Hati Samudera

Hati Samudera
Cinta Orang-orang Gagah


__ADS_3

Hal pertama yang dilihat oleh Melodie saat membuka mata adalah wajah cemas Hati Samudera yang rupanya sedari tadi menjilati dan meraba wajah sang gadis untuk menyadarkannya.


“Samuuu...!” seru sang gadis seraya menarik tubuh sang bayi duyung kedalam pelukannya.


“Kau Sudah sadar Mel...?” satu suara terdengar disamping sang gadis


Melodie pun memalingkan kepala dan melihat Bob Barry nampak tersenyum kepadanya sambil terlihat berenang berpegangan pada sebilah papan yang sedang dinaikinya.


Rupanya saat itu Melodie sedang terbaring diatas sebuah papan yang terombang-ambing di tengah laut! Karena ukuran papan yang hanya sanggup menampung satu orang, maka Bob Barry pun harus rela berenang di pinggir papan bersama Samuu yang sebelumnya terlihat berenang hilir mudik cemas di dekat kepala sang gadis ahli biologi kelautan ini.


“Kita ada di mana Bob...? kenapa kepalaku terasa sakit sekali ya...”


“Kita sekarang berada tepat di tengah-tengah selat Lembeh… Apa kau tidak ingat? Kita terjatuh dari atas jurang karena dikejar-kejar oleh anak buah Jefri Kalangit...”


“Jurang...? Oh iya... Aku ingat sekarang... Kita terjatuh dari jurang dan masuk kedalam laut... tapi setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi...”


“Kau langsung jatuh pingsan saat itu Mel, Aku sambil membawa Samuu dan dirimu yang tak sadarkan diri, kemudian berusaha keras untuk dapat berenang ke tepian. Namun sayangnya arus balik terlalu kuat hingga membawa kita kembali ketengah selat... Beruntung aku secara kebetulan menemukan papan yang hanyut ini sehingga kaupun akhirnya bisa beristirahat diatasnya...” jelas sang kapten.


Melodie nampak memperhatikan laut di sekelilingnya dan kemudian terlihat menghela nafas panjang.


“Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya Bob? Cepat atau lambat mereka yang mengejar kita pasti akan menemukan kita yang sedang terombang-ambing di tengah laut seperti ini... Aku tidak mau mereka merebut kembali Samuu dan melakukan percobaan-percobaan kejam seperti yang mereka lakukan di tempat Jefri Kalangit itu...” ucap sang gadis dengan tubuh terlihat bergetar ketakutan


“Tenanglah Mel, hal itu tidak akan terjadi, Lihatlah! Saat ini nampaknya keberuntungan sedang berpihak kepada kita... Bukankah Pulau yang berada di depan itu adalah pulau Serena? Arus ini rupanya membawa kita kembali ke perairan dimana Hati Samudera Berasal!” ucap Sang Kapten seraya membelai kepala bayi kecil yang berada dalam dekapan Melodie.


Benar apa yang dikatakan oleh Bob Barry, pulau yang berada dihadapan mereka memang benar pulau Serena adanya. Rupanya tanpa sadar kedua orang ini beserta sang bayi duyung terbawa arus hingga sampai ketempat tujuan mereka, Perairan pulau Serena!


Setelah beberapa lama terhanyut, Bob Barry pun kemudian terlihat menatap jam tangan Suntoo Elementum Aqua miliknya untuk memastikan sesuatu, lalu Sang kapten pun kemudian terlihat berganti menengadah kearah langit sembari menatap jajaran rasi bintang yang mulai bermunculan dilangit senja.


“Kita sudah berada tepat dititik dimana ceruk Serena itu berada dibawah sana Mel... Sudah tiba saatnya buat kita untuk menyelam kebawah...” ucap Bob Barry sambil menatap Melodie yang terlihat mulai berkaca-kaca matanya.


“Sebenarnya aku benar-benar berat untuk melepas Samuu kepada makhluk-makhluk itu Bob... aku terlalu menyayangi bayi ini...” keluh sang gadis sambil mendekap sang bayi erat dan menghujaninya dengan ciuman diwajah lucunya.


“Tapi aku pun kini sadar kalau dunia ternyata memang belum bisa menerima keberadaannya dan kaumnya... Jika dia terus berada bersama kita akan ada banyak orang-orang yang akan berebutan dan menyakitinya... Karenanya walaupun berat... Walaupun sangat sedih... Aku kini rela untuk melepasnya kembali ke kaumnya...” sambung sang gadis diikuti dengan tangis sesenggukkan.


