
Lift kristal tembus pandang yang membawa Bob Barry terlihat bergerak naik melewati satu persatu lantai yang terdapat pada gedung pencakar langit milik perusahaan Langit Corporation ini. Tak disangka setelah mencapai lantai kesembilan tiba-tiba Lift kristal tersebut terhenti! Bob Barry kemudian memperhatikan panel tombol yang ada di dalam lift serta beberapa kali mencoba menekan tombol lantai paling atas namun sayang usahanya itu sia-sia belaka. Lift tersebut tetap terdiam mandek pada tempatnya!
Namun tiba-tiba pintu lift itu kemudian terbuka dengan sendirinya dan begitu pintu lift itu terbuka, barulah Bob Barry menyadari bahwa di seberang sana tepat berhadapan dengan pintu lift, ada Mario Kaontole yang sedang berdiri tegap menunggu kedatangannya!
Di tangan sang pria bule terlihat sebuah alat berbentuk remote pengendali yang rupanya digunakan oleh sang pria bule untuk mengendalikan lift yang dinaiki Sang Kapten! pantas saja lift itu terhenti tiba-tiba di lantai sembilan, semuanya ternyata telah diatur rapi oleh sang tangan kanan Jefri Kalangit ini.
Sang pria kemudian terlihat membuang remote di tangannya kedalam akuarium serta sejurus kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya yang ternyata adalah sebilah pisau komando!
Sementara disisi lain, Bob Barry kemudian terlihat melangkahkan kaki keluar dari dalam lift dan mendapati bahwa dirinya ternyata berdiri didekat tepian Aquarium raksasa! Di atas aquarium tersebut terlihat sebuah jembatan baja yang memiliki pegangan dan pijakan terbuat dari besi. Rupanya jembatan besi tersebut dibuat melintang diatas aquarium agar mempermudah saat memberi makan ikan-ikan yang terdapat didalam aquarium tersebut.
Perlahan namun pasti Kapten kita pun kemudian terus melangkahkan kaki naik keatas jembatan dan kemudian berhenti beberapa langkah tepat dihadapan sang pria bule.
Bob Barry menatap tajam kearah Mario Kaontole yang sedang berdiri tegap dihadapannya. Melihat pisau komando yang tergenggam erat ditangan sang pria bule, Kapten kita pun kemudian terlihat memajukan kaki kanannya dan menekuk serta memutarnya kearah dalam beberapa derajat. Setelah itu Bob Barry lalu perlahan menarik keluar belati bintang jatuh yang tersimpan dalam saku jaketnya dan kemudian memegangnya secara terbalik dan menyerong di depan dada.
Mata Mario terlihat menyipit kala melihat kuda-kuda pembukaan Knife Combat yang diperagakan oleh sang Kapten.
“Kopassus’Dagger Style…?”
Kapten kita agak terperanjat juga saat mengetahui kalau lawan mengenali kuda-kuda pembukaan duel pisau yang dipertunjukkannya. Namun sesaat kemudian dirinya malah dibuat lebih terperanjat kala melihat Mario kemudian merubah posenya dan memperlihatkan kuda-kuda pembukaan duel pisau yang juga sama!
“Former Leutenant Mario Kaontole, Red Berrets, Spestnaz Bruinwich Third Division Moskwa 2003. Fairbairn&Sykes Commando Knife, Koppassus’ Dagger Style -Prabhowo Subhijakto!!!”
Bob Barry kali ini tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya kala mendengar seruan ritual perkenalan duel pisau yang barusan diucapkan oleh Mario Kaontole..!
Untuk diketahui, ada sebuah ritual tak tertulis dalam pertarungan pisau yang dilakukan oleh dua orang prajurit yang hendak melakukan duel pisau. Yaitu pertama menyebut nama dan pangkat, kemudian nama kesatuan dan tempat tugas, jenis pisau, gaya bertarung dan nama mentor pisau atau pelatih pisaunya. Hal ini dilakukan agar jika salah satu atau bahkan keduanya gugur dalam duel pisau, maka kedua belah pihak tidak akan menyisakan rasa penasaran. Hal ini juga dilakukan untuk menunjukan rasa loyalitas dan kebanggaan pada kesatuan dan mentornya masing-masing.
