Hati Samudera

Hati Samudera
Pertolongan Yang Tidak Terduga!


__ADS_3

Bob Barry nampak berdiri gontai sambil masih memegang erat belati komet di tangan kanannya. Jaket sang kapten nampak robek compang-camping disana-sini. Sementara di sekujur tubuhnya, terlihat dipenuhi oleh luka sabetan dan luka sayatan yang nampak digenangi darah. Tidak seperti kedua rekannya yang memakai cairan pelindung Posseidon Armor pada kaki dan kedua belah tangan, rupanya hal ini tidak dilakukan oleh sang kapten!


Alhasil kedua tangan dan kakinya pun kini terlihat penuh dengan luka hasil sayatan dan sabetan pisau Komando milik Mario Kaontole sang mantan prajurit Spetznas itu!


Keadaan Mario sendiri pada dasarnya juga tidak jauh berbeda dengan keadaan sang Kapten kapal The Promise Land ini. Jas hitam, dasi dan kacamata gelapnya sudah tercampakkan entah kemana. Kemeja putih yang dipakai oleh Mario juga terlihat robek dan berlubang disana-sini hasil tebasan dan irisan belati komet milik Bob Barry.


Walaupun keduanya terluka dan mengalami pendarahan yang cukup parah, namun nampaknya luka-luka sabetan dan tikaman yang mereka dapat tidak ada satupun yang mengenai organ vital dan berbahaya. Hal inilah yang membuat keduanya masih berdiri tegak sambil menggenggam pisau dan belati masing-masing diatas jembatan besi!


“Captain Barry… Jujur sekarang aku benar-benar mengagumimu … Kau benar-benar seorang lawan yang tangguh yang pernah ku temui dan pantas diberikan acungan jempol… Mari kita akhiri saja sampai disini pertarungan kita…”


“Kau juga lawan yang hebat Tuan Mario! Andai saja kau tidak berdiri di sisi yang salah, mungkin saja kita bisa menjadi seorang kawan baik… Aku bersedia untuk mengakhiri pertarungan kita, asal kau mau membiarkan aku lewat dan pergi menjemput gadis dan bayi itu…”


Mario Kantole terlihat tertawa dengan keadaan tubuh yang limbung, lalu tanpa disangka, tangan kanan Jefri Kalangit ini kemudian terlihat meletakkan pisau komandonya keatas lantai jembatan besi!


“Aku jelas tidak bisa memenuhi permintaanmu itu Kapten Bary, namun akupun juga tidak ingin kita berdua harus berakhir dengan cara yang menyedihkan seperti ini… Oleh karenanya… Mari kita akhiri pertarungan kita ini dengan cara yang lebih ksatria dan lebih beradab… Dan mungkin setelah hari ini berlalu… Saat kita bertemu kembali di suatu kesempatan… Di suatu saat… Aku berharap kita bisa minum bersama layaknya seorang sahabat…” ucap tak terduga Mario Kaontole seraya kemudian mengangkat sepasang tinjunya!


Sang pria bule rupanya menantang kapten kita untuk duel dengan hanya menggunakan tangan kosong! Benar-benar lelaki jantan! Ternyata mantan prajurit Rusia ini masih memiliki darah ksatria di dalam aliran darahnya…


Sungguh benar-benar diluar dugaan!


Melihat hal ini, Kapten kita pun kemudian terlihat tertawa terbahak-bahak sambil kemudian meletakkan Belati Komet miliknya di lantai jembatan dan kemudian berdiri dengan memasang posisi kuda-kuda siap tarung!


“Sudah lama aku tidak menemukan lawan bertarung yang menyenangkan seperti dirimu Tuan Mario… Aku benar-benar senang! Mari…! Mari kita selesaikan pertarungan kita hari ini… Dan semoga setelah hari ini berlalu, kita benar-benar bisa menjadi seorang sahabat! Majulah Tuan Mario..!”


