
Bob Barry perlahan membuka kedua matanya dan mengerjap-ngerjapkannya beberapa kali. Kepalanya sungguh terasa amat berat dan sekujur tubuhnya juga terasa remuk redam bagaikan habis terhempas jatuh dari tempat yang teramat tinggi.
“Aku ada dimana…?” ucapnya lirih sembari perlahan meraba kepalanya yang terasa pening
“Tenanglah dulu Kapten Barry… Jangan dulu memaksakan diri… Kau baru saja meninggal dan saat ini kau telah berada di surga…” ucap satu suara yang sontak membuat Sang Kapten terhenyak tiba-tiba sembari mengangkat kepalanya dan melotot besar kearah sumber suara!
Surga??? Yang benar saja? Apa benar kapten jagoan kita ini sudah lewat dan nyasar tembus ke akhirat? Benar-benar tidak dapat dipercaya!
Rasa sakit dan pening pada kepalanya kemudian akhirnya memaksa Bob Barry kembali menutup kedua matanya dan menghempaskan kepalanya kembali ke atas bantal.
“Jika ini memang benar-benar Surga… Bisa tidak aku minta malaikat satu ini diganti dengan yang cakepan dikit? Yang satu ini mukanya mesum ngajak berantem! bawaannya jadi pengen nampolin…!” ucapnya lirih sembari mengusap-usap keningnya yang terasa sakit.
“Ha.ha.ha.. Lihat sendiri kan Mel? Kan sudah kubilang kalau Kapten gak bakalan kenapa-kenapa… Kapten kita ini punya sembilan nyawa lho…!” Ucap Marco sembari tertawa riang.
Rupanya yang sedang duduk dipinggiran ranjang dan tadi menggoda Sang Kapten adalah si bengal Marco Ferdinand!
Bob Barry pun kemudian memalingkan wajah kejurusan dimana Marco tadi berucap, dan Pandangannya pun kemudian membentur sosok seorang gadis yang nampak duduk meringkuk sembari memandangnya dengan penuh kekhawatiran. Melihat hal ini sang Kapten pun kemudian berusaha bangkit dari tidurnya namun kemudian dicegah oleh Marco.
“Sebaiknya kau berbaring saja dulu Kept, jangan memaksakan diri… hampir enam jam lamanya kau terbaring tak sadarkan diri… kami semua sudah sangat khawatir… terlebih lagi dia…” ucap Marco pelan sambil memberikan kode mata kearah Melodie yang nampak duduk dibelakangnya.
“Enam Jam? Benarkah selama itu…?”
Marco nampak menganggukkan kepalanya sebelum membalas pertanyaan Bob Barry.
“Kau sangat beruntung Kept, kalau saja tidak ada tubuh makhluk itu yang kebetulan menahanmu dari semburan panas mungkin kau sudah terluka parah dan belum sadar sampai saat ini…”
“Ma… Makhluk apa? Aku tidak mengerti…”
Belum sempat Marco menjawab pertanyaan sang kapten, tiba-tiba pintu kabin terbuka dan satu tubuh tinggi besar nampak memasuki kabin kamar sang kapten dengan membawa dua buah nampan berisi makanan.
“Wah Kapten sudah sadar rupanya! Benar-benar kabar yang menggembirakan…” ucap Putra Gilang sembari memberikan nampan makanan yang dibawanya kepada Marco dan Melodie.
“Putra…”
“Beristirahatlah dulu Kept, jangan terlalu banyak bergerak… tubuhmu masih membutuhkan waktu untuk memulihkan diri…” ucap Putra sambil kemudian menarik tangan Marco dan mengajaknya keluar.
“Tu… tunggu dulu Bro…! Aku masih mau disini jagain Kapten…!” Tolak si bengal yang langsung dibalas oleh Putra dengan mata mendelik serta tarikan sudut bibir yang ditujukan kearah Melodie.
