
Aku sudah capek, aku sudah capek dengan permasalahan dunia yang tiada hentinya ini.
Dunia ini memang keras, tidak ada tempat aku untuk merasakan kebahagian sebentar saja
setelah aku mengalami runtutan masalah yang tiada habisnya. Dunia orang dewasa yang aku
bayangkan waktu kecil yang kukira indah , lancar, dan bebas, runtuh seketika. Imajinasiku itu ternyata hanya imajinasi bak negeri dongeng yang terlihat selalu bahagia. Kemana perginya imajinasi itu ?
Oh iya aku lupa, ternyata imajinasi itu sudah runtuh hancur lebur. Yang aku
lakukan saat ini hanyalah pasrah dan menerima takdir ini. Mungkin skenario hidupku harus
berliku dulu saat ini, aku harus kuat, hanya diri ini alasanku untuk kuat saat ini, aku hanya
berusaha mencintai diriku sendiri, aku sudah muak dengan beragam janji palsu dan harapan
harapan manis, kepercayaan yang kubuat dan kubentuk ternyata hancur juga seperti imajinasi
bak negeri dongeng itu.
Hingga akhirnya ada sesosok laki laki yang kukenal sebagai atasan mengajakku untuk
menikah. Yang berhasil membuat kepercayaan diriku semakin runtuh, takut jika dia
mengajakku menikah hanya karena dia kasihan padaku.
“ Izinkan saya untuk menikahimu.” Ya , kata kata ini yang berhasil keluar dari mulutnya saat
aku berada di ruangannya.
“ Maaf, apa pak? Menikah?.” Tanyaku memastikan.
“ Iya, saya sudah melihat dirimu yang hebat.” Jawabnya singkat yang berhasil membuatku
tercengang.
Apa katanya? Diriku yang hebat? Diriku yang mana yang anda lihat pak?. Anda
tidak tahu apapun mengenai aku, masa laluku, traumaku dan semua permasalahanku.
Aku
takut kejadian lalu terulang kembali, kejadian yang berhasil membuat aku menyesal seumur
hidup, yang berhasil meruntuhkan duniaku dalam sesaat. Sepertinya pak Arta ini hanya akan
main main denganku seperti Mas Fandi kemarin, sang peruntuh duniaku dalam sesaat.
“ Em, maaf pak, saya tidak ingin menjatuhkan ekspektasi bapak, namun bapak tidak
mengenal saya, saya takut anda akan kecewa.”
Hanya ini alasan yang kupunya untuk
membalas permintaan atasanku itu.
“ Anggap kau sedang berhutang dengan saya. Saya tau semua masalahmu,saya ingin
menyelamatkan dan mendampingimu, atau saya sebut satu persatu disini?”
“ Em, mungkin anda salah orang pak, maaf, saya tidak berbagi masalah saya dengan
__ADS_1
siapapun, mungkin anda salah orang, saya mahasiswa magang disini yang baru 1 bulan pak,
sahabat bahkan keluarga dekat saya tidak tahu masalah saya .“ ucapku mengelak.
“ Saila Salsabila Hamidah, mahasiswa semester 7 jurusan Psikologi Universitas Negeri A,
putri bapak Zakaria dan ibu Fitria.?” Terangnya.
“ Mahasiswanya ibu Alya Zahira, adik dari Aqil Darmawan, dan memiliki kepentingan
dengan Adena Natania?”
benar benar terkejut aku mendengar nama mbak Adena, Tahu
darimana aku ada urusan dengan dia karena suaminya?
“ Maaf cukup pak. Saya tidak ingin mendengar masa lalu itu, maksud bapak apa ingin
menikahi saya? Maaf saya bukan perempuan murahan pak,dan saya tidak ingin dikasihani.
saya permisi” ucapku dengan cepat dan sesegera mungkin keluar dari ruangan itu.
Apa maksud pak Arta mengungkit hal itu? Ingin mempermainkan aku seperti Mas Fandi
mempermainkanku? Iya aku sangat ingat, mbak Adena istri Mas Fandi, lantas apa
hubungannya dengan pak Arta? Siapa tau dia teman Mbak Adena atau jangan jangan
musuhnya dan ingin memanfaatkanku untuk balas dendam kepada Mas Fandi?
Akupun tidak mengenal dia, yang pasti dia tidak mengenalku.
Oh cukup, otak ini ternyata sudah traveling cukup jauh membayangkan yang dipikirkan
Ataukah aku putus kontrak magang saja? Oh no, itu pilihan yang sangat tidak mungkin, saat ini aku membutuhkan uang, dan yang pasti peluang untuk bisa masuk perusahaan besar yang sudah menjadi incaranku selama ini.