“Bersabarlah Mel, pasti akan ada masanya dimana dunia sudah bisa lebih terbuka dalam menerima hal-hal yang selama ini masih merupakan sebuah rahasia besar seperti Hati Samudera dan kaumnya. Mudah-mudahan saat masa itu tiba, kita bisa datang kembali ke ceruk ini untuk menjemput dan berkumpul kembali dengan Hati Samudera... Yakinlah akan hal itu...” ucap Bob Barry seraya menyeka air mata yang menetes di pipi sang gadis.


Setelah sang gadis mulai tenang, Bob Barry pun kemudian menjangkau saku jaketnya dan mengeluarkan dua buah alat bantu pernapasan BigMouth dan memberikannya sebuah kepada Melodie. Setelah itu sang kapten pun terlihat mencabut Belati bintang jatuh atau belati komet yang sebelumnya ditancapkan oleh sang kapten ke ujung papan.


Keduanya pun kemudian terlihat mulai menyelam kedasar laut sambil dibantu penerangan cahaya pisau belati komet milik Bob Barry. Sang bayi duyung sendiri nampak gembira, terlihat berenang menyelam berputar-putar di samping Melodie. Namun bayi duyung ini terlihat hanya mau berenang didekat sang gadis karena merasa jerih dan takut dengan belati yang dipegang oleh sang kapten.


Beberapa saat kemudian setelah menuruni tubir laut sedalam belasan meter, mereka pun kemudian akhirnya sampai juga di depan mulut ceruk Serena. Sebelum berenang masuk kedalam ceruk, Bob Barry nampak berpaling kebelakang kearah Melodie seolah meminta persetujuan. Melihat hal ini melodie pun nampak menganggukan kepala. Ketiganyapun kemudian dengan dipimpin oleh Bob Barry mulai berenang memasuki ceruk tersebut.


Sementara itu tidak jauh dibelakang mereka, tiba-tiba dari kegelapan samudera nampak tiga orang yang mengenakan pakaian selam dan tabung selam meluncur perlahan dengan menggunakan scooter bawah air langsung menuju kearah mulut ceruk Serena!


Setelah berenang beberapa lama di dalam gua bawah laut yang gelap itu, akhirnya sampai juga Bob Barry dan Melodie keruangan besar dimana tas Titanium milik Jefri Kalangit ditemukan. Dengan amat berhati-hati keduanyapun perlahan berenang kearah mulut gua di sudut ruangan yang mengarah keruangan yang berisi Piramida dengan tombak trisula emas di puncaknya. Saat mencapai mulut gua, keduanyapun kemudian nampak mengamati keadaan dalam gua raksasa tersebut dan kemudian saling pandang dengan perasaan heran!


Gua yang sebelumnya dimasuki oleh Maikel dan Melodie ini sesunguhnya masih tetap sama, masih ada stalagtit dan stalagmit yang ditumbuhi oleh lumut dan ganggang laut yang bercahaya, Piramida batu karangnya juga masih terlihat jelas berdiri kokoh di tengah ruangan. Hanya saja tombak trisula berujung emas yang memancarkan sinar terang benderang itu sudah tidak tampak lagi tertancap di puncak piramida! Dan yang paling membuat bingung Bob Barry dan Melodie adalah Ruangan gua raksasa itu kini terlihat sunyi senyap dan hening! Tak ada satupun bayangan makhluk duyung atau Sirens berkeliaran di situ tidak seperti saat mereka pertama kali memasuki tempat tersebut.


Bob Barry nampak memalingkan wajah kearah Melodie dengan kening berkerut dan sang gadis yang melihat hal ini pun hanya bisa menggelengkan kepala pertanda kalau dirinya juga bingung dan tidak mengerti! Namun keduanya kemudian dikagetkan oleh Hati Samudera yang tiba-tiba berenang menerobos memasuki ruangan gua! Melodie yang tidak sempat mencegah bayi duyung tersebut kemudian dengan perasaan khawatir ikut berenang pula memasuki ruangan gua diikuti oleh Bob Barry.


Begitu berada di dalam ruangan gua raksasa tersebut, Samuu sang bayi duyung nampak memandang ke sekeliling dan berenang kesana kemari dengan mata terbuka lebar penuh takjub. Sang bayi rupanya merasakan sesuatu yang mengikat dirinya dengan tempat ini sehingga nampak bingung terkesima untuk beberapa lama seakan tidak menyadari kehadiran Bob Barry dan Melodie yang nampak selalu berenang berjaga-jaga didekatnya.


