
Angin bulan Desember berhembus kencang meliukkan daun-daun pohon nyiur yang terlihat bergerak melambai kikuk di kejauhan. Daun-daun nyiur tersebut sebagian nampak berpatahan seakan hidup dan mengadu kepada ombak dilautan yang nampak bergerak resah seiring dengan gelayut awan gelap yang juga nampak seolah enggan untuk berlalu.
Tidak lama kemudian, titik-titik air pun mulai terlihat turun dari atas langit seolah turut bersedih memandang seorang gadis yang nampak berdiri diam di tepi sebuah dermaga. Gaun pengantin putih panjang yang dikenakan sang gadis nampak kusut masai dan dipenuhi debu pada bagian bawah yang menjuntai, sementara rambutnya yang sebelumnya tersanggul rapi dengan sematan hiasan anyelir putih kecil bertumpuk juga kini nampak tergerai acak dan sesekali melambai dipermainkan angin laut.
“Maafkan aku Mel, aku benar-benar tidak tahu kalau hari ini adalah hari pernikahanmu… kalau aku tahu, sekali-kali tidak akan aku datang untuk mengajakmu pergi memperingati satu tahun kepergian Kapten…” ucap sesal seorang pria bertubuh besar yang mengenakan stelan jas hitam dan nampak mendekat dari arah belakang dan kemudian langsung meneduhkan payung yang dibawanya keatas kepala sang gadis.
Sang gadis kemudian tersenyum dan memalingkan wajahnya kearah pria dibelakangnya yang nampak memandangnya dengan tatapan kuyu dan penuh sesal.
“Bukan salahmu Put… Aku saja yang ternyata memang belum siap dengan pernikahan ini…”
“Tapi… Tapi bagaimana dengan keluargamu Mel…? Dan yang terlebih penting juga calon suamimu…? Mereka pasti sekarang sedang panik mencari dirimu yang pergi secara tiba-tiba…”
“Yah… Aku memang agak merasa menyesal untuk hal itu… Terlebih juga aku merasa sangat bersalah kepada Abdullah yang sebenarnya adalah seorang pria yang sangat baik… Namun aku tidak bisa terus-menerus membohongi perasaanku Put… Aku belum bisa melupakan si bodoh itu… Aku belum bisa merelakan kepergiannya…” ucap sang gadis yang bukan lain adalah Melodie ini sembari menitikkan bening di sudut matanya.
Hari ini genap setahun sudah sejak peristiwa kepergian kapten Barry yang terkubur jauh di dasar ceruk Serena. Kepergian sang kapten jelas merupakan satu pukulan yang teramat telak dan teramat menyedihkan bagi rekan-rekannya terlebih khusus bagi Melodie. Sang gadis sungguh merasa sangat kehilangan sosok sang kapten yang diam-diam telah berhasil merebut kembali hatinya ini.
Hari berganti hari, minggu dan bulan pun tanpa terasa berlalu begitu cepatnya sehingga tanpa terasa satu tahun pun telah berlalu. Hari dimana Sang kapten kapal The Promise Land ini menukar jiwanya untuk keselamatan orang yang dicintainya, ternyata juga adalah hari dimana setahun kemudian Melodie seharusnya mengikat janji suci pernikahan dengan tunangannya Abdullah.
Namun pada detik-detik terakhir pemberkatan pernikahan di gereja akan dilakukan, entah mengapa dan tanpa disangka, sang gadis tiba-tiba berlari pergi meninggalkan calon suaminya yang hanya bisa diam terbengong-bengong diikuti seluruh keluarga dan seluruh tamu undangan gereja! Sang gadis pergi berlari dengan kencangnya meninggalkan gereja dibelakangnya dengan disertai isak tangis yang memilukan dan sungguh menyayat hati!
Beruntung ditengah jalan Melodie bertemu dengan Putra Gilang yang memang bertujuan untuk menyambangi dan mengajak sang gadis untuk memperingati satu tahun kepergian sang kapten di ceruk Serena. Melihat kondisi Melodie yang terlihat sedih dan mengkhawatirkan, Putra pun kemudian akhirnya membimbing dan mengajak sang dara bersama-sama pergi menuju dermaga untuk menunggu kedatangan rekan-rekan lainnya.
Tidak menunggu lama, sebuah kapal hitam dengan strip putih pun terlihat mendekat dan akhirnya merapat di dermaga pelabuhan.
“Melodieee….!” Teriak Marco dan Maikel dari balik jendela ruang anjungan.
Melihat kedua manusia ajaib ini tanpa terasa senyum pun perlahan mengembang di bibir sang gadis
Setelah menambatkan sebuah papan kayu penghubung, Putra pun kemudian membantu Melodie untuk menaiki kapal The Promise Land dan langsung memasuki ruang anjungan.
“Astaga… Loe habis bawa lari pengantin orang yah Put?” seru Maikel saat melihat Melodie yang datang bersama Putra mengenakan gaun pengantin ini.