“Former Captain Bob Barry, Blue Berrets, U.N Peacekepper, Garuda Team Alpha Lebanon 2006, Commet Costumize Dagger, Kopassus’ Dagger Style -Prabhowo Subhijakto...!!!”
Sungguh luar biasa! Tanpa disangka kedua mantan prajurit ini walaupun berbeda asal negara, berbeda kesatuan dan berbeda jenis pisau yang dimiliki namun ternyata memiliki gaya pertarungan pisau yang sama bahkan memiliki mentor pisau yang juga ternyata adalah orang yang sama! Bagaimana bisa ada kebetulan yang luar biasa seperti ini?
Supaya engkau tidak bingung mengikuti kisah ini, maka biarlah akan ku jelaskan padamu wahai kawanku yang baik.
Sepuluh tahun yang lalu, Bob Barry mengawali karirnya di dunia militer sebagai seorang prajurit. Karena kecemerlangan dan kemampuannya yang diatas rata-rata, dirinya pun kemudian mendapat tawaran untuk menjadi bagian dari Pasukan Perdamaian PBB serta mendapatkan posisi sebagai Kapten Garuda Team Alpha dan bertugas di Beirut, Lebanon.
Namun ganasnya perang dan penderitaan yang dialami oleh para rakyat kecil akibat perang, membuat batin dan hati kecil Bob Barry terusik sehingga kemudian memutuskan untuk tidak melanjutkan karir militernya. Bob Barry pun mengundurkan diri secara terhormat dan kemudian memilih untuk menjalani usaha kapal ekspedisi penyelaman profesional seperti sekarang ini.
Pada saat menjalani masa-masa pelatihan militer sebelum keberangkatan ke Lebanon itulah Bob Barry kemudian mendapatkan ilmu pertarungan pisau jarak dekat atau yang dikenal dengan istilah Knife Combat secara langsung oleh Prabhowo Subhijakto sendiri! Sang legenda hidup dalam unit pasukan khusus internasional! Prabhowo Subhijakto sendiri setelah pensiun di dunia kemiliteran akhirnya kemudian lebih banyak mendapat tawaran untuk melatih prajurit-prajurit muda satuan unit khusus dari berbagai negara termasuk salah satunya negara Rusia! Jadi tidaklah terlalu mengherankan jika kemudian hari ada seorang mantan prajurit dari luar negeri kini menerapkan gaya pisau yang sama seperti yang dimiliki oleh Bob Barry.
Kedua orang mantan prajurit ini kemudian terlihat bergerak maju dan perlahan mempertemukan sisi tajam pisau masing-masing yang mereka genggam secara terbalik dengan mantap dan tanpa ragu.
“Belum terlambat untuk berubah pikiran Captain Barry… pergilah bersama kedua rekanmu… aku tidak ingin sesama mantan prajurit seperti kita harus saling menumpahkan darah di tempat seperti ini…” ucap Mario sambil menatap tajam kearah lawan didepannya
“Aku sangat menghargai apa yang kau katakan itu… Namun aku hanya akan pergi jika sudah membawa Melodie dan bayi itu! itulah kebulatan tekadku..!” ucap Bob Barry mantap dan tanpa ragu!
“Kalau begitu memang tidak ada jalan lain lagi… Hanya kau atau aku yang bisa keluar dari sini hidup-hidup Captain Barry…!” geram Mario sambil kemudian tiba-tiba mengesekkan dengan sekuat tenaga pisau komando yang dipegangnya pada tepian belati komet milik Bob Barry! Bunga api pun kemudian terlihat memercik diatara keduanya akibat gesekan antara dua belati tersebut!
Setelah menggesekkan tepi pisaunya, secara mengejutkan dan tidak terduga, Mario Kaontole kemudian tiba-tiba menggeser tubuhnya kesisi Bob Barry dan berusaha menyarangkan tikaman secara vertikal kearah lambung sebelah kiri sang Kapten!
“Trang…!”
