Hati Untuk Saila

Hati Untuk Saila
SAILA. eps 12


__ADS_3

"Siapa Danu? " Tanya mamanya Pak Arta.


" Kenalin mah, dia Saila, calon mantu mama. " Terangnya santai pada mamanya.


what? apa? calon mantu?


Nampak mamanya pak Arta memandangku dengan seksama dengan mata tajamnya khas emak-emak.


Aku yang dipandang seperti itu menjadi salah tingkah dan risih sendiri. Nampak tatapan emak emak yang seperti kurang suka denganku, mengintidasi.


Kemudian pak Arta membuka suara. 


“ Em, mah, ayah dimana?”


“ Oh ayah, ini kan weekend, biasalah dia jongging sekitar komplek.” Kawabnya dengan ekspresi yang berbeda saat berbicara dengan anaknya dibanding menatap dan berbicara denganku tadi. 


Kenapa dia memperkenalkanku kepada mamanya bahwa aku calon mantu?


Apa maksud pak Arta ini, tidak ada pun pembicaraan denganku mengenai mantu- mantu itu.


Ya ampun rasanya ingin mengomel dengan kecepatan 60km/am jika seperti ini. 


“ Yaudah, tunggu sini dulu, nanti kita makan siang bareng, mama mau kedepan sebentar.” terangnya pada kami. 


Ketika nampak mamanya sudah keluar rumah, aku bersiap menyemburkan segala omelanku padanya, kenapa bertindak seenaknya begini sih.


Ku hembuskan nafas berat dan dalam dulu sebelum aku mengomel untuk mengisi pasokan oksigen selamamengomel. 


“ Hutf, Pak, kenapa anda bertindak seenaknya sendiri sih, kenapa memperkenalkanku seperti itu pada mama anda, dan tidak ada itu briefing kita sebelum kesini.


Apa maksudnya pak? apa tujuan bapak sebenarnyam? bapak jangan main - main dan macem-macem dengan saya ya.


Anda lihat sendiri nampak ekspresi mama anda yang kurang menyukai saya, kenapa bapak seenaknya sendiri.


Bapak menjebak saya ini namanya, apakah nampak aku orang yang mudah untuk dibohongi? “ Omelku dengan cepat kepadanya.


Tak tahan aku untuk tidak mengeluarkan apa yang dipikiranku saat ini. 


“ Sudah?” tanyanya santai. 


Aku hanya diam tidak menanggapi dan menjawab  pertanyaannya itu. 


“ Mau saya jawab dengan tindakan atau kata - kata? sepertinya kalau kata - kata seperti buaya saja.”  sambungnya


“ Saya hanya ingin satu macam tidak macam-macam. Ingin memilikimu.”

__ADS_1


Ucapnya sebari mendekat dan menggeser tubuhnya kepadaku dan dia menangkup pipiku dengan kedua tangannya yang lebar dan dengan cepat menyatukan bibir kami. 


Bibir kami sudah bertaurt. Aku kaget dengan tindakannya yang  tiba-tiba itu, entah mengapa rasanya darah ini berdesir dan terasa panas saat dia menciumku, bibirnya terasa lembut dan manis saat melumat  bibirku.


Aku seperti kehilangan kata - kata dan akal saat dia sudah bertindak seperti ini.


 Ya Tuhan, kemarin dia sudah mencuri ciuman pertamaku dan hari ini dia menciumku lagi dengan kata kata seperti itu. 


Astagaaa.


Setelah aku merasa sudah kekurangan oksigen, aku berontak dengan memukul dadanya supaya melepaskan ciuman itu, saat dia menyadari aku kehabisan nafas dengan segera dia menyudahi aktivitasnya tersebut.


“ Itu jawabannya.” Ucapya saat aku masih terengah untuk mengambil oksigen. 


“ Apa? bapak … mencuri...” ucapku dengan gagap dan gemetar sambil menutup mulutku dengan kedua tanganku. 


“ Ini yang kedua bukan, kemarin sudah.” Jawabnya santai. 


“ Kau ingin membayar hutangmu, dan kau sudah menerima tawaranku kemarin, dan sudah kujelaskan semua lampu hijau yang kumiliki kepadamu. Katamu kau tidak menyesal membuat keputusan itu bukan, semoga kau benar benar -  tidak menyesal. “ Sambungnya.


Aku masih diam dan menatapnya kosong saat mendengarnya berbicara, apa? dia ingin memiliku? jika aku tidak salah tafsir maksudnya seperti aku menafsirkan kata katanya dulu.