Melodie hanya bisa tersenyum mendengar ucapan sang pemuda bertopi kupluk ini
“Ngomong-ngomong kalian berdua ternyata ganteng juga kalau pakai stelan jas seperti ini… Coba deh sering-sering berpakaian seperti ini, pasti banyak yang naksir….” ucap sang gadis kemudian yang membuat kedua rekan Bob Barry ini saling berpandangan dan kemudian terkekeh senang.
“Sudah Mel, mereka berdua jangan dipuji-puji nanti malah ke-ge’eran sendiri… Lagian kalian darimana saja sih? Kan aku bilang tunggu saja sebentar di pelabuhan…” Semprot Putra Gilang
“Maaf Put, kami tadi pergi sebentar karena kami baru ingat kalau kami belum mempersiapkan bunga taburan untuk prosesi nanti… Karena itu tadi kami terpaksa pergi sebentar untuk mencari solusinya…” Ucap Maikel Stefen
“Ah kalian ini… Bisa-bisanya sesuatu yang penting seperti itu kalian lupakan!”
“Ya Maaf Put… Tapi jangan khawatir, aku dan Marco sudah mengatasi hal itu, kami sudah membeli dan mengumpulkan semua bunga yang diperlukan dan kemudian membagi juga ke kapal-kapal lainnya…”
“Baguslah kalau begitu, semoga saja bunga-bunga yang kalian kumpulkan itu cukup sehingga kita tidak harus menanggung malu dihadapan mereka kalau nanti ternyata bunganya kurang…”
“Kalau itu dijamin beres Put… Tenang saja…” ucap Marco sambil tertawa
“Kapal-kapal apa yah? Memangnya ada kapal lain yang akan mengikuti kita melakukan prosesi tabur bunga di perairan pulau Serena..?” Tanya Melodie heran
Putra, Maikel dan Marco nampak tersenyum kala mendengar pertanyaan Melodie ini.
“Bagaimana ya… Nanti kau lihat sendiri saja Mel… Tidak seru kalau diceritakan sekarang…” ucap Maikel seraya kemudian mulai menjalankan mesin kapal The Promise Land ini dan perlahan mulai bertolak meninggalkan dermaga.
Beberapa menit kemudian kapal The Promise Land inipun akhirnya mulai memasuki perairan pulau Serena tempat dimana Kapten Barry terkubur didasar laut tepat setahun yang lalu.
“Astaga…! Darimana datangnya kapal sebanyak ini…?” Seru sang gadis dengan mata terbelalak kala melihat ada begitu banyak kapal beraneka jenis dan bentuk memenuhi perairan pulau Serena!
Ada kapal pesiar, kemudian ada kapal ekspedisi penyelaman seperti kapal The Promise Land milik Bob Barry, kapal tanker bahkan sampai kapal perang militer! Tidak kurang dari tiga puluh dua kapal berjejer rapi menunggu kedatangan kapal The Promise Land di perairan pulau Serena!
“Kapal-kapal ini… Sebagian diantaranya adalah rekan-rekan kami yang sama-sama memiliki profesi di bidang ekspedisi penyelaman… Sebagian lagi adalah klien-klien yang pernah menggunakan jasa kami, sebagian lagi adalah rekan dan relasi kapten termasuk empat buah kapal militer itu… Mereka adalah rekan-rekan sejawat kapten Barry kala masih bertugas di kemiliteran dulu…” ucap Putra Gilang kepada Melodie
“Mereka semua datang karena mendapat kabar kami akan melakukan prosesi tabur bunga tepat pada satu tahun kepergian Kapten… Ah… Kalau dipikir-pikir, selain kami ternyata masih ada begitu banyak orang di dunia ini yang mencintai dan menaruh perhatian yang amat dalam buat kapten Barry…” Sambung Maikel dengan nada getir.
Kapal The Promise Land inipun mulai mendekat kearah kerumunan kapal. Semua kapal ini kemudian terlihat memberi jalan kepada kapal The Promise Land lalu kemudian membuat formasi melingkar dengan berpusat pada kapal The Promise Land di tengah-tengah.
Kapal The Promise Land yang dikemudikan oleh Maikel Stefen pun kemudian membuang sauh dan diikuti oleh ke tiga puluh dua kapal lainnya yang turut pula melepas jangkar mereka di perairan pulau serena tersebut.
“Ayo Mel, kita bersama-sama ke haluan untuk melakukan prosesi tabur bunga…” ajak Putra kepada Melodie yang berada di dalam anjungan.
Melodie, Putra beserta Marco dan Maikel pun kemudian berjalan bersama kearah haluan sambil membawa keranjang berisi campuran bunga mawar dan melati yang akan di tabur di perairan pulau Serena.