Lelatu api kembali terlihat saat Bob Barry menangkis tikaman vertikal tersebut dengan cara menggerakkan belatinya secara menyerong guna menangkis tikaman mematikan yang dilancarkan oleh Mario Kaontole!
Dan tidak sampai disitu, Bob Barry pun kemudian terlihat merunduk dan menekukkan kakinya lebih dalam dan kemudian berganti membalas menyabetkan belatinya kearah perut bagian dalam sang pria bule!
Melihat hal ini Mario sontak terkejut besar dan berteriak keras seraya melempar tubuhnya kearah belakang sehingga luput dari serangan maut belati sang kapten!
Benar-benar sangat menegangkan! Kedua mantan prajurit ini hanya dalam waktu beberapa detik sudah saling menyerang bergantian satu sama lain dengan menggunakan pisau dan belati masing-masing!
“Nice Attack…!” Puji Mario sambil meraba jas hitamnya dibagian perut yang nampak robek akibat sabetan belati Bob Barry!
“As good as you…!” Balas Bob Barry seraya memegang jaketnya yang juga terlihat terkoyak di bagian rusuk!
Bob Barry dan Mario Kaontole kemudian terlihat saling menatap satu dengan yang lain dengan pandangan tajam bersinar. Lalu tiba-tiba secara tak terduga, dari sisi kiri dan kanan aquarium melesat keluar dua ekor hiu putih raksasa yang rupanya merasakan adanya aura pembunuhan yang cukup kuat yang datang dari arah permukaan aquarium!
Kedua ekor hiu tersebut sesaat nampak meliukkan tubuhnya di udara secara indah sebelum akhirnya kembali turun. Dan begitu kedua hiu putih raksasa ini kembali masuk menyentuh permukaan Aquarium, ditengah cipratan air yang membumbung tinggi dan kemudian membasahi tubuh Bob Barry dan Mario Kaontole, kedua orang ini tiba-tiba terlihat saling menggenjot tubuh dan menerjang maju dengan pisau tergenggam erat mengarah langsung ke jantung lawan masing-masing …!
Sementara itu mari kita tinggalkan sejenak pertarungan antara Bob Barry dan Mario Kaontole yang berlangsung seru dan panas diatas jembatan Aquarium raksasa yang terdapat di lantai sembilan, mari kita kembali melihat keadaan Maikel dan Marco yang berada di lantai dua.
__ADS_1
Pertarungan seru rupanya juga terjadi antara duo Maikel-Marco melawan Tobias dan Diamante. Maikel dengan gaya kungfu Wingchun dan *** chi nya kali ini harus menghadapi lawan berat sekelas Tobias yang juga ternyata cukup piawai memainkan jurus-jurus kungfu dari dataran tiongkok tersebut. Harus dimaklumi bahwa Rusia masih satu daratan dan cukup dekat dengan China sehingga merupakan hal yang mudah untuk mempelajari beladiri kungfu tersebut langsung dari sumbernya.
Beberapa kali Maikel Stefen mampu dengan indahnya menyarangkan jurus-jurus pukulan telapaknya kearah tubuh tinggi besar sang bule Rusia, namun Tobias pun kemudian juga ganti membalas Maikel Stefen bahkan sampai mendesak pemuda ini hingga terlihat kerepotan menghindar kesana-kemari!
Lalu bagaimana dengan Marco Ferdinand? Jika pertarungan antara Maikel dan Tobias masih terlihat indah dikarenakan yang berkelahi adalah dua ahli pemakai kungfu Wing Chun dan *** Chi yang terkenal memiliki gerakan dan jurus-jurus yang indah dan dinamis, maka pertarungan Marco dan Diamante malah terlihat jauh lebih keras dan brutal!
Kungfu Shaolin Utara yang pernah diyakini si Bengal saat dahulu berkelana hingga sampai di pedalaman Nanjing China, memang lebih menitik beratkan pada kekuatan Gwa Kang atau kekuatan luar. Berbeda dengan aliran kungfu lain seperti Wing Chun dan *** Chi yang memfokuskan pergerakan Chi dalam tubuh untuk membangun Sin kang atau kekuatan dalam, kungfu Shaolin Utara yang dipelajari Marco mengharuskan si bengal jagoan kita ini untuk membentuk otot dan melatih urat hingga sampai ke batasan tertinggi!