Marco pun akhirnya mengerti dengan kode yang diberikan oleh sahabatnya tersebut. Sembari membawa nampan makanannya, si bengal ini pun kemudian berpamitan kepada sang kapten dan Melodie dan beranjak keluar ruangan mengikuti Putra Gilang.
Selepas kepergian keduanya, Melodie pun kemudian terlihat beranjak perlahan dan duduk di bibir pembaringan tepat di samping sang kapten dan memandang Bob Barry dengan penuh perhatian.
“Apa kau Lapar Bob…?”
Sang pemuda terlihat menganggukan kepala, Melihat hal ini Melodie pun kemudian membantu sang kapten untuk menegakkan tubuhnya dan membantunya bersandar kearah bantal yang sebelumnya dirubah posisinya menjadi tegak dan bersandar ke arah kepala tempat tidur oleh Melodie.
Gadis ini pun kemudian mengambil nampan nasi yang tadi dibawa oleh Putra dan kemudian perlahan menyuapi sang kapten. Sesekali sang gadis nampak dengan telaten membersihkan berkas nasi yang menempel di sudut bibir sang pemuda dengan menggunakan ujung sapu tangannya.
Sementara itu Bob Barry yang memang kebetulan sedang lapar dan kosong perutnya langsung menghabiskan setiap suapan demi suapan yang diberikan oleh sang gadis dengan penuh perhatian. Hingga akhirnya satu piring besar nasi dan lauk yang berada didalam nampan sontak habis tak tersisa. Melihat hal ini Melodie pun kemudian terlihat dengan cermat memberikan air minum kepada sang pemuda.
“Mau aku tambah makanannya…?” ucap sang gadis kala melihat sang pemuda dengan lahap memakan habis makanannya.
Bob Barry nampak menggelengkan kepalanya
“Terima kasih Mel, ini juga sudah cukup… Aku sudah cukup kenyang…” ucapnya sambil tersenyum.
Melihat senyum diwajah sang pemuda entah mengapa tiba-tiba raut wajah sang gadis nampak berubah sedih dan tiba-tiba sang gadis nampak menjatuhkan diri keatas dada sang Kapten dan menangis tersedu-sedu!
“Ke… Kenapa Mel…? Kenapa kau menangis…? Apa ada sesuatu yang salah dengan ucapanku…?” tanya sang Kapten dengan perasaan heran dan bingung.
Ditanya seperti itu bukannya mereda, tangisan sang gadis malah semakin menggeras. Bob Barry pun beberapa saat kemudian akhirnya mengerti arti tangisan sang gadis. Dengan tersenyum sang Kapten pun kemudian membelai lembut rambut wanita yang sedang menangis di dadanya itu.
“Sudahlah… Jangan menangis lagi Mel, aku tidak apa-apa… Kan kau bisa lihat sendiri kalau aku baik-baik saja…”
Sang gadis nampak menggelengkan kepala dan terus menangis. Melihat hal ini Bob Barry terlihat tertawa kecil dan kemudian sebelah tangannya terlihat bergerak merengkuh sang gadis ke dalam pelukannya. Dipeluk seperti itu membuat sang gadis pun perlahan menghentikan tangisnya dan kemudian tiba-tiba sang gadis merenggut dari pelukan Bob Barry seraya memandang sang pemuda dengan bibir cemberut.
“Dasar nakal! Cari kesempatan dalam kesempitan…!”
“Ha.ha.ha… Habisnya kamu gak mau berhenti menangis sih…”
“Iya tapi jangan pakai acara peluk-peluk segala donk! Dasar ceriwis…! Geniit…!” sungut sang gadis masih dengan bibir cemberut.
Melihat hal ini sang kapten pun hanya bisa tertawa lepas sembari merangkapkan tangan pertanda meminta maaf
“Ampuun deh Mel… Iya aku salah dan lancang… Aku minta maaf…” ucap Bob Barry sambil tersenyum
“Tapi aku benar-benar terharu lho… Ternyata kau benar-benar sangat mengkhawatirkan aku… Bahkan sampai menangis seperti itu… Aku… Aku sangat menghargai hal itu…” sambung sang pemuda sembari menatap lembut dan penuh kasih gadis dihadapannya ini.