Dengan di iringi suara bentakan nyaring, kedua orang ini pun kemudian terlihat melesat saling mendekat dan kemudian saling melontarkan kepalan dan tinju yang terkuat yang mereka miliki! Pukulan dibalas pukulan, tendangan dibalas tendangan! Benar-benar bebas dan lepas!


Pertarungan kali ini walaupun tidak semenegangkan dan seseru pertarungan pisau sebelumnya, namun sunguh merupakan pertarungan yang paling menunjukkan sifat ksatria dan jiwa lelaki diantara keduanya!


Wajah dan kepalan Bob Barry sudah terlihat biru lebam dan dipenuhi darah. Kening dan hidungnya juga terlihat sobek akibat tinju keras Mario Kaontole. Pun begitu halnya dengan sang mantan prajurit Rusia, kedua matanya sipit membengkak akibat berkali-kali dihajar tinju dan tendangan Sang Kapten. Hidung sang priapun terlihat bengkok patah akibat hantaman siku Bob Barry dan semua ini masih ditambah dengan bibirnya yang juga terlihat robek di satu sisi akibat terkena sapuan tendangan dahsyat milik kapten kapal The Promise Land ini.


Sementara itu saat kedua orang mantan prajurit ini masih terlihat saling baku hantam bertukar serangan, tiba-tiba terdengar suara-suara aneh dan teriakan ganjil lalu mendadak datang sambaran angin deras menyambar secara tiba-tiba kearah punggung Mario Kaontole yang sedang bertarung dengan Bob Barry!


“Blaar…!!!”


Satu suara keras terdengar manakala punggung Mario Kaontole dihajar tiba-tiba oleh gabungan serangan tapak dan tinju yang datang dari arah belakang! Sang Pria Bule yang tidak menyadari dan tidak sempat mengelak datangnya serangan yang tiba-tiba itu tentu saja langsung berteriak kesakitan dan terjatuh tertelungkup tak sadarkan diri diatas jembatan!


“Marco…! Maikel…! Apa yang sudah kalian lakukan…?” teriak Sang Kapten kala melihat dua orang rekan kapalnya ini terlihat berdiri di depannya sambil mendesis-desis aneh dengan mata lebar terpentang namun hanya terlihat putihnya saja!


“Arrghhhhhh… Panassssss… Panassssss…!!! Paaannaaassssss…!! Arrghhhh…!!!!” Raung keduanya bergantian sambil terlihat menggeliat aneh!


“Ma… Marco…? Ma… Maikel…? Kalian kenapa bisa jadi begini..?” Tanya Bob Barry sambil perlahan bergerak mundur kala menyadari ada sesuatu yang ganjil terjadi pada diri kedua rekannya ini.


Tanpa disangka tiba-tiba keduanya terlihat meraung keras lalu melesat bersamaan dan berusaha menghantam Bob Barry dengan pukulan gabungan mereka berdua yang hebat itu…!


Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Mengapa Maikel dan Marco yang sebelumnya berada di lantai dua kini bisa berada di lantai sembilan dan tidak mengenali Kapten mereka sendiri?


Semua ini tentu saja gara-gara ide gila Marco Ferdinand! Seperti kita ketahui sebelumnya, Marco dan Maikel berhasil dikalahkan hingga dibuat tidak berkutik dan tidak bisa bergerak oleh Tobias dan Diamante di lantai dua.


Agar bisa bergerak dan mengalahkan kedua anak buah Mario Kaontole tersebut, Marco pun kemudian meminta kepada Maikel untuk mengoleskan balsem yang dimilikinya ke bagian bokong masing-masing! Ide gila ini kemudian memang terbukti berhasil namun siapa yang bisa menduga panasnya balsem yang dioles dibawah sana nyaris membuat keduanya menjadi gila dan kehilangan akal sehat!


