Hati Untuk Saila

Hati Untuk Saila
SAILA. eps. 1


__ADS_3

Aku sudah capek, aku sudah capek dengan permasalahan dunia yang tiada hentinya ini.


Dunia ini memang keras, tidak ada tempat aku untuk merasakan kebahagian sebentar saja


setelah aku mengalami runtutan masalah yang tiada habisnya. Dunia orang dewasa yang aku


bayangkan waktu kecil yang kukira indah , lancar, dan bebas, runtuh seketika. Imajinasiku itu ternyata hanya imajinasi bak negeri dongeng yang terlihat selalu bahagia. Kemana perginya imajinasi itu ?


Oh iya aku lupa, ternyata imajinasi itu sudah runtuh hancur lebur. Yang aku


lakukan saat ini hanyalah pasrah dan menerima takdir ini. Mungkin skenario hidupku harus


berliku dulu saat ini, aku harus kuat, hanya diri ini alasanku untuk kuat saat ini, aku hanya


berusaha mencintai diriku sendiri, aku sudah muak dengan beragam janji palsu dan harapan


harapan manis, kepercayaan yang kubuat dan kubentuk ternyata hancur juga seperti imajinasi


bak negeri dongeng itu.


Hingga akhirnya ada sesosok laki laki yang kukenal sebagai atasan mengajakku untuk


menikah. Yang berhasil membuat kepercayaan diriku semakin runtuh, takut jika dia


mengajakku menikah hanya karena dia kasihan padaku.


“ Izinkan saya untuk menikahimu.” Ya , kata kata ini yang berhasil keluar dari mulutnya saat


aku berada di ruangannya.


“ Maaf, apa pak? Menikah?.” Tanyaku memastikan.


“ Iya, saya sudah melihat dirimu yang hebat.” Jawabnya singkat yang berhasil membuatku


tercengang.


Apa katanya? Diriku yang hebat? Diriku yang mana yang anda lihat pak?. Anda


tidak tahu apapun mengenai aku, masa laluku, traumaku dan semua permasalahanku.


Aku


takut kejadian lalu terulang kembali, kejadian yang berhasil membuat aku menyesal seumur


hidup, yang berhasil meruntuhkan duniaku dalam sesaat. Sepertinya pak Arta ini hanya akan


main main denganku seperti Mas Fandi kemarin, sang peruntuh duniaku dalam sesaat.


“ Em, maaf pak, saya tidak ingin menjatuhkan ekspektasi bapak, namun bapak tidak


mengenal saya, saya takut anda akan kecewa.”


Hanya ini alasan yang kupunya untuk


membalas permintaan atasanku itu.


“ Anggap kau sedang berhutang dengan saya. Saya tau semua masalahmu,saya ingin


menyelamatkan dan mendampingimu, atau saya sebut satu persatu disini?”


“ Em, mungkin anda salah orang pak, maaf, saya tidak berbagi masalah saya dengan

__ADS_1


siapapun, mungkin anda salah orang, saya mahasiswa magang disini yang baru 1 bulan pak,


sahabat bahkan keluarga dekat saya tidak tahu masalah saya .“ ucapku mengelak.


“ Saila Salsabila Hamidah, mahasiswa semester 7 jurusan Psikologi Universitas Negeri A,


putri bapak Zakaria dan ibu Fitria.?” Terangnya.


“ Mahasiswanya ibu Alya Zahira, adik dari Aqil Darmawan, dan memiliki kepentingan


dengan Adena Natania?”


benar benar terkejut aku mendengar nama mbak Adena, Tahu


darimana aku ada urusan dengan dia karena suaminya?


“ Maaf cukup pak. Saya tidak ingin mendengar masa lalu itu, maksud bapak apa ingin


menikahi saya? Maaf saya bukan perempuan murahan pak,dan saya tidak ingin dikasihani.


saya permisi” ucapku dengan cepat dan sesegera mungkin keluar dari ruangan itu.


Apa maksud pak Arta mengungkit hal itu? Ingin mempermainkan aku seperti Mas Fandi


mempermainkanku? Iya aku sangat ingat, mbak Adena istri Mas Fandi, lantas apa


hubungannya dengan pak Arta? Siapa tau dia teman Mbak Adena atau jangan jangan


musuhnya dan ingin memanfaatkanku untuk balas dendam kepada Mas Fandi?


Akupun tidak mengenal dia, yang pasti dia tidak mengenalku.


Oh cukup, otak ini ternyata sudah traveling cukup jauh membayangkan yang dipikirkan


Ataukah aku putus kontrak magang saja? Oh no, itu pilihan yang sangat tidak mungkin, saat ini aku membutuhkan uang, dan yang pasti peluang untuk bisa masuk perusahaan besar yang sudah menjadi incaranku selama ini.


