Hati Samudera

Hati Samudera
Lelaki Di Kolong Langit


__ADS_3

Hujan deras tidak menyurutkan tekad Bob Barry dan rekan-rekannya untuk mencari kebenaran akan hilangnya Melodie dan Hati Samudera kepada Jefri Kalangit di kantornya di gedung Langit Tower. Setelah melakukan perjalanan laut selama tiga hari tiga malam akhirnya sampai juga Bob Barry dan rekan-rekannya di Jakarta, dan tanpa menunggu lebih lama lagi Bob Barry, Marco dan Maikel pun langsung bergerak menuju gedung Langit Tower untuk menemui Jefri Kalangit. Namun baru saja mereka bertiga menjejakkan kaki di halaman gedung tersebut, Bob Barry dan kawan-kawan sudah disambut dan dihadang oleh tidak kurang dua lusin pria berbadan besar tegap dan bertampang sangar


“Kami ingin menemui tuan Jefri Kalangit, tolong beri kami jalan…” ucap Bob Barry dengan keras di hadapan puluhan Penjaga berjas dan berkacamata gelap yang nampak berdiri berjajar di depan pintu masuk gedung Langit Tower.


“Maafkan kelancangan kami Tuan Barry, namun kami mendapatkan perintah untuk tidak membiarkan anda dan rekan-rekan anda memasuki areal gedung Langit Tower dan ini adalah perintah langsung dari tuan besar sendiri! Jadi saya harap anda sudi dan berkenan meninggalkan tempat ini sekarang juga…” ucap salah satu Penjaga yang tubuhnya nampak paling besar dan rupanya merupakan kepala dari penjaga-penjaga yang berada di halaman gedung Langit Tower.


“Dan kalau aku menolak…?” ucap Bob Barry sambil menatap tajam kearah sang Penjaga berbadan besar yang berdiri menjulang tinggi di hadapannya.


“Kalau anda menolak maka kami akan mengambil langkah dan prosedur yang kami anggap paling tepat…”


“Seperti apa…?” tantang Bob Barry


“Seperti ini Tuan Barry, Maafkan saya…” ucap sang Penjaga sambil kemudian melangkah maju dan memegang kedua pundak sang kapten. Dalam pikirannya, sekali dorong saja tubuh pria kecil di depan nya ini pastilah akan terhuyung jatuh dan kemudian akan berlalu pergi meninggalkan tempat itu bersama teman-temannya.


Namun sayang apa yang dipikirkan sang penjaga ternyata sangat jauh berbeda dari kenyataan yang terjadi. Seberapa kuat dia berusaha menekan kedua pundak tersebut bahkan sampai peluh sebesar jagung bercucuran dari keningnya, tetap saja tubuh pria kecil didepannya tetap tidak beranjak dari tempatnya barang sedikitpun!


“Sudahlah! Aku tidak ada waktu untuk bermain-main dengan kalian!” ucap Bob Barry sambil kemudian menggerakkan sebelah tangannya! Dan begitu sang kapten memutar sebelah tangannya tersebut, tiba-tiba tubuh besar Penjaga yang menahan kedua pundaknya tersebut entah mengapa kemudian bisa sampai terlihat terangkat tinggi dan kemudian terbanting keras mencium lantai!


Semua orang termasuk para penjaga yang melihat kejadian tersebut nampak terdiam kaget dengan mata membesar dan mulut terbuka lebar! Mereka sama sekali tidak tahu bagaimana bisa rekan mereka yang mereka ketahui paling besar dan paling kuat itu kini nampak terbanting keras dan dilumpuhkan hanya dengan sekali gerakan!


“Masih ada yang penasaran dan ingin mencoba…?” tantang Bob Barry lagi!


Para penjaga yang berada di tempat tersebut yang sebelumnya terperanjat kala melihat rekan mereka dilumpuhkan dengan begitu mudahnya, saling pandang untuk beberapa saat sebelum akhirnya berbalik memandang Bob Barry dan rekan-rekannya dengan tatapan penuh amarah!


