
Dari dalam anjungan kapal The Promise Land, Maikel Stefen terlihat sibuk mengoperasikan tuas kendali Hidraulic Crane yang berada di geladak untuk memindahkan kapal selam mini Spongebob kearah Platform atau landasan yang berada di buritan Kapal. Begitu kapal selam mini yang didalamnya terdapat Marco Ferdinand tersebut sudah berada tepat diatas landasan, Putra Gilang pun kemudian terlihat melepaskan kait baja Hidraulic Crane yang mengait kapal selam itu dan memberikan kode tangan kepada Maikel yang memberitahukan bahwa kait Crane sudah terlepas dari badan kapal selam.
“Kau sudah siap Marco?” ucap Bob Barry melalui Mikropon di anjungan yang terhubung langsung dengan kapal selam kuning yang ada di landasan.
“Siap Delapan-Enam Kept!”
Bob Barry pun menoleh kearah Maikel dan menganggukkan kepalanya pertanda memberikan konfirmasi. Melihat anggukan kepala Sang Kapten, Pemuda bertopi kupluk ini kemudian menarik sebuah tuas di sebelah kirinya dan setelah tuas tersebut ditarik, landasan baja yang terpasang di buritan kapal tersebut langsung mengeluarkan bunyi berderak dan turun perlahan-lahan membawa Marco dan kapal selam mininya tersebut kedalam laut perairan pulau Serena.
Kapal selam kuning tersebut kemudian nampak perlahan meninggalkan Platform dan mulai bergerak menuju arah koordinat yang sebelumnya telah disetel oleh Marco pada sistem kendali otomatis.
“Nyalakan lampu dan aktifkan kamera depan serta kamera dome agar kami disini juga bisa melihat apa yang kau lihat disana…” ucap Bob Barry kepada Marco melalui mikropon
“Roger Capt” ucap Marco sambil menekan beberapa icon pada layar kendali Touch screen yang berada di hadapannya.
Empat buah layar monitor besar yang berada di anjungan pun kemudian menyala bersamaan dan menunjukkan tampilan visual yang ditangkap oleh empat buah kamera yang terpasang pada badan kapal selam Spongebob.
“Bagaimana keadaan arus di kedalaman sekitarmu Marco…?” tanya Bob Barry
Marco memperhatikan layar kendalinya sebelum kemudian memberikan jawaban
“Cukup kuat Kept, kecepatan arus bawah laut di tubir ini berkisar sekitar 0.7m - 0.9m/detik…”
“Hmm… Cukup kuat juga… Pantas saja Aquadrone tidak bisa digunakan sebagaimana mestinya...”
Kapal selam Spongebob kemudian perlahan-lahan mulai menuruni tubir atau jurang dasar laut yang berdiri tegak lurus di dasar lautan perairan Serena. Dari anjungan kapal, Kapten Barry dan yang lainnya memperhatikan layar-layar monitor dengan saksama dan sangat serius.
“Aneh… Sungguh sangat Aneh” ucap Maikel Stefen kemudian
“Kau pun memperhatikannya…?” tanya Melodie
“Hmmm… dari tampilan keempat kamera ini hanya sedikit ikan dan biota laut yang bisa kita lihat sejak tadi, selain itu sejak Spongebob menuruni tubir laut, seharusnya pada tebing-tebing semacam ini harusnya tumbuh terumbu karang dan biota laut lainnya seperti koral, Anemon atau Salvador Dali* tapi ini… Tidak ada…! Semuanya kosong melompong! Hanya batuan dan karang mati saja yang terlihat…” Ucap Maikel sambil mencubit-cubit bibir bawahnya
“Hmmm…. Ciri-ciri ini seperti indikasi telah terjadinya Coral Bleaching…” ucap Melodie sembari memperhatikan layar monitor dengan penuh perhatian
“Pemutihan karang maksudmu…?”sahut Maikel
Sang gadis terlihat menganggukan kepalanya
“Bisa jadi… Namun bisa jadi juga bahan radioaktifnya sudah bocor dan mencemari lingkungan sekitarnya…” balas sang gadis sembari mengusap peluh di dahinya
“Jangan-jangan kita sudah datang terlambat…” ucap Bob Barry dengan nada khawatir
“Tenang saja Kept…” terdengar suara Marco dari Speaker yang terpasang dianjungan.