Bob Barry dan Melodie berenang bersama sambil sesekali memandang sekeliling untuk memastikan keadaan kalau-kalau ada makhluk duyung yang menampakkan diri. Namun setelah sekian lama berenang berkeliling, mereka berdua mendapati kenyataan bahwa tempat itu memang telah benar-benar kosong ditinggalkan!


Bob Barry dan Melodie kemudian berenang kearah pintu masuk piramida dimana sang bayi duyung terlihat nampak diam termangu. Sang bayi duyung kemudian terlihat memalingkan wajah kearah Melodie dan kemudian berenang masuk menggelendot kedalam pelukan sang gadis yang langsung merangkulnya.


Dengan mata bulatnya bayi ini kemudian memandang kembali kearah sang gadis lalu berganti berpaling kearah pintu Piramida, lalu jemari mungilnya yang berselaput tiba-tiba diacungkan kearah pintu persegi didepan mereka seakan meminta Melodie untuk menemaninya memasuki Piramida didepannya tersebut.


Melihat hal ini Melodie pun nampak berpaling kearah Bob Barry yang langsung nampak menganggukkan kepala dan berenang maju mendahului mereka memasuki pintu piramida. Melodie pun kemudian berenang mengikuti dibelakang Bob Barry sambil membopong Hati Samudera!


Setelang berenang beberapa lama, terowongan yang berada dalam piramida tersebut kemudian nampak mulai menanjak hingga akhirnya tanpa disangka Bob Barry dan Melodie sampai di satu ruangan yang kering dan tidak terendam air!


Bob Barry pun kemudian membantu Melodie untuk keluar dari lubang air yang rupanya menghubungkan bagian dalam Piramida dengan pintu masuk terowongan yang terendam air.


“Astaga…! Ini benar-benar mustahil…!! Kebohonganku pada Jefri Kalangit rupanya adalah kenyataan Bob…!!” Ucap Melodie dengan mata membeliak besar saat melihat ke sekeliling ruangan dalam Piramida yang dipenuhi oleh koin dan perkakas emas yang berlimpah ruah!


“Emas-emas ini pasti berasal dari harta karun yang tenggelam di dasar laut berabad-abad silam… Namun untuk apa makhluk-makhluk itu mengumpulkan semua harta ini? Toh ini bukanlah sesuatu yang berharga buat mereka seperti halnya manusia…” ucap heran Bob Barry saat melihat tumpukan barang-barang emas berupa koin, batangan emas, perhiasan hingga mahkota dan alat-alat makan seperti garpu sendok dan piring terbuat dari emas murni yang nampak berserakan diatas lantai ruangan.


Tiba-tiba Samuu yang berada dalam gendongan Melodie mendadak merayap turun dari tubuh sang gadis kemudian melompat dan berguling-guling diatas tumpukan barang-barang emas tersebut! Sang bayi kemudian terlihat meraup beberapa koin lalu mengendus-endusnya dan kemudian menggaruk-garukkan koin emas tersebut ke sisik-sisik ekornya sambil tertawa-tawa senang! Hal ini membuat Melodie dan Bob Barry saling berpandangan melihat tingkah Hati Samudera yang nampak kegirangan luar biasa bermain-main dengan tumpukan emas itu tak ubahnya tingkah anak kecil yang masuk ke toko permen!


“Ah… Aku tahu sekarang…!” ucap Bob Barry sambil tertawa riang.


“Apa yang kau tahu Bob? Ayo cepat jelaskan…” ucap Melodie sambil mengguncang-guncang tangan sang kapten


“Emas-emas ini…” Bob Barry terbatuk-batuk untuk beberapa saat


“Emas-emas ini buat Samuu dan kaumnya, sesungguhnya bisa disamakan dengan tanaman Catnip yang disukai oleh kucing. Kandungan yang terdapat dalam emas rupanya buat tubuh makhluk-makhluk ini dapat memicu hormon semacam hormon Serotonin* pada manusia yang bisa menghasilkan perasaan nyaman atau senang… Coba lihat! Bagaimana senangnya Samuu bermain-main dengan tumpukan emas itu…!”