Ditatap dengan pandangan seperti itu jelas membuat sang gadis jadi salah tingkah dan bersemu merah wajahnya. Melihat hal ini dengan bijak Bob Barry pun kemudian berusaha mengalihkan suasana dengan mengajukan pertanyaan.
“Tapi ngomong-ngomong sebenarnya apa yang terjadi di ceruk itu sebelum aku pingsan tak sadarkan diri ya Mel…? Entah kenapa aku benar-benar tidak bisa mengingatnya lagi dengan jelas… Kau bisa menerangkannya padaku…?”
Mendengar pertanyaan tersebut, sang gadis terlihat tersenyum dan beberapa saat kemudian gadis ini terlihat beranjak dari sisi Bob Barry dan menarik sebuah kursi ke samping pembaringan dan duduk sambil merapikan rambutnya yang agak berantakan. Setelah menghapus berkas air matanya, Melodie pun kemudian mulai berujar.
“Pada saat itu yang aku ingat adalah bagimana Maikel menarik tanganku untuk berenang menjauhi lokasi piramida bawah laut tempat dimana makhluk-makhluk bangsa Mere itu tinggal… aku yang begitu terkejut dan terpana akhirnya hanya bisa menggigil ketakutan kala Makhluk-makhluk tersebut dengan buas menyerang Maikel dan aku yang bersembunyi di belakangnya dengan tusukan-tusukan tombak dan hantaman ekor mereka…”
__ADS_1
“Sungguh amat beruntung lapisan pelindung pakaian selam buatan Marco membuat aku dan Maikel tidak terluka dan bahkan tidak merasa sakit sedikitpun…! Ah benar…! Aku lupa berterima kasih pada si anak konyol satu itu… tanpa barang ciptaannya itu, mungkin aku dan Maikel hari ini hanya pulang tinggal nama semata…”
“Yah.. Kau benar Mel, si bengal itu walaupun konyolnya gak ketulungan, namun sangat berjasa dan semua penemuannya memberikan manfaat yang tidak sedikit buat kami semua selama ini…” ucap Bob Barry.
“Mungkin kalau anak nakal itu mendengar apa yang kau katakan barusan, dia pasti sudah meloncat salto beberapa kali kegirangan di luar sana…” ucap Melodi sambil terkikik geli.
“Lalu bagaimana kelanjutannya…?” ucap Bob Barry kemudian
“Setelah itu kaupun akhirnya datang Bob! Dengan membawa sebilah belati aneh yang bercahaya biru dan memancarkan panas yang menyengat, kau berhasil membuat makhluk-makhluk tersebut ketakutan dan berserabutan melarikan diri!”
“Ah iya…! Aku ingat kalau yang itu! Belati Bintang Jatuh! Belati itu adalah pemberian saudara angkatku di Somalia! Entah mengapa saat aku menyelam, belati itu tiba-tiba mengeluarkan hawa yang sangat panas! Karena merasa kesakitan aku pun kemudian dengan refleks mengeluarkan belati itu dari saku jaketku di bagian dada…”
“Sekarang ada dimana Belati itu Mel? Aku tidak boleh kehilangan belati itu karena itu adalah belati pemberian saudara angkatku yang sangat berharga..”
“Tenang saja Bob, belati itu aman dan disimpan oleh Maikel di ruangan laboratoriumnya bersama dengan tas koper Titanium milik tuan Kalangit…”
“Tas koper itu…! Astaga! Aku sampai bisa-bisanya melupakan hal yang paling penting dari pekerjaan kita… bagaimana dengan koper itu Mel? Apa baik-baik saja? Tidak ada kebocoran radio aktif yang terjadi akibat ledakan di lorong ceruk itu kan?”