Dengan kemampuan yang dimiliki Marco, sekarang ini sesungguhnya sudah sangat jarang ada orang yang bisa menghadapi si bengal dalam pertarungan satu lawan satu. Namun sialnya, hari ini pemuda berkacamata jagoan kita ini ternyata harus menghadapi Diamante yang tanpa disangka-sangka pernah mempelajari ilmu Baju Besi dari Shaolin Sekte Selatan yang terkenal itu! Benar-benar gawat!
Alkisah dahulu Shaolin Sekte Utara dan Shaolin Sekte Selatan berdiri dalam satu induk perkumpulan yang sama. Namun dikarenakan satu dan lain hal, keduanya kemudian akhirnya berpisah dan masing-masing membangun dan membesarkan perkumpulannya sendiri-sendiri. Ilmu Baju Besi dan Kepalan Baja pada dasarnya adalah ilmu yang sengaja diciptakan oleh para leluhur pendiri Shaolin Sekte Selatan untuk mengalahkan Ilmu Tinju Besi dan Ilmu Perisai Lonceng Emas yang merupakan ilmu andalan Shaolin Sekte Utara!
Dan kini dilantai dua gedung Langit Tower, dua orang pewaris ilmu Shaolin Sekte Utara dan Shaolin Sekte Selatan saling bentrok mengadu kemampuan! Karena memiliki ilmu yang pada dasarnya masih satu aliran dan sama-sama menitikberatkan pada kekuatan tenaga luar, maka bunyi keras dan nyaring pun kerap terdengar setiap kali Marco dan Diamante saling mengadu tinju dan juga tendangan. Satu tinju dibalas satu kepalan, satu tendangan dibalas satu sepakkan! Benar-benar pertarungan yang sengit dan mendebarkan!
Sayang walaupun memiliki kemampuan yang luar biasa, Marco Ferdinand masih kalah dari segi pengalaman dan juga dari segi latihan. Sehingga tidak heran kalau pada akhirnya jagoan kita ini juga harus terdesak hebat oleh serangan-serangan Diamante yang terus datang bergulung silih berganti menghantam tubuhnya!
Setelah beberapa lama berlangsung, pertarungan antara keempat orang inipun kemudian mulai memasuki titik kulminasi tertinggi. Hingga pada satu kesempatan dan dibarengi dengan suara bentakan keras, Tobias dan Diamante akhirnya berhasil secara bersamaan menendang telak tubuh Marco Ferdinand dan Maikel Stefen dengan tendangan terbang hingga terlempar jauh dan terbanting tumpang tindih saling berhimpitan!
“Cih…!” Diamante meludah keatas lantai
“Benar-benar menyusahkan…” ucap Tobias sambil kemudian terlihat menyandarkan tubuhnya ke dinding dan menyalakan sebatang rokok.
“Mari kita menyusul ke lantai atas, siapa tahu bantuan tenaga kita diperlukan oleh Boss besar…” ucap Diamante sesaat kemudian.
“Lalu bagaimana dengan mereka berdua?” ucap Tobias sambil melirik kearah Marco dan maikel.
“Biarkan saja disitu! Untuk sementara waktu mereka tidak akan mungkin bisa kemana-mana…” ucap Diamante seraya memencet tombol lift
“Kita belum bisa menggunakan lift itu untuk sementara waktu Diamante... Ingat! remote kendalinya masih dipegang oleh Leutenant…” ucap Tobias
Diamante nampak terlihat menggerutu.
“Kalau begitu mari kita pergi saja ke kafetaria di lantai tiga… Semoga saja masih ada yang bisa kita makan disana… Aku benar-benar lapar setelah bertarung melawan mereka…” Ucap Diamante sembari kemudian terlihat berjalan kearah eskalator yang berada di seberang lift kristal dan langsung diikuti oleh Tobias.