Keduanya kemudian berlari menyusul Tobias dan Diamante di lantai tiga dan begitu bertemu dengan keduanya, Marco dan Maikel pun langsung melabrak menyerang keduanya secara membabi-buta!


Kedua bule malang tersebut tentu saja menjadi terkaget-kaget manakala kedua lawannya yang sebelumnya menggeletak tak berdaya itu tiba-tiba kini berubah kesetanan layaknya dua monster ganas yang tidak mengenal rasa sakit dan belas kasihan sama sekali!


Tidak ada yang namanya jurus, tidak ada yang namanya jeda! Keduanya bahkan tidak diberi kesempatan sama sekali untuk membalas! Benar-benar dua pria bule yang malang… Sampai keduanya berkoak-koak memohon-mohon meminta ampun tetap saja tidak digubris oleh keduanya yang nampak seperti sudah kerasukan itu.


Nanti saat Diamante dan Tobias sudah kehilangan kesadarannya akibat dihajar habis-habisan baru kedua kru kapal The Promise Land yang sedang dalam kondisi aneh ini baru melepaskan keduanya dan kemudian berlari kesana-kemari sambil berteriak-teriak hingga akhirnya sampai di lantai sembilan tempat kapten mereka sedang melakukan pertarungan dengan Mario Kaontole.


Bob Barry tentu saja terlihat sangat kewalahan menghadapi dua rekannya yang sudah tidak mengenali dirinya ini. Ditambah luka-luka yang ditimbulkan akibat pertarungan sebelumnya membuat stamina sang kapten menurun dengan drastis. Beruntung luas jembatan besi yang tidak terlalu lebar membuat kedua rekannya juga tidak terlalu leluasa menyerang kapten mereka.


“Marco..! Maikel..! Sadarlah…! Aku Bob Barry rekan kalian…!” teriak Bob Barry seraya menangkis tinju dan pukulan Maikel dan Marco yang terus datang bertubi-tubi. Sayangnya bukannya berhenti, keduanya malah terus menghajar kapten mereka seperti orang kesetanan dan kehilangan akal! Hal ini membuat sang kapten lama-lama merasa jengkel juga. Saat melihat air laut yang bergerak didalam aquarium pikiran Bob Barry mendadak seolah mendapat pencerahan!

__ADS_1


“Air Laut! Penangkal murni setiap jin dan setan daratan! Kedua orang konyol ini nampaknya sudah kerasukan jin penunggu gedung ini… Benar-benar merepotkan! Nampaknya aku harus melempar kedua kampret ini kedalam Aquarium!” Begitu batin Bob Barry. Sang Kapten dengan polosnya menganggap kelakuan kedua rekannya ini pasti dikarenakan kesambet makhluk halus! Andai saja sang kapten tahu apa yang sesungguhnya terjadi…


Berbekal keyakinan tersebut, sang kapten pun kemudian terlihat memegang teralis besi penahan jembatan dan mengangkat tubuhnya sedemikian rupa dengan posisi kaki diatas. Lalu saat Marco dan Maikel merangsek maju, dengan indahnya sang kapten menolak keras besi pegangan dan melesat bersalto melewati kepala keduanya dan kemudian berputar diudara sambil kemudian melakukan tendangan split secara horisontal menggunakan kedua kakinya!


Benar-benar langkah yang tepat!


Marco dan Maikel yang terkena tendangan ini pun langsung terlontar keluar dari jembatan besi dan terpisah masuk kedalam air tepat disisi kiri dan sisi kanan Aquarium!


Hiu-hiu yang berada di dasar Aquarium pun tiba-tiba menjadi tak terkendali saat menyadari ada yang jatuh ke permukaan. Hiu-hiu ini kemudian saling berebutan naik ke permukaan menuju kearah Marco dan Maikel!


Namun nasib mujur nampaknya masih menaungi kedua orang konyol ini. Hiu-hiu yang memiliki indera perasa yang sangat sensisitif ini, rupanya merasakan dan menyadari keberadaan “Sesuatu” yang menyengat yang datang dari tubuh bagian bawah keduanya. Hal ini membuat rombongan hiu itu pun akhirnya berbalik mundur kembali ke dasar Aquarium.