“Lalu apakah itu berbahaya Bob? Jangan-jangan nanti malah akan menjadi kecanduan…”


Bob Barry nampak menggelengkan kepala sambil tertawa kecil.


“Aku pikir tidak begitu… Aku malah menduga bahwa bangunan Piramida ini memang sengaja dibuat sebagai tempat untuk “Penitipan” anak-anak kaum Sirens itu saat kaum dewasanya sedang pergi berburu atau beraktifitas… Emas-emas ini sengaja dikumpulkan agar anak-anak mereka ini bisa bermain-main dan tidak mengganggu yang orangtua mereka…” tutup Bob Barry


“Wah hebat sekali! Kau bisa tahu darimana Bob…? Aku sendiri yang mendalami tentang ilmu biologi kelautan kok tidak tahu sama sekali…!”

__ADS_1


Bob Barry nampak tertawa geli


“Ya tahulah…! Tuh gambarnya ada dibelakang terukir di dinding Piramida!” tunjuk Bob Barry kearah dinding Piramida di atas kepala sang gadis


Sang gadis kontan menengadahkan kepalanya dan memandang ke sekeliling. Saat itulah Melodie baru menyadari kalau disetiap dinding bangunan Piramida tersebut nampak dipenuhi relief-relief dan ukiran-ukiran yang terpahat dipermukaannya!


Dan disalah satu dindingnya terlihat satu relief sebuah piramida besar dengan sebuh tombak trisula di puncaknya. Di dalam relief piramida itu terlihat banyak ukiran bayi duyung yang sedang bermain diatas tumpukan benda-benda bulat kecil seperti koin, sementara diluar piramida terdapat banyak ukiran makhluk Sirens yang lebih besar dengan berbagai kegiatannya yang bermacam-macam. Ada yang terukir berkelompok sedang menombaki ikan besar dan ada juga yang nampak mengali terowongan dengan menggunakan alat seperti tombak dan beliung


Mata Melodie nampak membesar dan berbinar-binar penuh kekaguman kala melihat ukiran dan relief-relief yang terdapat di hadapannya itu.


“Coba kau bawa kemari belatimu itu Bob, aku ingin melihat bagian sebelah sini dengan lebih jelas… “ucap Melodie kepada Bob Barry


“Tunggu sebentar Mel, aku basahi dulu belatinya dengan air laut soalnya sinarnya mulai berkurang…” ucap Bob Barry sambil beranjak kearah lubang jalan masuk dan mencelupkan belatinya beberapa saat.


Sinar cahaya belati komet milik Bob Barry pun kembali menyala terang saat terkena air laut, dan setelah itu Bob Barry pun melangkah kearah Melodie dan mengangkat belatinya tinggi-tinggi diatas kepala kebagian yang ditunjuk oleh sang gadis.


“Hei…! Bukankah ukiran ini adalah peta laut…! Dan… Astaga…! Ukiran peta laut ini sangat akurat dan presisi…!” ucap Bob Barry dengan nada suara terperanjat!


“Kau benar Bob…! Ini memang ukiran peta laut…! Tapi coba kau lihat bagian ini…” ucap Melodie seraya menunjuk kearah salah satu bagian peta laut yang terukir di dinding piramida


“Ini jelas pulau Sulawesi… Lalu ini pulau Lembeh… Dan ini pulau Serena! Kemudian lambang segitiga disamping ukiran pulau Serena ini tentu merujuk kepada Piramida bawah laut ini…! Dan lihat Bob…! Coba perhatikan…! Masih ada banyak simbol segitiga lainnya diseluruh dunia…!” ucap Melodie setengah berteriak!


“Perairan Masalembo… Laut Seram Maluku… Laut Setan Jepang… Perairan Teluk Moro Filipina… Perairan Bermuda… Laut Aegea Yunani… Lepas Pantai Kiryam Yat Israel…” desis Bob Barry sambil terpaku serius menatap titik-titik dimana simbol segitiga berada.


“Ini berarti koloni makhluk Sirens itu masih banyak tersebar di seluruh dunia Bob..! Benar-benar hal yang luar biasa…!” seru Melodie kegirangan


“Dan itu juga berarti lebih banyak lagi tempat harta karun untuk dijarah…!!!” ucap satu suara tiba-tiba dari belakang mereka dibarengi pecahnya tangis Hati Samudera!