“Aku sudah memeriksa tingkat salinitas serta kualitas air laut dan skalanya masih berada dititik normal. Komputer kapal selam ku juga tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kontaminasi bahan radio aktif ataupun bahan berbahaya lainnya di sekitar sini…”sambung sang pemuda
“Ya… Syukurlah kalau begitu…”ucap Bob Barry sembari menghembuskan nafas lega.
Setelah turun pada kedalaman seratus lima puluh meter, kapal selam Spongebob pun kemudian sampai juga di satu lubang menganga yang disebut dengan Ceruk Serena.
“Kept, apa kau dan yang lainnya bisa melihat tampilan ceruknya…?” ucap Marco dari dalam kapal selamnya.
“Coba kau naikkan lagi daya lampu peneranganmu agar kami bisa melihat dengan jelas” ucap Bob Barry dengan mata tertuju pada layar Monitor
Mendengar perintah sang kapten, Marco pun kemudian mengatur lampu depan kapal selamnya sehingga tingkat penerangannya naik beberapa kali lipat.
Begitu lampu sorot tersebut dinaikkan daya penerangannya, maka terlihatlah satu lubang menganga berdiameter sekitar satu setengah meter dan berada tepat pada dinding jurang dasar laut. Lubang tersebut terlihat hitam gelap dan menjorok kearah dalam, entah berapa panjang dan mengarah kemana lubang ceruk tersebut.
“Jadi ini yang dinamakan ceruk Serena…” ucap Bob Barry
“Benar sekali Bob, inilah ceruk yang dihasilkan oleh gempa bumi enam skala Richter beberapa waktu yang lalu… Coba kau lihat garis-garis retakan yang terlihat memanjang di sebelah kiri bawah lubang itu tuh…” tunjuk Melodie pada layar monitor
“Garis retakan itu adalah salah satu bukti bahwa lubang ini terbentuk akibat getaran yang sangat kuat dari dasar lempengan kerak bumi..” tutup Sang gadis.
“Tampaknya memang seperti itu kejadian awalnya sampai ceruk ini terbentuk, namun Mel, ada satu hal yang membuat aku heran dan tak habis pikir…”
“Apa itu…?”
“Ceruk ini kan terbuka pada jurang laut yang posisinya berdiri vertikal tegak lurus keatas, lalu bagaimana bisa sebuah koper yang jatuh dari permukaan bisa masuk kedalamnya? Harusnya koper itu kan terus meluncur ke dasar lautan dan bukannya melayang masuk kedalam lobang ini dengan sendirinya bukan?”
Maikel Stefen terlihat menggelengkan kepalanya.
“Hal seperti itu bisa saja terjadi Kept, bukankah di sekitar jurang tersebut ada arus liar yang bergerak tidak bisa diprediksikan? Bisa jadi arus itulah yang menarik koper tersebut saat jatuh dan membuatnya masuk kedalam lobang tersebut…” ucap sang pemuda bertopi kupluk.
“Oke, Taruhlah seperti itu, namun bagaimana kalian dan tuan Kalangit begitu kukuh menyatakan bahwa koper itu masuk kedalam lubang dan bukannya ada di dasar samudera dibawah sana? Tanya sang kapten kepada Melodie.
“Pada koper Titanium yang jatuh tersebut terdapat pemancar yang mengirimkan signal dan data koordinat secara berkala Bob, namun sayang signalnya sudah mati dari minggu yang lalu. Dan koordinat terakhir yang kami terima menunjukkan bahwa koper tersebut tidak berada didasar samudera melainkan berada di dalam ceruk itu…” tutup Melodie sembari menunjuk kearah lubang yang terdapat pada visual monitor di depan mereka
Bob Barry nampak terdiam mendengar penjelasan Melodie.
“Jadi mereka memang sudah memastikan kalau koper itu memang berada didalam sana…” batin sang kapten
Setelah terdiam sesaat, Bob Barry kembali meraih Mikropon dan bertanya kepada si bengal
__ADS_1
“Bagaimana Marco keadaan ceruk tersebut? Dengan ukuran luarnya, Apa kira-kira kau bisa memasukinya mengunakan Spongebob?…”
“Lubangnya terlalu kecil untuk dimasuki Spongebob kita Kept… Mau tidak mau kita harus turun sendiri kedalam lubang tersebut…”Ucap Marco melalui speaker.