“Tenang saja Bob, tidak ada kebocoran radioaktif yang terjadi! Aku berani jamin akan hal itu, tas itu aman karena pada saat ledakan terjadi aku sedang memeluknya erat-erat”
“Ledakan… Ledakan itu… Entah dari mana asalnya ledakan itu…”
“Menurut yang aku dengar dari pembicaraan Maikel dan Putra, asal ledakan itu malah justru datang dari belatimu itu lho Bob…”
“Dari belati bintang jatuh…?” tanya Bob Barry heran yang kemudian dibalas dengan anggukan kepala oleh Melodie.
“Saat kita kita sedang berenang keluar, tiba-tiba dari arah belakang datang semburan arus panas yang menerjang! Arus panas yang datang itu ternyata membawa gas Methan yang mudah terbakar! Saat gas Methan tersebut bertemu dengan belati mu yang ternyata mengeluarkan panas yang berkali lipat dari panas yang dikeluarkan oleh arus yang datang, maka terciptalah ledakan yang kemudian akhirnya melempar kita bertiga keluar dari ceruk itu…”
“Aku dan Maikel beruntung mengenakan pakaian selam yang telah dilapisi pelindung oleh Marco sehingga tidak terluka oleh ledakan tersebut, namun sebenarnya yang jauh lebih beruntung sesungguhnya adalah dirimu Bob…”sambung Melodie
“Aku…? “
“Ehm… Kau benar-benar si bodoh yang sangat beruntung! Tanpa mengenakan pakaian selam apapun kau berani memasuki ceruk itu untuk menolong kami berdua! Coba kalau saja kau tidak kebetulan membawa Belati bintang Jatuh, kita semua pasti sudah mati di cincang oleh makhluk-makhluk itu…”
“Ah itu kan memang sudah menjadi kewajibanku sebagai kapten…” ucap Bob Barry
“Ya… Namun kalau dipikir-pikir, jika bukan karena di naungi bintang keberuntungan mustahil kau bisa sampai lolos dari ceruk tersebut tanpa terluka sedikitpun seperti ini…”
“Maksudnya…?”
“Aku mengatakan kau dinaungi bintang keberuntungan karena memang nampaknya seperti itu… Jadi begini Bob, saat arus panas tiba-tiba datang menyergap kita bertiga di lorong mulut ceruk Serena, rupanya ada satu makhluk bangsa Mere yang rupanya sedang sial ikut terbawa arus panas tersebut! Saat ledakan yang dipicu oleh belatimu itu terjadi, tubuh Makhluk malang tersebut bertepatan menghantam tubuhmu dan membuat efek ledakan tersebut terserap pada tubuhnya dan bukan pada tubuhmu! Tubuh kita bertiga juga kemudian terlontar keluar dalam lindungan tubuh makhluk malang tersebut!”
“Benarkah begitu? Jadi bisa dibilang makhluk itu yang melindungi kita bertiga dari efek ledakan…?” kejut Bob Barry bukan kepalang.
“Astaga…! Benarkah demikian…? Lalu bagaimana keadaan makhluk itu…? Apa kalian juga berhasil menyelamatkannya…?” desak Bob Barry yang dibalas oleh gelengan lemah Melodie
“Kami tidak bisa menyelamatkannya Bob… Aku, Maikel dan juga Putra sudah berusaha melakukan sebisa yang kami mampu untuk menolong dan membantunya untuk tetap bernafas… Namun sayang semuanya percuma dan kami akhirnya kehilangan dirinya tiga jam yang lalu…”
“Lalu bagaimana dengan bayinya Mel…? Apa kalian bisa menyelamatkan bayinya…?
Melodie terlihat menundukkan kepala dan menggeleng lemah.
“Ah… Kita berhutang nyawa pada makhluk itu…” keluh Bob Barry
“Aku… Aku ingin melihat makhluk itu Mel… Dimana kalian menempatkannya…? Bisa kau membawa aku kesana sekarang? Ucap Bob Barry seraya mencoba untuk beranjak bangkit yang tentunya langsung dicegah oleh Melodie.