Melodie dan Bob Barry kontan berbalik dan terkejut besar kala melihat di belakang mereka berdiri tiga pria yang mengenakan pakaian dan tabung selam. Dua diantaranya nampak membidikkan pistol harpun kearah mereka berdua, sementara pria satunya nampak berdiri sambil memeluk dan menyilangkan cakar runcingnya kearah Hati Samudera yang nampak menangis dalam sekapannya!


Siapa lagi kalau bukan sang miliarder Jefri Kalangit?


“Ha.ha.ha. ternyata apa yang kau katakan tempo hari benar-benar bukan omong kosong semata nona Melodie… Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya buat kalian yang telah sudi menunjukkan tempat ini kepadaku…”


“Tuan Kalangit… Tolong kembalikan Bayi itu kepada kami… Kau boleh mengambil semua harta yang berada di tempat ini, namun tolong jangan kau sakiti bayi itu… Aku mohon tuan…” ucap memelas Melodie sambil bersimbah air mata.


“Nampaknya aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu itu nona Melodie… Bayi ini memiliki nilai jauh melebihi semua harta yang berada di tempat ini…! Jadi jelas aku akan tetap menahannya! Kecuali… Yah kecuali kau dan Bob Barry beserta teman-temannya mau membantuku mengangkat semua harta di tempat ini sekaligus pergi kesemua piramida yang terukir di dinding itu dan menguras semua isinya, baru aku mau mempertimbangkan untuk mengembalikan bayi ini kepada kalian…!” ucap Jefri kalangit sambil tertawa jumawa


“Benar-benar setan tua serakah! Apakah kekayaanmu yang setinggi gunung itu tidak membuatmu puas hingga harus melakukan cara kotor seperti ini…?” berang Bob Barry


“One bread is never enough Kapten Barry… Satu roti saja tidak akan pernah terasa cukup buat orang seperti aku..!!!” ucap Jefri Kalangit sambil tertawa terkekeh-kekeh.


“Lalu apa maumu sekarang?” bentak Bob Barry


“Pertama-tama… Aku ingin kau dan gadis itu membantu dua orang anak buahku ini untuk membawa keluar semua emas dari Piramida ini… lalu kemudian aku ingin kalian…” belum sempat Jefri Kalangit menyelesaikan ucapannya, sang miliarder ini tiba-tiba berteriak kencang manakala gigi-gigi runcing Hati Samudera menghujam lengannya!


Bob Barry yang melihat kesempatan itupun langsung menerjang cepat kearah Jefri Kalangit dengan belati komet terhunus kearah depan!


“Habisi dia..!” teriak Jefri Kalangit kearah kedua anak buahnya yang langsung menembakkan harpun di tangan masing-masing kearah Bob Barry!


Mata Harpun pertama lewat sambil mengiris sedikit daging di bahu Bob Barry sementara mata harpun yang kedua sukses menancap di paha sang kapten kapal The Promise Land ini!


“Boooooobbb..!” teriak Melodie dengan kencang kala melihat sang kapten tiba-tiba terbanting limbung diatas lantai Piramida dengan sebuah mata harpun tertancap di pahanya! Sang gadis pun sontak langsung memburu kearah Bob Barry dengan penuh rasa khawatir


Sementara itu bersamaan dengan terhempasnya Bob Barry keatas lantai batu, tiba-tiba getaran keras terasa di dalam bangunan Piramida dan satu persatu batu dinding karang yang terdapat didalam Piramida tersebut mulai berjatuhan! Air laut pun mulai terlihat menyembur kencang dari balik dinding-dinding batu karang yang berlubang!


“Bangunan ini akan segera runtuh Boss! Kita harus segera keluar dari sini! Ucap salah seorang anak buah Jefri Kalanngit.


Sang miliarder mengamati sekelilingnya dan kemudian terlihat meludah ke lantai


“Setidaknya aku harus merebut dulu bayi itu dari tangan mereka sebelum kabur dari tempat ini!” batin sang miliarder.


Lalu dengan tak terduga Jefri Kalangit terlihat melompat dan berusaha merebut Hati Samudera dari dalam gendongan Melodie!


“Jangan harap kau bisa merebutnya setan tua..!” teriak Bob Barry tiba-tiba sambil menyodokkan belatinya langsung kearah cakar Jefri Kalangit!


Rupanya Sang Kapten dengan kekuatan terakhirnya berusaha sekuatnya bangkit dari lantai dan menerjang untuk menggagalkan upaya Sang Miliarder untuk merebut Hati Samudera dari pelukan Melodie!


