
Kaget dengan keberadaannya yang tiba-tiba di sampingku, dengan cepat aku berdiri dari dudukku dan bersiap untuk pergi.
“ Kenapa kaget gitu kayak lihat hantu saja, menghindariku sekali rupanya kamu,duduklah dulu lihatlah Arta sedang menuju kemari untuk menjemputmu.” ucapnya dengan santai sambil menyalakan rokoknya.
“ Kenapa mas disini?” Ucapku dengan posisi masih berdiri disana.
“ Memang tidak boleh? hei ini tempat umum bukan milik nenekmu.” Ucapnya tanpa melihatku dan asyik mengepulkan asap dari puntung rokoknya.
Namun tiba-tiba aku melihat dari pantulan mobil orang ada beberapa orang dari belakang menuju kearahku, sepertinya aku pernah melihatnya, kalau tidak salah itu adalah gerombolan yang menggangguku tempo hari saat aku kabur dari rumah pak Arta.
“ Tak mungkin kau kesini tanpa rencana.” Ujarku padanya dengan geram.
“ Akhirnya kau tau juga, lihat sebentar lagi orang tuanya akan menyalahkanmu, kau akan hancur.” Ucapnya seraya berdiri dan berjalan mendekati pak Arta yang mereka akan berjalan berpapasan.
Aku yang nampak segerombolan orang mulai mendekat ke arahku dan dia yang mungkin akan dicelakai oleh mas Fandi secepat kilat aku berteriak.
“ Mas menjauhlah dia akan melakukan sesuatu kepadamu.” Ucapku berteriak kepada Pak Arta dari jauh yang nampak dia juga sedang memerhatikan ucapanku.
Segerombolan orang semakn mempercepat langkahnya kepadaku dan aku semakin mendekat ke arah pak Arta, dengan berlari kencang sekuat tenagaku akhirnya aku jatuh di pelukan pak Arta pas disamping Mas Fandi,
Aku melihat kebawah pisau yang dibawa mas Fandi mengucur darah dari sana aku kaget dan terisak.
__ADS_1
“ Mas, kau terluka? kau tak apa? darah mas.” Ucapku dengan derain air mata yang menetes.
Nampak sepertinya Mas fandi berlari kencang menjauh dari kami.
“ Tidak, tidak, aku tak apa.”
“ Mas, kau berdarah.” Ucapku sambil mengangkat tanganku yang telah berbalur dan berlumuran darah.
“ Bukan, bukan aku sayang, kau yang terluka.” ucapnya lembut dan aku seperti kehilangan tenaga lemas terduduk di pelukannya dengan kondisi setengah sadar.
“ Bertahanlah Saila, kau kuat, jangan tutup matamu, kumohon.” Ucapnya dengan penuh harap tanpa melepas pelukannya padaku.
Dia nampak semakin berseri, aku melihat banyak orang bergerombol mendekati kami namun suara yang berhasil ku tangkap hanyalah suaranya, suara seraknya yang tertangkap telingaku, banyak harapan keluar dari mulutnya saat dia mendekapku, entah mengapa rasa sakit di perut semakin perih namun saat melihat wajahnya perih itu sedikit hilang. Aku tersenyum padanya.
“ Tidak, jangan tersenyum seperti itu Saila, kau kuat kau baik-baik saja, bertahanlah sebentar aku akan membawamu ke Rumah Sakit.” Ucapnya dengan penuh kekhawatiran.
“ Kumohon Saila bertahanlah, jangan tutup matamu sayang, lihatlah aku.” Ucapnya dengan air mata yang menetes dari matanya meluncur mulus di pipinya.
“ Hei, Danuarta menangis, apa yang kau tangisi, aku tak apa.” Ucapku dengan meraih tangannya yang berada di perutku yang terluka saat aku sudah berada di dalam ambulans.
“ Ya benar, kau tidak apa-apa Saila, tidak akan terjadi sesuatu padamu, maka ku mohon bertahanlah sebentar oke, nanti kita bertemu lagi saat kau sudah lebih baik-baik saja dari ini, bertahanlah kumohon.” Ucapnya dengan tangis yang menjadi.
__ADS_1
aku hanya tersenyum mendengar segala celotehnya segala harap dan tangisnya bahkan genggaman hangat tangannya pun sangat menenangkan.
“ Nanti setelah kau sadar kita dinner ya, akan aku siapkan dinner termahal untuk kita.”
“ Kau ingin bertemu Mas Aqil? iya nanti aku panggilkan Mas Aqil kesini untuk menemuinmu, aku akan bilang adeknya sangat rindu dengannya.”
saat aku menutupkan mata terdengar dia meneriaki sopir ambulans untuk mempercepat laju kendaraannya dan berteriak kepada entah dokter atau perawat yang sedang menemami kami.
“ Tolong periksa dia secepatnya, ada apa dengan dia, tolong selamatkan dia, pake pertolongan pertama atau apapun itu, kumohon lakukanlah sesuatu padanya, tolong selamatkan dia.” begituah teriaknya dan genggaman tangannya semakin kuat dengan tanganku.
“ Pak tolong tenanglah, 5 menit lagi kta akan sampai Rumah Sakit.” ucap salah satu perawat.
“ Kumohon lakukanlah sesuatu untuk dia, tolong selamatkan dia, lihatlah dia kesakitan.”
" Iya pak, saya mohon bapak tenang, akan segera kami tindak saat sudah sampai Rumah Sakit.”
dan entah tiba-tiba semua terasa hening, dingin, gelap dan suara-suara ramai serta suara sirine yang memekakkan telinga tadi sudah tak terdengar lagi di telingaku, bayangan dan genggaman pak Arta pun sudah tak terasa olehku, yang terasa hanyalah dingin dan semakin dingin, berbagai kelebatan bayangan indah menghampiriku seperti video yang diputar diotakku, gambaran masa masa indah dengan mas Aqil dan ayah bunda, kenangan kenangan indah berputar disana, hingga sampailah aku kenal dengan Pak Arta, setelah itu aku hanya melihat kehidupanku dengannya di masa depan, entah itu halusinasi,mimpi ataukan aku memang sudah berjalan jalan di surga? namun aku hanya melihat sisi indahku dengannya, hanya indahnya tidak ada hal yang menyakitkan dan menyesakkan apa lagi luka yang dia torehkan, dia nampak seperti orang paling bahagia di muka bumi ini. karena senyumannyalah entah mengapa aku memiliki tekad untuk segera pulih dan melihatnya.
entah karena kuat harapannya aku semakin ingin segera membuka mataku dan bertemu dengannya.
__ADS_1