah dan pekerjaannya adalah sebagai seorang insinyur pertambangan di salah satu unit pengeboran minyak lepas pantai Kalimantan…” ucap sang gadis pelan
“Maaf, namanya tadi siapa…?” ucap Bob Barry mencoba memastikan pendengarannya.
“Namanya Abdullah Bob… Dia…” namun belum selesai sang gadis berucap, tiba-tiba terdengar suara berkerontangan di belakang mereka berdua!
Saat Bob dan Melodie membalikkan badan untuk memperhatikan dengan lebih teliti asal sumber suara, ternyata tidak terlihat siapa-siapa!
Sebenarnya apa yang terjadi barusan? Apa sebenarnya wujud suara berkerontangan tadi? Apakah kapal kecil ini ada hantunya?
Tenang saja wahai kawanku yang baik, aku berani menjamin bahwa kapal The Promise Land ini telah di-ruwat dan bersertifikat bebas dari segala jenis jin, setan dan juga hantu…
Kecuali Hantu Kepo!
Ya hantu kepo yang berwujud dua ekor tupai nakal bernama Marco dan juga Maikel!
Rupanya kedua pemuda bengal ini diam-diam mengendap-endap dan kemudian berjongkok didekat kotak Hydrant air untuk bersembunyi dan berusaha mencuri dengar percakapan antara Kapten mereka dan Melodie!
Dan yang paling konyol adalah ternyata mereka berdua mencuri dengar pembicaraan sang Kapten masih dengan membawa piring nasi aluminium di tangan masing-masing!
Hantu kepo malang yang sedang kelaparan rupanya!
Jadi mereka berdua ini saat mata telinga dan juga perhatiannya tertuju pada percakapan Kapten mereka dan Melodie, mulut mereka juga tidak mau diam mengunyah makanan dari piring yang mereka bawa! Makannya juga cuma pakai tangan kosong! Bahkan yang paling lucu, karena terlalu fokus dan serunya mengintip dengar, tidak jarang mereka berdua ini tanpa sadar saling menyuapi satu dengan yang lain! Suap-suapan dengan tangan telanjang pula!
Puncaknya adalah saat Melodie menyebut nama tunangannya Abdullah, kedua tupai nakal ini saling menatap dan hampir saja pecah tertawa berbarengan kalau tidak sempat saling membekap mulut masing-masing! Marco membekap mulut Maikel dan begitu juga sebaliknya! Lucu sekali bukan?
Dan saat itulah dua piring aluminium terjatuh dan menimbulkan suara berkerontangan akibat terlepas dari tangan masing-masing yang saling membekap!
“Siapa disitu…? Cepat keluar…?” bentak Bob Barry kearah tempat persembunyian Marco dan juga Maikel.
Sementara itu di tempat persembunyiannya, Marco dan Maikel nampak berkeringat dingin dan pelan-pelan mulai melepaskan bekapan tangan masing-masing…
“Psst… Cepat tirukan suara ayam Bro… Suara ayaammm..! Biar Kapten tidak curiga!” bisik Marco yang memang memelihara beberapa ekor ayam di bagian buritan kapal ini.
Sebenarnya Maikel memang ingin menirukan suara ayam seperti yang dibisikkan oleh Marco, namun celakanya, karena tadi mereka berdua mendengar nama Abdullah disebut, maka dipikirannya saat itu masih terbayang jelas sosok si kecil Abdoolah yang berada di Somalia yang tadi membuat mereka berdua nyaris tertawa terpingkal-pingkal di tempat persembunyian.
Oleh karena itu yang keluar dari mulut Maikel kemudian bukanlah suara “Kukuruyuk” atau “Petok-petok” layaknya suara ayam pada umumnya, melainkan suara yang meniru suara si kecil Abdoolah !
“Auuuuh… Auuuuh… Auaahhh…”
“Mampuus kita…!” ucap Marco sambil menepuk jidat dan kemudian cepat-cepat kembali menbekap mulut Maikel Stefen!
“Suara Abdoolah tidak seperti itu Setaan Borokokok…!!!” bentak sang Kapten gregetan
“A… Ayam…Kept! Ini ayam…!” kali ini Marco yang balas menyahut! Saat panik melanda rupanya membuat pemuda satu ini malah jadi tidak bisa berpikir dengan jernih! Benar-benar konyol!
“Apalagi Ayam..!!! Tidak ada ayam yang bicara begitu…!” Sahut sang Kapten dengan nada gemas.
“Kau sudah mengenal Abdullah? Kenal dimana…?” ucap Melodie seraya memandang Bob Barry dengan pandangan heran
“Tidak Mel… Ini Abdullah yang lain, tidak ada hubungannya dengan Abdullah tunangan mu itu…” ucap Bob Barry sembari kemudian tiba-tiba menggenggam tangan Melodie dan kemudian menariknya serta.
“Ki… Kita mau kemana Bob…?” ucap Melodie dengan pipi bersemu merah. Dia tidak menyangka kalau sang pemuda akan menggenggam tangannya.
“Ke ruang makan Mel… Aku tiba-tiba mendadak lapar…! Baru ingat kalau belum makan dari tadi malam, jadinya sekarang pingin makan daging ayam mentah!” ucap sang Kapten sembari berjalan kearah ruang makan tanpa mempedulikan sang gadis yang nampak melirik dan tersenyum-senyum kearahnya.
Sementara itu, mendengar suara sang Kapten, Marco dan Maikel yang berada di tempat persembunyiannya yang memang letaknya akan dilalui oleh sang Kapten dan Melodie sontak berubah pucat.
“Kabuur Bro! demi keselamatan jiwamu!” Bisik Marco ke kuping sang rekan sebelum kemudian berlari tunggang langgang menyusuri koridor kapal meninggalkan sang teman yang beberapa saat kemudian ikut berlari menyusul di belakangnya sambil diiringi sumpah serapah!
“Dasar Marco SETAAAANNN!!”
* * *
__ADS_1