“Jahanam…!” rutuk Sang miliarder sambil cepat-cepat menarik kembali cakarnya. Baru saja sang miliarder bersiap untuk kembali melancarkan serangan berikutnya tiba-tiba didengarnya salah satu anak buahnya berteriak pilu!


Rupanya sebuah batu karang besar jatuh tepat menimpa kepalanya sehingga membuat nyawa sang anak buah putus saat itu juga!


“Maaf boss, aku belum mau kehilangan nyawaku ditempat ini…” teriak salah satu anak buah Jefri Kalangit sembari melompat kedalam lubang air pintu masuk terowongan Piramida.


Melihat hal ini, sang miliarder kontan menyumpah dan berlari menyusul sang anak buah melompat kedalam terowongan air tersebut.


“Selamat tinggal kalian berdua… Maaf aku tidak bisa menghantar kalian sampai di pintu neraka…” Teriak sang miliarder sambil tertawa jahat sebelum akhirnya hilang dari pandangan.


Sementara itu Bob Barry yang pada dasarnya masih lemah akibat berbagai luka yang didapatnya saat pertarungan di Langit Tower itu kini nampak sangat kepayahan. Luka harpun di kakinya membuatnya tidak bisa menggerakkan tubuhnya sebelah bawah!


“Pergilah kau Mel.. Sebentar lagi bangunan ini akan segera runtuh…” ucap Bob Barry dalam pelukan sang gadis


“Tidak Bob! Aku tidak mau keluar dari tempat ini tanpa dirimu! Mati hidup kita harus selalu bersama…” Isak sang gadis sambil memeluk kepala Sang Kapten


“Tidak mungkin Mel… Tidak mungkin kita berdua bisa keluar dari tempat ini secara bersama-sama… Hanya salah satu yang dari kita yang bisa… Dan itu adalah kamu…’ ucap lemah sang kapten sambil kemudian menarik harpun yang tertancap di pahanya!

__ADS_1


Darah pun langsung menyembur dari luka sang kapten namun cepat ditekan dan diikat dengan kuat oleh Melodie dengan menggunakan robekan lengan bajunya.


Sambil menggigit bibir menahan sakit sang kapten pun kemudian berujar.


“Mata Harpun itu… Bukan saja melukai pahaku Mel… Namun juga telah merusak BigMouth yang tersimpan di saku celanaku… Aku tidak bisa keluar dari tempat ini tanpanya… Selain itu akupun tak punya tenaga lagi untuk berenang keluar…”


Dengan menggigit bibir tiba-tiba sang gadis terlihat berusaha untuk memapah bangkit tubuh sang kapten! Matanya yang berkaca-kaca nampak kemudian memancarkan sinar yang mencorong!


“Kita tidak akan menyerah begitu saja Bob! Kau harus keluar bersama-sama denganku…! Ucap sang gadis seraya kemudian mengangkat tubuh sang kapten yang terkulai lemah dan kemudian menggendongnya!”


“Apa… Apa yang kau lakukan Mel?” kejut Bob Barry


“Aku akan coba membawamu keluar dari tempat ini dan kita akan memakai BigMouth secara bergantian Bob… jadi janganlah berputus asa…! Ingat! Kaulah yang beberapa hari terakhir ini mengajarkan hal itu kepadaku…!”


“Ta.. Tapi Mel… Aku…” Ucap Bob Barry bingung


“Sudah diam saja disitu… Jangan ngomong apa-apa lagi..!” Bungkam Melodie


Sang gadis pun melangkah sambil membopong Bob Barry dan kemudian langsung terjun kedalam lubang air dengan diikuti Hati Samudera! Dengan mengempos semangat, gadis luar biasa ini kemudian berenang di sepanjang lorong bawah air sambil menggendong Bob Barry yang tergolek lemah di punggungnya!


Beberapa menit sekali sang gadis terlihat bergantian memberikan BigMouth miliknya kepada sang kapten sehingga walaupun lorong yang harus mereka lewati cukup panjang, namun tidak menjadi halangan yang berarti bagi mereka berdua.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua bersama Hati Samudera pun akhirnya bisa lolos keluar dari dalam Piramida yang perlahan-lahan terlihat roboh! Dan saat bangunan karang raksasa itu akhirnya ambruk secara keseluruhan, satu arus bertekanan dahsyat berputar diruangan itu hingga membuat beberapa stalagtit yang berada di langit-langit goa mulai berjatuhan!


