Hati Untuk Saila

Hati Untuk Saila
SAILA. eps 10


__ADS_3

“ Its okay, anggap saja aku kakakmu, dia mengijinkanku  menjagamu, aku tidak memaksamu menerima hatiku. Tapi nampaknya kau punya lampu hijau untukku tadi.” ucapnya dengan semakin mendekat kepadaku.


“ Oke, saya pergi.” ucapnya dengan berdiri dari duduknya. 


Haduh alasan apa lagi ini yang harus aku katakan padanya.


“ Pak, bisa diskusi sebentar untuk bahan skripsi dan laporan saya?.”


“ Diskusi? tidak perlu repot-repot membuat laporan yang sulit, minta saja bantuan Anna, bilang saya yang suruh.”


“ Curang dong laporan seperti itu.”


" Kenapa repot-repot laporan, ribet amat jika ada yang mudah.”


Duh dia mulai cerewet lagi.


“ Oh iya pak, atap bapak bocor. ” Ucapku sambil memandang langit langit ruangan. 


Duh bodohnya, absurd banget alasanku tadi, mana ada rumah sebagus ini bocor, tidak ada hujan pula kan seminggu ini , dasar. 


“ Bilang mbak Asih suruh panggil tukang buat benerin. Kamu jangan berbohong, mana ada hujan seminggu ini, ada ada saja.” Ucapnya sambil meraih ponselnya diatas sofa dan akan berlalu.


Aku kehabisan akal lagi lagi lagi aku harus menggunkan cara itu lagi. ya Tuhan kenapa susah sekali menahan orang satu ini dengan berbagai alasan. 


Dia akan berlalu namun tiba-tiba dia membalikkan badan.


“ Saya rasa nampaknya kau benar benar sedang ingin menahanku dirumah, kau ingin aku temani sampai malam?” tanyanya mengagetkanku dan kembali mendekat. 


Aku hanya diam mematung tanpa bergerak dan berucap sepatah katapun. 


“ Kau terlalu mahal untuk benar-benar kumiliki saat ini, apa yang ada dipikiranmu untuk menahanku dirumah?” Tanyanya mengintrogasiku dengan mata elangnya menatap mataku tajam.


Aku bingung , aku harus memberi alasan dan menjawabnya apa. 


Dia semakin mendekat dan hampir tiada jarak diantara kami.


Jantungku berdebar dengan kencang, terdengar seperti ditabuh yang berdetak sangat kencang dan tubuh ini terasa bergetar. 


“ Bukan itu, bukan, ada yang membahayakan diluar sana.” Ucapku dengan bergetar dan menunduk, takut menatap wajahnya.


“ Apa?, kau tau apa?” Tanyanya heran.


“ Mohon bapak tetap dirumah untuk saat ini, saya tidak mau bapak terluka.”


Ucapku dengan nada bergetar dan mata ini mulai berair, karena tatapannya yang tajam hingga aku tidak kuat untuk menatapnya dan berdiri, aku merosot terduduk di lantai.


“ Hei, ada apa?” Tanyanya dengan ikut berjongok dan memegang bahuku. 


Namun aku tak kuat untuk menjawabnya, aku merasa bersalah, dia terkena imbas dan berhubungan dengan mas fandi karenaku, dia terkena masalah juga karenaku, aku terlalu toxic untuknya, aku menjadi merasa sangat bersalah. 

__ADS_1


“ Saila ceritakan, apa yang kau tau?” Tanyanya sambil menenangkanku dengan memelukku dalam duduk seperti kakak yang menangkan adiknya yang menangis. 


“ Aku tidak tau apa-apa, yang kutau aku membuat anda berada dalam masalah dan bahaya, aku, aku toxic untuk anda pak.” Jawabku dengan tangisan yang semakin keras dan air mata yang semakin membanjiri pipi ini, 


“ Apa yang kau bicarkan? aku yang memutuskan untuk ikut menyelami hidupmu, jangan salahkan dirimu.” Ucapnya lembut sambil menbelai rambutku halus.


“ Ada apa? apa urusan anda dengan mas Fandi karenaku? benar bukan?”


“ Jika benar, lantas kau mau apa Ila. ” ucapnya lembut.


Namun aku tak tau, aku tak bisa memberi bahkan merangkai kata - kata untuk kuucapkan, dada ini terasa sesak.


“ Jangan minta saya mundur, kau telah menerima tawaranku tadi. Saya harap kau tidak menyesal menerimanya tadi. ” jelasnya dengan tetap memelukku. 


Benar, memang aku tidak menyesal  menerima tawaran pak Arta, namun aku tak pantas jika aku merepotkannya apalagi membahayakannya seperti ini.


“ Memang apa yang kau tau mengenai urusan saya dengan Fandi?”


“ Saya tidak tau apa apa” Ucapku dengan tetap menunduk di pelukannya.


“ Biar saya ceritakan.” 