“Serang…! Jangan beri ampun…!” teriak seorang penjaga seraya menghunus tongkat Tonfa/PR24* yang terselip di pinggangnya dan langsung maju menyerbu kearah Bob Barry! Melihat rekannya sudah mulai bergerak, maka semua penjaga yang ada disitu pun kemudian melakukan hal yang sama dan menerjang langsung kearah Bob Barry dan dua rekannya dengan bersenjatakan tongkat Tonfa ditangan masing-masing!


“Ayo Marco! kita buka jalan buat Kapten!” teriak Maikel sembari melesat diikuti Marco menyambut serangan tongkat yang datang menyerbu bagaikan air bah! Keduanyapun dengan tangan kosong kemudian secara mengagumkan terlihat bergerak sebat kian kemari menggunakan sepasang kaki dan tangan menghalau setiap serangan yang datang bergulung!


Suara tongkat terlepas dari tangan dan suara mengaduh serta suara kaca berantakan terdengar bersamaan dengan masuknya ketiga jagoan kita ini ke dalam gedung Langit Tower! Dua lusin penjaga bersenjatakan tongkat sukses dilumpuhkan ketiganya hanya dalam beberapa kali gebrakan! Benar-benar sangat mengagumkan dan sukar untuk dipercaya! Selain Bob Barry, rupanya kedua rekannya yang terkadang konyolnya kelewat batas ini pun juga ternyata memiliki keahlian bela diri yang tidak bisa dipandang enteng!


Benar-benar Naga dan Harimau yang diam mendekam di sampan Nelayan!


Sementara itu begitu ketiga jagoan kita ini berhasil memasuki gedung Langit Tower di bagian dalam, mereka dikejutkan oleh kehadiran begitu banyaknya penjaga berbaju hitam yang nampak berdiri sigap sembari memegang berbagai senjata tajam seperti golok, parang dan juga pedang samurai! Dan kali ini jumlah penjaga yang berdiri di depan mereka jumlahnya tidak main-main! Sedikitnya tidak kurang dari dua ratus orang!


“Nampaknya mereka sudah memperhitungkan kedatangan kita dengan mempersiapkan penyambutan meriah seperti ini Kept… Ini jelas menunjukkan bahwa Melodie dan Samuu memang berada bersama mereka…” ucap Maikel Stefen sembari memandang ke sekelilingnya.


Gedung Langit Tower milik perusahaan elit Langit Corporation yang biasanya ramai ini, kini terlihat lengang dan sepi. Tidak ada aktifitas perkantoran yang biasanya terjadi setiap hari di gedung itu. Yang ada hanyalah kerumunan ratusan pria bertampang sangar dan berpakaian hitam yang menggengam erat senjata tajam di tangan masing-masing! Ini jelas sangat aneh dan ganjil bukan? Seolah-olah gedung itu memang sengaja dikosongkan dan dipersiapkan untuk menyambut kedatangan Bob Barry dan rekan-rekannya!


“Itukan sudah jelas Kel! Kalau memang mereka tidak menahan Melodie dan Samuu sudah dari tadi kita diajak masuk oleh sekretaris seksi idamanmu itu dan dibuatkan kopi…” celoteh Marco sembari mengedipkan mata menggoda Maikel Stefen.


“Apaan sih? Tapi… tapi kalau sekretaris itu ada juga sekarang disini sih… Kayaknya oke juga tuh Co! He.he.he…” ucap sang pemuda bertopi kupluk sembari terkekeh senang


“Kalian sudah siap dengan konsekuensinya teman-teman? Hari ini mungkin kita tidak akan bisa keluar dari tempat ini dengan hidup-hidup, atau katakanlah kita bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup, setidaknya kita pasti akan berakhir dengan meringkuk di penjara untuk waktu yang sangat lama…” ucap Bob Barry seraya memandang kearah kedua rekannya secara bergantian.