Sementara itu tubuh Maikel dan Marco yang ditinggalkan begitu saja terlihat sangat mengenaskan. Wajah keduanya terlihat matang biru dan berkas darah terlihat merembes dari pelipis dan sudut bibir masing-masing.
“Ma… Marco…” desis Maikel yang berada diatas tubuh sang rekan “Apa kau bisa bergerak…?”
“Marcooo… Kau bisa mendengarku…?”
Tubuh Marco kelihatan sedikit berguncang
“Yah… Aku bisa mendengarmu Kel…”
“Apa kau bisa menggerakkan tubuhmu…?”
“Sepertinya tidak bisa…! Bahkan untuk menggulingkan tubuhmu dari atas tubuhku saja aku sepertinya tidak mampu … Ha.ha.ha…” Desis si bengal sambil kemudian berusaha tertawa
“Maaf Co, aku juga tidak bisa menggerakkan tubuhku… nampaknya mungkin cuma sebelah tanganku dan leherku saja yang bisa kugerakkan sedikit…” Desah pelan Maikel Stefen.
“Mungkinkah kita memang harus mati di tempat ini…?” keluh sang pemuda bertopi kupluk
“Jangan dulu berputus asa Bro! ingat janji kita kepada Kapten! kita tidak boleh menyerah! Kita harus bertahan hidup dan menungu Kapten mengeluarkan kita dari tempat ini bersama Melodie dan juga Samuu…”
“Iya tapi bagaimana mungkin? Kedua orang bule itu terlalu tangguh buat kita! Selain itu tubuh kita bedua sudah babak belur dan tidak bisa digerakkan seperti ini…”
“Masih ada cara Bro… Masih ada cara…” desis si bengal
“Bukankah kau selama ini selalu membawa Balsem kuning yang memiliki cap tiga kaki bersilang itu kemanapun kau pergi Kel?” sambung Marco kembali
“Iya, aku memang selalu membawanya… Tapi buat apa…?”
“Apa kau membawanya sekarang…?”
“Iya… Aku bawa… Ada di saku celanaku sebelah kiri…”
“Apa bisa kau raih…?”
__ADS_1
“Kelihatannya sih bisa… Tapi jelaskan dulu buat apa balsem itu kau sebut-sebut…”
“Coba kau gerakkan lehermu agar aku bisa lebih dekat dengan telingamu…”
Karena penasaran, Maikel Stefen pun kemudian menggerakkan lehernya kearah mulut rekan dibawahnya.
Marco pun kemudian terlihat berbisik-bisik menjelaskan sesuatu ke telinga sang pria bertopi kupluk ini.
Maikel Stefen semula nampak serius mendengarkan penjelasan Marco namun tiba-tiba sepasang matanya terlihat membeliak besar dan kemudian…
“Gilaaa…! Benar-benar usul gila…! Aku tidak mau…! Tidak mungkin…! Jangan harap aku mau melakukan hal menjijikkan seperti itu…! Kau benar-benar sudah tidak waras…!”
“Tapi Kel… Cuma itu satu-satunya jalan buat kita agar kita bisa bergerak kembali dan mengalahkan kedua orang bedebah itu…!!!”
“Tidak mungkin! Aku tidak mau melakukannya..!!! Pasti ada jalan keluar lain …!”
“Dengan keadaan kita yang hampir lumpuh seperti ini…? Jelas tidak mungkin ada jalan lain Kel…” Bisik Marco pelan
“Kita sudah berjanji untuk mengalahkan dua orang pria bule itu… Jika kita tidak segera bangkit, maka keduanya pasti akan bergabung dengan keparat bule penculik Melodie dan Samuu itu… Mereka pasti akan mengeroyok Kapten sehingga akan menjadi sangat sulit buat Kapten untuk bisa merebut dan membawa kembali Melodie dan bayi itu… Apakah itu yang kau mau…?” bisik Marco kembali
Maikel yang sebelumnya nampak berpikir keras pun akhirnya terlihat menghembuskan nafas panjang mendengar bisikan Marco yang terdengar mulai melemah.
“Baiklah kalau begitu… Tapi satu hal kupinta padamu… Satuuuu hal saja….”
