
Seminggu dirumah ini gabut banget, aku isi kegabutan dengan rebahan, makan, mandi, nonton, seperti itu terulang setiap hari, sangat gabut dan membosankan .
Pak Arta tidak memperbolehkanku keluar dan main handphone. Tapi fasilitas lumayan lengkap disini, sedia wifi sama smart TV setidaknya lumayan buat ngisi kegabutanku.
Mbak yang menemaniku juga enak banget diajak ngobrol, nampak dia terlihat masih muda, mungkin diatas pak Arta sedikit.
Selama seminggu ini pula pak Arta tidak pernah sekalipun kesini, bahkan sekedar menghubungi pun tidak pernah. hanya berkabar dengan mbak Asih di telepon.
Teman yang bisa aku ajak berbicara hanya mbak Asih ini.
" Mbak, sudah lama kerja dengan pak Arta?" Tanyaku padanya.
" Lumayan sih mba, paling 8 tahunan, saya kerjanya sama bu Ratna , itu lo mamanya den Arta "
" Oh, memang rumah mamanya dimana mba? "
" Di Bandung mba. "
" Em, kalau boleh tau, gimana sih pak Arta itu? ."
" Aduh, aden itu baik banget, tapi saya ngga begitu kenal banget soalnya waktu saya kerja dia kuliah di luar kota terus kerja disini, jadi ketemu paling cuma beberapa harian kalo pas pulang gitu doang. "
" Tapi, baru kali ini saya lihat Aden baik banget sama perempuan neng hehe, sebelumnya gapernah sama sekali, pernah tuh marahan besar sama bu Ratna gara gara ibu maksa aden nikah dengan wanita yang dipilih ibuk, akhirnya malah ada konflik sama si keluarga wanita dengan ibu, terus aden jarang kerumah. " Sambungnya.
Apa jangan jangan dia ingin menikahiku karena mamanya yang mendesak untuk menikah ya?, tapi masak iya sih. Duh suka overthinking.
" Kapan emang mbak? " Tanyaku kepo
" 2 tahun lalu deh kayaknya"
2 tahun , itu waktu yang lama, tidak mungkin dia menawari hal seperti itu kepadaku setelah pertengkarannya dengan mamanya 2 tahun lalu, tapi mungkin juga jika dia dipaksa lagi.
Setelah aku ngobrol dengan mbak Asih terdengar bunyi bel rumah dibunyikan
" Tumbenan rumah ini ada yang bel, jarang jarang ada tamu, bentar ya non saya bukain pintu dulu. "
" Ah iya mbak. "
Tak berapa lama setelah mbak Asih membukakan pintu terdengar seperti suara yang pernah aku kenal, sangat familiar,samar samar seperti suara mas Aqil. Tapi kenapa juga dia kesini, kan dia gatau aku disini. Gamungkin dia kesini.
Tiba-tiba mbak Asih memanggilku
" Non, ada yang nyariin non. " Panggil mba Asih.
" Iya mbak, saya kesana" Jawabku agak keras.
Saat sampai ruang tamu, nampak lelaki yang duduk di sofa tersebut, benar saja itu mas Aqil. Dengan perasaan kaget dan bahagia aku menghambur ke pelukan mas Aqil dan menangis disana.
" Dek, kenapa kamu? " Ucapnya dengan lembut sembari mengelus rambutku dengan kasih sayang.
" Kangen, mas kemana selama ini? Aku sendirian mas" Adu ku dengan menangis terisak di pelukannya.
__ADS_1
" Maafin mas, maafin mas ninggal kamu sendiri, pasti kamu susah selama mas gaada, maaf ya, kamu jadi harus dipaksa mandiri karena mas tinggal " Ucapnya lembut.
" Tapi mas, bagaimana mas tau aku disini? " Tanyaku sembari melepas pelukanku untuk menatap wajahnya.
" Aku bertemu atasanmu, katanya kau disini. "
" Pak Arta? "
" Iya"
Bagaimana dia ketemu pak Arta, kenapa bisa tau?
" Tunggu, mas siapanya pak Arta" Tanyaku penuh selidik.
" Kamu magang disana kan, mas tanya atasannya lah"
" Ila, ikut mas ya" Sambung mas Aqil.
