Hati Samudera

Hati Samudera
Epilog


__ADS_3

Putra Gilang menambahkan kayu bakar pada api unggun yang berada dihadapan mereka sehingga akhirnya hawa di pinggir pantai Pulau Serena itu pun terasa kembali nyaman dan hangat. Samuu yang baru kali ini melihat api unggun dan merasakan hangatnya udara nampak memandang dengan takut-takut namun penuh dengan rasa ketertarikan.


“Jadi bagaimana setelah itu Kept, bagaimana caranya kau bisa meloloskan diri dari himpitan batu yang menindihmu dan yang terlebih penting bagiamana caranya kau bisa bernafas tanpa adanya alat bantu pernapasan BigMouth…?” tanya Marco


“Aku saat itu memang sudah putus asa dan cuma bisa berdiam diri menunggu datangnya kematian… Setelah Melodie berhasil ku ancam agar segara pergi dari terowongan yang sedang dilanda gempa hebat itu… Mataku mulai berkunang dan dadaku pun mulai terasa sesak… Sesaat sebelum aku kehilangan kesadaran, tiba-tiba datang Samuu yang tanpa disangka membawakanku sebuah alat BigMouth! Aku saat itu sangat terkejut dan tentu saja langsung memakainya di mulutku.. Saat itulah aku merasakan datang nya arus gelombang dahsyat dari arah belakang! Maka secepatnya aku merengkuh dan memeluk Hati Samudera agar tidak terikut arus dan saat itulah rupanya batu-batu yang ada di mulut ceruk berjatuhan dan menutupi jalan keluar… Aku sangat beruntung batu-batu yang gugur rupanya hanya di mulut ceruk dan tidak sampai menutupi seluruh terowongan… jika tidak aku dan Samuu sudah pasti telah mati terhimpit batu-batu karang dibawah sana…”


“Tunggu dulu sebentar Kept, yang aku tidak mengerti adalah bagaimana Samuu bisa membawa alat BigMouth itu kepadamu? Bukankah alat milikmu sudah rusak hancur akibat terkena panah harpun?” Tanya Maikel Stefen kali ini


Belum sempat Bob Barry berbicara, gadis disampingnya sudah lebih dahulu angkat suara


“Ah… Aku rasa aku bisa menebak apa yang terjadi kala itu… Waktu itu aku sudah hampir mencapai mulut ceruk Serena, namun tiba-tiba anak ini berontak dari pegangan tanganku dan kembali berenang masuk kedalam… Aku rasa mata tajamnya ini pasti tanpa sengaja melihat keberadaan alat BigMouth milik Bob yang dulu terjatuh saat kita bertiga terlempar dari ceruk itu bersama ibu Hati Samudera… Anak pintar ini lalu berontak dan mengambil alat itu lalu berenang kedalam untuk memberikannya kepada dirimu… Tidak salah bukan dugaanku Bob…?” ujar Melodie yang duduk bersandar disamping sang kapten


Bob Barry pun terlihat tersenyum dan menggangukkan kepala.


“Benar yang kau bilang itu Mel, BigMouth milikku yang terjatuh dulu itu memang dilihat oleh Samuu di lantai mulut ceruk yang agak gelap. Anak itu berontak dari tanganmu untuk kemudian mengambil dan menyerahkan alat itu kepadaku… Tanpa kedatangan anak ini, aku pasti sudah mati tercekik karena kehabisan udara di lorong terowongan itu…”


Melodie pun langsung memeluk sang anak erat-erat sembari menciumnya berulangkali sampai sang anak tertawa bercuit-cuit karena merasa geli.


“Lalu bagaimana sesudahnya Kept? Bagaimana kau bisa membebaskan diri dari himpitan batu karang yang menimpamu? Lalu bagaimana juga caranya kau bertahan hidup selama setahun terakhir ini di dasar laut sana?” tanya Marco dengan tidak sabaran


“Satu-satu kalau mau bertanya donk Marco… Kapten mana bisa menjawab sekaligus semua pertanyaanmu itu…” tegur Putra Gilang


“Tidak apa-apa Put, aku akan menjelaskannya satu persatu… Jadi setelah pintu ceruk tersebut tertutup oleh bebatuan, getaran di dalam gua itu pun kemudian berhenti. Aku lalu mulai menggali lantai terowongan yang ada dibawahku menggunakan belati komet milikku ini dan akhirnya setelah bersusah-payah beberapa lama akhirnya aku bisa juga meloloskan diri dari himpitan batu itu…”


“Lalu setelah beristirahat beberapa lama, aku bersama Samuu kembali memasuki ruangan tempat Piramida yang sebelumnya berdiri tegak. Satu persatu aku memasuki gua-gua karang yang banyak berada di ruangan gua raksasa itu dan aku benar-benar beruntung! Aku menemukan beberapa gua yang menjorok keatas dan tidak terendam oleh air laut! Ruangan gua tersebut cukup kering dan hangat serta memiliki aliran udara yang cukup baik sehingga memungkinkan aku untuk bisa tinggal dan beristirahat didalamnya. Aku juga kemudian mendapatkan sumber air tawar yang memancar keluar dari salah satu gua yang tidak terendam air laut itu sehingga aku akhirnya bisa bertahan hidup hingga saat ini…”


“Lalu selama ini kau bertahan hidup dengan memakan apa Bob?’ tanya Melodie dengan penuh perhatian.