Melihat Melodie dan yang lainnya keluar dari dalam anjungan, segenap kru ke tiga puluh dua kapal yang mengitari kapal The Promise Land pun semuanya keluar dan bediri di haluan kapal masing-masing seraya memberi hormat sesaat kepada Putra dan rekan-rekannya. Lalu dengan di iringi tembakan salvo tiga kali keudara oleh empat buah kapal militer yang ada disitu, prosesi tabur bunga pun dilakukan oleh Melodie dan rekan-rekannya lalu diikuti oleh selruh kru kapal yang melingkar mengelilingi kapal The Promise Land ini.
Air mata sang gadis kembali bergulir kala sang gadis menabur dengan perlahan bunga-bunga mawar dan melati yang digenggamnya keatas permukaan laut. Masih teringat jelas wajah terakhir sang kapten kala dirinya harus meninggalkan Bob Barry yang terhimpit oleh batu karang.
Hal itu kontan membuat luka di hati sang gadis kembali terbuka. Saat bunga di dalam keranjang telah habis tercurah di permukaan laut, perlahan sang gadis pun terlihat bersimpuh memeluk lutut sambil kembali tenggelam dalam tangisannya.
Tembakan salvo sebanyak tiga kali kembali terdengar mengakhiri prosesi tabur bunga. Satu persatu dari ketiga puluh dua kapal tersebut kemudian meninggakan perairan selat Lembeh sebelum terlebih dahulu berpamitan pada seluruh kru kapal The Promise Land dengan cara melepaskan suara peluit panjang.
Putra Gilang perlahan berlutut dihadapan Melodie yang masih nampak menangis memeluk kaki di lantai haluan.
“Sudahlah Mel.. Jangan terus larut dalam kesedihan seperti ini… Kapten di alam sana tentu tidak ingin melihatmu terus begini…”
Melodie terus menangis sambil menggeleng-gelangkan kepala.
“Seharusnya aku tidak meninggalkannya seorang diri Put…! Seharusnya aku tidak keluar dari ceruk itu… Aku harusnya menemaninya sampai saat-saat terakhir… Aku sungguh tidak sanggup menanggung beban rasa bersalah ini… Aku tidak mampu…! Aku benar-benar bodoh..! Seharusnya aku juga ikut mati bersama dirinya di dasar terowongan itu..!”
“Jangan berpikir bodoh seperti itu Mel, hidup adalah anugerah! Dah hidup itulah yang diamanatkan kepadamu oleh Kapten! Kapten memberikan hidupnya untukmu bukan untuk kau tangisi tapi untuk kau jalani! Dengan terus-terusan bersedih dan hidup dengan rasa bersalah seperti ini bukankah berarti kau hanya menyia-nyiakan kesempatan hidup yang telah dia berikan kepadamu… Jadi ayo bangkitlah Mel …! Jangan terus terpuruk seperti ini…” ucap Putra sambil kemudian memegang kedua bahu Melodie dan memapahnya bangun
“Kau tidak sendiri Mel… Disini masih ada kami bertiga… Kita pun ssesungguhnya sama sepertimu… Sangat merasa kehilangan… Namun kami tahu hidup harus terus berjalan. Kami tidak ingin menodai kenangan kapten dengan terus-terusan tenggelam dalam kesedihan yang berkepanjangan… Masih banyak yang harus kami kerjakan untuk melanjutkan apa yang Kapten telah percayakan kepada kami… Semua cita-citanya… Semua mimpi besarnya… Dan itu semua tidak akan bisa kami wujudkan jika kami terus-terusan tenggelam dalam kesedihan… Oleh karenanya kau harus lanjutkan hidup Mel… Gapai semua keinginan dan cita-citamu… Buat dia tersenyum bangga diatas sana…” ucap Maikel Stefen kali ini sambil menepuk pundak sang gadis.
“Iya Mel, tolong dengarkan apa yang mereka berdua katakan… Karena kalau kau terus menangis dan kami terus-terusan manyun seperti ini… Kapten galak itu pasti akan datang dalam mimpi kami bertiga sebentar malam dan membentak kami habis-habisan…” Sambung Marco yang membuat Melodie dalam tangisnya langsung tersedak dan akhirnya tersenyum dalam isak tangisnya sambil memukul-mukul pelan lengan si bengal!
Sang gadis pun perlahan menghapus air matanya lalu dengan mata berkaca-kaca dipandanginya Putra, Marco dan juga Maikel yang nampak tersenyum kearah sang gadis. Sang gadis pun lalu menarik ketiganya dan memeluk mereka bertiga dengan erat.
“Terima kasih… Aku benar-benar berterima kasih dan bersyukur mengenal dan memiliki kalian bertiga sebagai teman dan juga sebagai sahabat… Terima kasih telah memberikanku penghiburan dan juga kekuatan…” ucap sang gadis dengan suara haru
“Itulah artinya sahabat Mel… susah senang kita tanggung bersama… Saat-saat ini memang sat yang berat, namun pasti bisa kita lalui bersama...” ucap Putra Gilang sambil tersenyum.