“Tenang saja Kept, kemanapun kau pergi kami pasti akan mengikutimu! Tidak akan lagi kami meninggalkanmu lari seperti saat kita berada di Somalia…” Tawa Maikel Stefen sambil melirik kearah Marco Ferdinand


“Setubuh Kept! Maaf, maksudku Setuju… Meski harus terjun ke sungai golok, lautan pedang bahkan terjun ke neraka pun pasti akan aku temani…” ucap Marco Ferdinand sambil tertawa.


Bob Barry pun kemudian memandang kedua rekannya ini dengan pandangan haru dan penuh rasa terima kasih.


“Benar-benar luar biasa! Besar juga nyali kalian untuk datang ke tempat ini… Salut! Aku benar-benar salut…!” ucap satu suara tiba-tiba dibarengi suara orang bertepuk tangan!


“Mario Kaontole…!” desis Bob Barry dengan mata menyipit kala melihat seseorang berdiri di belakang selasar lantai dua sambil bertepuk tangan.


“Bule keparat! Cepat kau serahkan Melodie dan Bayi itu…!” Teriak Marco sembari berusaha maju namun dihalangi oleh Maikel Stefen.

__ADS_1


“Tuan Mario, kita tidak memiliki silang sengketa apapun sebelumnya, selain itu pekerjaan yang ditugaskan kepada kami juga telah kami selesaikan dengan baik. Jadi mengapa kini kalian harus mengambil langkah yang tidak terpuji seperti ini…? Menculik seorang gadis dan seorang bayi layaknya seorang pengecut…!” ucap Bob Barry


Mendengar ucapan Sang Kapten muka Mario sontak berubah memerah


“Well said Captain Barry! Aku hanyalah orang yang menjalankan perintah atasan! Aku dan kau adalah mantan prajurit jadi seharusnya kaulah yang paling mengerti akan hal ini! Apapun perintahnya jika datang dari atasan maka itu adalah perintah yang harus dilakukan! Terlepas itu harus dilakukan dengan melanggar nilai moral dan juga hati nurani…” ucap sang bule dengan suara bergetar.


Dari sini saja bisa diraba bahwa sesungguhnya mantan prajurit pasukan elit Spetsnaz Rusia ini sesungguhnya enggan melakukan tugas yang dibebankan kepadanya.


“Baik, aku bisa memahami posisimu dan aku pun tidak akan menyalahkan dirimu atas tindakan penculikan gadis dan bayi itu… Namun sekarang, aku mohon kau sudi mengembalikan mereka berdua kepada kami… Setelah itu anggap saja masalah kita selesai sampai disini…”


“Sepertinya aku harus memohon maaf sebesar-besarnya karena aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu itu Captain Barry… Nona Melodie dan bayi duyung itu sekarang sudah menjadi wewenang Boss besar kami…”


“Kalau begitu pertemukan kami dengan bossmu itu bedebah…! Jangan hanya berani menahan kami dengan keroco-keroco ini…!” seru gegetun Marco Ferdinand.


Sang pria bule nampak menjawab ucapan Marco dengan gelengan kepala.


“Maafkan aku tuan Ferdinand! Aku telah diperintahkan oleh Boss untuk menghalangi kalian naik ke lantai atas. Sekali lagi maafkan aku… Aku hanya menjalankan perintah…”


“Kalau begitu maafkan kami juga yang tidak akan sungkan-sungkan lagi…” ucap Bob Barry sambil kemudian terlihat berlari merangsek kearah kerumunan ratusan penjaga yang bersenjatakan senjata tajam didepannya!


“Majuu…!” teriak sang kapten dengan suara kuat membahana!


Mendengar seruan sang kapten, Maikel dan Marco pun kemudian langsung menggenjot tubuh masing-masing dengan tangan terkepal serta telapak mengembang bersama-sama sang kapten menerobos barisan pedang samurai dan parang berkilat!


Begitu Bob Barry, Marco dan Juga Maikel Merangsek maju, ratusan orang yang bersenjatakan pedang dan golok itu pun turut maju sambil berteriak teriak buas!


“Habisi mereka! Habisi! Bunuh..! Cincang sampai tak bersisa…!”


