Hati Untuk Saila

Hati Untuk Saila
SAILA. eps 5


__ADS_3

Segera aku meminta bantuan dan mengantarkannya ke rumah sakit terdekat. Tubuhku gemetar. Takut terjadi sesuatu dengannya. 


Saat di bawa ke UGD aku semakin cemas dengan kondisinya, berharap dia dan bayinya tidak apa apa. Jujur jika aku menjadi mbak ini aku sakit hati sekali melihat suamiku selingkuh dengan wanita lain saat sedang hamil pula, namun aku semakin kecewa dan sakit hati saat tau mas Fandi ternyata sudah menikah dan akan memiliki 2 anak. 


Harapan yang berusaha aku bangun hancur kembali karena kasus perselingkuhan, ternyata aku tau perasaan selingkuhan ayah dan perasaan bunda saat ini. Aku mengalami nya. 


Saat dia sudah sadar aku pamitan dengannya untuk pulang, dan dia berkata. 


" Aku tau sekarang, yang salah suamiku bukan kamu, aku juga perempuan. Namun mohon pahami keadaanku" Ujarnya saat aku akan berlalu ke luar ruangan. 


Aku kaget dengan kata katanya, air mata ini menetes tanpa ijin melihat mbak tadi dalam keadaan seperti ini. 


" Maafkan saya mbak, karena kehadiran saya keadaan mbak jadi seperti ini, tenang, saya akan melepaskan mas Fandi, mas Fandi Sejatinya milik mbak bukan milik saya, saya salah dan mas Fandi juga salah telah bermain dibelakang mbak, kalau gitu mbak cepat sembuh dan saya pamit pulang. "


Pamitku padanya sambil menahan air mata sebelum semakin deras 


" Terimakasih, aku do'akan kamu dapat lebih baik dari si brengsek Fandi. Hati hati dijalan" Ucapnya dengan sedikit lirih dan kujawab dengan anggukan dan senyuman. 


Benar benar hidupku hancur kembali karena mas Fandi. Mulai saat itu aku berusaha melupakannya dengan segala cara, namun dia datang lagi hari ini setelah kejadian itu dengan kesan akan melecehkanku, aku menjadi semakin benci dan muak dengannya. 


Pagi hari. 


Pagi ini, aku berangkat kantor seperti biasanya, namun yang membuatku kesal adalah kehadiran mas Fandi di depan kosan pagi ini. Sangat muak melihat mukanya pagi pagi begini. 


Sengaja aku tak menyapanya dan akan kulewati dia, namun ternyata tiba-tiba dia mencekal tanganku. 


" Saila" 


" Maaf, mas kenapa kesini? Saya sudah tidak ada urusan dengan mas" Ucapmu sambil berusaha mengendurkan cekalan tangannya. 


" Kau masih berurusan denganku Saila. "


" Apalagi mas? Hubungan kita sudah selesai sejak lama." 


" Kau memiliki hutang kepadaku. " 


" Apa? Uang yang mas keluarkan untukku selama kita pacaran? Akan saya kembalikan mas." Ucapku sambil akan berlalu


" Bukan, kau menjanjikan menikah denganku, kau bilang iya, aku menagih itu"


Pyar, hal itu? Oh no, Muak sekali dengan orang ini. Sinting sekali dia. 

__ADS_1


" Mas sehat? "


" Iya? "


" Omong kosong apa yang kudengar tadi mas? kenapa baru mencariku sekarang setelah kita lost contact lama mas, apakah setelah kita bertemu kemarin? Hei, ada apa ini, mas sudah punya wanita hebat disamping mas kenapa masih memintaku? Cih"


" Karena aku pebisnis, aku akan menagih utang orang lain kepadaku "


" Aku sudah melunasinya dengan mbak Adena, aku sudah berbicara baik baik untuk memutuskan kontak kita, mbak Adena sudah melunasi hutangku kepadamu. Jadi cukup jangan ganggu aku"


" Sok jual mahal banget sih "


" Hei brengsek, kau yang keterlaluan, menipuku dengan bilang single, aku tidak gila dengan merebut laki orang, aku masih waras" 


" Sudahlah ga perlu banyak bicara" Ucapnya dengan mencengkram pergelangan tangaku dan dipaksanha dipaksanya masuk mobil. 


Aku berontak dengan berteriak dan berusaha melepaskan tangan itu dari pergelangan tanganku. 