“Ini sudah tengah malam Bob! Kau belum pulih dan harus beristirahat… Besok sajalah kau tengok makhluk itu. kami menempatkannya di ruang laboratorium milik Maikel sehingga kau bisa melihatnya kapan saja kalau kau mau, namun tentunya jika kau sudah pulih dan cukup kuat untuk berjalan…” ucap Melodie.
“Tapi Mel… Aku…” ucapan sang kapten terpotong oleh Melodie
“Pilih tidur atau mau lihat aku marah…?” ucap keras sang gadis sembari melipat tangan dan memandang tajam kearah sang kapten. Melihat hal ini Bob Barry pun akhirnya hanya bisa menghembuskan nafas panjang.
“Ya sudah kalau begitu, kalau memang itu maumu aku akan coba untuk kembali tidur. Kau juga pergilah sekarang ke kabin mu untuk berisitirahat. Aku yakin kau pun juga pastinya sudah lelah setelah semua yang terjadi seharian ini…” ucap sang kapten
Melodie nampak menggelengkan kepala.
“Aku masih belum mengantuk! Dan lagi kalau aku pergi kau pasti akan berusaha menyelinap pergi untuk melihat makhluk itu…” ucap sang gadis dengan bibir cemberut.
Mendengar apa yang dikatakan oleh sang gadis, akhirnya Bob Barry pun hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dan perlahan karena kepala yang memang masih terasa berat dan pening, sang pemuda pun kemudian menutup matanya untuk beberapa saat dan tanpa dia sadari akhirnya jatuh terlelap meninggalkan Sang gadis yang terus memandangnya dengan tatapan penuh kasih sayang.
Keesokan paginya Bob Barry pun membuka matanya dengan tubuh yang terasa segar. Dan hal yang pertama dilihat oleh sang pemuda adalah Melodie yang nampak tertidur dengan menyandarkan kepalanya ke sisi pembaringan. Rupanya gadis satu ini jatuh tertidur kala menjaga sang kapten yang sedang sakit.
Bob Barry pun tersenyum saat melihat Melodie yang nampak tertidur pulas, dan senyumannya pun kemudian terlihat makin mengembang kala mendengar dengkuran halus keluar dari pernafasan sang gadis.
Bob Barry pun tanpa bisa ditahan akhirnya membelai lembut kepala sang gadis yang tidur sambil mendengkur itu.
“Kasihan… Dia pasti lelah sekali…” batin sang Kapten sembari terus mengusap lembut rambut hitam Melodie.
Beberapa saat kemudian, kepala sang gadis pun terlihat bergerak lalu kemudian sepasang mata yang terkatup itu pun mulai terbuka.
“Selamat Pagi Mel…” ucap Sang kapten sambil tersenyum
“Pagi…” ucapnya lemah
“Astaga…!” sang gadis tiba-tiba terpekik dan sontak beranjak bangkit dari sisi pembaringan.
__ADS_1
“Sudahlah jangan pasang ekspresi kaget seperti itu donk Mel… Lebay amat…” tawa kecil Bob Barry
Melodie memandang ke sekeliling kamar dan kemudian pandangannya kemudian tertumbuk kembali pada sosok Bob Barry yang berbaring dibalik selimut sambil tersenyum-senyum.
Otot-otot sang gadis yang tadi terlihat menegang, perlahan mulai melemas dan dengan lunglainya Melodie pun akhirnya berjalan kembali ke tempat duduk di samping pembaringan dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat duduk tersebut.
“Ah… Tak disangka akhirnya aku ketiduran juga…” keluh sang gadis sambil kemudian terlihat menguap lebar
“Itu manusiawi Mel… Semua orang kalo terlalu capek dan lelah cepat atau lambat pasti juga akan tertidur dengan sendirinya…”
“Iya… Tapi aku tuh malu kalau tidur di depan kamu… Oh ia! tadi waktu aku tertidur kamu gak macam-macam ngambil kesempatankan…? Ayo cepat ngaku…?”