Sementara itu, dinginnya air laut rupanya mampu meredakan rasa panas luar biasa di bokong Maikel dan Marco dan akhirnya mengembalikan kesadaran kedua makhluk konyol ini.


Keduanya pun kemudian terlihat berenang kesana-kemari sambil mengebas-ngebaskan celana yang mereka pakai di dalam air guna menghilangkan sisa-sisa olesan balsem di dalam celana mereka.


“Marco Sialaaan…!!! Dasar orang gila..!!! Lihat hasil ide cemerlangmu itu..!!!” teriak Maikel kearah Marco yang nampak berada di sisi lain Aquarium sambil berenang gelagapan.


“Marco… Maikel… Apa kalian sudah sadar…?” Teriak Bob Barry kepada keduanya dari atas jembatan


“Ka…. Kapten…?!” teriak Maikel dan Marco sambil mendongak keatas “Sedang apa kau diatas Sana Kapten…? Bukankah kau pergi mencari Melodie dan Samuu…?” tanya Marco dengan pandangan heran


Pertanyaan ini tentu saja membuat Bob Barry heran sampai tanpa sadar menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Kalian benar-benar tidak mengingat apa yang telah terjadi barusan…?”


Marco dan Maikel terlihat saling pandang sesaat sebelum kompak menggelengkan kepala.


“Kalian juga lupa bagaimana kalian sampai bisa berada di dalam Aquarium itu?”


Keduanya kembali menggelengkan kepala.


Bob Barry memandang keduanya dengan pandangan tajam penuh selidik. “Apa mungkin keduanya ini benar-benar kesurupan jin penunggu tempat ini…? Kalau dipikir-pikir rasanya tidak mungkin tempat semegah dan semewah ini ada penunggunya..! Tapi tadi… Ah sudahlah… Aku tidak boleh terlalu membuang waktu di tempat ini… Aku harus segera menuju ruang kerja Jefri Kalangit di puncak gedung!” Batin Sang Kapten


“Kalian lihat kemana perginya pria bule yang tadi kalian pukul hingga terjatuh diatas jembatan ini…?”


“Kami tidak melihatnya Kept! Dari tadi kami hanya melihat Kapten seorang diri diatas jembatan…” ucap Marco Ferdinand


“Hmm… Mungkinkah dia menyelinap pergi saat aku terpaksa berkelahi menghadapi Marco dan Maikel tadi…?” Batin Sang Kapten


“Ya sudah, tetaplah kalian disitu menunggu Putra… Aku akan pergi dulu menjemput Melodie dan juga Hati Samudera…” ucap sang Kapten sembari memungut belati komet miliknya dari atas lantai. Setelah itu sang kapten pun terlihat meninggalkan jembatan besi dan berlari kearah Lift Kristal yang pintunya terlihat terbuka.


Begitu berada di dalam lift, Bob Barry kemudian menekan tombol yang menunjukkan letak lantai teratas. Pintu Lift yang sebelumnya terbuka kini mulai menutup dengan normal dan kemudian lift ini pun mulai bergerak seperti biasa.


Jika sebelumnya lift ini hanya berhenti di lantai sembilan, itu karena dikendalikan oleh remote kontrol yang dipegang oleh Mario Kaontole. Kini setelah remote tersebut telah dibuang kedalam aquarium, Lift ini pun kembali berfungsi dengan normal hingga akhirnya bisa membawa Bob Barry tanpa halangan sampai ke lantai teratas.