Melodie pun kembali terlihat tersenyum, namun beberapa saat kemudian senyumannya mendadak menghilang berganti wajah ketakutan yang amat sangat!
“Dia… Orang jahat itu… Orang jahat itu datang lagi….” Ucap Melodie dengan tergagap sambil menunjuk kearah sebuah speedboat yang sedang melaju kearah kapal mereka!
Ketiga rekan Bob Barry ini kontan saja langsung memalingkan muka kearah yang ditunjuk oleh Melodie, dan ketiganya kemudian tentu saja langsung terkejut oleh datangnya sebuah kapal cepat yang berisi seseorang yang mereka tidak duga sama sekali!
Jefri Kalangit!
__ADS_1
“Teman-teman… Sepertinya kita kedatangan tamu yang tidak diundang….” Ucap Maikel Stefen dengan pandangan mata membara!
“Benar-benar keparat! Berani-beraninya dia memperlihatkan batang hidungnya di hari peringatan satu tahun kepergian kapten… Hari ini aku harus mengambil perhitungan dengannya..!” geram Marco Ferdinand
“Jangan dulu Co, kita dengar dulu apa yang dia kehendaki baru kita ambil langkah yang paling tepat…” Bujuk Putra Gilang
“Tapi gara-gara dia Kapten kita meninggal Put! Gara-gara dia…!’ teriak Marco dengan tidak sabar
“Aku tahu itu Co! Aku tahu! Tapi kita harus bersabar dan jangan terpancing oleh tipu muslihatnya!
“Apa yang kalian lakukan diatas sana! Cepat turunkan landasan kalian karena Tuan Kalangit ingin bicara dengan kalian!” Ucap salah seorang anak buah Jefri Kalangit yang berada di speedboat
“Apa kita turuti permintaan Put?” tanya Maikel kepada Putra Gilang
Sang kepala kamar mesin ini nampak menganggukan kepala.
“Turunkan saja landasannya Kel, kita dengar dulu apa maunya orang jahat ini…”
Maikel Stefen lalu berlari kearah anjungan dan mulai mengoperasikan alat yang mengendalikan landasan atau Platform di bagian buritan kapal. Landasan tersbut kemudian mulai diturunkan oleh Maikel Stefen dan beberapa saat setelah didengarnya teriakan dari dalam landasan, pemuda bertopi kupluk ini kemudian menaikkan kembali landasan tersebut keatas kapal.
Bunyi berderak dari rantai baja turut terdengar bersamaan dengan naiknya Sang Miliarder Jefri Kalangit dan anak buahnya keatas The Promise Land!
Jefri Kalangit nampak menghisap cerutunya dalam-dalam lalu menghembuskannya sambil memandang ke sekeliling kapal.
“Tidak terlalu buruk… Selera kapten kalian ternyata cukup bagus juga…” Ucap sang miliarder sambil memperhatikan setiap bagian kapal The Promise Land ini. Setelah berucap, sang big boss perusahan Langit Corporation ini tiba-tiba nampak membuang puntung cerutunya dan kemudian menginjaknya sambil kemudian meludah kearah lantai kapal!
Benar-benar sangat memandang rendah! Bagi Putra, Maikel dan Marco, kapal ini bukanlah hanya sekedar rumah atau tempat mereka bekerja. Bagi mereka bertiga kapal The Promise Land ini sudah seperti ibu yang selalu menjaga dan menemani mereka kala melewati berbagai badai dan topan ganas di lautan! Sehingga apa yang dibuat oleh Jefri Kalangit kali ini memang benar-benar sudah sangat keterlaluan!
“Jahanam…! Aku akan mengadu jiwa dengan mu! Teriak Marco Ferdinand yang langsung berusaha menerjang namun ditahan oleh Maikel dan Putra Gilang saat anak buah Jefri Kalangit nampak tiba-tiba menodongkan pistol kearah mereka!
“Aku benar-benar kecewa…! Aku datang kali ini sesunguhnya membawa kesepakatan yang menggiurkan dan menguntungkan untuk kalian… Kalian seharusnya menyambutku dengan baik…” ucap sang miliarder
“Sudahlah jangan bicara berputar-putar! Cepat katakan saja apa maumu…?” ucap Maikel Stefen sambil menahan Marco yang masih nampak meradang
“Nona Melodie…” ucap Jefri Kalangit sambil menunjuk kearah Melodie yang nampak meringkuk bersembunyi dibelakang punggung Putra Gilang
“Kau adalah orang terakhir selain Kapten Barry yang melihat peta laut yang terukir di dalam ruangan Piramida dibawah sana… Aku percaya kau pasti masih mengingat jelas letak setiap Piramida yang tergambar di peta laut yang terukir di dinding Piramida tersebut… Oleh karenanya aku menawarkan kalian semua untuk menemani Melodie pergi ke semua Piramida bawah laut tersebut untuk mengangkat setiap harta yang berada didalamnya dan kemudian diberikan kepadaku… Aku berjanji akan memberikan imbalan yang besar untuk kalian semua… Bagaimana…? Bukankah penawaranku ini cukup adil dan menggiurkan…?”