Melihat hal ini, Melodie yang menggendong Bob Barry dan juga Hati Samudera nampak berenang panik kesana-kemari sambil berusaha menghindari reruntuhan stalagtit runcing yang berjatuhan tepat diatas kepala mereka!


Benar-benar sangat menegangkan! Hanya nasib mujur dan kegigihan tekad sang gadis saja yang membuat akhirnya rombongan Bob Barry ini bisa mencapai ruangan besar dimana Melodie dan Maikel pernah dikeroyok oleh makhluk-makhluk Sirens itu sebelumnya.


Namun ancaman ternyata tidak berhenti hanya sampai disitu saja, dinding ruangan gua tersebut pun tiba-tiba kembali bergetar dibarengi dengan runtuhnya beberapa batu karang dari langit-langit ruangan! Melodie pun terpaksa kembali berenang dengan panik sambil mengendong sang kapten hingga akhirnya masuk kedalam terowongan yang mengarah ke mulut ceruk Serena.


Semakin mendekat kearah mulut ceruk, getaran itu semakin menghebat dan puncaknya adalah saat sebuah batu karang tiba-tiba tanpa dihindari jatuh tepat di atas tubuh Bob Barry dan Melodie! Sang kapten yang terlebih dahulu melihat hal ini secepat kilat mendorong Melodie kearah depan sehingga akhirnya batu besar tersebut hanya menindihnya dan bukan menindih keduanya!


Melodie yang terpental akibat dorongan Bob Barry langsung terperangah kala melihat sang kapten tertindih sebuah batu besar! Sang gadis kemudian berenang mendekat dan berusaha menarik Bob Barry namun langsung ditepiskan oleh sang kapten! Mata sang gadis terlihat memerah pertanda sedang menangis di dalam air kala dilihatnya sang kapten memandangnya dengan ekspresi marah dan putus- asa sambil menunjuk-nunjuk kearah mulut ceruk!


Kembali sang gadis berusaha menarik tangan sang kapten namun kembali tangannya di tepis! Sang gadis pun kemudian berusaha memberikan BigMouth dimulutnya kepada sang pemuda namun tidak di gubris! Hal ini dilakukan oleh sang kapten karena sang kapten tahu, kalau untuk bisa mencapai ke permukaan, Melodie tetap harus bergantung pada alat ciptaan Marco Ferdinand itu! Karena hal itulah sang kapten kita menolaknya…


Walaupun tidak bisa berbicara karena berada di dalam air, namun sang gadis ini tahu kalau Sang Kapten kapal The Promise Land ini rupanya telah bertekad untuk menyerah dan mati terkubur di tempat itu! Oleh karenanya kemudian sang gadis tiba-tiba berenang mendekat dan memeluk leher sang kapten dengan tujuan hendak mati bersama di lorong dasar laut itu!


Getaran didasar ceruk Serena pun semakin bertambah kuat, Bob Barry yang dipeluk oleh sang gadis tiba-tiba memberontak dan menolak Melodie hingga terlepas! Sang gadis kemudian melihat dengan mata terpana kala dilihatnya Bob Barry memandangnya dengan mata memerah sambil menghunus belati bintang jatuh tepat keatas jantungnya!


Sang pemuda rupanya sudah bertekad akan membunuh diri didepan sang gadis kalau Melodie tetap bersikeras tidak mau meninggalkan tempat itu!


Sang Kapten tahu dan sangat meyakini kalau Melodie yang dikenalnya cukup relijius ini tidak mungkin akan membiarkannya membunuh diri, karena dengan begitu jika dia meninggal maka jiwanya akan langsung masuk kedalam Neraka!


Inilah satu-satunya cara yang bisa dipikirkan oleh Sang Kapten di detik-detik terakhir dan ternyata cara ini benar-benar ampuh!


Melodie dengan terisak pun kemudian akhirnya menarik Hati Samudera untuk berenang keluar dari ceruk tersebut meninggalkan Bob Barry yang tertindih oleh batu karang.


“Selamat tinggal… Melodie… Jaga dirimu baik-baik…” ucap getir Bob Barry dalam hati sambil menatap kepergian sang gadis.


Sungguh tak bisa dipungkiri, hati dan perasaan sang gadis sangat tercabik karena harus mengambil langkah berat seperti ini. Namun Melodie pun tahu seberapa keras hati Bob Barry. Apa yang dia pikirkan pasti akan langsung dikerjakan… dan sang gadis tak ingin jiwa lelaki yang sesungguhnya telah berhasil kembali merebut hatinya ini harus berakhir di Neraka karena keputusan yang dia ambil! Oleh karenanya, dengan perasaan teramat berat akhirnya Melodie pun terpaksa terus berenang maju membawa hati yang remuk redam.