Sesampainya di lantai teratas, Bob Bary pun kemudian akhirnya keluar dari dalam lift dan berjalan sampai di ujung koridor panjang yang sebelumnya dipenuhi oleh patung-patung Romawi kuno. Boib Barry pun kemudian berjalan dengan tegak menelusuri koridor panjang tersebut hingga akhirnya sampai di depan pintu putih dengan gagang berlapis emas yang merupakan pintu penghubung ruangan kerja Jefri Kalangit di puncak gedung Langit tower. Setelah sebelumnya menarik napas panjang, Bob Barry pun kemudian akhirnya membuka pintu putih tersebut dan langsung melangkah masuk!


“Selamat datang Kapten Barry! Maafkan aku yang sudah memberimu penyambutan yang tidak menyenangkan!” ucap satu suara dari dalam ruangan yang bukan lain adalah Jefri Kalangit sendiri! Sang miliarder terlihat berdiri ditengah ruangan sambil sesekali menghisap rokok tembakaunya yang mengepulkan asap berbau sengak.


Dibelakang sang miliarder terlihat dua orang pria berbadan besar mengenakan setelan jas lengkap dengan kacamata hitamnya. Kedua orang ini merupakan dua penjaga atau Bodyguard yang biasanya ditugaskan untuk menggantikan tempat Mario Kaontole jika sang pria bule sedang melakukan tugas di tempat lain.


Bob Barry mengedarkan pandangan kesekeliling ruang kaca mewah tersebut dan akhirnya pandangannya membentur juga pada sosok Melodie yang memang dicari olehnya dan rekan-rekannya. Gadis itu nampak tertunduk pucat di sudut ruangan sambil menimang bayi Hati Samudera dalam pelukannya.


“Melodie… Kau tidak apa-apa…?” tanya sang kapten dengan nada khawatir. Sang gadis nampak hanya menggelengkan kepala dengan perlahan.


“Dia tidak apa-apa Kapten Barry, hanya sedikit lelah… Kau tidak perlu sampai khawatir begitu…” ucap Jefri Kalangit sambil terkekeh geli. Hilang sudah image sopan dan santun yang sebelumnya ditunjukkan oleh Sang Miliarder di hadapan Bob Barry dan rekan-rekannya!


“Tuan Kalangit…! Aku benar-benar tidak menyangka anda orang yang seperti itu… Apa sesungguhnya maksudmu melakukan permainan busuk seperti ini…?”


“Permainan busuk apanya Kapten Barry? Coba kau jelaskan padaku…?” ucap sang miliarder seraya menghembuskan asap rokoknya kearah wajah sang kapten!

__ADS_1


“Bagaimana tidak busuk? Kami sudah melakukan tugas yang kau berikan pada kami dengan baik dan kami hanya tinggal menyerahkan koper itu kepadamu… Namun kenapa kau malah sampai hati bertindak licik dengan menculik Melodie dan bayi itu tanpa sepengetahuan kami…!” seru Bob Barry dengan suara keras!


“Jaga kata-katamu Kapten Barry! Sejak semula Nona Melodie adalah orangku yang kupinjamkan kepada kalian untuk tugas penyelaman! Sebagai orang yang kubayar tentu aku berhak menariknya kapan saja yang aku mau bukan? Selain itu aku menyuruh Mario untuk menjemputnya tanpa paksaan sama sekali! Jadi jangan kau bilang aku sudah melakukan penculikan! Aku bisa menuntut mu karena hal itu…!” Balas Jefri Kalangit tak kalah kerasnya!


Wajah sang kapten langsung memucat mendengar hal ini! tentu saja jika Melodie pergi mengikuti Mario atas keinginannya sendiri, maka ini sudah pasti bukan penculikan namanya!


“Sekarang aku bertanya padamu Nona Melodie, apakah keberadaanmu ditempat ini atas dasar unsur paksaan? Atau apakah benar seperti yang dituduhkan Kapten Barry bahwa aku menyuruh Mario untuk Menculikmu dari kapal mereka? Angkat mukamu dan bicaralah…!” bentak Jefri Kalangit kepada sang gadis di sudut ruangan.