Tidak mungkin aku menghancurkan mimpiku hanya karena atasan picik itu dan merelakan kesempatan kerja disini. Dan bagaimana juga aku menghadapi orang tersebut selama aku disini?
Dan jika pun aku punya kesempatan kerja disini, mungkin aku akan terus bertemu dengannya. Oh Tuhan
dilema apalagi ini.
“ Hei, melamun aja sih. Udah siap belum PPT buat presentasi untuk rapatnya pak Arta?”
tanya Mbak Ita kepadaku.
“ Ha? Apa mbak? PPT? Presentasi?” Tanyaku seperti orang bego.
“ Lah iya, bukannya kamu sudah masuk ruangan pak Arta tadi? Harusnya udah tau dong.”
sambungnya.
“ Be belum mbak, em memang rapat jam berapa mbak?”
“ Ya ampun Saila, nanti setelah makan siang. Ada rapat dengan manajer manager yang
lainnya. Yaudah deh segera kamu kerjakan, cari semua datanya. Kamu bisa minta bantuan
semua orang di divisi kita untuk olah data, dan bisa juga minta bantuan sekretarisnya pak
Arta tuh. Kerjain maksimal loh, waktumu tinggal dikit nih.” Tegasnya padaku sambil melihat jam tangannya.
__ADS_1
Well, aku hanya punya waktu sejam setengah sebelum makan siang, rapat kali ini rapat
mingguan yang dimana data data harus balance dan akurat semua. Aku tidak tega juga
meminta bantuan para senior disini, mentalku terlalu kecil, dan terlihat mereka sedang sibuk
semua, bukan hanya sibuk, namun super super sibuk. Dan yang pasti nanti, aku akan bertemu
pak Arta kembali saat rapat.
Ya Tuhan, akan kutaruh mana mukaku ini, aku tidak ingin menampakkan muka dihadapannya.
Oke, saatnya perang.
aku tidak ingin memikirkan hal itu untuk saat ini.Aku berlari kesana kemari untuk minta data dan mengerjakan PPT ku, bertanya ke senior, meminta bantuan dan
berlari ke sekretaris pak Arta, untungnya Pak Arta sibuk didalam dan aku tidak bertemu
dengannya sementara waktu, setidaknya bisa menyiapkan mental jika aku bertemu dengannya nanti.
Dengan secepat kilat kukerjakan dan kurelakan waktu makan siang demi tugas ini. Walau, perut ini sebenarnya butuh asupan untuk berperang, namun realitanya tidak sempat memasukkan apapun kedalam perut.
“ Jangan serius banget, nih roti, setidaknya buat ganjel perut lah.” ucap sekretaris Pak Arta
sambil memberikan roti kepadaku.
“Makasih banyak mbak, em mbak nggak makan siang?” Tanyaku padanya.
“ Udah, aku selalu bawa bekal, takut kalau aku makan diluar tiba tiba Pak Arta manggil, kan
ga tenang makannya hahah.”
“ Ah iya juga ya, sibuk banget ya mbak? Susah ya kerja sama Pak Arta?” tanyaku sambil
berbisik keadanya.
“ Sibuk sih, tapi aku enjoy kok. Kalo Pak Artanya sih baik orangnya, tegas , berwibawa tapi
gak suka bentak bentak karyawannya kayak atasan atasan lain, seneng kok kerja sama dia.
Tapi dia masih jomblo, kisah cintanya ngenes, kasian.” Bisik sekretarisnya kepadaku.
Jadi saat ini dia jomblo, terus ngajak aku nikah gitu aja? Dibilang aneh sih aneh, tapi ada
kecurigaan juga.
“ Bapak ga gampang deket wanita. Banyak yang mundur saat deketin bapak, aku lihat
sendiri. Berbagai macam dan jenis wanita kesini, namun banyak yang tereliminasi. Yah,
banyak kutemui baragam wanita, mulai yang cantik, seksi, kaya, pinter, elegan dll, banyak
deh. Habisnya bapak dingin banget kalo sama wanita, tapi kalo sama rekan kerja, bah,
baiknya poll.” sambung sekretarisnya.
Wah fakta apa ini yang aku dapatkan? Fakta langsung dari sekretarisnya, fakta yang
mencengangkan sekali. Kembali aku bertanya tanya mengenai hal tadi dimana dia
mengajakku menikah, apa motif dibaliknya hingga dia memilihku? Bah, pusing memikirkan
__ADS_1
hal yang abu abu.
“ Anna, nanti siapkan...” perintah Pak Arta kepada sekretarisnya sambil membuka pintu dan kata katanya tergantung saat dia melihatku dengan Mbak Anna.