Bob memandang Melodie dan kedua rekannya yang nampak menganggukkan kepala.
“Ya Marco, kami pun berpikir begitu… Lalu bagaimana dengan situasi di mulut ceruk? Apa kau bisa merasakan adanya semburan arus panas keluar dari dalam lubang tersebut?”
“Untuk saat ini belum ada Kept, suhu air di sekitar mulut ceruk pun masih belum menunjukkan tanda-tanda akan adanya kenaikan. Namun dari warna karang pada mulut ceruk tersebut memang bisa dipastikan bahwa pada saat-saat tertentu sering terjadi arus panas bertekanan kuat yang menyembur keluar dari dalam lobang ceruk tersebut…”
“Oke, Good Job Marco! Sekarang naiklah keatas biar kita bisa berembug untuk menentukan langkah selanjutnya…”ucap Bob Barry
“Siap laksanakan Kept!” ucap Marco seraya mengubah kendali otomatis menjadi manual dan kemudian menggerakkan kapal selam mininya untuk beranjak dari ceruk Serena dan naik kembali ke permukaan.
Beberapa saat kemudian setelah kapal selam Spongebob sudah dinaikkan keatas Platform, Bob Barry pun kemudian mengadakan rapat kecil di anjungan bersama Melodie dan ketiga rekannya.
“Maikel, apa kau sudah menghubungi tuan Kalangit dan memberitahukan kalau kita sudah sampai di Pulau Serena dan bersiap untuk melakukan penyelaman? Tanya sang kapten.
“Sudah Kept, tadi aku sudah menghubungi kantor tuan Kalangit dan memberitahu posisi dan juga keadaan kita sekarang…”
“Baguslah kalau begitu! Dengan begini kita sudah bisa memulai persiapan operasi penyelaman kita…” ucap Bob Barry seraya menepuk pundak rekannya itu.
“Baiklah teman-teman, kita sudah mendapatkan gambar visual dari ceruk Serena yang akan kita masuki sebentar lagi. Oleh karenanya aku akan membagi masing-masing dari kita menjadi tiga tim. Putra dan Melodie sebagai tim pertama bertugas memandu dari atas anjungan dan sebagai pusat kendali. Kemudian Marco dengan Spongebob nya berjaga-jaga sekaligus sebagai backup di depan mulut ceruk, sementara aku sendiri dan Maikel akan bertugas sebagai tim yang akan memasuki ceruk tersebut sekaligus mencari dan menemukan koper milik tuan Kalangit, setelah itu…” belum selesai sang Kapten memberikan penjelasan, ucapannya tiba-tiba dipotong oleh Melodie!
“Tuu… Tunggu dulu Bob! Tidak bisa seperti itu dong…!”
“Kenapa Mel? Kau keberatan berpasangan dengan Putra?”
“Bukan begitu! Masalahnya adalah sudah menjadi kewajibanku sebagai petugas ahli Biologi Kelautan untuk memastikan situasi dan keadaan ekosistem didaerah yang dicurigai terdampak paparan Radioaktif… jadi suka atau tidak suka aku juga harus turun dan masuk ke ceruk tersebut Bob!”
“Tapi keadaan didalam ceruk tersebut belum kita ketahui dengan pasti Mel! Aku tidak bisa menjamin keselamatan mu disana…” ucap Bob Barry yang langsung dibalas delikkan mata besar Sang gadis
“Aku bukan anak kecil Bob! Aku bisa menjaga diriku sendiri! Disamping itu ini bukan kali pertamanya bagiku untuk berurusan dengan situasi seperti ini, jadi tolong jangan remehkan aku hanya karena aku ini seorang wanita!” ucap Melodie mulai memanas
“Melodie benar Kept, sudah merupakan tugas kewajibannya untuk memastikan kalau dibawah sana tidak terjadi kebocoran radioaktif… Kita tidak bisa menghalanginya…” ucap Putra sembari menggelengkan kepalanya
“Selain itu, kaupun belum bisa untuk melakukan penyelaman kali ini Kept, hanya Melodie dan Maikel yang bisa dan memungkinkan…” sambungnya kembali
“Apa maksud mu Put? Kenapa aku tidak bisa melakukan penyelaman?