" Kemana mas? "
" Jauh, yang penting kamu jauh dari negara ini "
Negara? Dia bilang jauh dari negara ini, berarti ke luar negeri dong
" Jauh dari Negara? Mas mau ajak ila ke luar negeri? Kenapa? "
" Biar mas bisa pantau kamu, mas gamau kamu dijadikan tempat kredit ayah. "
" Ayah kredit atas namamu, mas gamau kita masih berhubungan dengan ayah, dia akan merepotkan mu disini, dia juga menjadikan mu bahan taruhan, kamu yang akan terkena imbasnya Ila, sudahlah nurut sama mas. "
" Tapi, bunda disini mas. "
" Bunda aman disini Ila, Mas ingin amankan mu. " Jelasnya lembut seperti biasa saat dia menghiburku dulu.
" Saya yang akan menjaga Saila. " Tiba tiba terdengar suara laki laki yang tidak salah lagi dia adalah pak Arta. Dengan cepat kami menoleh ke arah sumber suara tersebut.
" Saya yang akan menjamin keamanan Saila." Ucap pak Arta lagi.
" Arta, cukup, aku tidak ingin merepotkanmu lagi. " jawabnya sambil melonggarkan pelukanku
" Bisa kita bicara diluar mas Aqil? " Ajak pak Arta kepada mas Aqil.
Kemudian mereka berdua berjalan keluar dan berbicara disana, dan aku masih mengolah kejadian yang baru saja aku hadapi ini.
Kredit? taruhan ? merepotkan Arta lagi? Apa maksud semua itu?
Adakah kejadian lain atau hal yang akan membahayakan ku lagi?
Adakah kedekatan antara mas Aqil dengan pak Arta?
Samar samar aku mendengar ada kata kata yang berhasil ditangkap telingaku. hanya beberapa kalimat atau kata yang berhasil kudengar, samar samar namun sedikit jelas.
__ADS_1
" Aku akan membantu memberinya peringatan qil. "
" Tidak Arta, jangan terlalu jauh. "
" Ijinkan aku terlalu jauh memasuki keluarga kalian qil. "
" Arta, apa maksudmu? Aku tidak ingin merepotkan mu lebih banyak, sudah cukup kau membantu ku.aku akan bawa dia jauh dari negara ini "
" Dia tidak mau qil. "
" Akan aku paksa, dia tidak boleh disini. "
" Kalau karena masalah ayahmu, aku akan bantu kau lagi sekali ini. "
" Oke,, sekali ini, kau akan membantu aku apa Arta? "
" Ijinkan aku menjaganya dengan memberimu bantuan apapun, itu satu paket. "
" Itu tidak satu, itu banyak Arta. "
" Itu tawaran satu paket qil, menjaganya berarti membantumu juga kan, termasuk menyingkirkan semua yang membahayakannya kan. "
" Oke kalau begitu. Dengan kau menjaga adikku setidaknya aku sedikit lebih tenang. "
" Ijinkan aku menjaganya selamanya. "
Deg.
Kalimat itu
Ijinkan menjaga selamanya? What the..
Kalimat itu ambigu sekali,banyak makna mengenai kalimat itu, jangan Ila, jangan mendefinisikan kalimat pak Arta seenakmu, sering kan kau salah mendefinisikan kalimat pak Arta, mungkin arti perkataannya bukan sepeti yang ku bayangkan.
Oke positif thingking Ila.
Saat mendengar langkah kaki mereka mendekat, aku segera duduk di tempat ku semula.
Dan mas Aqil membuka percakapan.
" Ila, kalau begitu mas pamit, baik baik disini. Jika kau butuh mas tanya pada Arta, dia akan membantumu. "
" Mas, mas mau kemana? "
" Mas mau pergi Ila, baik baik ya disini, maafkan mas" Ucapnya sambil memelukku dan mengelus kepalaku. Terasa nyaman sekali dipelukannya, aku rindu dekapan hangat mas yang menenangkan,, namun aku tak berani bertanya kemana dia pergi, karena pasti jawabannya hanya pergi.
Setelah mas pergi pak Arta berkata
" Dia sudah mengijinkan saya Ila" Sambil berlalu berjalan masuk ke rumah.
Apa? Mengijinkan apa?
__ADS_1