Hati Untuk Saila

Hati Untuk Saila
SAILA. eps 4


__ADS_3

Saat tiba di depan komplek gang, aku segera turun dan berpamitan pada pak Arta, tak lupa ucapan terimakasih karena telah merepotkannya hari ini. Tak disangka ternyata mbak Anna ikut turun juga.


Saat sudah berdampingan dengan mbak Anna, beragam pertanyaan ku lontarkan padanya,


“ Mbak, kenapa ikut turun, bukannya rumah mbak bukan di daerah sini?”


“ Yah, perintah bapak”


“ Lah kenapa?”


" Takut terjadi apa apa mungkin denganmu. ” jawabnya santai


“ Tapi, ntar mbak kalau pulang juga bahaya, mbak juga perempuan”


“ Alah, santai aja, aku dijemput sama adekku kok ahahah”


“ Tapi btw, mbak dengar pembicaraanku dengan pak Arta tadi?”


“ Itu sudah biasa, mungkin dengar, tapi hanya akan aku simpan sendiri. ” jawabnya padaku.


“ Berarti mbak tau?” tanyaku memastikan.


“Em, ya tahu, tapi itu bukan jangkauan dan urusanku, hanya aku anggap hiburan lah ya. ” jawabnya santai dengan senyum manisnya. 


Tak berapa lama jalan kita sampai didepan kosan bersamaan dengan adek mbak Anna datang. 


" Oh ya, aku pulang dulu, kamu jaga diri baik baik ya, see u. "


" Makasi banyak ya mbak hari ini, hati hati dijalan mbak. " 


lambaian tangan kami menjadi pamungkas pertemuan kita hari ini.


Saat aku membuka pintu kos langsung ku rebahkan diri ini diatas kasur lantai yang empuk. Rasanya capek banget melewati hari ini dimana masa lalu yang membuat aku trauma datang lagi dengan kesan seperti itu. 


Teringat dulu saat pertama kali aku kenal dengannya disaat aku hancur akan hidup, dan dia harapanku saat itu, namun nyatanya sama saja, dia menjadi bagian penghancur hidup dan harapan yang sudah aku bangun untuk kami. 


Saat itu aku bekerja part time karena keadaan keluarga yang sedang kurang baik baik saja, saat dimana setiap malam hanya ada tangisan dan teriakan yang terdengar oleh telingaku. Saat itulah aku merasa hancur melihat keadaan keluargaku yang dulu kubanggakan dan nyaman, namun saat itu mengerikan. Karena itu pula aku takut dengan teriakan. 


" Ayah bangsat!! " Teriak mas Aqil dengan keras di ruang tamu dimana ada ayah dan bunda. 


" Jaga mulut mu nak, gabaik seperti itu dengan orangtua" Cegah bunda dengan isak tangisnya yang terdengar menyakitkan. 


" Bunda, gausah ikut campur aku dengan ayah, ayah ini keterlaluan, siapapun termasuk ayah berani menyakiti bunda aku yang akan maju bunda! " Teriak mas Aqil dengan nada menyimpan emosinya. 


" Kurang ajar, anak kurang ajar harus diberi pelajaran! Anakmu keterlaluan fitri! " Teriak ayah tak kalah keras dengan teriak mas Aqil sambil melayangkan tangannya hendak menamparnya.

__ADS_1


" Mas jangan!! " Teriak bunda mencegah ayah menampar mas Aqil dengan memegang tangannya. 


" Jangan sakiti anakku, tolong, sakiti saja aku mas" Pinta bunda dalam tangisnya. 


" Ayah sudah sakiti bunda seperti itu lebih baik sekalian saja buang kami, hiduplah bahagia dengan selingkuhan ayah si jalang itu. " Ujar mas Aqil dalam emosi yang terdengar seperti ditahan  sambil berjalan mendekati bunda dan menjauhkannya dari ayah. sebenarnya aku tau mas hanya menahan amarah karena bunda, jika bukan karenanya sudah pasti ayah dan


mas akan bertengkar hebat.


Aku, aku hanya melihat mereka dari pintu kamar dengan tangis dalam diamku. Sakit rasanya melihat pertengkaran keluarga seperti ini, keluarga yang dulu ku banggakan hancur hanya karena ayah selingkuh.