“Sudah sepanjang malam kau terus terjaga membawa kapal ini dan kau belum beristirahat sama sekali! Dengan kondisimu sekarang kau akan cepat kehabisan tenaga dibawah sana! Selain itu Sinusitis mu juga belum sembuh benar kan Kept? Oleh karenanya kau belum boleh melakukan penyelaman hari ini!”
Mendengar penuturan Putra Gilang, Bob Barry sontak terdiam tak berkutik.
“Baiklah, kalau kalian memaksa begitu ya apa boleh buat? Kita ubah susunan Team nya…” ucap Bob Barry dengan perasaan gegetun.
“Putra akan berjaga dan memandu dari dalam anjungan, sementara Aku dan Marco akan berjaga di depan mulut ceruk tentunya didalam kapal selam Spongebob. Lalu Maikel bertugas memasuki ceruk Serena untuk mencari dan mengambil kembali koper yang terjatuh tersebut ditemani oleh Melodie…” sambung Bob Barry seraya memandang kearah rekan-rekannya.
“Bagaimana..? Ada yang ingin bertanya…?”
Melodie nampak mengacungkan tangan
“Ya Melodie…? Ada yang ingin kau tanyakan…?”
“Begini Bob, seperti yang pernah ku jelaskan beberapa waktu yang lalu, kita harus sedapat mungkin menghindari kontak langsung dengan bahan atau hal apapun yang terindikasi memiliki paparan radiasi bahan radioaktif. Oleh karenanya aku ingin bertanya kepada kalian sebagai tindakan preventif, Apakah kalian memiliki pakaian anti radioaktif yang bisa dipakai juga buat kegiatan penyelaman…?”
Sang Kapten dan yang lain nampak tersenyum mendengar apa yang ditanyakan oleh Melodie
“Jangan khawatir untuk masalah itu Mel, nanti biar Marco yang akan membantumu untuk urusan tersebut…”
Melodie melirik Marco yang nampak mengedip-ngedipkan matanya genit sembari mengacungkan ibu jarinya.
“Tenang aja Non cantik, Selaauw kayak di pulauu… Santai kayak di pantaiii…” ucap Si bengal dengan gayanya yang super kocak.
“Preet! Memang kita sekarang ada ditengah-tengah pulau dan pantai kan…? Noh Pantai…! Noh Pulau…!” ucap Melodie sembari tertawa geli dan menunjuk ke pulau dan pantai Serena.
“Benar juga ya…” ucap Marco yang langsung riuh ditimpali tawa oleh Maikel dan juga Putra.
“Huuu… makanya tuh kacamata kalo dicuci pakai sabun… jangan pakai salep…!” sambung Maikel yang kembali membuat anjungan Kapal The Promise Land ini riuh oleh tawa.
“Baik, kalau tidak ada lagi yang bertanya, kita akhiri saja rapat kita pada pagi hari ini dan kita mulai mempersiapkan diri kita masing-masing untuk tugas penyelaman kita kali ini… Semua jelas?” ucap Sang Kapten setelah tawa rekan-rekannya mulai mereda.
“Siaaap…!” ucap serempak ketiga rekan Bob Barry dengan suara lantang. Rapat dadakan pagi itupun akhirnya dibubarkan.
Maikel dan Marco kemudian terlihat mengajak Melodie keluar dari anjungan, sementara Putra Gilang nampak berjalan mendekati Bob Barry.
“Istirahatlah dulu barang sejenak Kept, biar urusan disini aku yang menangani. Toh untuk mengisi bahan bakar Spongebob dan proses pelapisan pakaian selam khusus itu memakan waktu yang tidak sebentar…”
Bob Barry nampak menggangukkan kepala sembari menguap lebar
“Baiklah, mata ku memang sudah sangat berat dari tadi Put … Oke, kuserahkan urusan dianjungan kepadamu, tapi jangan lupa untuk membangunkan aku jika semua persiapan sudah selesai dilakukan ya…”
“Siap Kapten…!” ucap Putra sembari memberi hormat kepada sang kapten yang kemudian membalasnya dan setelah itu berjalan kearah kabinnya untuk beristirahat.