Dengan tubuh bergetar ketakutan, Melodie perlahan mengangkat kepalanya dan memandang kearah Bob Barry dengan wajah memelas.


“Ti..Tidak ada penculikan… Aku berada disini atas kemauanku sendiri… Kau pergilah Bob… aku tidak apa-apa berada disini…” ucap sang gadis dengan suara tersendat.


Suara tawa Jefri Kalangit terdengar membuncah ke sekeliling penjuru ruangan luas miliknya itu.


“Kau dengar sendiri bukan Kapten Barry?”


Bob Barry sesaat nampak terdiam karena tidak menyangka akan mendengar Melodie berkata seperti itu. Namun saat melihat tubuh sang gadis yang nampak gemetar ketakutan, Sang Kapten pun kemudian memutar otak sambil akhirnya kembali membuka suara.


“Ok, anggaplah Melodie memang datang kemari atas kemauannya sendiri.. Lalu bagaimana dengan Bayi itu? Kemudian bagaimana juga dengan menghilangnya jasad Duyung yang berada di lemari pendingin kapal kami? Kalau soal koper aku tidak akan menyinggungnya karena itu memang merupakan hak anda… Tapi kalau soal bayi dan jasad ibunya itu aku ingin mendengar kau mau berkilah apalagi Tuan Kalangit..!!”


“Oh soal bayi ini…? aku sama sekali tidak menculiknya Kapten Barry yang terhormat! Nona Melodie lah yang membawanya kemari… Kalau kau menginginkannya yah silahkan kau ambil saja bayi itu! Tapi aku tetap tidak mengijinkan Nona Melodie kau bawa karena aku masih mempunyai urusan pekerjaan yang mengikat dengan dirinya… Kalau soal jasad duyung… Jasad yang mana yah…? Kok aku tidak tahu sama sekali…? Bisa kau jelaskan lebih detail lagi tentang jasad yang kau maksud itu kapten Barry…” jawab Jefri Kalangit seraya menyunggingkan senyum jumawa.


“Benar-benar licik…!” Batin Bob Barry sambil menggertak gigi.


“Pria ini tahu kalau Melodie tidak akan membiarkan aku merebut Samuu dari sisinya, oleh karena itu dia berani bicara menantang seperti itu… Benar-benar pintar berkilah…” sambung sang kapten dalam hati


“Jadi bagaimana Kapten? Ada lagi yang ingin kau tanyakan…? Atau mungkin… Oh aku tahu…! Aku tahu Kapten Barry…! Maafkan kecerobohanku ini… Kau pasti ingin menanyakan tentang bayaran kalian kan…? Ha.ha.ha… Tungulah sebentar disitu…”


Jeffri Kalangit kemudian terlihat membungkuk meraih sesuatu dari balik meja kerjanya. Setelah beberapa saat, sang miliarder kemudian nampak menarik keluar sebuah koper hitam dan meletakkannya diatas meja lalu membukanya.


“Di dalam tas ini ada uang sebesar tiga juta Dollar Amerika dan sekantung Berlian lepas seharga tujuh juta Dollar… Ini semua bayaran untuk mu dan kru kapalmu yang telah berhasil membawa koper Titaniumku dari dasar laut…” ucap Jefri Kalangit seraya kemudian menutup koper tersebut dan menyerahkan koper tersebut kepada salah seorang pengawalnya untuk di taruh dihadapan Bob Barry.


Alih-alih memberikan secara hormat tas koper tersebut kepada Bob Barry, Sang pengawal malah dengan begitu kurang ajarnya kemudian melempar tas berisi uang itu dengan begitu saja diatas lantai hingga terseret jatuh tepat dikaki Sang Kapten!


Wajah Bob Barry terlihat mengelam pertanda menahan geram, tangannya yang penuh luka terlihat mengepal kencang karena mendapat perlakuan seperti itu. Hati sang kapten bahkan kemudian kembali bertambah sakit saat didengarnya Jefri Lalangit bukannya menegur pengawalnya malah kemudian terlihat tertawa terbahak-bahak!


