
Deg
Badanku menimpanya, dan matanya masih terpenjam
" Saila, kau milikku. " Rancaunya dengan mata tertutup.
" Pa.. Pak, bapak tidur saja ya, aku pulang." Sautku sambil berusaha lepas dari dekapannya.
" Disini saja. "
" Iya, namun lepaskan saya pak. "
Dengan tiba tiba matanya terbuka perlahan dan mata kami saling berpandangan, entah secepat kilat dia berhasil merubah posisi kami yang menjadikan aku dibawah kungkungan nya kali ini.
Aku takut, sangat takut, kenapa pancaran matanya seperti kilatan hasrat.
Tiba-tiba dia mendekatkan kepalanya dan akan mencium ku, aku berusaha memalingkan wajahku darinya dan berusaha menyadarkannya.
Aku teringat, mana ada orang sadar saat mabuk, namun aku juga masih berusaha menyelamatkan diri dari manusia satu ini, harga diriku menjadi taruhannya.
Tiba-tiba kepalanya terjatuh dan kepalanya dia benamkan dicuruk leherku. Geli rasanya, merasakan hembusan nafasnya yang hangat di leherku membuatku merinding, sangat merinding.
" Pak, bapak pindahlah tidur ke kamar. "
" Hem, apa? Kamu menggodaku?. "
Deg apa? Tidak bambang, mana ada menggoda astagaaa, aku menyelamatkan diri.
" Kalau kamu mau kita ke kemar ayo. " Jawabnya dengan posisi tetap seperti tadi.
Jantung ini berdebar semakin kencang mendengar hal itu, sangat takut aku saat ini.
" Bu bukan pak, bapak yang tidur di kamar. "
Namun tak ada jawaban darinya, ternyata dia tertidur disana.
Oh Tuhan, aku harus bagaimana, dengan posisi seperti ini aku tak kuat membawanya ke kamar, memang badannya sudah bergeser sedikit dan tidak terlalu menimpaku, namun posisi kepalanya menyilang di curuk leherku di sisi satunya, Ampun aku takuttttt.
Aku tidak kuat memindahkan dia, bahkan mengeluarkan diriku dari kungkungannya aku tidak kuat.
Air mataku menetes dengan deras disana, benar benar aku seperti murahan,
Andaikan tadi dia benar menciumku, dia lebih buruk dari mas Fandi, dia bangsat.
Berilah bala bantuan Tuhan.
Saat kungkungannya melemah, aku berusaha menyelamatkan diriku, berusaha keluar dari kungkungan tersebut . Dan akhirnya berhasil juga.
Namun aku bingung, bagaimana aku pulang, ini tengah malam, daerah sini tidak ada taksi.
Dan hanphoneku, sialnya, masih dalam mode tidak ada sinyal karena hacker tadi.
Aku berusaha mencari handphone pak Arta, namun naas handphonenya tersandi,
Ada komputer disana namun bagaimana caraku memesan taxi online dengan komputer itu.
Astaga pusing aku dibuatnya. Tidak mungkin kan jalan kaki ke kosan, jaraknya lebih dari 20 kilo ya ampun.
Akhirnya aku mencari google maps disana, bodohnya aku, wifi rumah ini mati. Astagaaaa pusing banget memikirkan cara pulang.
Dengan terpaksa, aku nekat jalan kaki. Lebih baik jalan kaki dibanding harus serumah dengan pria ini.
Ya, aku jalan kaki tengah malam, sepi, gelap menakutkan. Dengan nekat pula aku melewati sembarang arah supaya segera mendapat bantuan.
Naasnya lagi, baru berjalan keluar komplek ada pengganggu jalanan, sial.
__ADS_1
" Mba cantik tengah malam jalan sendirian, mau ke nama, sini sama abang, abang temenin"
Duh semakin merinding aku melewati tempat ini, walau dengan keberanian sebanyak apapun yang ku kumpulkan, aku gemetar takut dan ingin menangis rasanya.
Mereka menghampiriku dan akan mencolekku, aku tak kuat berlari karena sudah gemetar, bagaimana ini, aku takut Tuhan.
" Maaf, bisa kalian menjauh, saya mau pulang. "
" A elah jangan judes judes lah mbak, mau kemana sih malam begini" Goda mereka.
" Mas, minggir ya, saya mau pulang. " Dan salah satu pemuda berhasil mencekal tanganku.
" Mas lepaskan!! " Teriak ku
" Halah sok jual mahal mbak "
Kata sok jual mahal itu kata yang menjadi traumaku kata itu juga yang diucapkan mas Fandi.
Aku berteriak semakin keras dan tiba-tiba pak Arta menendang salah satu dari mereka.
" Lepaskan dia atau kalian habis. " Ucap pak Arta dengan garang.
Kudengar bisikan dari mereka.
" Lepas aja lah, mantan kelompok B dia."
Kemudian mereka pergi meninggalkan kami.
Aku takut dengan pak Arta, masih teringat kejadian tadi dirumahnya, aku takut terjadi lagi.
