Hati Untuk Saila

Hati Untuk Saila
SAILA. eps 11


__ADS_3

Pagi hari, saat aku terbangun dan akan menuju dapur, nampak pak Arta sudah memakai pakaian rapi di ruang tengah, namun bukan kemeja atau setelan yang biasa ia kenakan untuk kerja, tapi baju santai, dimana ia memakai kaos dan memakai kemeja polos tanpa dikancing dengan celana cream dan memakai sepatu sneakers hitam putih. 


Dia duduk santai di sofa ruang tengah dengan menatap handphonenya dan terlihat cool. 


Tiba - tiba aku teringat, dia hari ini akan mengajakku keluar bukan? lantas kemana tujuannya?.


Ketika dia melihatku berdiri di depan pintu segera dia menyapaku.


“ Pagi La, segeralah bersiap, kau ingat apa yang kukatakan kemarin kan? " Sapanya padaku. 


Aku yang merasa ke gep sedang melihatnya menjadi salah tingkah dan bingung harus menjawab apa.


“ I.. i... iya pak, tunggu.” Jawabku terbata dan akan masuk kamar lagi.


Aku bertanya tanya kemana dia akan mengajakku?


Nampak dia mengenaan pakaian santai, kemana tujuannya kali ini? mall? restoran? atau kemana? lantas aku akan mengenakan apa? 


Disini bajuku terbatas, hanya pakaian santai yang kupunya dan beberapa kemeja kerja  yang sempat dibelikan pak Arta beberapa waktu lalu. 


Dengan cepat aku mandi dan memakai skincare kemudian memakai kaos dan kemeja kotak kotak serta celana kulot jeans. 


Saat keluar kamar nampak dia sedang menyiapkan makanan di meja makan yang sepertinya pesan antar.


Tunggu pesan antar? bukannya tidak bisa memakai internet disini ?.


“ Pak, bapak delivery order?”


“ Bukannya akses internet kita diputus sama mas mas bar kemarin?” sambung ku.


“ Mbak Asih yang mesankan, saya sudah pesan padanya kemarin supaya pagi- pagi delivery order makanan.” Ucapnya sambil bersiap untuk makan.


“ Duduk ayo makan, kenapa berdiri aja.” Sambungnya saat melihatku hanya berdiri mematung. 


“ Pak, kita mau kemana?” Tanyaku padanya sambil menyiapkan piring.


“ Kerumah mama.” Jawabnya santai.


Apa? mama? mama yang dibilang mbak Asih kemarin? what? kenapa kesana bilangnya mendadak begini sih.


Alah mungkin aku cuma nemenin dan cuma di mobil ngga masuk ke rumah, ga mungkin kan aku masuk kerumahnya. 


“ Tunggu, bukannya kata bapak kita gaboleh keluar? masih bahaya kan?”


“ Kamu mau kita dirumah saja? ya gapapa, tapi nanti kalau aku makan posisimu lebih bahaya.” Ucapnya santai sambil mengambil nasi untunya.


astagaaaaa pembicaraan apa ini, 


“ Haduh bukan itu maksud saya, maksudnya bukannya bapak masih bahaya jika akan keluar keluar?”


“ Ingat kataku kemarin? hari ini permasalahan mengenai dia sudah seesai, dan ingat perintahkku kemarin? jangan keluar sebelum saya memperbolehkan keluar kan. “


Hadeh , memang pasal 1 , atasan selalu benar dan junior selalu salah. Iya deh iya. Yang penting bapak bahagia.


Karena menghindari perdebatan, aku memilih diam dan makan dengan tenang. 

__ADS_1


Setelah makan kami berangkat menuju tujuan yang ingin dituju pak Arta, selama perjalananpun kami hanya diam, benar-benar hening, hanya suara musik diantara kami, rasanya gabut banget tanpa handphone gini. 


Tiba- tiba aku teringat yang dikatakan pak Arta jika hari ini permasalahan mereka selesai.


“ Em pak, kata bapak hari ini permasalahan bapak selesai ya? memang bagaimana anda memberinya pelajaran?”


“ Tidak perlu tau. Cukup Saila jangan bahas itu dulu sementara waktu, saya tidak ingin hari ini mendengar permasalahn itu.” Jawabnya dengan nada dingin, tidak seperti biasanya.


Aku menjadi takut dengannya karena biasanya dia dingin namun tidak sedingin ini. 


Sebenarnya takut untuk memulai pembicaraan lagi, namun apalah daya jiwa kepo meronta ronta.


“ Em, sepertinya bapak kenal mas Aqil, apakah kalian teman?”


“ Iya, dia penyelamat saya?”


“ Apa? penyelamat pak?”


“ Ya, dia menyelamatkanku dari geng. Kau lihat aku yang sekarang seperti ini? gini gini dulu anak geng.”


Kaget aku mendengar pernyataan dan fakta itu. geng? 


“ Anak yang dulu dianggap tak punya masa depan, tak punya impian dan cita-cita, atau madesu dan dicap jelek dimana mana itu jadi seperti ini.” sambungnya. 