Benar-benar melecehkan dan sangat memandang rendah!


Sang Kapten bukanlah orang yang pandai beradu lidah, kedatangannya kali ini tidaklah bertujuan untuk menagih pembayaran atas pekerjaan yang sudah mereka lakukan walaupun itu memang adalah hak mereka! Kedatangan Bob Barry dan teman-temannya ke Langit Tower hanya bertujuan untuk menjemput Melodie dan Hati Samudera dan bukan untuk hal yang lain! Sehingga apa yang dilakukan oleh Sang Miliarder dan para pengawalnya ini benar-benar sangat menyinggung perasaan dan harga diri Bob Barry!


Kapten kapal The Promise Land ini jelas bukan tipe orang yang suka berpanjang sabar, apalagi setelah mendapat perlakuan yang bersifat sangat merendahkan seperti ini! Sang Kapten kemudian terlihat menegapkan posisi dan kuda-kudanya. Dari hal ini saja sudah terlihat jelas bahwa Bob Barry nampaknya sudah bertekad untuk menerjang dan merebut paksa Melodie dan Hati Samudera dari tangan Jefri Kalangit dan kedua orang pengawalnya itu!


Sesaat lagi Bob Barry akan menerjang maju untuk merebut sang gadis dan Hati Samudera, tiba-tiba kaca besar yang berada di belakang ruang kerja Jefri Kalangit mendadak pecah berhamburan dan menimbulkan suara keras! Pecahan-pecahan kaca beraneka bentuk kemudian terlihat jatuh bertaburan dibarengi dengan melesatnya tiga sosok hitam yang tiba-tiba menerjang masuk kedalam ruangan menggunakan tali yang terlihat terjuntai dari atas bangunan!


Dua sosok berpakaian hitam taktis dan berompi hitam dengan begitu cepatnya menubruk kedua pengawal Sang Miliarder dan kemudian melumpuhkannya hingga diam tak berkutik diatas lantai! Sementara sosok hitam satunya yang bertubuh jauh lebih kecil nampak melayang lincah diatas kepala Jefri Kalangit sambil kemudian bersalto melancarkan sebuah tendangan kearah wajah sang boss besar Langit Corporation!


“Penyusup Keparat…!” Bentak geram Sang Miliarder sembari menangkis tendangan yang dilancarkan oleh sang bayangan berbaju hitam itu dengan tangan kirinya dan tidak hanya sampai disitu, Jefri Kalangit pun kemudian membalas menyerang dengan menghujamkan cakar tangan kanannya menjambret kearah depan!


Suara kain terobek terdengar manakala cengkraman Jefri Kalangit berhasil mengenai wajah si bayangan hitam yang tertutup oleh topeng pasukan serbu tersebut!


Seraut wajah cantik dengan rambut tergerai nampak memandang tajam kearah Jefri Kalangit. Alur panjang berwarna kemerahan bekas tanda cakaran sang miliarder nampak terlihat membekas jelas di pipi sang gadis sampai kesudut matanya yang kini terlihat memerah!


Cella Natalia…!


Salah satu dari tiga bayangan hitam yang menyerbu masuk ke ruang kerja Jefri Kalangit rupanya adalah sekretaris pribadi Jefri Kalangit sendiri! Sungguh benar-benar tak dapat disangka!


Sang gadis sekretaris yang mengenakan seragam hitam taktikal dengan rompi serbu anti peluru tersebut kini nampak berdiri keren sambil menodongkan sebuah pistol kearah sang boss besar!


“Jefri Kalangit! Menyerahlah! Kami dari Interpol ditugaskan untuk menangkap anda atas tuduhan kejahatan pencurian lintas negara! Ucap sang gadis dengan suara mantap!


 

__ADS_1


\*


 


__ADS_2