Seorang pria berkumis tebal dengan wajah sangar kemudian nampak membacokan parang yang dipegangnya kearah kepala Bob Barry yang menerjang maju kearahnya, serangan bacokan itu sungguh sangat berbahaya dan amat mematikan! Namun hanya dengan sedikit memiringkan kepala, sang kapten berhasil mengelakkan serangan bacokan pria tersebut sambil kemudian ganti memberinya hadiah sebuah bogem mentah tepat di daerah wajah! Sang pria berkumis kontan saja langsung meraung kesakitan dan melayang terbang menubruk rekan-rekannya yang berada di belakangnya!


Alhasil belasan orang yang tidak menyadari kedatangan Bob Barry dan serangannya yang luar biasa indah namun cepat mengejutkan ini kemudian harus apes terlempar berjatuhan dengan tubuh babak belur akibat hantaman sepatu boots berujung besi milik kapten kapal The Promise Land ini!


Sungguh jempolan! Tak heran di kesatuannya dulu Sang Kapten kita ini juga dikenal banyak orang dengan julukan “Raja Tendangan!”


Sementara itu, kedua rekan kapten Barry juga kemudian menyuguhkan aktraksi perkelahian yang tidak kalah mengejutkan dan membuat orang terperanjat seketika! Bagaimana tidak? ditengah hujan bacokan dan tusukan yang datang dari segala arah, Maikel dan Marco nampak bergerak gesit dan lincah mempergunakan kedua tangan dan kaki mereka untuk menyampok dan mematahkan semua senjata lawan! Bunyi pedang dan parang yang berpatahan terdengar nyaring berbarengan dengan seruan-seruan kaget dan tidak percaya yang keluar dari mulut para penjaga!


“Hati-hati semuanya…!!! Mereka berdua punya ilmu kebal…!!!” teriak kaget para penjaga sambil memandangi kutungan dan patahan parang serta pedang samurai yang luluh lantak di gerus cengkraman tangan dan sapuan kaki Maikel Stefen dan Marco Ferdinand!


Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa hanya dengan berbekal tangan kosong keduanya mampu menghadapi barisan ratusan pedang dan juga golok parang? Benarkan kedua awak kapal The Promise Land ini memiliki ilmu kebal? Ternyata tidak begitu kawan, aku berani bersumpah dan menjamin kalau kedua orang konyol ini jelas tidak memiliki ilmu kebal sama sekali!


Kemampuan kedua tangan dan kaki mereka dalam mematahkan dan menghancurkan parang dan pedang samurai lawan, dikarenakan sebelumnya mereka berdua ternyata sudah terlebih dahulu mencelup kedua kaki dan tangan mereka kedalam rendaman lapisan pelindung Poseidon’s Armor tahap akhir hingga berlapis-lapis..!!


Kandungan Adamantine Steel baja cair terkuat di dunia yang terdapat dalam lapisan akhir tersebut tentu saja membuat Marco dan Maikel memiliki kemampuan untuk mematahkan setiap parang dan pedang samurai yang dibacokkan kearah mereka.


“Mu… Mundur… Ayo semua Mundur…!” teriak beberapa orang penjaga yang merasa jerih dan ngeri melihat serangan mereka yang menggunakan senjata tajam berhasil dipatahkan oleh ketiga “Monster” ini.


Namun rupanya Bob Barry dan kedua rekannya tidak mau berbelas kasihan begitu saja! Ketiganya terus merangsek maju dan menyerang siapa saja yang menghalangi mereka dengan hujan pukulan dan gerimis tendangan!


Apalagi sang kapten yang terlihat gesit melayang kesana kemari melampaui kepala para lawannya bagai rajawali yang mengepakkan sayap di udara dan kemudian turun ke bumi dengan tendangan-tendangannya yang beruntun datang dan pergi bagaikan setan!


Entah sudah berapa puluh orang yang dibuat terkapar kelengar oleh sepakkan dan tendangan kaki sang kapten jagoan kita ini.