“ Sata membayar mahal untuk membebaskanmu dari Fandi, Fandi melelangmu kepada para orang berduit, bisa dibilang hidung belang brengsek. Kau tau? jika aku tidak ada disana kau sudah ada di pelukan om om girang itu.” Jelasnya dengan tangan yang masih mengusap rambutku dan dia menceritakannya dengan nada santai kepadaku, seperti dongeng dia membicarakan itu kepadaku. 


Aku kaget mendengar penjelasan itu darinya, aku? dilelang? brengsek Fandi, bajingan sekali dia, ternyata dia berbahaya, dia ingin menjualku. Apa yang ada di pikiran pria anjng itu.


Seketika setelah mendengar kalimat itu aku kembali terisak dan air mata ini mengalir lebih deras dari sebelumnya, tubuhku gemetar dalam pelukannya. 


“ Jika kau benar-benar menerimaku tadi dengan jawabanmu, anggap ini hutang. Kau akan melunasi hutangmu padaku bukan ?” 


“ Apa? berapa pak? akan saya bayar pak. ” ucapku semakin menunduk.


“ Saya tidak mau dibayar dengan uang.”


“ Lantas.” kaget, segera aku mendongak kepadanya. 


“ Saya tanya sekali lagi, kau menyesal menerima tawaranku?”


Aku bingung, memang dalam hati aku terasa tidak terlalu berat memberi jawaban itu padanya, namun yang membuat aku berat aku telah melibatkan dia dalam  bahaya karenaku, aku bingung, apakah aku menyesal, namun sepertinya dia memiliki hubungan dengan mas Aqil, apakah dia bisa dipercaya?


Namun jika mengingat percakapnnya dengan mas Aqil tadi, terdengar sungguh - sungguh. aku tidak tau, sepertinya tiada jawaban lain, jika aku lepas darinya mungkin juga hidupku selanjutnya tidak akan aman.


Hanya gelengan yang aku berikan kepadanya sebagai jawaban. 


“ Oke, besok ikut saya.” ucapnya dengan senyuman yang lebar.


“ Ke.. kemana pak?” tanyaku dengan sisa isakan 


“ Ke, kemana ya? besok saja lah saya beritau oke, lebih baik kamu segera istirahat saja, air matamu banyak terbuang sia-sia hari ini.” Ucapnya sambil mengusap rambutku dan bersiap akan berdiri. 

__ADS_1


Aku kembali teringat, aku harus menahannya dirumah.


“ Tunggu pak, tapi, diluar.”


“ Apa? diluar? ada apa?” tanyanya heran padaku.


“ Dirumahlah sampai mbak Anna menguhubungi.” Terlihat dia sedikit berpikir.


Tak berapa lama sepertinya dia tau apa yang aku maksud. 


“ Adakah yang ingin mencelakai kita?” Tanyanya dengan yakin, sepertinya dia bisa menebak arah pembicaraan kita. 


Aku hanya menjawabnya dengan anggukan kecil.


Terlihat dia sedang berpikir dan merencanakan sesuatu.


“ Apakah Anna menghubungimu?”


Lagi - lagi hanya anggukan yang bisa kuberikan.


“ Apakah kau menahanku dirumah karena itu.” aku seperti boneka yang hanya bisa mengangguk, lagi- lagi aku memberinya jawaban dengan anggukan.


Nampak dia berdiri dengan segera.


“ Pak, jangan keluar!” Cegahku


“ Tidak, sepertinya saya tau arah pembicaraan dan maksudmu tadi. Jangan ada kau keluar rumah selama aku belum memperbolehkanmu keluar.” Ucapnya kemudian berlalu dan memasuki ruangan yang dia masuki tadi. 


Beberapa saat dia keluar dengan membawa semacam surat dan membawanya kepada mbak Asih.


Terdengar samar pembicaraannya dengan mbak Asih bahwa ia ingin mbak Asih menyampaikan dan membawa surat ini sampai kepada tujuan yang ditujunya. 


“ Apa yang terjadi pak?” 


“ Tidak ada, saya hanya memberinya peringatan. Sebentar lagi beres, kau isirahat saja saya besok kita akan keluar. Tenang saya tidak akan keluar rumah. Tunggu saja, besok masalah inipun akan selesai. “ Ucapnya dengan lembut


“ Tapi pak”


“ Tidak ada bantahan, jika kau masih berucap aku akan maju dan memakanmu lagi. ” 


Dengan segera aku berdiri dan memasuki kamarku.


Yang menjadi topik pikiranku adalah apa yang terjadi? apa yang dilakukannya? dia memberi peringatan apa?


Aku heran , aku bingung harus berbuat apa, aku tidak memiliki kekuatan apapun untuk menyelamatkannya, bahkan menyelamatkan diriku. 


Aku khawatir apa yang akan diperbuatnya, bagaiamana jika dia terluka dan melangkah terlalu jauh. 


Entah semakin pusing aku memikirkannya, sepanjang malam kepalaku sakit sekali terasa sangat berat memikirkan beban ini.

__ADS_1


Hingga kepala ini tidak kuat lagi untuk diajak berpikir, kemudian terlelap dalam heningnya malam. 


__ADS_2