“Ya helah Mel… Sejak kapan aku jadi orang rendahan macam itu…? Lagian ini juga bukan pertama kalinya kita tertidur bersamakan? dulu juga waktu sebulan penelitian di Galapagos kan kita tidurnya juga bareng… ”
“Iya… Iya bareng… Aku bareng perlengkapan di dalam tenda… Kamu diluar bareng Iguana…” ucap sang gadis sambil menjulurkan lidah dan kemudian tertawa terpingkal-pingkal.
Melihat tawa riang Melodie, sang kapten pun akhirnya turut pula tertawa lepas.
Pada saat mereka berdua sedang asyik tertawa saling menimpali, tiba-tiba datang Marco Ferdinand yang dengan terengah-engah masuk membuka pintu dan langsung menerobos kedalam kamar tidur sang Kapten!
“Kapten… Melodie… Itu.. Ada… Aduuh…” ucap si bengal dengan nafas berkejaran.
“Ada apa Marco? Coba atur dulu nafasmu baru bicara yang jelas…” ucap Bob Barry
“Mahluk itu Kept, makhluk yang kemarin kita lihat di ceruk Serena dan kemudian kita angkat ke atas kapal…”
“Apa yang terjadi dengan Makhluk itu? apa makhluknya hidup kembali” kali ini Melodie yang bertanya.
Si bengal nampak dengan gugup menggelengkan kepala
“Sebaiknya kalian lihat sendiri… Ada sesuatu yang aneh terjadi pada bangkai makhluk itu…”
Melodie tiba-tiba berpaling kearah Bob Barry
“Kau sudah cukup kuat untuk berjalan Bob?”
Sang kapten yang ditanya langsung tertawa dan tiba-tiba menyibakkan selimut yang dikenakannya dan langsung melompat dan berdiri tegak!
“Jangankan jalan, disuruh lari marathon juga hayuuk…!!”
“Baguslah kalau begitu Bob, berarti kau memang benar-benar sudah tidak kenapa-napa… Ya sudah kalau begitu, ayo cepat kita periksa makhluk itu di Laboratorium…” ucap Melodie yang langsung bergegas keluar dari kabin sang kapten dengan diikuti oleh Marco dan juga Bob Barry.
Sesampainya di ruang laboratorium yang terdapat di bagian lambung sebelah kanan kapal dekat dengan haluan, rombongan Melodie langsung disambut dengan tegang oleh Putra dan juga Maikel.
“Kau sudah sehat Kapten…? Sudah tidak apa-apa…?” tanya Putra dan Maikel serempak dan langsung dibalas anggukan kepala oleh Bob Barry.
Sang kapten kemudian perlahan mendekat dan nampak melihat dengan penuh takjub kearah meja besi yang terletak ditengah ruang laboratorium milik kapal The Promise Land ini.
Diatas meja yang biasa digunakan oleh Maikel dan yang lainnya untuk meneliti obyek penyelaman mereka tersebut, kini tergeletak satu sosok Mermaid atau spesies bangsa Mere yang berkelamin wanita.
Tubuh sang duyung nampak terlihat mengerikan, ekornya yang berwarna kehijauan kini sebagian terlihat robek dan legam seperti tanda bekas terbakar. Beberapa luka terbuka juga nampak menghiasi sekujur tubuh makhluk malang ini, sementara Sisik-sisik kecil yang terdapat di daerah pinggang kebawah juga nampak banyak melengkung dan terlihat berserakan diatas meja besi.
Jika penampilan sebelah bawah saja sudah cukup mengerikan, maka penampakan sosok sebelah atas makhluk ini malah jauh lebih menyeramkan! Perut sang duyung nampak melembung membesar sementara tangan, dada dan juga termasuk leher serta kepala makhluk ini terlihat seakan menciut penuh kerutan hingga tak ubahnya kulit pembungkus tulang!
Wajah sang duyung yang sebelumnya terlihat cantik mempesona dengan rambut berwarna keemasan kini nampak menakutkan dengan pipi kempot dengan mulut terbuka lebar serta mata yang terlihat membeliak namun menjorok kedalam rongganya.