__ADS_1
Sementara itu di lambung kapal sebelah kiri tepatnya di dalam ruangan yang bersebelahan dengan ruang makan, Melodie nampak memperhatikan sekelilingnya. Ruangan tersebut tidaklah terlalu besar, namun didalamnya terlihat dua buah tabung kaca berukuran orang dewasa dan panel-panel instrumen elektronika yang terpasang dan terhubung dengan beberapa unit komputer. Selain tabung-tabung kaca dan panel komputer, nampak juga beberapa tangki besi dan sebuah meja kerja yang dipenuhi berbagai peralatan elektronik dan berbagai jenis kabel. Ruangan ini merupakan ruangan tempat Marco biasa mengerjakan berbagai proyek dan penemuannya.
“Selamat datang di istana saya yang sederhana ini Nona Melodie…” ucap Si bengal sembari membungkukkan tubuh dengan gaya dibuat sok ala-ala bangsawan.
“Huuu… Banyak gaya loe…” ejek Maikel
“Weeee biarin juga! Ini kan ruangan gua bukan ruangan loe… Bleee…” balas Marco sembari menjulurkan lidahnya kearah Maikel
“Sudaah… Sudah! Berantem terus kerjaannya… Sekarang aku dibawa-bawa ke sini mau diapain? Awas yah! nanti kuaduin ke kapten lho kalo kalian macam-macam…” ancam Melodie sembari berkacak pinggang dan mendelikkan matanya lebar-lebar.
“Yeee Serem amat! Gak gitu juga kali Mel, aku dan Maikel sengaja mengajakmu ke ruangan ini untuk persiapan kamu menyelam nanti… ya kan Kel?” ucap Marco yang langsung dibalas oleh Maikel Stefen.
“Yup, Benar sekali… Kali ini persiapan penyelaman kita harus dilakukan di ruangan kerjanya si Marco. Karena untuk penyelaman sebentar kita membutuhkan pelindung pakaian selam khusus yang dirancang sama nih kunyuk pinter satu ini nih Mel… he.he.he..” ucap Maikel Stefen sembari tertawa.
“Pinter sih pinter… Tapi jangan pakai kunyuk donk!” Protes Marco dengan bibir cemberut.
“Halaah gitu aja cemberut… gih lanjutin penjelasannya, Melodie sudah nunguin dari tadi tuh…”
Marco langsung mendelikkan matanya kearah si pemuda bertopi kupluk sebelum kemudian memalingkan wajah ke Melodie dan mulai bertutur.
“Oke Mel sesuai perintah kapten barusan, sekarang aku akan menjelaskan mengenai pakaian selam khusus yang nantinya akan kau dan Maikel kenakan…”
“Pakaian selam konvensional seperti wetsuit dan juga drysuit sebenarnya masih kita pergunakan untuk aktivitas penyelaman biasa. Namun untuk kegiatan penyelaman dengan resiko tinggi seperti yang nanti akan kita hadapi, diperlukan pakaian selam yang lebih tangguh dan kompleks sifatnya…”
“Pakaian selam biasa, berapapun lapisan atau bahannya jelas tidak akan bisa menahan atau menjamin tidak bisa tertembus oleh paparan radioaktif dalam bentuk mikro partikel apalagi nano partikel! Ini jelas karena sebagian besar pakaian selam konvensional terbuat dari serat fabric atau serat karbon yang memiliki celah dan tingkat kerapatan yang jarang sehingga rentan tertembus partikel ukuran mikro maupun nano…”
“Oleh karena hal tersebut, saya dan teman-teman dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) kemudian mengembangkan satu materi elastis dengan tingkat kerapatan yang bisa mendekati nol persen! Materi yang kami kembangkan ini memiliki tingkat kerapatan lima tingkat dibawah partikel Nano, oleh karenanya materi ini kemudian kami beri nama materi Y-Flub® yang merupakan singkatan dari Yocto-Flubric* Materi Y-Flub ini memiliki keistimewaan bisa mengeras namun elastis pada suhu tubuh. Sehingga bisa dipergunakan sebagai bahan pelapis pakaian. Selain itu, dengan tingkat kerapatan dengan satuan partikel yocto yang lima tingkat dibawah partikel nano, maka sangat mustahil ada substansi lain yang bisa menembusnya termasuk substansi radioaktif.”