Saat hendak mencapai mulut ceruk, masalah kembali terjadi! Samuu sang bayi duyung tiba-tiba memberontak melepaskan diri dari pegangan tangan Melodie dan berenang berbalik masuk kembali kedalam terowongan!


Sang gadis yang terkejut lalu berupaya mengejar masuk kembali kedalam, namun di saat itulah bunyi keras terdengar menggelegar bersamaan dengan tubuh Melodie yang terlontar keluar dari dalam terowongan ceruk Serena akibat arus kuat yang datang dari dalam terowongan!!


Pemandangan laut di tubir laut itupun mendadak menjadi kabur akan debu dan material yang keluar dari mulut ceruk, dan saat pemandangan laut mulai jernih, Melodie yang berhasil keluar dari ceruk mendapati kalau lubang ceruk Serena yang semula berada disitu kini telah tertutup oleh batu karang berbagai ukuran!


Dengan suara menggeru di tenggorokan, gadis ini kemudian berusaha membongkar batu-batu tersebut hingga kedua tangannya mengeluarkan darah namun semuanya sia-sia belaka. Jangankan bergeser, bergeming sedikitpun saja tidak! Dengan suara terisak dan putus asa, sang dara pun kemudian berenang menuju permukaan.


Begitu sampai dipermukaan, raungan Melodie yang menyayat hati pun akhirnya terdengar melengking memecah langit malam!


Tidak lama kemudian, sebuah kapal cepat nampak mendekat kearah sang gadis yang nampak menangis sambil meraung ditengah laut itu.


“Lihat…! Itu Melodie…!” teriak satu suara dari atas kapal cepat atau speedboat yang baru datang itu. Kapal cepat itu pun kemudian berhenti dan dan tiga orang penumpangnya nampak berlompatan kedalam laut dan berenang mendekat kearah sang gadis.


“Melodie…?! Ini aku Putra! Kenapa kau menangis seorang diri disini…? Dimana Samuu…? Dimana Kapten…?’ ucap sang pemuda sambil mengguncang-guncang bahu sang gadis.


Namun sayang, pukulan batin yang teramat dalam seolah membuat sang gadis seolah tidak mendengar apa yang ditanyakan oleh rekan Bob Barry ini… Sang gadis terus tenggelam dalam kesedihan dan terus meraung menangis sejadi-jadinya!


Marco, Putra dan Maikel pun saling berpandangan dengan wajah pucat. Ketiganya pun secara naluriah kemudian sontak mengeluarkan BigMouth masing-masing dan langsung menyelam ke bawah permukaan!


Setelah beberapa lama menyelam akhirnya mereka sampai juga di tempat dimana ceruk Serena seharusnya berada. Dan mereka bertiga langsung terperangah! Ceruk tersebut telah tertutup rapat oleh batu-batu karang aneka bentuk! Ketiganya pun kemudian terlihat berpandangan sesaat sebelum kemudian saling berusaha memindahkan batu-batu tersebut.


Melihat tangis Melodie yang menyayat hati, naluri mereka masing-masing sudah bisa menebak kalau kapten mereka pastilah terjebak di dalam terowongan yang sudah tertutup bebatuan ini.


Sayang seperti halnya Melodie, tak seorangpun dari mereka mampu membuat batu-batu karang yang menutupi mulut ceruk Serena tersebut bergeming. Sampai hampir hancur tangan ketiga rekan Bob Barry tersebut meninju batu-batu karang tersebut namun tetap hasilnya percuma.


Dengan putus asa, ketiganya pun kemudian akhirnya kembali berenang kepermukaan dan mendapati sang gadis masih terus menangis menyayat hati menghadap kearah langit malam yang tak berbintang.


Hujan deras pun kemudian jatuh keatas keempat orang yang nampak terapung-apung di perairan pulau Serena ini. Lamat-lamat, suara tangisan yang ada pun mulai bertambah satu per satu menghiasi langit malam yang semakin mencurahkan hujan lebat...


Suara raungan dan tangisan dari mereka yang terluka dan kehilangan sosok orang yang paling berharga…


 

__ADS_1


\*


 


__ADS_2