Jika diperhatikan, tubuh sebelah atas duyung ini kini tak ubahnya dengan sosok cumi-cumi kering yang telah disimpan selama berbulan-bulan!
“Apa ini Duyung yang kemarin ikut terlempar keluar dari ceruk Serena? Kenapa wujudnya jadi seperti jasad mummi yang telah mengering seperti ini…?” tanya sang kapten dengan penuh keheranan.
“Sudah pasti Kept, ini adalah duyung yang kemarin menyelamatkan kapten bertiga dari ledakan di ceruk Serena…” ucap Marco
“Kalau soal wujudnya yang seperti ini, sebenarnya bukan hanya duyung ini saja, kalau Kapten membuka internet atau menonton di Youtube, maka kapten akan menyadari kalau penemuan jasad-jasad Mermaid yang pernah di dokumentasikan sejauh ini, pasti terlihat persis sama seperti ini. kering seolah telah melalui proses mumifikasi…” tambah Putra Gilang.
“Ada yang bisa memberikan penjelasan detail…?” Ucap Bob Barry sembari memandang kearah Putra, dan juga Marco. Namun sayang mereka berdua yang ditanya masing-masing hanya bisa terdiam sembari terus menatap kearah bangkai duyung dihadapan mereka.
“Jika aku tidak salah, penjelasan yang paling masuk akal dan memungkinkan adalah Skin Moisture Salinity…” ucap tiba-tiba Maikel Stefen sembari mengerutkan kening dan mencubit-cubit bibir sebelah bawahnya.
“Kau benar Maikel! Itu pasti jawabannya! Ah… Kau ternyata orang yang jenius juga rupanya…!” Puji Melodie yang membuat Maikel sontak tersenyum lebar penuh kebanggaan
“Skin Moisture apa…? Tolong jelaskan lebih terperinci Mel” tanya Bob Barry kebingungan.
“Jadi begini Kept, kalau seseorang mandi atau berendam di air terlalu lama pasti akan timbul kerutan pada kulitnya bukan? Nah hal ini bisa terjadi karena kulit kita memiliki sensor dan kecerdasan yang luar biasa! Saat kita bersentuhan terlalu lama dengan air, maka kulit secara otomatis akan mengkerut guna menghindari tubuh kita menyerap air terlalu banyak! Nah kebalikannya adalah makhluk ini! karena lingkungan hidupnya adalah air, maka kulit mereka akan menyusut dan mengkerut kalau tidak terkena air dalam waktu yang lama. Pengeringan tubuh atau Mumifikasi juga dapat terjadi dalam waktu yang sangat singkat dikarenakan sistem tubuh mereka juga telah berevolusi dengan lingkungan dimana mereka tinggal! Karena hidup di air yang mengandung tingkat garam tinggi, maka dengan sendirinya makhluk-makhluk ini pasti memiliki organ tambahan yang berfungsi untuk mengatur kadar sirkulasi garam dalam tubuh mereka…”
“Dimana organ tersebut akan kehilangan fungsinya saat makhluk tersebut meninggal dan mengakibatkan garam yang ada dalam tubuh makhluk itu menyebar tak terbendung dan menghisap air dalam tubuh. Hal ini menyebabkan proses mumifikasi pun menjadi sempurna!” Potong Bob Barry dengan antusias!
“Binggo…! Seratus buat Kapten Barry…!” ucap Melodie sembari tersenyum.
Mendengar pujian sang gadis tersebut, Bob Barry tentu saja langsung merasa senang bukan kepalang, namun baru saja sang kapten hendak bersuara langsung terpotong oleh seruan kaget si anak bengal!
“Astaga…! Coba kalian lihat baik-baik perut makhluk itu…!” seru Marco tiba-tiba sambil melotot dan menunjuk kearah perut jasad duyung yang nampak melembung besar dan kini tiba-tiba terlihat bergerak liar!
Sesuatu…! Ada sesuatu yang berusaha menerobos keluar dari dalam perut makhluk yang terbujur kaku diatas meja besi!
\* \* \*
__ADS_1