“ Bagaimana dengan mas Aqil? apakah mas Aqil, em, geng?”


“ Bukan, dia panutanku. Aku seperti sekarang ini karena mas mu. Benar-benar dia orang yang lurus. Dia penyelamatku dari para berandal” 


“ Dulu, aku membuat keributan dalam geng, aku ingin keuar dari geng itu ketika aku bertemu mas mu di depan mall yang tampak bahagia bersama adik dan keluarganya, membelikan ini itu untuk mereka.


Ketika akan keluar aku harus membayar sejumlah uang dan melawan mereka satu per satu. Saat itu aku tak punya uang untuk membayarnya dan berpikir hal tersebut sangat merugikanku.


Saat itu aku ribut besar dengan geng dan dihajar habis habisan, aku lari kesana kemari untuk bersembunyi dan kemudian bertemu masmu, dia menyelamatkanku dan menyembunyikanku dari mereka, bahkan mengobatkanku ke dokter.


Dia juga yang memberi geng ku pelajaran yang akhirnya mereka tidak ingin berurusan denganku.


Benar-benar dia harapanku. Sejak saat itu aku sungguh sunggh mengejar impianku, kembali sekolah dan belajar dengan sungguh-sungguh lagi hingga aku masuk Univ ternama yang kau tempati saat ini. Dari situ aku membangun masa depan.”


Jujur, sebenarnya aku trenyuh dengan kisahnya, menurutku dia benar benar menginpirasi dari segi ambisinya.


Aku terharu mendengar kisah yang tak kusangka itu, mungkin jika semua orang melihat dia pasti berpikir dia anak yang lurus sejak dini, namun ternyata tekadnya lah yang bisa membawa dia sampai titik ini.


“ Fandi, dia dulu juga geng ku dia masih disana sampai saat ini. Namun istrinya tak tau, dia bekerja juga karena istrinya.”


Mendengar pernyataan itu aku kaget kembali, ternyata Fandi adalah teman gengnya, pantas saja sikapnya saat ini menggambarkannya. namun entah bodohnya aku kenapa juga dulu aku berhubungan dengannya? 


“ Em pak, kalau boleh tau, memang mas Aqil sekarang pergi kemana?”


“ Dia? aku juga tidak tau.” terangnya. 


“ Lah, kata mas Aqil jika aku mencarinya tanyakan saja pada bapak, kenapa tidak tau?”


“ Tanyakan itu padaku jika keadaan sangat mendesak. Jika tidak, tidak usah bertanya.”


“ Astaga”

__ADS_1


Tak terasa kami sudah sampai di rumah mama pak Arta.


Saat dia sudah turun tiba-tiba dia memutari mobil dan membukakan pintu untukku.Namun aku masih di tempat.


“ Turun, kenapa masih duduk?”


“ Apa? turun pak? “


“ Iya dong.”


‘ Saya ikut masuk gitu?”


“ Tujuan saya kesini apa? membawamu kan ?”


“ Ta.. tapi pak, bapak tidak bilang saya ikut masuk, saya kira cuma ikut aja ngga ikut masuk, kenapa bapak ngga bilang.” omelku padanya.


Tiba tiba dia menarik tanganku dan aku jatuh dipelukannya karena terikannya tersebut.


“ Ternyata cara menurunkanmu begini ya harus dipeluk dulu.” ucapnya nakal.


Aku segera melepas pelukan itu dan kembali mengomel.


“ Kenapa bapak tidak bilang sih.”


“ Sudah bilang kan kalau mau ke rumah mama.”


“ Tapi ngga bilang ikut masuk, kan saya cuma pake pakaian gini pak. ” Omelku


Cup. 


Dia mengecup bibirku sekilas.


“ Sudah jangan ngomel, kamu cantik pake gini.”


Blush, seketika pipiku menjadi panas dan semerah tomat.


Pak Arta yang melihatku memerah hanya tersenyum dan menarik tanganku untuk digandengnya memasuki rumah tersebut. 


“ Assalamualaikum mah, Danu pulang.” salamnya pada mamanya.


“ Bah, disuruh pulang ga pulang-pulang, kemana aja kamu ini, sibuk terus, kamu ngga mikir mama kangen gini.”


Omel mamanya saat pak Arta mengucap salam tanpa menoleh kebelakang dan melihat anaknya dulu, dia mengomel dengan tetap duduk di sofa sambil menonton film dan belum melihat kami.


“ Ehm, mah udah jangan ngomel, jangan ngambek dong, liat Danu dulu.” 


Kemudian mamanya menoleh ke belakang yaitu kearah kami. Dan dia nampak kaget melihat anaknya mebawa anak orang kerumahnya. 


Dengan segera setelah pak Arta menyalami mamanya aku ikut menyalaminya juga. 


“ Siapa yang kamu bawa Danu?” Tanya mamanya.


“ Kenalin mah, dia Saila, calon mantu mama.” ucapnya santai.


what? apa? calon mantu?

__ADS_1


__ADS_2