Putra Gilang menengok kearah Melodie yang berada di belakangnya dengan gemetar sembari menggelengkan kepala berulang kali
“Penawaran mu memang cukup menggiurkan Tuan Kalangit, namun bagaimana kalau kami menolak?” ucap Putra Gilang kemudian
“Oh, kalian tidak punya pilihan lain selain menerima penawaranku! Aku bisa pastikan itu..!” ucap sang miliarder sambil tersenyum jumawa.
“Apa maksudmu kami tidak punya pilihan lain? Kau ingin mengancam kami?” Teriak Marco
“Kalian berdua…” Tunjuk Jefri Kalangit kearah Maikel dan Marco
“Kalian berdua tepat setahun yang lalu bersama Kapten kalian menerobos paksa kedalam gedungku, melukai ratusan anak buah ku dan melakukan pengrusakan fasilitas umum didalam gedung itu..! Melulu itu saja sudah cukup buatku untuk menuntut kalian agar dijebloskan ke dalam penjara!”
“Lalu anda Tuan Gilang… Anda membongkar dan merusak panel terowongan dan aquarium raksasa milikku dan menguras seluruh isinya! Seluruh hewan peliharaanku yang harganya ratusan juta rupiah hilang lenyap oleh perbuatanmu..! Kalian bertiga sudah memaksa masuk ke dalam wilayahku dan mengakibatkan timbulnya luka di pihakku serta melakukan tindakan vandalisme dan perusakan yang membuat aku rugi secara materiil…! Jadi jika kalian tidak menuruti perintahku, maka aku akan menjebloskan kalian bertiga kedalam penjara! Ingat! Semua perbuatan kalian bertiga terekam jelas oleh kamera CCTV milikku jadi kalian tidak mungkin bisa lolos dari jeblosan penjara…!”
Mendengar hal itu ketiga rekan Bob Barry ini hanya bisa berpandangan dan kemudian diam tertunduk.
“Kemudian anda Nona Melodie…” kali ini Jefri Kalangit menunjuk sang gadis yang nampak semakin meringkuk menggigil ketakutan dibelakang pundak Putra Gilang
Putra Gilang yang iba melihat Melodie yang nampak menggigil ketakutan langsung saja maju dan berkata lantang.
“Jangan lagi kau sudutkan dia Tuan Kalangit, biar keinginanmu itu kami penuhi, namun kami mohon tolong lepaskan nona Melodie…”
“Benar! Kalau memang ingin menjebloskan kami kedalam penjara ya silahkan saja! Kami bukan bangsa-bangsa pengecut sepertimu yang tidak berani mengakui perbuatan kami! Tapi kami minta jangan kau bawa-bawa Melodie dalam masalah ini…!” teriak Marco yang diamini langsung oleh Maikel Stefen
“Teman-teman…” mata sang gadis langsung berkaca-kaca kala melihat ketiga rekan Bob Barry ini rela memasang badan untuk melindunginya.
“Tenang saja… Untuk masalah Nona Melodie aku berjanji tidak akan mengusiknya asal kalian mau menandatangani perjanjian yang kubawa ini. Perjanjian yang isinya adalah kalian akan menuruti dan sanggup untuk melakukan semua yang aku perintahkan nantinya…!” ucap Jefri Kalangit seraya menunjuk sebuah map kerja yang diberikan oleh seorang anak buah yang berada di sampingnya.
Sang miliarder kemudian melempar map kerja tersebut kearah Putra Gilang yang langsung menyambutnya.
“Didalam map itu sudah ada alat tulis yang bisa kalian pergunakan untuk menandatangani isi perjanjian tersebut, jadi kalian tidak perlu repot-repot mencari pulpen kemana-mana…” ucap Jefri Kalangit seraya tertawa geli
Wajah Putra dan kedua rekannya nampak mengelam saat membaca isi surat perjanjian yang dimata mereka tak ubahnya dengan surat perjanjian budak belian itu!
“Apalagi yang kalian tunggu? Cepat tanda tangani sebelum kesabaranku habis…!!”
Dengan penuh air mata Melodie melihat ketiga rekannya tersebut menandatangani surat perjanjian tersebut. Dengan ditanda tanganinya surat perjanjian tersebut maka kebebasan Putra, Marco dan Maikel sudah terjual dan mereka harus rela menjadi budak pekerja milik perusahaan Langit Corporation!
Benar-benar akhir yang menyedihkan bagi kru kapal ekspedisi penyelaman The Promise Land!
