Hati Untuk Saila

Hati Untuk Saila
SAILA. eps 13


__ADS_3

Kenal hanya sebatas atasan dengan mahasiswa magang, terus tiba-tiba dia terlibat banyak dalam permasalahan hidupku, tiba-tiba juga dia mengajakku kerumahnya dan mengenalkan sebagai calon mantu. Wah ternyata bakat turun munurun ini. 


“ Bakat turun menurun. ” lirihku yang mungkin hanya didengar oleh pak Arta.


Tiba-tiba setelah dia mendengar apa yang kuucap, dia merangkul pinggangku dan menarikku mendekat padanya.


Aku tersentak kaget karena ulahnya itu, ku palingkan wajahku menghadapnya dan menatapnya dengan isyaat supaya jangan macam macam dan membuatku malu disini.


Namun hanya senyum manis yang dia berikan padaku. Oh my God, ini orang ngeselin banget sih ulahnya. 


“ Kami kenal dikantor yah, dia mahasiswa magang di divisi Danu.” Terangnya pada ayahnya. 


“ Wah, menarik juga kisah kalian, Danu kalau kamu serius dengannya segeralah temui orangtuanya. Ayah yakin kamu gentle oke ma bro.” Jjar ayahnya dengan nada anak muda.


What? apa? orangtua ku? astaga, kejutan apa lagi untukku di hari ini, banyak sekali hal yang mengejutkan dan tak terduga. 


“ Tenang yah, Fanu akan segera menemui orang tua Saila. Tunggu ya yah, siap-siap persiapkan rombongan untuk lamaran.”


“ Beres lah Danu, yang penting temui dulu orangtuanya, urusan itu biar ayah sama mama yang urus, jaga dia baik-baik ya jangan sampe lepas. “ Terang ayahnya dengan senyuman yang merekah lebar.


Astagaaaa apalagi ini. sumpah gatau lagi aku dengannya dan diriku hari ini. Aku capek menghadapi hari ini.


Kuputuskan untuk hanya tersenyum dan menjawab seadanya yang sekiranya tidak menjatuhkanku atau dirinya. Lihat pak usahaku untuk tidak membuatmu malu didepan orangtuamu, saya menghaargai anda. Lihat saja nanti, siap-siap saja nanti aku bakal ngambek. 


“ Yuk semuanya makan, sudah siap makanannya.” Teriak mamanya dari arah dapur. 


Kemudian dengan segera ayahnya berdiri dan mengajak kami untuk bergabung makan siang bersama.


Aku masih mematung ditempat dan tiba-tiba tanganku digandeng dan genggam olehnya dan diajaknya menuju ruang makan. 


Hening, sepi , dan canggung. Hanya ada suara dentingan suara sendok dan garpu yang beradu di atas piring. Kelihatannya keluarga ini menerepkan peraturan tidak berbicara saat makan.


Setelah selesai makan mereka mulai berbincang kembali.


“ O ya,  Avia akan ke Jakarta minggu depan , dia katanya mau ada tugas kampus disana. Bisa kan dia dirumahmu selama seminggu ?” ujar mamanya


“ Bisa mah, perlu Danu jemput kapan?”

__ADS_1


“ Biar dia saja yang kontak kamu.”


Avia?, siapa dia? pacar? mantan? saudara?


“ Dia adikku. ” Bisiknya di telingaku. Aku terkejut ketika dia berbisk di telingaku.


" Saya tidak tanya. ” Bisikku balik padanya dengan nada dingin. 


“ Oh ya, kita pamit pulang dulu mah, yah.” Pamit pak Arta


“ Kenapa buru-buru sih, nanti agak sorean aja, masih panas nih siang-siang.” cegah ayahnya


“ Sebentar, mama bawain makanan dulu ya.” Ujar mamanya sambil melenggang menuju dapur.


“ Danu mau ada urusan yah, mumpung agak senggang gini pas buat bawa Saila ke rumah” terang pak Arta sambil menyeruput minumannya.


Aku, hanya diam mendengar perbincangan diantara mereka, sang atasan ini, biarlah dia melakukan dan berucap apa yang dia mau dulu.


Entahlah mereka berbincang mengenai urusan kantor dan kesibukan masing-masing, aku hanya menjadi pendengar setia disini yang lebih tidak tahu dan paham mengenai pembicaraan mereka sih, lebih baik diam karena disini aturannya aku yang ngambek sama pak Arta dong.


Tak berapa lama mamanya keluar membawa bungkusan makanan yang dikantongi dengan paper bag dan menyerahkannya pada pak Arta.


“ Hehe iya iya ma, Danu akan sering- sering kesini kan dah ada Saila.” Ucapnya dengan cengengesan, namun raut wajah mamanya datar saja mendengar ocehan pak Arta itu tidak macam ayahnya yang entah dari tadi terlihat bahagia sekali. 