Dua ingin menjadi bagian hidupku? menjadi pendampingnya?


“ Ke.. kenapa saya.?” tanyaku terbata tanpa menatapnya.


deg


Apa? calon ibu  untuk anaknya? aku? jadi istrinya?


Apa ini namanya lamaran? dia melamarku dirumahnya? omaigat,, apa ini? 


Tiba - tiba mama dan ayahnya pak Arta memasuki rumah


“ Lihat, siapa ini yang datang…. ya ampuun, lama kau tak mengunjungi orangtuamu yang sudah tua ini.” Ucap ayahnya saat memasuki rumah sepulang jogging dengan keringat yang masih mengucur di dahi dan pelipisnya.


Aku menyalaminya dengan senyum yang mengembang walau aku merasa sebal dengan anaknya.


“ Astaga… ini calon mantu ayah? cantik kamu nak.” Pujinya dengn senyum bahagia  saat aku menyalaminya dan dia mengelus rambutku lembut seperti ayah mengelus rambutku dulu.


saat dia melakukan itu aku menjadi teringat ayah dulu yang suka mengelusku dan rasanya tenang sekaligus nyaman diperlakukan ayah seperti itu. 


“ Mbak Hasna.. tolong siapkan minum untuk tamu ya!” Teriak mamanya kepada asistennya.


“ Danu, bisa kita bicara sebentar?” Ajak mamanya sambil menggandeng ayahnya dan langsung berlalu menuju ruangan lainnya.

__ADS_1


“ Saila, tunggu disini sebentar ya , saya mau menemui mama.” Ucapnya lembut dengan senyum khasnya. 


Aku mengangguk dan duduk di sofa ruangan itu. 


Saat itu aku dengar samar samar pembicaraan mereka.


“ Apa kamu sudah tau bibit bebet bobotnya?” tanya mamanya.


“ Iya, Danu kenal sangat dengannya dan keluarganya.” terangnya.


Kenal sangat? dia mengenalku ?


Setelah itu pembicaraan mereka tidak bisa tertangkap dan didengar oleh indra pendengaran ku.


Setelah beberapa lama aku baru mendengar suara mereka lagi.


“ Kenapa kamu memilihnya, banyak wanita lain yang mama carikan untukmu yang lebih baik dari dia, ,semua kamu tolak dan malah membawanya kesini.”


“ Ma cukup, ini hidupnya, dia yang berhak memilih calonnya, kenapa mama ikut camput.”  Sela ayahnya.


“Yah, dia saja broken home seperti itu, bagaimana hidupnya dengan anakmu nanti yah.”


“ Ma kecilkan suaramu.” Perintah ayahnya pada mamanya.


“ Kenapa mama membahas itu, Danu memilih Saila mah bukan mereka yang mama carikan untukku dulu, dia pilihan Danu ma.” jelas Pak Arta pada mamanya.


“ Danu, masa lalunya.” belum selesai apa yang dibicarakan mamanya, ayahnya langsung memotongnya.


“ Kenapa dengan masa lalu, mereka hidup untuk masa depan bukan masa lalu. Belajarlah berdamai dengan masa lalu, jangan selalu mengungkit hal yang lalu.


Kamu lihat anakmu, bagaimana masa lalunya, kau sudah berdamai dengan masa lalu anakmu kan, maka cobalah untuk berdamai dengan masa lalu calonnya.” Terang ayah pak Arta.


Hening beberapa saat, sepertinya tidak ada pembicaraan diantara mereka. 


“ Yasudah.” Terdengar suara mamanya.


" Belum. " jawabnya singkat.


" Apa yang membuat mama belum bisa menerimanya?. " Tanya Pak Arta.


" Mah, mama juga seorang perempuan seperti dia, yang pernah ayah ajak bertemu orangtua ayah kan, coba mama bayangkan kalau mama di posisinya, bagaimana perasaan mama saat ini. " jelas ayahnya kepada mama lagi


“ Mama bisa menerima masa lalunya?” sambung ayahnya.


“ Akan mama usahakan. Tapi mama belum bisa menerima dia masih kecil dia belum lulus kuliah, bagaimana dia memberi kami cucu dan keturunan untukmu?” Omel mamanya.

__ADS_1


" Hahaha, mah masalah itu kehendak Tuhan, serahkan saja pada anakmu ini, setelah itu biarkan Tuhan memberikan titipan pada mereka. " tawa ayahnya benar-benar pecah mendengar hal itu dari mulut mamanya.


Aku yang mendengar pembicaraan itu hanya meringis dan merinding mendengarnya.


__ADS_2