“Kami sudah menandatangani surat ini, jadi kami ingin sekarang juga kau bebaskan Melodie dan berjanji tidak akan lagi mengusik-usik dirinya!” ucap Putra Gilang sebelum menyerahkan map di tangannya kepada Jefri kalangit.
“Tentu…! Itu gampang sekali…! Lihat, aku juga sudah membawa kontrak kerja Nona Melodie bersama-sama ke tempat ini… Periksa isinya dan setelah itu kau boleh melakukan apa saja atas surat kontrak itu…” Ucap Jefri Kalangit seraya mengambil sebuah kontrak kerja dari tangan anak buahnya dan kemudian menyerahkannya ke tangan Putra Gilang.
Putra yang menerima kontrak kerja tersebut dengan cepat memeriksa isinya dan setelah meyakini kalau itu adalah kontrak kerja Melodie dengan perusahaan Langit Corporation yang asli, maka sang pemuda pun kemudian langsung merobek-robeknya hingga hancur berkeping-keping!”
Air mata langsung membanjir bersama isakan tangis Melodie kala pemuda berbadan besar ini kemudian menyerahkan perjanjian yang ditanda tangani oleh mereka bertiga kepada Jefri Kalangit yang nampak girang bukan kepalang.
Perjanjian yang menjual kebebasan mereka bertiga demi kebebasan Melodie seorang!
Namun belum lagi sang miliarder membuka map tersebut, tiba-tiba kapal The Promise Land yang mereka naiki oleng dan bergoyang dengan keras! Bersamaan dengan goyangnya badan kapal, dua orang anak buah Jefri Kalangit yang sedang menodongkan pistol kearah Putra dan kawan-kawannya mendadak berteriak karena tercekik manakala tiba-tiba sebuah tali menjerat leher masing-masing dan menarik mereka jatuh kedalam laut!
“Jadi ini manusia nya yang berani membuat saudara-saudaraku sampai kesusahan sedemikan rupa…?” ucap satu suara tiba-tiba dari arah belakang Jefri Kalangit!
Sang miliarder sesungguhnya tidak mengerti apa yang dikatakan oleh sosok asing yang berada dibelakangnya, namun dinginnya parang tajam yang tiba-tiba melingkar di lehernya tentu saja menyadarkan dirinya kalau sekarang sedang berada dalam keadaan terancam!
Dibelakang Jefri Kalangit sekarang berdiri sosok tinggi besar bertubuh hitam kelam dan bertelanjang dada. Pria ini nampak basah kuyup berdiri sambil mencengkram pinggang sang miliarder dan melingkarkan sebilah parang di lehernya!
Jika Melodie memandang heran kearah pria peranakan Afrika bertubuh tinggi besar yang tiba-tiba muncul di belakang Jefri Kalangit ini, maka lain halnya dengan Putra dan kawan-kawannya!
Dengan mulut ternganga dan mata melotot besar mereka memandang terpana kearah pria dibelakang Jefri Kalangit ini!
“Kak… Kak Dawouud…!!!” seru mereka berbarengan!
Lelaki yang memang bukan lain adalah Dawoud Ali Djibril ini kemudian tiba-tiba memukul batang leher Jefri Kalangit hingga sang pria ini pingsan, dan setelah itu dengan tertawa lepas pria Somalia ini nampak membuka kedua tangannya lebar-lebar!
Melihat hal ini ketiganya kemudian berlari memburu dan melompat memeluk pria Somalia ini.
“Saudara-saudaraku….” Ucap sang pria yang merupakan saudara angkat mereka bertiga ini.
__ADS_1
tiba-tiba kapal The Promise Land ini kembali terasa oleng bergoyang dan dua orang pria berdarah Afrika terlihat menaiki kapal dengan keadaan basah kuyup. Seorang diantaranya adalah seorang pria tua berambut dan berjanggut putih dan seorang pria bertubuh gemuk luar biasa. Gulungan tambang nampak tersampir di bahu masing-masing!
Mereka inilah yang rupanya membuat kapal The Promise Land bergoyang oleng dan mereka berdua juga yang rupanya menjirat dan menjatuhkan kedua anak buah Jefri Kalangit menggunakan tali tambang!
“Auuuh… Auuuh… uuaaah…”
“Kau benar Abdoolah, mereka hanya mengingat Dawoud Ali semata! Sementara kita berdua yang juga sudah jauh-jauh datang ke tempat ini mereka lupakan begitu saja…” Ucap sang pria tua berambut putih yang juga bertelanjang dada dan basah kuyup sambil kemudian terlihat tertawa.
“Auuh…. Uaaah… uaahhhhhh…!” sahut sang pria gemuk yang bukan lain adalah Si Kecil Abdoolah!
“Kak Mahmood…! Abdoolaaahh…” teriak girang ketiganya yang kemudian melepaskan pelukan dari Dawoud Ali dan kembali berloncatan bergantian memeluk pria tua yang bukan lain adalah Sang kepala Klan Ahmed Ali Djibril dan anak buahnya Si Kecil Abdoolah!