Tidak mungkin aku menghancurkan mimpiku hanya karena atasan picik itu dan merelakan kesempatan kerja disini. Dan bagaimana juga aku menghadapi orang tersebut selama aku disini?


Dan jika pun aku punya kesempatan kerja disini, mungkin aku akan terus bertemu dengannya. Oh Tuhan


dilema apalagi ini.


“ Hei, melamun aja sih. Udah siap belum PPT buat presentasi untuk rapatnya pak Arta?”


tanya Mbak Ita kepadaku.


“ Ha? Apa mbak? PPT? Presentasi?” Tanyaku seperti orang bego.


“ Lah iya, bukannya kamu sudah masuk ruangan pak Arta tadi? Harusnya udah tau dong.”


sambungnya.


“ Be belum mbak, em memang rapat jam berapa mbak?”


“ Ya ampun Saila, nanti setelah makan siang. Ada rapat dengan manajer manager yang


lainnya. Yaudah deh segera kamu kerjakan, cari semua datanya. Kamu bisa minta bantuan


semua orang di divisi kita untuk olah data, dan bisa juga minta bantuan sekretarisnya pak


Arta tuh. Kerjain maksimal loh, waktumu tinggal dikit nih.” Tegasnya padaku sambil melihat jam tangannya.

__ADS_1


Well, aku hanya punya waktu sejam setengah sebelum makan siang, rapat kali ini rapat


mingguan yang dimana data data harus balance dan akurat semua. Aku tidak tega juga


meminta bantuan para senior disini, mentalku terlalu kecil, dan terlihat mereka sedang sibuk


semua, bukan hanya sibuk, namun super super sibuk. Dan yang pasti nanti, aku akan bertemu


pak Arta kembali saat rapat.


Ya Tuhan, akan kutaruh mana mukaku ini, aku tidak ingin menampakkan muka dihadapannya.


Oke, saatnya perang.


aku tidak ingin memikirkan hal itu untuk saat ini.Aku berlari kesana kemari untuk minta data dan mengerjakan PPT ku, bertanya ke senior, meminta bantuan dan


berlari ke sekretaris pak Arta, untungnya Pak Arta sibuk didalam dan aku tidak bertemu


dengannya sementara waktu, setidaknya bisa menyiapkan mental jika aku bertemu dengannya nanti.


Dengan secepat kilat kukerjakan dan kurelakan waktu makan siang demi tugas ini. Walau, perut ini sebenarnya butuh asupan untuk berperang, namun realitanya tidak sempat memasukkan apapun kedalam perut.


“ Jangan serius banget, nih roti, setidaknya buat ganjel perut lah.” ucap sekretaris Pak Arta


sambil memberikan roti kepadaku.


“Makasih banyak mbak, em mbak nggak makan siang?” Tanyaku padanya.


“ Udah, aku selalu bawa bekal, takut kalau aku makan diluar tiba tiba Pak Arta manggil, kan


ga tenang makannya hahah.”


“ Ah iya juga ya, sibuk banget ya mbak? Susah ya kerja sama Pak Arta?” tanyaku sambil


berbisik keadanya.


“ Sibuk sih, tapi aku enjoy kok. Kalo Pak Artanya sih baik orangnya, tegas , berwibawa tapi


gak suka bentak bentak karyawannya kayak atasan atasan lain, seneng kok kerja sama dia.


Tapi dia masih jomblo, kisah cintanya ngenes, kasian.” Bisik sekretarisnya kepadaku.


Jadi saat ini dia jomblo, terus ngajak aku nikah gitu aja? Dibilang aneh sih aneh, tapi ada


kecurigaan juga.


“ Bapak ga gampang deket wanita. Banyak yang mundur saat deketin bapak, aku lihat


sendiri. Berbagai macam dan jenis wanita kesini, namun banyak yang tereliminasi. Yah,


banyak kutemui baragam wanita, mulai yang cantik, seksi, kaya, pinter, elegan dll, banyak


deh. Habisnya bapak dingin banget kalo sama wanita, tapi kalo sama rekan kerja, bah,


baiknya poll.” sambung sekretarisnya.


Wah fakta apa ini yang aku dapatkan? Fakta langsung dari sekretarisnya, fakta yang


mencengangkan sekali. Kembali aku bertanya tanya mengenai hal tadi dimana dia


mengajakku menikah, apa motif dibaliknya hingga dia memilihku? Bah, pusing memikirkan

__ADS_1


hal yang abu abu.


“ Anna, nanti siapkan...” perintah Pak Arta kepada sekretarisnya sambil membuka pintu dan kata katanya tergantung saat dia melihatku dengan Mbak Anna.


__ADS_2