“Di tempat itu ada begitu banyak ganggang dan rumput laut! Aku dan Samuu memakannya setiap hari. Juga dengan bantuan beberapa perkakas yang ditinggalkan oleh makhluk-makhluk bangsa Mere itu, aku pun kemudian bisa menangkap beberapa ikan kecil dan juga gurita yang rupanya banyak hidup di tempat itu…”


“Setelah aku pulih dari luka-lukaku, aku kemudian berusaha menggali bebatuan yang menimpa mulut ceruk dan sebagian terowongan… Namun semuanya berjalan pelan dan sangat lambat… Batu karang yang jatuh menimpa mulut ceruk tersebut ternyata memiliki kandungan ferrit atau besi yang cukup banyak sehingga amat susah untuk dipindahkan apalagi untuk dihancurkan! Aku akhirnya pasrah dan kala itu memutuskan untuk berhenti mencoba…”

__ADS_1


“Hari demi hari hingga bulan demi bulan aku lewati di dalam ruangan gua yang sebagian sudah terkubur itu dengan hanya menggantungkan hidup pada ganggang laut dan ikan-ikan kecil… Sampai satu ketika aku mendengar ketukan berulang yang bergema dari arah mulut ceruk! Aku kemudian dengan gembira pergi ke ujung terowongan dan membalas ketukan mereka!”


“Awalnya aku menyangka itu adalah kalian, namun aku terkejut besar kala mereka yang membalas ketukanku dengan sandi Morse itu ternyata adalah Kak Mahmood dan yang lainnya yang datang dari Somalia!”


“Ah kak Mahmood, Kak Dawoud dan juga Abdoolah… Kita benar-benar berhutang budi kepada mereka…” desah Putra Gilang yang dibalas dengan anggukkan kepala oleh Bob Barry


“Kau benar Put, mereka bertiga selama berbulan-bulan hanya dengan berbekal tabung oksigen, linggis dan parang juga tali tambang saling bergantian mengikis batu-batu yang menutupi mulut ceruk dan jalur terowongan silih berganti tanpa mengenal lelah! Sampai akhirnya dua hari yang lalu aku dan Samuu akhirnya bisa bebas dan mereka bawa ke pulau Serena ini untuk berisitirahat.


“Jadi kau sudah bebas dan berada di pulau ini dari kemarin dulu Bob? Kenapa baru muncul sekarang…?” tanya Melodie dengan bibir cemberut.


“Maafkan aku Mel, Kak Mahmood yang memang melarangku untuk keluar karena melihat ada begitu banyak kapal yang berkumpul di depan perairan… Mereka khawatir kalau itu adalah kapal-kapal suruhan Jefri Kalangit… Tapi ternyata itu adalah kapal teman-teman kita sendiri…” tutup Bob Barry sambil kemudian terlihat tertawa lepas.


“Ah ia… Tentang Jefri Kalangit… Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Kak Mahmood dan yang lainnya yah? Secara mereka membawanya bersama-sama ke Somalia…” Ucap Marco Ferdinand sambil mengerutkan kening


“Yang pastinya kita tidak akan lagi melihatnya dalam waktu dekat… Kalaupun kemudian kak Mahmood dan saudara-saudara kita di Eyl kemudian melepaskannya, aku yakin dia tidak akan mengganggu atau berusaha mendekati kita lagi…” ucap Sang Kapten sambil tersenyum.


“Sebenarnya masih ada dua hal yang menjadi misteri bagiku… Sampai sekarang pun aku masih bingung kalau memikirkannya…” ujar Marco tiba-tiba


“Yang pertama tentang Tas Titanium yang kita angkat dari dasar Ceruk Serena, bagaimana bisa para anggota Interpol itu tidak dapat menemukannya diruang kerja dan tempat kediaman Jefri Kalangit? Lalu tentang Misteri tentang hilangnya Si orang bule bernama Mario itu… Bukankah setelah berkelahi dengan Kapten diatas jembatan Aquarium raksasa itu, dia sudah tidak pernah kita lihat lagi bersama-sama Jefri Kalangit bukan…?”