“Kalian ini…” ucap lirih sang ketua klan sembari memeluk erat ketiga saudara angkatnya yang nampak menangis tersedu-sedu dalam pelukannya ini.
Setelah berhasil menguasai emosi masing-masing, Putra Gilang kemudian sambil menghapus air matanya kemudian memperkenalkan ketiga orang Somalia ini kepada Melodie.
Ketiganya kemudian nampak merangkapkan tangan dan menundukkan kepala di hadapan sang gadis.
“Assalamualakuum…” salam mereka kepada Melodie
“Wa.. waalaikuumsalaam…” sambut Melodie dengan sedikit tergagap
Ternyata ketiga orang Somalia yang bertampang angker menakutkan ini sangat sopan dalam memperlakukan wanita sehingga meninggalkan kesan yang dalam pada diri sang dara
“Jadi, kalian jauh-jauh datang kemari untuk menghadiri untuk menghadiri acara tabur bunga satu tahun kepergian Kapten…? Atau jangan-jangan…” ucap Putra Gilang tertahan karena takut membuat saudara angkatnya ini tersinggung.
“Ha.ha.ha… Kalian benar-benar saudara-saudaraku yang lugu dan naif… Kami sudah tidak melakukan aksi perompakan lagi sejak kita berpisah setahun yang lalu… Kami sudah insyaf dan taubat! kini Klan Ahmed Djibril sudah tidak melakukan perompakan maupun aksi bajak laut lagi! Kini kami semua bekerjasama dengan pemerintah dan garda PBB untuk menjaga dan melestarikan hewan-hewan langka milik kami seperti gorila punggung perak dan badak bercula dari jarahan para pemburu liar dan pedagang pasar gelap yang banyak berkeliaran di Somalia…” ucap Mahmood Ali sambil tersenyum
“Alhamdulilah…” ucap Putra Gilang dan kedua rekannya sambil mengucap syukur atas perubahan drastis yang terjadi atas diri saudara-saudaranya di tanah Somalia ini.
“Sesungguhnya kami datang ke Indonesia, karena kami mendengar salah seorang saudara kami meninggal dan yang lainnya tertimpa kesusahan… Kami orang-orang Somalii tidak seperti yang lainnya yang tidak pernah bisa dipegang omongannya… Kita sudah pernah sama-sama berjanji untuk saling menjaga… Oleh karena janji itulah kami sekarang ada disini… “ Ucap Dawoud Ali sambil tersenyum.
Mendengar hal itu ketiga orang kru kapal The Promise Land ini sontak berkaca-kaca sepasang matanya. Mereka sungguh tak mengira begitu besar budi luhur yang dimiliki oleh orang-orang Somalia bekas bajak laut dihadapan mereka ini.
“Jika saja kapten melihat kalian bertiga saat ini ada bersama-sama dengan kita hari ini… Dia pasti akan sangat senang dan bahagia tak terkira… Sayang dirinya sudah pergi meninggalkan kita kak… dia tidak ada disini untuk merasakan kebahagiaan ini bersama-sama…” ucap Marco sambil menyeka air matanya.
Entah mengapa ketiga orang Somalia ini malah nampak berpandangan dan saling menatap dan kemudian tertawa lebar.
“Kalian memang saudara-saudaraku yang bodoh… Tidak seharusnya kalian memandang remeh saudara kalian yang satu itu…” ucap Dawoud Ali sambil tertawa lebar
Mendengar hal ini ketiga rekan Bob Barry ini pun langsung menatap heran kearah sang pria Somalia
“Maksudnya apa kak…? Kenapa kau mengatakan kalau kami ini bodoh…?” ucap Maikel Stefen dengan kening berkerut. Rupanya pria bertopi kupluk ini agak kurang senang dikatakan bodoh oleh saudara angkatnya ini
“He.he.he… Biarlah kak Mahmood yang akan menjelaskannya pada kalian…” ucap sang pria sambil berpangku tangan.
Mahmood Ali kemudian mengusap mukanya sebentar dan kemudian tersenyum bijak.
“Kami orang-orang asli suku Somalii terkenal sangat keras kepala… Jika kami mendengar ada kabar tentang salah seorang saudara kami ada yang meninggal maka kami tidak akan begitu saja percaya selama kami tidak melihat dengan kepala sendiri! Beberapa bulan lalu kabar tentang meninggalnya kapten kalian akhirnya sampai di telinga kami. Kami tentu saja tidak langsung percaya begitu saja… Oleh karenanya kami langsung kemari untuk melihatnya dan membuktikan secara langsung…”
Putra dan yang lainnya langsung berpandangan
“Jadi kalian sudah ada di tempat ini dari beberapa bulan yang lalu?” tanya Putra
Mahmood Ali nampak mengangukan kepalanya
“Begitulah… Kalau dihitung-hitung kurang lebih sudah ada tujuh bulanan kami berada disini!”