Marco terlihat tersenyum
“Hal ini… Kejadian ini… Tidak pernah terjadi…! Aku tegaskan kembali padamu Marco Ferdinand! Hal ini tidak pernah terjadi! Ini hanyalah sebuah mimpi buruk semata…! Kapten dan Putra tidak boleh sampai tahu tentang hal ini! Karena ini memang tidak pernah terjadi! Sama sekali tidak pernah terjadi…!!! Apa kau jelas anak Setaaan…???!!???”
Marco kontan tertawa terbahak-bahak
“Sudah cepat ambil basemnya sekarang… Nanti kita tidak keburu menyusul dua orang bule itu…”
Dengan bersungut Maikel pun kemudian menggapai saku celananya dan mengeluarkan sebuah balsem kecil berwarna kuning lalu membuka penutupnya dan mencedok isi balsem tersebut menggunakan jari telunjuk.
“Ingat Bro… Oleskan secara perlahan rata dan mantap! Usahakan jangan sampai ada keraguan dan juga kebimbangan…!”
“Tutup mulutmu Kampreet! Ini juga lagi diusahakan…!” Balas Maikel Stefen Jengkel
Sekedar informasi, balsem kuning tersebut memang sudah sedari dulu terkenal akan khasiatnya yang mustajab dan juga oleh panasnya yang luar biasa. Maikel Stefen memang selalu membawa Balsem ini karena sudah menjadi kebiasaannya sejak masih bersekolah dulu.
Maikel terlihat ragu-ragu sambil memandang telunjuknya yang dilumuri cream kuning berbau menyengat itu. Namun kala mengingat Sang Kapten yang belum jelas nasibnya itu, pemuda ini pun secara nekad kemudian serta merta memasukkan tangannya ke dalam celananya sebelah belakang dan kemudian mengoles-oles telunjuknya itu ke daerah ‘pangkalan’ Mr.Sunhole di bawah sana!
“Bagus Bro! Jangan lupa nanti punyaku cukup dioles tipis-tipis saja! Kalau bisa tipisnya kayak anak gadis pakai foundation atau alas bedak gitu Bro…” ucap Marco sambil terkekeh geli
Benar-benar kurang waras…!
Maikel yang memang sebenarnya agak jengkel dengan usulan gila Marco Ferdinand ini pun kemudian terlihat mencolek habis seluruh isi balsem dan kemudian langsung memasukkan tangannya ke celana bagian belakang si pemuda bengal yang berada dibawahnya ini!
“Alamaak…!!! Kau mengolesnya kebanyakan Kel…!!!” teriak Marco dengan nada panik
“Ini benar-benar aib dan penyesalan terbesar dalam hidupku…” Jerit Maikel Stefen dalam hati sembari melihat telunjuk malangnya yang telah ternoda dan tadi sempat ‘Singgah’ berputar-putar di sumur angker milik Marco Ferdinand jauh dibawah sana!
Tidak menunggu lama, reaksi dari balsem pun mulai terasa oleh keduanya... Dimulai dari arah sebelah “bawah” rasa panas menyengat pun kemudian serta merta naik spontan hingga terasa membakar otak!
Wajah Maikel dan Marco yang sebelumnya biru lebam tiba-tiba terlihat merah bagai udang dan kepiting rebus! Dan bukan itu saja, kedua mata dua rekan Bob Barry ini juga mendadak terlihat membeliak dengan hanya sedikit menyisakan manik hitam! Benar-benar menakutkan…!
Rasa panas yang tidak tertahankan membuat Marco dan Maikel tiba-tiba melompat bangkit dan berteriak dengan suara keras! Keduanya pun kemudian terlihat berlari tak karuan bagai kesetanan menuju lantai tiga sambil berteriak-teriak keras menggidikkan!
“Arrghhhhhhhh… Panassssss… Ini benar-benar Panassssss…!!! Tobbaaaattt!!! Arrrghhhh…!! Paaannaaassssssssss …!!!!”
Tidak kah kau merasakannya Kawan? Sesuatu yang sangat buruk sepertinya akan segera terjadi!
Dan jujur… Aku sungguh tidak berani membayangkannya…!
\*
__ADS_1