" Siapa suruh keluar rumah malam? "
Aku masih terdiam disana dengan posisi sama dengan tadi tidak berubah sedikit pun.
" Ayo balik kerumah. "
" Ayo Saila. "
" Tidak, saya mau pulang. "
Aku heran, tadi dia mabuk berat, kenapa dia terlihat baik baik saja? Bahkan bisa jalan dengan benar.
" Besok saja. "
" Tidak. "
" Kenapa kamu bandel sih. " Omelnya
" Karena bapak juga, mana ada wanita yang tidak takut dengan bapak setelah bapak bertindak seperti itu kepada ku! kecuali wanita murahan, iya saya tau anda mabuk, tapi saya takut. " Omelku panjang.
Aku takut berbicara dengannya sebenarnya namun aku beranikan diri untuk menjawabnya.
" Maafkan saya, besok saya antar pulang. "
" Tidak, saya takut terjadi lagi. "
" Saya jelaskan apa yang terjadi dirumah"
Lagi lagi aku masih mematung di tempat, tidak bergerak atau menjawabnya.
Tiba tiba dia membopongku ala bridal style. Sumpah, jantung ini sudah tidak sehat, seperti akan keluar dari sarangnya, berdebar kencang sekali di gendong seperti ini ya ampun.
" Pak! Turunkan saya! "
Namun tak ada jawaban darinya.
__ADS_1
" Pak, mohon turunkan saya. "
" Jangan buat ulah, posisimu tidak aman, kamu dalam bahaya, patuhi perintahku. Akan aku jelaskan dirumah" Jelasnya.
Karena malas berdebat aku mematuhi perintahnya, dia menggendongku hingga sofa yang dia tiduri tadi.
" Duduk"
Aku duduk menuruti petintahnya
" Dengarkan aku. Kamu sekarang dalam bahaya. "
" Kenapa pak? Kenapa… . "
" Fandi masih mengincarmu, dia masih memantaumu,dia akan mencelakaimu, hanya disinilah tempat teraman sekarang. "
Deg. Fandi. Si brengsek. Ternyata masih berurusan dengan nya.
" Aku tau, banyak pertanyaan dikepalamu, tanyakan saja akan ku jawab"
Sebenarnya banyak pertanyaan di kepala, namun entah mengapa yang menjadi topik di kepala ku adalah kenapa mabuknya bisa pulih dengan cepat ?
" Kenapa bapak pulih dari mabuk dengan cepat? seperti akting saja, menyebalkan. Merepotkan sekali membawa bapak dari teras ke dalam, berat asal anda tau. dan kejadian yang tadi, hish, Cih, menyebalkan"
" Pembuktian, ternyata benar, kau mahal. Tadi aku masih terbawa mabuk sedikit. "
" What the! "
" Lihat, Fandi salah kan, jika kau murah, dengan Perlakuanku seperti itu kau mau kan. Tapi kau mahal. "
" Licik sekali caramu pak, aku ingin marah kepada Anda karena telah melecehkan ku! "
" Maaf, maafkan aku, iya saya tadi mabuk tapi sudah mendingan"
" Cih, keterlaluan "
" Saya jelaskan. Fandi mangincarmu, kos mu, rute pulangmu apapun itu diawasi olehnya, bodohnya kamu kenapa menyusul ku, cari bahaya saja. Jika tertangkap olehnya kamu tidak akan bisa kembali. Dia akan menjualmu ke luar negeri. Sekarang, kantor pun jadi incarannya, ponselmu dimatikan oleh hackerku supaya dia tidak melacakmu. Dan sebenarnya kau tadi sudah masuk di sarangnya Fandi, bodohnya. "
" Sarang? Dimana? "
" Bar, bar adalah tempat berkumpulnya suruhan Fandi jika mereka melihatmu kau sudah tamat."
Sial, ternyata benar mas Fandi berbahaya.
" Kenapa bapak ke bar? "
" Orang suruhanku ada di bar yang sama dengan mereka, dan apakah saya tidak boleh bersenang senang di bar? Hahah. "
" Cih. "
" Akan saya selesaikan urusanku dengan Fandi, kau disini seminggu, tidak perlu kekantor. "
" Apa? seminggu? "
" Tenang, saya tidak disini, akan saya kirim pembantu menemanimu disini. "
" Kenapa seminggu? "
" Kenapa kau lemot sekali. Dengar, dalam waktu seminggu akan aku urus dia, paham!? "
" Hem, paham pak. " Jawabku singkat.
" Kenapa kamu kabur, mau pulang ? "
" Ya menurut bapak? Saya takut dengan anda, tindakan anda keterlaluan kepada saya. "
__ADS_1
" Kau berhutang sangat banyak kepadaku, akan saya tagih lain kali kepadamu. " Olehnya sambil berlalu menuju pantry di sebelah ruang tengah ini.
" Apa? Kenapa sama saja dengan mas Fandi, kenapa aku harus berurusan lagi dengan penagih hutang seperti ini, sial" Gerutuku dengan nada tidak terlalu keras.Yang mungkin masih bisa didengar olehnya.