Setelah terlihat berpikir sesaat Bob Barry pun mulai angkat suara berusaha menjawab pertanyaan Marco Ferdinand


“Benar apa yang kau katakan tentang dua hal itu Marco… Kalau aku pribadi bersepekulasi kalau tas titanium itu sebelumnya memang sudah disimpan di satu tempat rahasia yang hanya diketahui oleh Jefri Kalangit, sehingga saat Interpol menggeledah tempatnya mereka tidak bisa menemukan tas tersebut. Atau bisa juga disaat terjadinya pertempuran, Mario Kaontole mengambil kesempatan untuk menggelapkan koper itu tanpa sepengetahuan Sang Boss walaupun aku cukup sangsi akan hal itu… Menurutku sebenarnya pria bule mantan prajurit Rusia itu adalah orang yang baik… Hanya saja bekerja pada orang yang salah…” Tutup Bob Barry


Semua orang yang berada di tempat itu nampak terdiam sesaat, lalu beberapa lama kemudian terdengar suara Melodie yang memecah keheningan.


“Tentang ketiga orang Saudara angkat kalian yang orang Somalia itu… Aku jujur merasa sedikit aneh… Mengapa setelah mereka berbulan-bulan berusaha menolongmu dan kemudian mempertemukan dirimu dengan kita, setelah itu malah cepat-cepat berpamitan? Langsung pergi begitu saja sambil membawa Jefri Kalangit…”


“Ha.ha.ha… Kalau soal itu Mel tidak usah kau pikirkan, begitulah cara mereka jika menghadapi yang namanya perpisahan! Kami juga dulu sempat bingung waktu mereka tiba-tiba pergi meninggalkan kami saat di Somalia dulu…” Ucap Putra Gilang sambil tertawa.


“Sungguh anugerah besar kita bisa bersaudara dengan mereka… Apalagi kini mereka sudah bertaubat dan berada di jalan yang lurus…” ucap Maikel Stefen kali ini.

__ADS_1


“Lalu bagaimana dengan belati pemberian kak Mahmood itu Kept? Mengapa kami kini tidak melihatnya lagi?” tanya Marco kini.


“Belati itu sudah habis terkikis oleh karang besi saat kupakai menggali batu karang dari sebelah dalam terowongan. Dengan bantuan belati itu dan tenaga kak Mahmood bertiga akhirnya aku bisa bebas dari dalam ceruk Serena walau itupun memakan waktu berbulan-bulan…”


“Untung belati itu sudah habis terkikis… Karena kalau tidak, pasti gagangnya sudah sedari tadi kupakai untuk menggetok kepala batumu yang mencoba membunuh diri di terowongan itu setahun yang lalu…” Sungut Melodie dengan bibir cemberut memanjang


“Ha.ha.ha… Maafkan aku Mel! Hanya itu satu-satunya cara yang bisa kupikirkan agar kau mau pergi keluar dari ceruk itu…”


“Alasan! Pokoknya aku masih sebal!” ucap Melodie dengan muka ditekuk cemberut.


Samuu yang berada dalam gendongan sang gadis menatap wajah sang gadis yang nampak tertekuk sebal. Setelah itu bocah duyung ini berganti menatap kearah Bob Barry. Sang kapten pun kemudian nampak berulang kali mengedipkan mata kepadanya. Melihat hal ini Samuu pun kemudian menarik lengan Melodie dan saat gadis ini melihat kearah sang bocah duyung, bocah ini nampak menatap kearahnya dengan mata membuka besar sambil bercuit-cuit dan menggelengkan kepala berulangkali!


Benar-benar lucu dan menggemaskan!


“Ah Samuuu… Jangan kau bela dia! Dia itu kapten yang nakal! Dia itu ceriwis!” ucap Melodie sambil menggelitiki si bocah yang langsung tertawa-tawa dalam dalam pelukan sang dara


Bob Barry dan rekan-rekannya tentu saja langsung tertawa lepas melihat tingkah lucu Melodie dan bocah duyung itu.


“Lalu Kept, apa rencana kita selanjutnya?” tanya Putra Gilang setelah puas tertawa.


Bob Barry sambil tersenyum kemudian menatap rekan-rekannya satu persatu


“Besok kita akan kembali berlayar… Kita akan bersama-sama menjelajahi setiap tempat yang pernah aku dan Melodie lihat pada ukiran peta laut di dinding Piramida ceruk Serena itu… Semoga saja dalam pelayaran kita kali ini, kita bisa menemukan kembali keluarga Hati Samudera dan memperkenalkan kembali kepada dunia tentang keberadaan bangsa kuno yang telah lama hilang ini… So, are you ready guys?”


“Aye-aye Captain!” teriak Putra, Maikel dan Marco serempak penuh kegirangan!


Bob Barry kemudian menatap kearah Melodie yang bersandar di samping tubuhnya.


Sang kapten tidak perlu lagi menanyakan akan kesediaan sang gadis untuk turut berlayar bersamanya, karena cahaya mata berbinar sang gadis dan remasan jemari lembut keduanya yang tersembunyi di balik tubuh Hati Samudera sudah menjawab segalanya!


T A M A T

__ADS_1


__ADS_2