“Berarti kerapatan nol persen itu memang memungkinkan untuk diterapkan?” tanya Melodie
Marco menjawab dengan mengangukkan kepalanya
“Begitulah Mel, dan selain materi elastis Y-Flub tersebut, kami kemudian juga mengembangkan dua turunan dari materi tersebut yang nanti akan dipergunakan sebagai dua lapisan dasar. Nah ketiga lapisan inilah yang kemudian kukembangkan lebih lanjut menjadi substansi pelapis pakaian selam dan kuberi nama Posseidon’s Armor® Diving Suit” tutup Marco sembari menarik nafas dalam-dalam.
Panjang juga penjelasannya sampai si bengal terlihat ngos-ngosan.
“Hmm, oke bisa diterima penjelasannya… terus substansi pelapisnya mana? Kok aku tidak melihat apa-apa selain tabung-tabung kaca ini?” ucap Melodie sambil melihat sekelilingnya.
“Tabung-tabung kaca itulah yang nanti akan kita gunakan untuk melapisi pakaian selam mu Mel…” ucap Maikel sembari kemudian terlihat melihat jam ditangannya.
“Hari sudah semakin siang, ada baiknya kita mulai saja proses coating nya sekarang…” ucap Maikel kemudian kepada Marco yang langsung dibalas anggukan kepala oleh si bengal.
“Maikel benar Mel, hari sudah semakin siang. Sebaiknya kau berganti pakaian dengan wetsuit-mu sekarang, karena kita akan segera melakukan proses pelapisan pakaian selam dengan materi khusus yang sudah kujelaskan barusan.”
“Oke kalau begitu, aku balik dulu ke kabinku untuk ganti baju yah…” ucap Melodie sembari berbalik dan mulai melangkahkan kakinya kearah kabinnya.
“Oh ya satu hal lagi Mel…” ucap Marco yang membuat sang gadis kembali membalikkan tubuhnya.
“Pastikan pencernaan dan kandung kemihmu kosong saat penyelaman nanti. Soalnya setelah proses pelapisan dan penyelaman nanti, kau tidak diperbolehkan dan jelas tidak akan bisa untuk pee-pee dan wee-wee…”
“Pee-pee dan wee-wee…?” tanya Melodie sembari mengerutkan kening pertanda tak mengerti.
“Ya Helah…! Pipis sama boker non…!” ucap Marco sambil menjepit hidung dengan telunjuk dan ibu jarinya.
“Huuu… Kirain apaan… Oke sip.. sipp…” ucap sang gadis sembari kembali berbalik dan berjalan kearah ruangan kabinnya diikuti oleh Maikel Stefen yang juga berjalan ke kabinnya sendiri untuk berganti pakaian selam.
Beberapa saat kemudian, Melodie pun kembali ke ruangan Marco dengan memakai wetsuit nya. Disitu juga nampak Maikel Stefen yang juga terlihat telah mengenakan wetsuit nya pula.
Melodie kemudian memalingkan wajahnya kearah Marco yang terlihat sibuk didepan komputer.
“Aku sudah memakai wetsuit nih Co, Terus apa lagi sekarang…?”
“Pee-pee nya sudah…?’ tanya Marco datar sembari terus berkutat didepan layar monitor
“Sudah…”
“Wee-wee nya?”
“Dah… dari tadi pagi…!”
“Dibungkus apa makan disini…?” ucap Marco masih dengan wajah serius datarnya di depan komputer
“Marcooooooo….!!!” Teriak Melodie dengan gemas
Rasa-rasanya ingin dijitaknya habis-habisan bocah konyol berkacamata ini saking gemasnya!
“Iya… iya… gak usah pakai teriak-teriak segala Mel! Tinggal pilih aja sendiri, mau yang pedes apa yang manis? yang pedes nanti karetnya dibikin dua…” sahut Marco gak nyambung dan kumat gilanya
Tok!”
Bunyi jidat yang teraniaya pun akhirnya terdengar merdu mendayu kalbu…
* * *
__ADS_1