“Lalu apa yang kalian lakukan selama tujuh bulan itu di tempat ini? Lalu apa maksudnya juga tadi kak Dawoud mengatakan kalau seharusnya kami tidak boleh meremehkan kapten kami? Bukankah sudah jelas kalau kapten kami sudah meninggal terkubur di dasar terowongan dibawah sana! Melodie inilah yang menjadi saksinya kak!” seru Putra gilang
Kali ini Sang kepala klan nampak menggelengkan kepalanya.
“Ah… Tidak salah kalau Dawoud Ali mengatakan kalian bodoh… Apa yang dilihat gadis itu tentu saja tidak sama dengan yang orang lain lihat! Satu pemandangan, jelas tidak akan sama jika dilihat oleh dua orang yang berbeda! Dan seperti yang kukatakan tadi, kami ini orang Somalia! Selama kami tidak melihat sendiri jasad Bob Barry, maka buat kami dia itu belum meninggal…!” tegas sang ketua klan mengejutkan semua orang yang berada di tempat itu.
Lalu tiba-tiba terdengar suara berderak rantai yang datang dari bagian landasan di buritan! kala Putra Gilang serta rekan-rekannya melihat kearah anjungan, nampak Abdoolah sedang menurunkan landasan yang terdapat di buritan kapal.
“Apa yang dia lakukan kak…? Kenapa Abdoolah ada didalam anjungan?” ucap Marco dengan heran
“Bersabarlah… Tunggulah saja sebentar… sebentar saja… dan usahakan jangan berkedip karena ada hal yang mengejutkan akan terjadi…” kekeh Dawoud Ali sambil menatap kearah buritan kapal.
Selang beberapa lama kemudian kembali bunyi rantai berderak terdengar pertanda landasan mulai berderak naik.
Saat landasan itu akhirnya berhenti, empat pasang mata terbuka lebar seakan tak percaya dengan apa yang mereka lihat!
Berulangkali Melodie, Putra, Marco dan juga Maikel mengucak kedua matanya untuk memastikan apa yang mereka lihat dihadapan mereka itu apakah sebuh ilusi atau tidak.
Namun apa yang mereka lihat ternyata benar adanya! Sosok yang sedang berdiri di hadapan mereka itu benar-benar nyata!
Mereka tidak sedang bermimpi atau hanya sekedar melihat ilusi semata!
Diatas anjungan yang tadi bergerak naik, kini nampak berdiri seorang pria kurus dengan rambut dan kumis cambang berantakan awut-awutan serta tubuh yang basah kuyup. Sang pria berdiri bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana butut yang sudah usang dan robek disana-sini.
Pria yang nampak tersenyum dengan mata berkaca-kaca kala melihat Melodie dan rekan-rekannya ini nampak memondong seorang anak berusia setahun yang memiliki tubuh sebelah bawah berbentuk ekor ikan! Anak dalam pelukan sang pria ini terdengar ramai bercecowetan tanpa henti sambil memandang kearah sekelilingnya.
Namun begitu mata bulat besar berwarna biru kehijauan miliknya itu tertuju kearah Melodie, suara cecowetannya tiba-tiba hilang seketika!
Sang anak kemudian merayap turun dari tubuh sang pria dan nampak merayap cepat diatas lantai kapal untuk kemudian langsung melompat kedalam pelukan Melodie sambil menangis keras!
“Saa… Samuuu…?? Samuuuuuu….!?!!” Jerit Melodie sambil balas memeluk erat sang anak duyung yang menggelendot dalam pelukannya sambil menangis keras itu. Betapa jelas terlihat besarnya rindu sang anak duyung kepada sang gadis!
“Kaaappteenn!!!!”
Teriak keras Putra Gilang dan kedua temannya seraya berlari kompak memburu seolah kesetanan kearah pria yang nampak berdiri diatas landasan!
Mereka bertiga kemudian langsung melompat dan menubruk sang pria hingga terjatuh dan menimbulkan suara rantai yang berderak akibat landasan yang tertimpa beban berat!
“Kau Masih Hidup Kapten…!!! Kau masih hidup!! Tuhan ternyata benar-benar Maha Pemurah…!!!” seru rekan-rekan sang kapten silih berganti
Pria yang memang bukan lain adalah Bob Barry ini nampak tertawa sambil terisak seraya memeluk dan menenangkan ketiga rekannya yang memeluknya erat erat sambil menangis bahagia ini.
Sang pria kemudian berpaling kearah Melodie yang nampak gemetar memeluk Hati Samudera sambil menangis dan menggigit bibirnya.
“Aku kembali…. Melodie… Aku Kembali…” Bisik sang pria pelan… Cukup pelan saja… Namun tetap bisa terdengar jelas oleh sang gadis yang sedari tadi sudah hampir tenggelam oleh banjir air matanya sendiri itu!
\*
__ADS_1