Entah karena memang pembawaan dan karakter ayahnya yang humble atau memang dia bahagia kali ini, 


“ Danu sama Saila Pamit ya mah yah.” Ucapnya sambil menyalami kedua orantuanya, dan aku menyalami mereka setelah pak Arta, tak lupa dengan senyum lebarku yang ku pertahankan tadi.


“ Sehat sehat ya nak Saila.” Ucap ayah pak Arta sambil mengelus kepalaku lembut.


Ya ampun rasanya seperti ayah, benar-benar aku seperti merasakan kasih sayang ayah kali ini. Yah jadi mellow deh, 


“ Iya om.” Ucapku lugu dan senyuman yang mengembang dibibir. Dan dia membalas senyumku dengan lebih lebar dan terlihat sangat bahagia. 


Saat sudah duduk di samping kemudi cemberutku mode on dan dia duduk di kursi kemudi dengan perasaan bahagia mungkin, karena nampak dia begitu hangat dibanding biasanya. 


Mobilnya mulai melaju melewati komplek perumahan rumahnya dan aku hanya diam daritadi.

__ADS_1


“ Apa rencana bapak? ini akting kan?” Ucapku tiba-tiba karena aku tidak betah diam dengan menyimpn beragam pertanyaan, terlalu gatal bibir ini untuk tidak bicara saat tumpukan tanda tanya berkumpul di kepala. 


“ Rencana? hem, menikahimu.” Ucapnya santai dengan tetap fokus menyetir.


“ Bapak jangan bercanda.” Ucapku mempertegas kalimat.


“ Apa? apanya yang bercanda? nampak daritadi bercanda?” Tanyanya bingung dengan menatapku sebentar dan kembali fokus pada jalanan.


“ Pak, apa masuk akal sih, secepat ini? sebenarnya apa tujuan bapak?” Ucapku dengan nada lebih tinggi sedikit dari sebelumnya.


“ Tujuan?”


“ semakin kesini saya rasa semakin tidak masuk akal saja pak. “ protes ku padanya sambil kupalingkan pandanganku ke jendela mobil.


“ Apa maksudmu Saila?.” Tanyanya heran sambil berusaha menepikan mobilnya di bahu jalan.


“ Anda pasti tau maksud saya, anda juga tau trauma saya.” Ucapku memelan dan meunduk.


“ Saila dengar, kau sudah mendengar semua alasanku bukan, apa yang masih meragukanmu. Dengar saya tidak seperti Fandi, saya benar-benar serius denganmu. ” Jawabnya mantap dengan nada halus


“ Jangan berucap seperti itu pak, dia mas Fandi juga berkata seperti itu, nyatanya apa?.lebih baik bapak sampai disini saja.” Ucapku sambil menatap wajahnya yang menghadapku 


“ Kau sudah menemui orangtuaku, nampakkah aku ada maksud tersembunyi?” Tanyanya dengan nada makin halus dari sebelumnya dan memandangku degan tatapan yang mirip dengan tatapan mas Aqil ketika menenangkanku saat marah. 


Entahlah setiap kali aku ingin marah dengan seseorang jatuhnya bukan marah namun menangis, lebih dahulu terasa sesak karena menahan air mata dibanding ingin marah.


Dada ini semakin sesak, tak kuat mata ini membendung air mata yang sudah ingin keluar dari kelopak, sekuat tenaga aku menahan air mata ini supaya tidak jatuh. 


“ Pak, saya belum mengenal anda. Untuk maju ketahap lebih serius saya takut pak.” Ucapku bergetar.


Seketika dia meraih tanganku dan menangkupnya dengan kedua tangannya dan dielus lembut punggung tanganku. 


“ Saila, maaf saya telah memaksamu. Tenang, saya juga akan menunggu kesiapanmu, jangan takut.” ucapnya dengan nada yang menenangkan.


“ Jujur selama ini saya bertanya tanya, apa tujuan bapak? dan kenapa saya? banyak wanita diluar sana seperti yang mama anda bilang, saya terlalu toxic untuk anda, saya wanita yang berantakan pak.” ucapku dengan nada yang semakin bergetar.


“ Hei, kamu tidak toxic, semua orang memiliki masa lalu kan, dan kamu juga sudah mengenal mengenai masa lalu saya, lantas apa yang masih meragukanmu. Daya berani bersumpah saya serius denganmu Saila.” Terangnya dengan sorot mata yang selama ini ku kenal, yaitu sorot mata yang selalu mas Aqil tunjukkan saat dia akan pergi dan saat takut kehilangan bunda dan aku.

__ADS_1


Deg, bersumpah? apakah dia benar-benar serius denganku? ataukah ini hanya kalimat para buaya yang sering didengar oleh para wanita?


__ADS_2