" Mas, cukup, aku sudah tidak ada hubungan denganmu "


Namun tiba-tiba tangan laki laki bisa menjauhkan tangan mas Fandi dariku. 


" Maaf, bapak Fandi Ahmad ada urusan apa lagi dengan karyawan saya? "


" Karyawan? Oh  jadi ternyata memang kau ada hubungan dengan gadis murahan ini? "


" Jika dia murahan kenapa kamu mau? Setauku seleramu bukan murahan. Oh, saya tau, kamu Suka yang diskonan dan murahan, seleramu menurun sekarang ya, yasudah ambil saja dia. " Ujar suara itu yang ternyata dia adalah pak Arta. 


Apa maksud perkataannya? Semakin gemetar aku mendengar kata kata itu. 


" Arta, kau ? " Geram Mas Fandi


" Apa? Katanya mau diambil kan, yasudah ambil saja, dia murah katamu. " 


Deg, kenapa pak Arta bilang begitu? Tega sekali denganku. 


Saat mas Fandi akan mengambil tanganku lagi, Pak Arta lebih dulu meraihku dan menggenggam tanganku. 


" Tapi bagiku dia mahal. Akan aku buktikan jika dia mahal. Kamu suka yang murah jadi ga bisa dapet yang mahal dengan mudah." Sambung nya sambil menggandengku memasuki mobilnya dan meninggalkan mas Fandi.


Saat didalam mobil ku lontarkan beberapa pertanyaan padanya. 

__ADS_1


" Kenapa? Kenapa bapak menolong saya? Dan kenapa ada di depan kosan saya?" tanyaku hati hati padanya.


" Aku melindungi asetku"


" Apa aset? Maksud bapak? "


Namun tak ada jawaban darinya. Aku bingung apa maksud nya aset? Aku asetnya? Aku bukan barang bapak Arta yang terhormat. 


" Tolong pak, bapak jangan terlalu jauh masuk kedalam urusan saya, saya tidak ingin melibatkan siapapun dalam urusan saya. "


" Hem, saya tidak pernah ikut campur urusan siapapun "


" Lantas, tadi? "


" Saya melindungi aset saya, jika itu miliknya berarti itu urusan dia dong. Jika barangmu diganggu orang apakah kamu diam? "


" Apa pak? Saya milik bapak? " jawabku heran atas penjelasannya.


Kaget? Iya, tercengang? Iya jelas, sebenarnya apa sih maksud orang ini. 


" Tapi saya bukan milik bapak, kenapa jadi aset bapak "


" Yasudah, jadi milikku dulu kalau gitu "


" Apa? Kenapa semakin ngaco sih pak? Bapak tidak salah makan? "


jadi milikku menurutku mendefinisikan mengenai kejadian yang kemarin, kenapa? kenapa dia ingin?


" Haha, jadi milikku bukan berarti kita dekat kan, karyawan pun juga milikku kan namanya kalau aku atasanmu? Pikiranmu terlalu jauh sekali. Memang kamu tidak mau jadi bagian karyawan tetap kantorku? Jika tidak yasudah saya tidak perlu mengeluarkan kontrak ini"


Ucapnya sambil mengambil surat dari jok belakang, yang kubaca sekilas seperti kontrak kerja. 


Kaget, bayanganku aku membayangkan hal yang kemarin dia tawarkan kepadaku. Ya ampun, jika dia gagal mengeluarkan surat itu aku akan kehilangan kesempatan emas ini, otak travelling ini kadang hampir menjerumuskan ku. 


" Ti tidak pak, jangan tidak jadi dikeluarkan surat itu, saya mau tanda tangan kontrak kerja"


" Katanya tadi tidak, kenapa saya harus repot keluarkan surat ini, merepotkan saja "


" Em, kalau kontrak kerja saya setuju pak" ucapku dengan sedikit malu karena sudah berburuk sangka kepadanya.


" Urus kontrak ini nanti, minta bantuan Anna untuk mengurusnya, datang ke ruangan saya nanti sebelum makan siang " jelasnya.

__ADS_1


Ya ampun. Akhirnya aku kontrak kerja, aww mimpi apa aku semalam, gamungkin kan karena semalem aku flashback kenangan buruk jadi dapet rejeki seperti ini. Em tapi mungkin juga deng hehe.


yang pasti kesempatan magang kemudian kontrak kerja adalah hal yang diimpikan para mahasiswa magang, dan kini aku otw mendapatkan itu :)


__ADS_2