Sementara itu melihat jalannya pertarungan sengit di lantai satu, Mario Kaontole yang berada di lantai dua kemudian memanggil dua orang pria bule berbadan besar dan mengenakan pakaian loreng yang sedari tadi nampak diam berdiri di belakangnya. Sang pria bule kemudian berbicara dengan menggunakan bahasa Rusia kepada keduanya dan kemudian langsung beranjak memasuki lift kristal dan naik keatas sambil memperhatikan jalannya perkelahian yang masih marak di lantai satu.


Dilain pihak, pertarungan antara Bob Barry bertiga melawan para penjaga bersenjatakan senjata tajam pun mulai berpindah menjauh bahkan mulai beranjak naik ke lantai dua. Disini jumlah penjaga yang mengeroyok mereka bertiga sudah jauh berkurang karena sebagian besar sudah jatuh bertumbangan dibuat pingsan oleh ketiganya.

__ADS_1


Satu hal yang patut diacungi jempol adalah meskipun dikeroyok ratusan orang menggunakan senjata tajam sedemikian rupa, hal ini tidak membuat Bob Barry dan kedua rekannya kehilangan hati nurani dan menjatuhkan tangan jahat mengambil jiwa para penyerang mereka. Rata-rata para penjaga bayaran itu hanya dibuat babak belur dan pingsan menggeletak diatas lantai.


Akhirnya setelah sekian lama berkelahi, penjaga terakhir yang menghadang mereka pun akhirnya tumbang juga oleh hantaman telak tinju Marco Ferdinand!


Ratusan orang yang sebelumnya mengeroyok dan mengepung mereka bertiga dengan senjata tajam kini nampak bergeletakan dengan senjata-senjata mereka yang hancur berserakan di sepanjang lantai satu dan lantai dua! Dua ratus orang bersenjata tajam luluh lantak disapu tiga orang yang hanya bermodalkan sepasang kaki dan tangan! Benar-benar sulit dipercaya jika tidak melihat dengan mata kepala sendiri.


Marco dan Maikel pun kemudian nampak berdiri sambil berulangkali menghela nafas panjang untuk mengusir kelelahan. Sementara itu di samping mereka berdua, sang kapten yang terlihat berdiri tegak nampak memandang tajam kearah depan.


“Kemana perginya Mario Kaontole…?” ucap Bob Barry kepada dua orang pria bule yang berbaju loreng yang nampak berdiri berpangku tangan di depan lift kristal yang terdapat di lantai dua.


“Leutenant Mario menunggu anda di lantai atas Captain Barry, namun untuk bisa menemuinya maka anda harus melewati kami berdua terlebih dahulu…” ucap salah satu pria bule yang mengenakan baju loreng bermotif gurun pasir ini.


Kedua pria bule ini sesungguhnya adalah dua orang prajurit Spetsnaz aktif yang didatangkan Mario langsung dari Rusia atas permintaan Jefri Kalangit.


Yang bertubuh paling besar dengan luka codet memanjang di wajah bernama Tobias sementara yang bertubuh agak kecil dan mengenakan Patch atau penutup mata hitam pada mata kanannya bernama Diamante. Keduanya adalah adik tingkat Mario Kaontole di kesatuannya dulu.


“Kapten, kedua orang ini biar aku dan Marco yang menghadapi… Kau teruslah keatas dan jemput dan bawa kembali Melodie dan Hati Samudera…” ucap Maikel seraya memegang lengan Bob Barry


Sang Kapten kemudian menggangukkan kepala dan memandang pulang balik wajah Marco dan juga Maikel.


“Berhati-hatilah kalian berdua… Dan aku mohon tetaplah bertahan hidup! Selekasnya aku akan kembali menjemput kalian bersama Melodie dan Samuu lalu kita tinggalkan tempat ini…” ucap Bob Barry dengan suara bergetar.


Usai berujar kepada kedua rekannya tersebut, Sang kapten kemudian kembali menggenjot tubuh dan berlari langsung kearah dua orang bule yang berjaga di depan pintu lift!