Jujur, aku sangat kecewa dengan ayah yang dulu aku idolakan. 


" Sudahlah, fitri! Urus anakmu dengan benar, anak kurang ajar! " Ujar ayah sambil membuka pintu hendak keluar rumah. 


" Ayah jan**k!! " Teriak mas Aqil dengan keras dan emosi sambil menendang apapun yang ada di sekitarnya.


Bunda, bunda hanya menangis, tak kuasa dan tak berdaya. 


Sejak saat itu, aku hancur, dan keluarga ku sudah tidak harmonis.


Mas Aqil yang setiap hati selalu memaksa bunda melayangkan gugatan cerai dan bunda yang selalu saja menolaknya sebelum ayah jatuhkan talak pada bunda. 


Sejak itu aku putuskan mencari ketenangan dengan kerja part time dan kenal dengan mas Fandi sebagai customer langgangan. 


Tiba tiba hal mencengangkan kudengar dari mulutnya


" Saila, ayo menikah. " Ajaknya dengan serius saat didalam mobilnya. 


Kaget? Jelas, sangat kaget. 


"Apa mas? Hahah mas jangan becanda, aku belum lulus kuliah mas"


" Tidak, coba lihat, adakah terlihat aku bercanda? " Ucapnya sambil memutar kepalanya menghadap ku. 


Ku cari kebohongan di manik matanya, namun dia terlihat tulus. 


" Mas, aku belum lulus kuliah. "


" Tak apa, aku bisa bayar biaya kuliah kamu"


" Em, coba Saila pikir dulu ya mas" 


" Okkey, aku tunggu ya Saila sayang" 


Entah mengapa kata kata itu seperti terdengar tulus dari mulutnya dan pertama kali aku mendengar kata sayang dari orang lain. 

__ADS_1


Bahagia? Jelas. Aku mulai membangun banyak harapan hidup kembali karenanya, aku seperti menemukan hidupku kembali setelah aku hancur. 


Namun setelah itu 2 minggu lebih tiada kabar darinya. Yang bisa dibilang di Goshting, sama sekali tak ada kabar, telepon, WA, sosial media, bahkan aku menunggunya di cafe pun tak ada. 


Awalnya aku positif thingking, namun positif itu berubah menjadi benci setelah perempuan cantik mengajakku ngobrol setelah jam kerja part time ku di cafe. 


" Ada apa kak? " Tanyaku dengan sopan seperti melayani pelanggan. 


" Mba bole duduk dulu, saya mau klarifikasi." Jawabnya dengan santai dan anggun, benar benar terlihat berwibawa perempuan ini. 


" Mba kenal dengan mas Fandi Ahmad? " 


" Em iya, ada apa ya mbak ? "


" Ternyata benar kau, dasar murahan sekali" Cibir nya. 


Aku yang dikatai seperti itu kaget dengan maksud pembicaraannya. 


" Nyatanya tak lebih baik dariku, hanya pegawai part time cafe, pintar sekali menjilat laki orang, mba, tolong, jangan murahan dan kegatelan ya, saya mohon jauhi suami saya" Ucapnya dengan enteng dan terdengar merendahkan


" Maaf, apa mbak? Suami? "


" Iya, Fandi adalah suami saya, jadi jauhi dia"


" Mba salah orang? " Tanyaku ragu.


Kemudian dia mengeluarkan foto mas Fandi dengan keluarga, dimana ada foto nya dan mas Fandi serta anak yang kurang lebih 3 tahun. 


" Bukan salah saya. " Tegasku padanya dengan mengembalikan handphonenya


" Kamu menyalahkan saya? " Teriaknya dengan keras yang mengundang mata semua orang. 


" Bukan, salah suami mbak" Jawabku dengan berusaha tenang. 


Plak 


Dia menamparku dengan keras. 


" Kecil kecil jalang." Ujarnya sambil berdiri dan meraih tasnya. 


" Mbak, duduk dulu, akan saya luruskan "


" Tidak perlu, sudah cukup jelas" Ucapnya sambil berlalu. 


namun tiba-tiba dia terjatuh saat baru saja melangkahkan kakinya. Terlihat darah mengalir di kakinya. Aku panik, kulirik perutnya, ternyata dia sedang hamil. 

__ADS_1


__ADS_2