“Hentikan langkahmu Captain Barry!” Seru pria bertubuh besar bernama Tobias ini sembari melayangkan tinjunya kearah wajah Sang Kapten! Pukulan tinju pria bule ini sesungguhnya merupakan satu pukulan tinju yang dahsyat mematikan. Jangankan manusia, tembok tebal saja niscaya akan hancur berhamburan jika terkena tinjunya ini. Sayangnya kali ini yang dihadapi Tobias bukanlah tembok atau orang biasa, lawannya kali ini adalah sang kapten kapal The Promise Land yang terkenal itu!


Menanggapi Serangan Tobias yang datang menerjang, Bob Barry kemudian kembali mempertunjukkan kemampuan olah tubuhnya yang menakjubkan! Kedua tangannya yang terkembang kemudian disilangkan sedemikan rupa untuk menahan serangan tinju yang datang, begitu kepalan Tobias mendarat pada kedua tangannya, secara mengejutkan Bob Barry kemudian meminjam tenaga pukulan Tobias dengan cara memelintir kedua telapaknya dan bergelayut pada lengan sang pria bule untuk kemudian memutar pinggulnya sedemikian rupa sehingga kaki kanannya bisa diangkat dan kemudian tiba-tiba diterjangkan ke arah kepala pria bule yang satunya tepat pada mata kanan yang tertutup penutup hitam!


Benar-benar jenius! Masih dalam keadaan menyambut serangan lawan, Kapten Barry masih sempat juga berpikir secepat kilat untuk memberikan tendangan kepada lawan satunya tepat kearah titik buta nya!


Diamante yang tidak mengira akan mendapat serangan ajaib seperti itu kontan saja langsung panik dan membuang diri ke lantai sampai berputar terguling-guling!


Kesempatan ini tentu saja langsung dipergunakan oleh Bob Barry yang berhasil mementahkan tinju Tobias untuk secepatnya melesat masuk kearah lift yang pintunya kebetulan sedang terbuka di belakang tempat dimana sebelumnya Diamante berdiri!


Benar-benar Kapten yang penuh akal!


“Keparat curang…! Kembali kau kesini…!” teriak geram Diamante yang merasa keki karena merasa dipermainkan dan dibuat sampai terguling-guling di lantai oleh serangan Bob Barry yang penuh tipu daya itu.


“Tobias! Cepat kau seret dia keluar dari dalam Lift!” teriak panik Diamante sambil kemudian bangkit dari lantai dan melesat bersama rekan bule satunya kearah pintu Lift yang masih dalam kondisi menutup perlahan! Sedikit lagi cengkraman keduanya menjangkau tepian pintu lift yang menutup, tiba-tiba kedua orang bule itu merasa ada sambaran angin dahsyat mengarah ke kepala mereka dari jurusan belakang! Kontan saja keduanya langsung melompat menjauh dari pintu lift!


“Blaaammm…!!!”


Suara keras terdengar menggelegar manakala tinju Marco Ferdinand dan pukulan telapak Maikel Stefen yang tersalut lapisan Posseidon’s Armor menghantam dahsyat dinding marmer di sebelah pintu lift hingga menghasilkan lubang geroakan yang cukup besar!


Benar-benar mencengangkan! Tobias dan Diamante bahkan sampai terlihat mengerutkan kening kala melihat kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan gabungan dua orang rekan Bob Barry ini.


“Lawan kalian itu ada disini…! Jadi jangan dulu kalian kemana-mana…!” ucap Maikel Stefen sambil berdiri tegap berpangku tangan. Sementara Marco Ferdinand sendiri, nampak berdiri keren dengan mata menyorot tajam dengan posisi kedua kaki agak tertekuk dan tinju kanan terlihat terkepal lurus menyentuh lantai granit yang terlihat rengkah!


Buuseet Cooy…!!! Superhero Pose...!!!


Coba lihat sendiri kawan, kurang keren apalagi Si bengal jagoan kita satu ini?


 


\*

__ADS_1


 


__ADS_2